NovelToon NovelToon
KONTRAK GELAP SANG PROFESOR

KONTRAK GELAP SANG PROFESOR

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Dosen / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: gendiz

"sebuah kontrak yang menyelamatkan namun siksaan dari profesor untuk mahasiswinya..."

Akankah yang awalnya siksaan itu menjadi sebuah kenikmatan atau kebahagiaan, bisa jadi penyesalan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29: Sandiwara Sang Wanita Tangguh

BAB 29: Sandiwara Sang Wanita Tangguh

​Malam itu, hujan turun membasahi ibu kota dengan rintik yang konstan, menciptakan ketukan-ketukan ritmis yang monoton pada kaca besar penthouse. Di dalam ruang tengah yang biasanya terasa hangat dan penuh binar birahi tersembunyi, kini suasananya mendadak berubah menjadi sangat asing. Dingin, sunyi, dan mencekam.

​Kiara duduk diam di atas sofa kulit hitam. Tatapan matanya lurus menatap kosong ke arah meja kaca di depannya. Di atas permukaan meja yang berkilau itu, tergeletak sebuah Black Card pemberian Adrian pagi tadi, bersanding dengan sebuah amplop cokelat tebal yang diberikan oleh Tante Miranda di toilet kampus.

​Kedua tangan mungil Kiara meremas rok rajutnya dengan teramat kencang hingga buku-buku jarinya memutih. Di dalam rahimnya, ada kehidupan baru yang sedang berdenyut halus. Kehidupan yang harus ia selamatkan dengan cara menghancurkan hatinya sendiri malam ini juga.

​Cklek.

​Suara pintu utama yang terbuka seketika memotong kesunyian. Langkah kaki tegap yang sangat familiar terdengar melangkah masuk. Adrian berjalan mendekat, menanggalkan jas kerjanya dengan gerakan santai. Wajah tampannya malam ini tampak jauh lebih rileks, bahkan sebuah senyuman tipis yang seksi terukir di bibirnya saat melihat wanita yang seharian ini memenuhi isi kepalanya sedang duduk menantinya.

​"Kamu belum tidur, Mahasiswaku?" suara bariton Adrian mengalun rendah, sarat akan kehangatan yang tulus. Pria itu melangkah mendekat, berniat untuk menunduk dan mengecup pucuk kepala Kiara seperti biasa.

​Namun, sebelum bibir Adrian sempat menyentuh rambutnya, Kiara bergerak mundur. Gadis itu bangkit berdiri, menjaga jarak beberapa langkah dari Adrian dengan tubuh yang menegak kaku. Sifat tangguhnya kini melebur menjadi sebuah topeng kedinginan yang amat rapi.

​Adrian menghentikan gerakannya di udara. Sepasang mata elangnya menyipit, menangkap gelagat aneh dari istri kontraknya. "Ada apa, Kiara?"

​Kiara tidak menjawab dengan kata-kata. Ia mengulurkan tangannya, mengambil Black Card milik Adrian dari atas meja, lalu melemparnya dengan pelan hingga kartu itu mendarat tepat di depan ujung sepatu pantofel mahal Adrian.

​"Ambil kembali kartumu, Pak Profesor. Aku tidak membutuhkannya lagi," ucap Kiara. Suaranya terdengar begitu datar, tenang, dan tanpa emosi—sebuah nada suara yang sengaja ia buat sedingin mungkin untuk menusuk ego tinggi pria di hadapannya.

​Adrian menatap kartu di bawahnya, lalu kembali menatap Kiara. Garis rahangnya mulai mengeras kaku, dan binar hangat di matanya perlahan memudar berganti kilat kebingungan yang pekat. "Apa maksudmu?"

​Sebuah senyuman sinis yang teramat paksa—namun terlihat sangat angkuh di mata Adrian—terukir di bibir ranum Kiara.

​"Maksudku, sandiwara kita di apartemen ini sudah cukup sampai di sini, Adrian," lirih Kiara, matanya menatap lurus ke dalam manik mata elang Adrian tanpa berkedip, menyembunyikan badai air mata yang mati-matian ia tahan di balik kelopak matanya.

​Kiara menunjuk amplop cokelat tebal di atas meja dengan dagunya. "Ibumu menemuiku siang tadi. Dan dia memberikan penawaran yang jauh lebih masuk akal daripada kontrak gelap berharga tiga ratus lima puluh juta yang kamu tawarkan di awal."

​Adrian mengambil satu langkah maju, auranya mendadak berubah menjadi sangat mengintimidasi dan berbahaya. "Kiara, jangan bercanda. Katakan dengan jelas apa yang sedang kamu bicarakan!"

​"Aku tidak sedang bercanda, Adrian!" potong Kiara dengan nada yang sengaja dinaikkan, memasang wajah wanita materialistis seada-adanya. "Aku ini hanya mahasiswi miskin yang kebetulan berwajah lumayan, kan? Sejak awal, aku menerimamu hanya karena uangmu. Dan sekarang, ibumu menawarkan uang miliaran rupiah beserta jaminan masa depanku di luar kota asal aku pergi darimu."

