Wan Chen tidak ingin menyelamatkan dunia.
Ia hanya ingin kaya.
Untungnya, saat berada di ambang kematian, ia memperoleh Sistem dengan kemampuan Duplikasi dan Penyimpanan Dimensional.
Dan di dunia yang kekurangan segalanya, tidak ada kemampuan yang lebih menakutkan dari itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 - Ditinggalkan Mati di Reruntuhan
"Bongkar kantong depan jaketnya."
Suara parau itu memecah sunyi jalan raya yang hancur berantakan. Tidak ada nada penyesalan di sana. Sepenuhnya datar dan tanpa beban.
Tangan bersarung taktis merogoh kasar saku Wan Chen dan merampas kotak penyaring air hasil jarahan hari ini. Tarikan pada jaket pelindungnya membuat tubuhnya tersentak paksa. Gerakan itu kembali memicu darah hangat menyembur dari sisi kiri pinggangnya.
Ia membuka kelopak matanya yang mulai terasa seberat besi. Memandang ujung sepatu bot lars hitam yang berdiri persis di depan tulang hidungnya.
Pria berbadan tegap dengan balutan zirah ringan jongkok di depannya. Ketua kelompok pemburu sementara itu menatap wajah Wan Chen. Di tangannya menggenggam dua buah inti kristal monster yang barusan dicungkil paksa dari tas punggung Wan Chen.
"Bagus," puji si ketua itu pada anak buahnya yang selesai menyapu bersih suplai bertahan hidup. Ia lalu kembali menatap mata Wan Chen. "Kau paham posisimu sekarang kan, Chen?"
Wan Chen mencoba mengambil napas. Namun yang masuk hanya serpihan abu pekat dari reruntuhan sektor luar. Tidak ada kata yang bisa diucapkan. Tenggorokannya terasa diisi oleh pasir basah.
Ketua pemburu itu menepuk pinggiran helm pelindung Wan Chen pelan menggunakan laras senapannya.
"Dunia sudah sinting," keluh pria itu datar, hampir seperti seorang kawan yang sedang bercerita santai. "Luka robekmu terlalu dalam, kawan. Kalau kami pakai serum penyembuh buat nutup ususmu, besok kelompok kita yang bakal kelaparan."
Anggota pemburu lain meludah ke sisi aspal berlubang, tepat satu jengkal dari telinga Wan Chen.
"Kita tinggalin saja dia. Aroma darah segar cepat atau lambat bakal pancing gerombolan pemakan bangkai. Kita kehabisan waktu, Ketua."
Pria tegap itu berdiri meluruskan pinggangnya. Menggendong ransel yang kini ukurannya membengkak karena gabungan hasil jarahan mereka semua.
"Maaf," tutup sang ketua ringkas. Bukan sebuah permintaan maaf penuh empati. Cuma formalitas basa-basi murah sesama manusia di ujung dunia.
Tiga pria berbalut debu itu berbalik lalu menghilang ke balik kabut polusi kuning. Sosok mereka perlahan larut di antara puing beton tua, meninggalkan Wan Chen seorang diri tanpa air dan obat.
Aspal hancur di bawah tubuh Wan Chen terasa luar biasa dingin.
Ia memuntahkan cairan amis kemerahan dari sela bibirnya. Gemetar kecil mulai menjalar di jari-jarinya. Mati rasa merambat cepat dari ujung kaki merambat naik menuju tulang punggung.
Pria ini tidak berteriak histeris memanggil mereka kembali. Mengais-ngais tanah berlumpur memohon diselamatkan cuma membuang oksigen percuma. Tenaganya terlalu sedikit sekadar untuk marah pada keadaan yang menimpanya.
Lagi pula, ia bukan anak kemarin sore yang baru turun ke padang gurun rongsokan ini.
'Lagi-lagi,' rutuk Wan Chen dalam hati. Kepalanya menyandar lemah pada sisa bumper mobil rongsok.
Tusukan dari punggung bukan cerita baru baginya. Ditinggal mati demi keuntungan logistik sudah menjadi prosedur standar. Nyeri di perutnya kalah telak oleh rasa muak yang mengendap di benaknya.
Pola hidupnya bagai lingkaran setan. Dikhianati atasan saat bekerja di sektor dalam, dijual kolega demi hutang, dan kini dijadikan tumbal buang waktu oleh kelompok sementara. Hidup sepertinya memang punya obsesi pribadi untuk memastikan ia selalu menginjak lubang kotoran.
'Gila. Kalau aku di posisi mereka, aku juga pasti memungut tas itu,' pikirnya tenang. Akal sehatnya berjalan kejam membedah situasi. 'Benda mati jauh lebih berguna daripada orang mati.'
Tidak ada kekecewaan puitis pada sifat umat manusia. Idealisme jadi pelindung dunia dari kehancuran cuma omong kosong pemerintah sentral untuk mencari tentara budak. Pahlawan itu spesies punah.
Bertahan hidup satu hari ekstra sudah terasa seperti memenangkan undian lotre. Tapi hari ini dewi Fortuna sepertinya enggan memanggil nomor seri miliknya.
