NovelToon NovelToon
Gamer And Flower

Gamer And Flower

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Identitas Tersembunyi / Wanita Karir / Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:231
Nilai: 5
Nama Author: Ira Herawati

Jasmine, penembak jitu Tim Aether, terkunci dalam sangkar emas Axel, kapten posesif yang mengendalikan hidupnya demi obsesi kemenangan. Di tengah tekanan, hadir Liam, barista hangat di seberang jalan yang menawarkan kebebasan tanpa syarat. Pulang sebagai juara dunia, Jasmine kini harus memilih benteng kaku Axel atau kehangatan sejati Liam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ira Herawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Fajar menyingsing di tepi danau dengan sapuan warna kelabu dan biru pucat. Kabut tipis beriringan di atas permukaan air yang tenang, menciptakan pemandangan yang indah namun terasa dingin menembus kulit. Tepat pukul lima pagi, sebuah bus eksekutif berwarna hitam legam dengan logo sponsor "Tim Aether" nama tim mereka terpampang besar di tempat parkir, di depan pagar kayu rumah Jasmine. Mesinnya yang besar menderu halus, memecah keheningan kompleks perumahan yang masih terlelap. Suasana di halaman rumah Jasmine dipenuhi kesibukan yang sunyi. Bryan tampak kesulitan menyeret koper besarnya yang berwarna kuning terang, sementara Kenzie berjalan di belakangnya dengan langkah tegap, menenteng tas ransel khusus laptop gaming miliknya dengan sangat rapi. Ilias berdiri di dekat bagasi bus, membantu pengemudi menata barang-barang bawaan mereka agar efisien. Di ambang pintu rumah, Axel berdiri kaku. Wajahnya terlihat sangat lelah setelah semalaman suntuk memeriksa kembali seluruh dokumen, paspor, visa, hingga tiket penerbangan digital mereka menuju Bandara London Heathrow. Meskipun emosinya sudah jauh lebih terkendali dibanding malam sebelumnya, tatapan matanya tetap terlihat dingin dan waspada. Ia terus-menerus melirik ke arah jam tangan digitalnya, menghitung mundur menit-menit tersisa sebelum mereka harus berangkat menuju Bandara Soekarno-Hatta. Jasmine keluar paling terakhir. Gadis berusia 23 tahun itu mengenakan hoodie hitam longgar favoritnya, dengan rambut panjang yang diikat kuncir kuda. Ditambah poni tipis membingkai wajahnya yang tampak sedikit pucat karena kurang tidur dan didera rasa gugup yang luar biasa. Tangannya mendekap erat sebuah tas selempang kecil tempat ia menyimpan paspor dan barang paling berharganya, mouse gaming andalannya. Di saku terdalam tas itu, botol kaca kosong bekas minuman lavender dari Liam berbenturan pelan dengan badan mouse, memberikan sensasi dingin yang entah bagaimana terasa menguatkan hatinya.

"Semua dokumen sudah aman. Masuk ke dalam bus sekarang, kita gak boleh terlambat satu menit pun," perintah Axel dengan nada suara yang mutlak tanpa kompromi saat Jasmine berjalan melewatinya.

Jasmine tidak membantah. Ia melangkah perlahan menuju pintu bus. Namun, sebelum kakinya sempat menginjak anak tangga pertama, matanya secara refleks bergerak menatap ke arah seberang jalan aspal. Bangunan kaca Floraison Cafe masih tampak gelap gulita. Pintu utamanya terkunci rapat, dan papan nama kafe yang estetik itu dikelilingi oleh embun pagi yang tebal. Ada secercah rasa kecewa yang mendalam mendadak menyergap dada Jasmine. Ia meremas tali tas selempangnya lebih erat. 'Tentu aja Kak Liam belum bangun,' pikir Jasmine dalam hati dengan nada getir. 'Ini masih terlalu pagi untuk seorang barista. Bodohnya aku berharap dia akan berdiri di depan pagar untuk mengucapkan selamat tinggal.' Jasmine menghela napas panjang, bersiap untuk membalikkan badannya dan masuk ke dalam bus, mengubur dalam-dalam harapan konyolnya.

CEKLEK.