​Kiara melangkah mendekati Adrian, mencoba menekan mental pria itu meski hatinya sendiri sedang berdarah-darah. "Berada di sampingmu terlalu melelahkan dan berbahaya. Aku harus terus bersembunyi dari keluargamu. Jadi, mumpung ada penawaran yang jauh lebih tinggi... kenapa aku tidak mengambilnya saja? Bagaimanapun, aku sudah mendapatkan apa yang kuinginkan darimu. Kemewahan, uang, dan kepuasan birahimu yang melelahkan itu."

​GREEP!

​Ucapan kejam Kiara belum sempat selesai saat kedua tangan kekar Adrian mendadak menyambar kedua bahu mungilnya dengan sangat kasar. Adrian menyentak tubuh Kiara hingga membentur dada bidangnya yang keras bak batu karang.

​Napas Adrian memburu dengan sangat hebat, mengindikasikan kemarahan gila dan rasa tidak percaya yang luar biasa sedang mengamuk di dalam dadanya. Pria itu menunduk, mengunci pandangan Kiara dengan sepasang mata elang yang kini memancarkan kabut keputusasaan dan kekecewaan yang teramat dalam.

​"Katakan kamu berbohong, Kiara! Tatap mataku dan katakan semua kalimat murahan tadi adalah kebohongan!" geram Adrian dengan suara bariton yang teramat rendah, serak, dan bergetar hebat karena menahan hantaman ego yang hancur berkeping-keping. Pria yang telanjur bucin setengah mati ini tidak percaya bahwa wanita yang semalam mendesah pasrah memanggil namanya dengan penuh cinta, ternyata sekejam ini.

​"Aku tidak berbohong, Adrian Alkatiri," desis Kiara, menatap langsung ke dalam manik mata pria yang teramat ia cintai itu dengan pandangan mati rasa. "Aku membencimu. Aku membenci seluruh sentuhanmu semalam. Bagiku, kamu hanyalah dosen keren yang kebetulan kaya raya dan bisa kumanfaatkan. Sekarang, lepaskan aku. Kontrak kita batal."

​"Bangsat!" umpat Adrian kasar.

​Bukannya melepaskan, cengkeraman tangan Adrian di bahu dan tengkuk Kiara justru semakin mengerat hingga menimbulkan rasa sakit yang nyata. Rasa frustrasi, amarah, dan letupan birahi yang tersakiti meledak menjadi satu di dalam benak sang profesor.

​Adrian langsung menundukkan kepalanya, membungkam bibir ranum Kiara dengan sebuah ciuman yang luar biasa brutal, kasar, dan sarat akan keputusasaan yang mematikan. Ciuman itu tidak lagi memiliki kelembutan pagi tadi. Ini adalah ciuman penghancuran, sebuah pelampiasan dari seorang pria alpha yang dunianya baru saja dihancurkan oleh wanita di bawah kuasaku.

​"Mphhh! Ah..."

​Kiara melenguh kesakitan saat lidah hangat Adrian merangsek masuk dengan kasar, menjajah seluruh rongga mulutnya tanpa ampun, menyesap dan menggigit bibirnya hingga menyisakan rasa anyir darah yang samar. Air mata Kiara yang sejak tadi ditahannya akhirnya lolos begitu saja, mengalir membasahi pipinya, menyatu di sela-sela lumatan brutal mereka.

​Di dalam hati yang paling dalam, Kiara menjerit memohon ampun pada suaminya. Pukulan-pukulan kecil yang ia layangkan pada dada bidang Adrian perlahan melemah. Sebagai salam perpisahan yang teramat tragis, Kiara akhirnya membalas ciuman brutal Adrian dengan sisa-sisa birahi dan keputusasaan yang mendalam, membiarkan raga mereka menyatu untuk terakhir kalinya dalam sebuah ikatan rasa benci yang semu.

​Adrian menyudahi ciumannya dengan sentakan kasar, napasnya tersengal-sengal di depan wajah Kiara yang sudah basah oleh air mata. Pria itu menatap Kiara dengan tatapan yang mendadak berubah menjadi sangat dingin, asing, dan dipenuhi oleh kebencian yang teramat pekat.

​"Pergi," bisik Adrian, suaranya terdengar begitu tipis namun sarat akan luka batin yang mematikan. Pria itu melepaskan cengkeramannya, lalu berbalik memunggungi Kiara, tidak ingin melihat wajah wanita yang telah menginjak-injak ketulusan cintanya. "Angkat kakimu dari apartemenku malam ini juga, Kiara. Dan jangan pernah berani menampakkan wajah murahmu lagi di depanku, atau aku sendiri yang akan menghancurkan hidupmu."

​Kiara terdiam dalam tangis tanpa suara. Sambil memegangi perutnya yang masih rata dengan insting protektif seorang ibu yang tangguh, ia mengambil tas kuliahnya, berbalik, dan melangkah pergi meninggalkan penthouse mewah itu menembus kegelapan malam dan derasnya air hujan. Membawa serta darah daging sang profesor yang akan ia rahasiakan seumur hidupnya, membiarkan Adrian membencinya demi keselamatan anak mereka.

​😭😭😭 Huwaaa, nyeseknya sampai ke tulang rusuk,

1
cynth
KIND OF NOVEL I'VE BEEN LOOKING FOR (ToT)! Ini jatuhnya kayak dark romance kah, Thor? Gragas banget si Adrian 😭
Yolan Manik: yasudah, semangat ya thor💪
total 4 replies
cynth
Serem 😭
gendiz: ayo kita ngumpet kak 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!