NovelToon NovelToon
Not Our Time

Not Our Time

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Penyesalan Keluarga
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

"Aku lahir dari puncak sebuah ego yang membara, Tapi aku dikunci rapat oleh darah dan rahasia maut di malam badai.
Aku membuat dua orang yang saling mencintai menatap dengan tatapan es,
Dan aku terukir abadi sebagai garis pucat di perut sang wanita. Siapakah aku?"

Enam tahun lalu, ego memisahkan mereka.
Sebuah kecelakaan maut yang merenggut nyawa Amara, sahabat dari Vexana Valerio Dan Landon Dasmon—mengubah cinta membara menjadi kebencian pekat yang saling menyalahkan.

Kini, takdir memaksa Vexana dan Landon kembali berhadapan di koridor kampus yang sama.

Di antara dendam yang membakar dan penyesalan yang terlambat, mampukah mereka mengungkap kebenaran malam badai itu, atau justru hancur bersama puing-puing masa lalu?

~~~~~~
Happy reading 🦋🌷

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#6

Sinar matahari pagi di akhir pekan menyelinap masuk melalui celah-celah tirai jendela besar ruang makan keluarga Valerio, memantulkan warna keemasan di atas meja kayu ek panjang yang dipenuhi hidangan sarapan.

Wangi roti panggang yang mentega, aroma panekuk yang baru diangkat dari wajan, serta keharuman kopi segar berpadu menciptakan atmosfer yang begitu hangat dan menenangkan.

Suasana pagi itu seolah menjadi penawar sementara dari badai emosi yang sempat mengoyak ketenangan Vexana satu hari sebelumnya.

Di sebelah kanan Vexana, duduk sang adik kecil yang hari itu tampak sangat bersemangat. Austin Jaxon Valerio—gadis itu tersenyum kecil mengingat bagaimana waktu berjalan begitu cepat.

AJ kini telah tumbuh menjadi bocah laki-laki yang aktif dan cerdas, lengkap dengan seragam kasual akhir pekannya. Mulut kecilnya terus-menerus mengoceh tanpa henti, menceritakan segala hal tentang teman-teman di sekolahnya dengan gerakan tangan yang heboh.

"Lalu Kak, Leo bilang pahlawan super itu tidak nyata, tapi aku bilang nyata! Daddy adalah pahlawan karena bisa mengalahkan semua orang jahat di kantor, kan?" oceh AJ dengan pipi yang penuh berisi potongan panekuk, membuat Amieyara menggeleng-gelengkan kepalanya gemas melihat tingkah sang bungsu.

"AJ, telan dulu makananmu baru bicara, sayang," tegur Amieyara lembut, menyodorkan segelas susu hangat ke dekat piring adiknya.

Vexana hanya memperhatikan interaksi tersebut dengan senyuman tipis yang menghiasi bibirnya.

Jemarinya perlahan mengaduk teh hangat di hadapannya, membiarkan uap panasnya menerpa wajahnya. Di tengah keriuhan obrolan AJ yang menggemaskan, pikiran Vexana kembali melayang pada kalender di ponselnya.

Tanggal hari ini mengingatkannya pada sesuatu yang selalu membuat dadanya berdenyut nyeri setiap tahunnya.

Vexana meletakkan sendok tehnya perlahan, lalu mendongak menatap sang kepala keluarga yang sedang membaca koran digital di ujung meja.

"Dad..."

Suara Vexa mengalun indah, memotong riuh ocehan AJ dalam sekejap. Nada suaranya yang lembut namun sarat akan kesungguhan membuat Maximilian langsung menurunkan ponselnya dan memberikan perhatian penuh pada putri sulungnya.

"Apa boleh hari ini aku berkunjung ke makam Amara? Aku merindukannya," lanjut Vexana, sepasang mata jernihnya menatap sang Daddy dengan binar permohonan yang samar.

Mendengar nama Amara disebut, atmosfer hangat di meja makan sempat mengendur selama beberapa detik. Maximilian dan Amieyara tahu betul seberapa dalam luka yang ditinggalkan oleh kepergian gadis pirang itu dalam hidup Vexana empat tahun lalu.

Kehilangan Amara adalah titik di mana keceriaan Vexana seolah terenggut separuh, menyisakan sosok wanita dewasa yang anggun namun penuh rahasia.

Daddy Maximilian dengan cepat mengatakan, "Boleh sayang, Daddy akan mengantarmu. Kebetulan hari ini Daddy tidak ada pertemuan dengan kolega bisnis sampai siang nanti."