Harapan hanyalah jalan tol menuju rasa sakit yang berlipat ganda. Menggantungkan nyawa pada belas kasihan komplotan berandalan adalah lelucon paling tolol sedunia. Ia tahu persis risikonya saat mengiyakan kontrak bodoh itu.
Ia menatap kelam ke atas. Langit ungu berawan limbah menjadi layar tancap terakhir sebelum nyawanya redup terbawa angin. Tubuhnya dibiarkan kaku. Pasrah menunggu waktu tutup buku secara resmi.
Angin yang bertiup dari utara membawa sisa-sisa badai pasir kering.
Rambut Wan Chen bergesekan pelan dengan aspal yang retak. Tiupan udara menyambar cairan kental yang masih merembes di pinggangnya, mengikat bau anyir dan mengaraknya pergi ke setiap penjuru reruntuhan.
Suara kerikil jatuh tiba-tiba terdengar.
Asalnya dari arah gundukan puing jembatan layang sekitar lima belas meter di depannya. Tidak ada derap langkah kaki sepatu bot. Suaranya murni gesekan kuku keras menggores lempengan seng bekas.
Langkah berat berdentum memukul aspal.
Satu wujud merangkak pelan keluar dari balik bayangan beton lapuk. Seekor anjing mutasi, meski memanggilnya anjing terlalu sopan. Makhluk gempal seukuran anak sapi itu nyaris tidak memiliki sisa kulit berbulu.
Serat ototnya melepuh kehitaman memamerkan tulang rusuknya yang menonjol keluar. Bagian wajahnya terbelah simetris hingga rahang, mengekspos deretan gigi tajam basah yang meneteskan nanah bercampur ludah pekat.
Makhluk itu berdiri diam. Hidung berongganya mengendus udara liar-liar.
Bola matanya memutih rata akibat katarak radiasi, namun moncongnya terkunci tepat pada arah hembusan angin pembawa bau karat. Ia tahu makan malam sedang terhidang tanpa perlawanan.
Geraman kasar keluar dari pita suaranya yang rusak. Bunyi serak menyerupai gergaji mesin macet menggema di sekitar telinga Wan Chen.
Di tempatnya berbaring, Wan Chen mengerlingkan sisa tenaga pandangannya ke depan. Matanya separuh terpejam, tapi cukup untuk menonton siapa algojonya malam ini.
Bahkan napasnya tetap teratur lambat. Tak ada lonjakan kepanikan. Tak ada air mata di ujung kelopaknya. Emosinya benar-benar sudah hangus. Mati digigit monster liar di ujung dunia adalah kematian klise murahan, dan ia siap membayarnya lunas.
Hewan menjijikkan itu merendahkan bahu busuknya.
Kaki belakangnya yang tebal ditekuk kuat, mencengkeram aspal hingga meninggalkan goresan serpihan debu. Otot-otot lehernya menegang layaknya pegas baja sebelum dilepas maju.
Wan Chen menonton proses itu secara detail. Otaknya langsung mengalkulasi lintasan gigitan.
'Leher. Langsung incar saja tenggorokanku biar cepat selesai,' pintanya tanpa sadar di ujung kesadaran. Digigit di leher memakan waktu hitungan detik sebelum otak kehabisan darah. Cepat dan brutal.
Denting debu menyapu. Mahluk lapar itu menerjang ke depan dengan satu tolakan bertenaga kuda.
Bayangan tubuh besarnya langsung menutupi seluruh tubuh Wan Chen. Mulut penuh taring itu menganga maksimal, menukik turun dengan akurasi presisi membidik pangkal leher sang mangsa.
Tinggal jarak satu telapak tangan tersisa antara taring busuk itu dengan arteri nadi Wan Chen. Udara tersapu kencang. Ia menutup matanya sesaat.
Tapi rasa sakit yang dijanjikan tak kunjung robek.
Keheningan menyergap. Suara deru angin seketika padam ditelan ruang kosong. Bunyi aspal retak menghilang. Dunia terpotong rapi.
Wan Chen membuka kelopak matanya pelan. Menganga kecil menyaksikan pemandangan tak wajar di depan hidungnya.
Taring tajam meneteskan liur kental itu membeku di udara. Menempel kaku tepat satu sentimeter dari batang lehernya. Otot rahang hewan itu tegang tak bergerak, seolah gravitasi telah disuntik mati. Serpihan kerikil dan debu sisa lompatan bergelantungan tak masuk akal di atas aspal.
Paku tak terlihat tiba-tiba menembus pangkal otaknya.
Hantaman gelombang kejut menyentak langsung dari dalam tempurung kepala Wan Chen. Tidak lewat gendang telinga. Langsung merobek ruang hampa pikirannya.
[Prosedur Kegagalan Kesintasan terdeteksi.]
Suara itu membius, dingin, sepenuhnya tanpa belas kasihan sintetik. Tidak ada intonasi ramah ala program panduan standar. Hanya pernyataan telanjang yang mendesak.
Cahaya ungu neon retak dari batas kornea matanya. Membelah visinya yang mengabur oleh pendarahan parah.
[Penolakan Nasib Kematian mencapai 100%. Kompatibilitas Sistem terbuka.]
Rentetan piksel kotak biru meletup berhamburan. Memblokir moncong monster di atas kepalanya dengan antarmuka digital yang berpendar tajam memaksa atensinya.