Suara pintu kayu Floraison Cafe yang dibuka dengan terburu-buru mendadak memecah keheningan pagi. Jasmine langsung menolehkan kepalanya dengan cepat. Dari dalam kafe, sosok jangkung Liam tampak berlari keluar dengan napas yang terengah-engah. Pria itu terlihat sangat berantakan, ia masih mengenakan kaos rumahan abu-abu longgar dan celana kain santai, rambut hitam berponinya berantakan karena baru saja bangun tidur, dan ia bahkan tidak sempat memakai alas kaki yang benar, hanya sepasang sandal jepit rumahan.

"Jasmine! Tunggu dulu!" teriak Liam, suaranya menggema di sepanjang jalan setapak tepi danau yang sepi.

Melihat kehadiran Liam yang mendadak, Axel yang sedang berdiri di dekat pintu bus langsung memasang badan. Tubuh tingginya yang tegap bergeser, berdiri tepat di tengah jalan setapak, memposisikan dirinya sebagai perisai manusia yang menutup total akses fisik antara Liam dan Jasmine. Mata Axel memicing tajam penuh permusuhan. "Mau apa lagi mas ke sini? Kami harus pergi sekarang, jangan menghambat jadwal perjalanan tim kami," ucap Axel dengan nada suara yang sangat dingin dan ketus.

Liam menghentikan langkah kakinya tepat satu meter di depan Axel. Napasnya naik turun memburu karena habis berlari. Namun, ia sama sekali tidak melayani tatapan intimidasi atau kata-kata kasar dari sang kapten. Dengan kecerdasan emosionalnya yang matang, Liam mengabaikan Axel seutuhnya. Ia sedikit memiringkan tubuh jangkungnya, menjulurkan lehernya melewati bahu lebar Axel agar bisa menatap lurus ke arah Jasmine yang berdiri terpaku di belakang sang kapten.

"Jasmine! Tangkap ini!" seru Liam sambil melemparkan sebuah benda kecil yang dibungkus dengan kain flanel lembut berwarna biru muda ke udara.

Dengan insting refleksnya yang luar biasa, tangan Jasmine bergerak dengan sangat sigap di udara. Hup! Ia berhasil menangkap bungkusan kain itu dengan kedua tangannya tepat di depan dadanya. Bungkusan itu terasa sangat empuk, hangat, dan ketika Jasmine membawanya sedikit lebih dekat ke wajahnya, sebuah aroma keharuman yang sangat akrab langsung menyeruak masuk ke indra penciumannya.

"Itu kantung aromaterapi buatan aku sendiri! Di dalamnya ada campuran kelopak bunga mawar kering, daun mint, dan bunga chamomile!" teriak Liam dari balik bahu Axel, suaranya terdengar sangat tulus dan penuh perhatian. "Kalau nanti di dalam pesawat kamu merasa pusing, atau kalau kamu merasa stres dan tertekan sebelum pertandingan besar di London dimulai... hirup aja aroma dari kantung itu! Itu bisa buat kamu lebih rileks!"

Jasmine menatap bungkusan kain di genggamannya dengan mata yang berkaca-kaca. Di tengah kepungan ambisi besar dan tekanan kaku yang dibawa oleh Axel, kiriman sederhana dari Liam ini terasa seperti pelukan hangat yang sangat ia butuhkan.

"Oh iya satu lagi, Jasmine!" Liam kembali berteriak, kali ini dengan seulas senyuman miringnya yang sangat khas, senyuman jahil, hangat, dan penuh karisma yang selalu berhasil meruntuhkan pertahanan Jasmine. "Menang atau kalah di London nanti, itu gak penting! Yang penting kamu pulang dengan selamat! Ingat, ada persediaan teh chamomile hangat gratis seumur hidup dan seekor bebek putih rusuh yang selalu nungguin kamu di tepi danau ini! Jangan lupa pulang, Jasmine!"

Mendengar kalimat terakhir itu, dada Jasmine terasa meletup-letup oleh rasa haru yang luar biasa. Untuk pertama kalinya dalam satu minggu terakhir yang penuh siksaan latihan, sebuah senyuman kecil yang sangat lepas, manis, dan tulus akhirnya kembali terukir indah di wajah cantiknya. "Iya, Kak Liam! Makasih banyak! Aku pasti pulang!" balas Jasmine dengan volume suara yang cukup keras, mengabaikan fakta bahwa wajah Axel di depannya kini sudah menggelap sempurna menahan amarah yang luar biasa.