"Thank you, Dad," balas Vexana dengan senyum tulus yang langka. Dia merasa lega karena Daddy-nya tidak pernah melarang atau mempertanyakan keputusannya setiap kali dia ingin mengunjungi peristirahatan terakhir sahabat sejatinya.

Satu jam kemudian, mobil sedan mewah keluarga Valerio yang dikemudikan oleh Maximilian membelah jalanan Los Angeles yang relatif lebih tenang di pagi akhir pekan, menuju ke pinggiran kota di mana terletak salah satu pemakaman terbesar dan paling eksklusif di wilayah tersebut.

Kompleks pemakaman itu begitu luas, dikelilingi oleh pagar batu tinggi dengan hamparan rumput hijau yang dipotong rapi laksana lapangan golf, serta deretan pohon willow yang merunduk syahdu ditiup angin pagi.

Mobil berhenti di area parkir dekat blok utama. Vexana turun dari mobil dengan membawa seikat bunga lili putih segar di lengannya. Langkah kakinya yang terbalut sepatu flat kasual melangkah anggun di atas jalan setapak, menyusuri deretan nisan marmer yang berjejer rapi di bawah naungan langit biru California.

Langkah Vexana berhenti di depan sebuah nisan marmer putih yang bersih. Di atas permukaan batu tersebut, tertulis sebuah nama dengan pahatan huruf emas yang indah: Amara Zamora, dengan keterangan tanggal lahir dan tahun kematian yang menunjukkan tepat empat tahun yang lalu.

Vexana berlutut perlahan di atas rumput hijau yang masih sedikit basah oleh embun pagi.

Dia meletakkan ikatan bunga lili segar itu tepat di atas nisan sahabatnya. Namun, sejujurnya, setiap kali Vexana kemari, Vexana selalu dirundung oleh rasa bingung yang mendalam. Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling gundukan tanah makam tersebut.

"Kenapa di pemakaman ini hanya bunganya saja? Minggu depan juga pasti bunga keringnya lagi yang ada di atas rumput hijau ini," lirih Vexana dengan suara yang sangat pelan, nyaris seperti bisikan angin.

Pertanyaan itu selalu mengusik benaknya selama empat tahun ini.

Setiap kali dia datang berkunjung, dia adalah satu-satunya orang yang meninggalkan jejak kunjungan nyata berupa bunga segar.

Dan ketika dia akan kembali beberapa bulan kemudian, bunga itu telah mengering tanpa ada tanda-tanda bahwa ada orang lain yang datang untuk menggantinya atau merawat makam tersebut secara personal selain petugas pemakaman.

"Mana Papi sama Mami nya Amara? Apa mereka masih di luar negeri?" gumam Vexana lagi dengan kerutan di keningnya.

Setahu Vexana, setelah kecelakaan maut yang merenggut nyawa putri tunggal mereka, orang tua Amara yang terpukul hebat memutuskan untuk pindah ke Eropa untuk menenangkan diri dan mengurus bisnis keluarga di sana.

Namun, meninggalkannya tanpa pernah berkunjung sama sekali selama bertahun-tahun rasanya sangat tidak biasa untuk sepasang orang tua yang dulu begitu memanjakan Amara.

Mendengar gumaman lirih putrinya yang sarat akan kebingungan dan kesedihan, Maximilian yang sejak tadi berdiri beberapa langkah di belakang Vexana perlahan mendekat. Pria paruh baya itu mengusap bahu Vexana dengan lembut, memberikan kekuatan.

"Mungkin mereka memang masih kesulitan untuk menghadapi kenyataan di tempat ini, Vexa," ucap Maximilian menenangkan. "Setiap orang memiliki cara yang berbeda untuk menyembuhkan luka mereka."

Vexana hanya mengangguk pelan, meskipun hatinya tidak sepenuhnya menerima jawaban itu.

Tiba-tiba, sang ayah melirik jam tangannya sekilas, lalu menatap Vexana dengan pandangan maklum. "Daddy akan tunggu di mobil ya, sayang. Berbicaralah pada Amara, berikan dirimu waktu."

"Iya, Dad," jawab Vexana cepat, memberikan senyuman tipis agar daddynya tidak khawatir.

Setelah langkah kaki Maximilian menjauh dan menghilang di balik deretan pohon, keheningan total kembali menguasai sudut pemakaman tersebut. Vexana mengulurkan tangannya, mengusap permukaan marmer dingin yang memahat nama Amara dengan ujung jemarinya.

"Bagaimana kabarmu, Amara?" tanya Vexana, suaranya kini terdengar bergetar menahan rindu yang membuncah. "Apa kau mengoceh di atas sana karena aku baru berkunjung lagi sekarang? Hm? Maafkan aku... akhir-akhir ini tugas kuliahku benar-benar menyita seluruh waktuku."

Vexana mengembuskan napas panjang, menatap lurus pada nisan tersebut seolah-olah dia sedang menatap mata jenaka sahabatnya.

"Aku mendengar kabar teman-teman angkatan kita di high school sedang merencanakan untuk mengadakan reuni besar bulan depan. Tapi... aku tidak pernah mau ikut karena tidak ada dirimu di sana, Amara. Aku tidak bisa membayangkan berdiri di tengah keramaian itu tanpa ada kau yang biasanya selalu menggandeng lenganku dan mengejek gaun orang lain."

Air mata yang sejak tadi ditahannya mulai menggenang di pelupuk mata. "Empat tahunku tanpa dirimu, benar-benar sepi, Amara... Dunia luar terasa begitu palsu. Kemarin, Luna mengkhianatiku dengan Brain. Kau pasti akan sangat marah jika mendengarnya, kan? Kau pasti akan menjadi orang pertama yang menjambak rambut Luna jika kau masih ada di sini." Vexana tertawa hambar, setetes air mata akhirnya jatuh membasahi pipinya.

Sementara itu, di sisi lain kompleks pemakaman yang cukup luas tersebut, suasana sunyi pagi itu juga dihadiri oleh sosok lain.

Seorang gadis berambut hitam panjang dengan pakaian serba hitam sedang berdiri di depan sebuah makam yang letaknya cukup jauh—terpisah beberapa blok dari tempat Vexana berada saat ini.

Gadis itu bernama Andriana.

Bagi mereka yang mengenal masa lalu Vexana, Andriana bukanlah orang asing.

Dia adalah mantan sahabat Vexana di masa high school, bagian dari lingkaran pertemanan mereka sebelum segalanya hancur karena ego remaja.

Bertahun-tahun lalu, hubungan persahabatan Andriana dan Vexana berakhir dengan pertengkaran hebat dan permusuhan yang dingin.

Alasan utamanya klise namun mematikan bagi ego seorang remaja perempuan: Andriana menaruh rasa suka yang mendalam pada Landon Desmon, namun Landon justru menjatuhkan pilihannya pada Vexana.

Rasa iri yang membakar hati Andriana, yang berakhir dengan hancurnya hubungan mereka hingga mereka menjadi orang asing yang saling mengabaikan.

Tepat setelah lulus high school bertahun-tahun yang lalu, didorong oleh rasa malu dan keinginan untuk menjauh dari bayang-bayang Vexana dan Landon yang selalu terlihat sempurna bersama, Andriana memilih untuk melanjutkan studinya ke luar negeri.

Dia baru saja kembali ke Los Angeles beberapa minggu yang lalu untuk menetap.

Dan hal pertama yang dia lakukan setelah mendengar kabar mengejutkan tentang apa yang terjadi selama dia pergi adalah bertanya pada orang tua Amara—yang berhasil dia hubungi melalui relasi bisnis keluarganya—di mana letak makam gadis pirang tersebut.

Dan di sinilah dia berakhir, berdiri di tanah pemakaman ini pada pagi akhir pekan yang cerah, menabur kelopak bunga mawar merah di atas makam yang dikunjunginya. Namun, setelah selesai meletakkan sisa bunganya, pandangan mata Andriana secara tidak sengaja menyapu area blok seberang yang lebih eksklusif.

Langkah kaki Andriana mendadak membeku. Sepasang matanya membelalak lebar di balik kacamata hitam yang dikenakannya.

Di sudut sana, di bawah bayangan pohon willow yang rindang, dia mengenal sosok wanita anggun berbaju krem yang sedang berlutut di depan sebuah nisan marmer putih.

Vexana Valerio? batin Andriana terkejut.

Meskipun jarak mereka cukup jauh dan bertahun-tahun telah berlalu, Andriana tidak akan pernah salah mengenali postur tubuh tegak dan aura keanggunan yang selalu melekat pada diri mantan sahabat sekaligus mantan musuhnya itu.

Andriana menurunkan sedikit kacamata hitamnya untuk memastikan penglihatannya tidak salah.

Dia menatap nisan tempat Vexana berlutut, lalu beralih menatap nisan di depannya sendiri dengan ekspresi bingung yang amat sangat.

Pikirannya mendadak menjadi kacau oleh sebuah pertanyaan besar yang menghantam logikanya.

Jika Vexana sedang menangis di sudut sana... nisan siapa yang sedang dia tangisi dengan begitu hancur?