"Jasmine, masuk ke dalam bus. Sekarang," desis Axel dengan nada suara yang sangat rendah, menahan amarah yang sudah berada di ubun-ubun kepala karena merasa otoritasnya kembali diinjak-injak oleh sang barista seberang jalan.

Jasmine tidak memprotes lagi. Ia membalikkan tubuhnya dengan ringan, melangkah masuk ke dalam bus dengan perasaan yang jauh lebih ringan dan bahagia. Di dalam bus, Bryan langsung menyengir lebar ke arahnya. "Gila! Romantis banget si abang barista! Siap-siap aja kamu diinterogasi sepanjang penerbangan dua belas jam sama kulkas berjalan di depan," bisik Bryan jahil yang langsung dihadiahi pelototan tajam oleh Kenzie di sebelahnya.

 

Pintu bus mulai tertutup rapat. Kendaraan besar itu perlahan mulai bergerak maju, meninggalkan pekarangan rumah asri Jasmine dan membelah jalan setapak tepi danau. Jasmine mengambil posisi duduk di kursi paling belakang dekat jendela kaca yang besar. Ia menempelkan wajahnya ke kaca, menatap ke arah luar. Di pinggir jalan, sosok jangkung Liam masih berdiri tegak di bawah cahaya pagi yang mulai terang. Pria itu terus melambaikan tangannya dengan semangat ke arah bus yang semakin menjauh. Di dekat kakinya, siluet putih gemuk Donald si bebek konyol mendadak muncul dari balik semak-semak, ikut mendongak lucu seolah-olah mengerti bahwa tetangga kesayangan mereka sedang pergi jauh. Jasmine mendekatkan kantung aromaterapi bunga mawar dari Liam ke hidungnya, menghirup aromanya dalam-dalam. Keharuman yang menenangkan itu seolah-olah mengaburkan hawa dingin AC bus dan kecemasan tentang turnamen dunia di depan mata. Di kursi barisan depan, Axel menatap lurus ke arah jalanan di depan dengan tatapan kosong dan rahang yang mengatup rapat. Ia menyadari satu hal yang sangat menakutkan bagi egonya, meskipun ia berhasil membawa tubuh Jasmine terbang ribuan kilometer menyeberangi samudra menuju London untuk mengejar ambisi besarnya, sebagian besar hati dan senyuman gadis itu tampaknya telah tertinggal rapat di sebuah kafe bunga kecil di tepi danau, di genggaman seorang barista jangkung yang berjanji akan selalu menunggunya pulang. Turnamen internasional di London baru saja dimulai, namun pertempuran sesungguhnya di dalam hati Jasmine terasa jauh lebih sengit dan mendebarkan dari panggung kejuaraan mana pun di dunia.

1
Dhatu Lukita
semangat up teruss yaaa, niihhh ku kasih ⭐5, biar tambah semangat 😍
Dhatu Lukita
halo kak berkarya terus yaa semangaatt💪💪💪,
mampir juga d karyaku ya 🤭😍 "dukunganmu semangatku"
Fadillah Ahmad: Kalau ingin membacs Karya ini, baca sampai Bab 20 Kak! atau sampai Bab akhir! kalau hanya sampai Bab 5 terus berhenti, sama saja kakak, merusak retensi novel ini! Baca sampai Bab 20 Kak! jangan berhenti di tengah jalan!
total 1 replies
Dhatu Lukita
keinget mobil lejen🤭😄
Fadillah Ahmad
Mohon maaf sebelumnya, ya! Sinopsisnya kurang Menarik! Mohon di Ubah dulu.

Maaf, jangan tersinggung ya! 🙏🙏🙏 Karena... Novel Kakak Maauk ke Beranda-ku! Di Promosikan Oleh Pihak NovelToon. Jadi, mohon untuk di ubah dulu Kak! 'Kalau Bisa' Karena, aku melihat, Sinopsisnya Kurang mengigit! alias Kurang memunculkan Rasa Penasaran Pembaca! 🙏🙏🙏

Maaf ya Kak! Jangan Tersinggung. 🙏🙏🙏😁

Terima Kasih 🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!