Apa itu makam salah satu anggota keluarganya? Tapi setahuku keluarga Valerio punya pemakaman pribadi. analisis Andriana dalam hati, keningnya berkerut dalam.

Andriana berjalan beberapa langkah ke depan, mencoba menyembunyikan dirinya di balik pilar makam lain yang lebih besar agar tidak terlihat oleh Vexana atau pengawalnya.

Dia menatap lekat-lekat ke arah Vexana yang masih tampak berbicara dengan nisan marmer tersebut dari kejauhan.

Kehadiran Vexana di pemakaman ini di pagi hari yang sama dengannya memicu rasa ingin tahu yang besar di dalam diri Andriana—sebuah intuisi yang mengatakan bahwa ada sebuah rahasia besar dan masa lalu mereka yang terlewatkan olehnya selama dia berada di luar negeri.

1
Mei TResna Rahmatika
ngakak bangett🤣dady maximilian ada aja idenya ngerjain landon🤣
Ros 🍂: susuai reques pembaca 🤭😭😭😭
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
satu kata buat pak Desmon"MAMPUSSS" ketawa jahat dulu aku Thor hahahahaha aduh sampai kering ini gigi ketawa Mulu dari tadi🤣🤣🤣🤣
Ros 🍂: huhuhu terharu loh aku kak, Kalo Cerita bikin ketawa 🤭🤣🤣🤣
btw ini kenapa pada musuhan sama bapak Desmon 😭
total 1 replies
nayla tsaqif
Baru bogem daddy max nihh,,, mana nih grandpa kensingtone,, gk mau kasih salam bogem jg,, 😌
Ros 🍂: entah kenapa Saya sulit menghadirkan para Tetua kak 🤭🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
belum puas cuma tiga kali doang harusnya sampai masuk UGD🤭🤣🤣
Ros 🍂: kak astagaaa 🤭🤣🤣🤣
total 1 replies
nayla tsaqif
Vibesnya kayak ketemu musuh bebuyutan waktu masa kcil lihat mommy Eleanor dan daddy max,, 🤣
Ros 🍂: Udahlah kak Author nggak tanggung-jawab sama mereka 🤭🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
nayla tsaqif
Hukumannya ringan itu,, harusnya larinya pake baju balet warna pink,,,!!
Ros 🍂: kak😭 ngakak aku kak🤭🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
aaah cuma sepuluh kali doang harusnya hukumannya yg lebih berat misal nyapu halaman mansion,nyabutin rumput mansion🤭🤣🤣🤣🤣🤣 itu terlalu ringan Thor mohon tambahkan hukuman pak Desmon🤭🤣
Ros 🍂: hahaha sesuai request para Reader 🤭🤣🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
emaknya Mr. Desmon kocak asli🤣🤣🤣🤣
Ros 🍂: Reader suka nggak ?🤭😅
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
akhirnya😍 gak sia" perjuangan landon🤣
Ros 🍂: Wkwkw 🤭
total 1 replies
nayla tsaqif
Nunggu daddy max ngasih bogem dan khotbah sama landon,, 😌
Ros 🍂: wah ide bagus itu kak🤭 sesuai request 🤣
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
wahh landon siap bertarung ngadepin daddy max
Ros 🍂: semangatin kak🤭🤣
total 1 replies
Agus Hidayat
jreng jreenngggg akhirnya pak Desmon bisa liat jagoannya juga😍😍😍
Ros 🍂: Yahoooo🤭🥰
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
akhirnya bomnya meledak juga
Ros 🍂: wkwkwk🤭
total 1 replies
Yunie
akhirnya mulai terungkap
Ros 🍂: iya kak🫶
total 1 replies
Yunie
ada apa selama 2 tahun?
Vanni Sr: ohh Aj ank ny vexa dn london , tp daddy ny nutupin seolah itu makam ank mereka , mkny london benci vexa.
total 2 replies
Mei TResna Rahmatika
pliss thorr abis ini bkin mereka sama" mengakui masih cinta😭 nyesek bangett baca dr bab 1 nangisin mereka mulu
Ros 🍂: huhuhu Maafkan author yaa kak 🤭🙏🏻 nanti dibuat sesuai request 😅
total 1 replies
N I S
kak ceritamu bagus banget😍
Ros 🍂: ma'aciww ya Kak 🫶🥰
total 1 replies
Thee-na Tooth
ayoo kak up maraton 🤭
Ros 🍂: siap ya kak🫶
total 1 replies
Kristina NellaWara
semngt up thorrr
Ros 🍂: ma'aciww kak🫶🥰
total 1 replies
Kristina NellaWara
lnjut thor
Ros 🍂: siap kak 🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!