NovelToon NovelToon
System Pohon Ajaib Warisan Kakek

System Pohon Ajaib Warisan Kakek

Status: tamat
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Dikelilingi wanita cantik / Tamat
Popularitas:175.2k
Nilai: 5
Nama Author: ex

Lelah dengan kehidupan keras sebagai budak korporat di kota besar dan duka setelah kehilangan kedua orang tuanya, Lin Ye memutuskan untuk pulang ke Desa Qingshui, tempat kakeknya dulu tinggal.

Di sana, ia menemukan ladang dan rumah kakeknya yang sudah terbengkalai, kecuali sebatang pohon raksasa misterius di belakang rumah yang anehnya tetap subur dan hijau.

Saat tangan Lin Ye yang terluka menyentuh pohon tersebut, Sistem Warisan Alam yang terkunci sejak kematian kakeknya mendadak aktif, mengenali garis keturunannya sebagai pewaris sah.

Kini, dengan bantuan sistem yang memudahkan pekerjaan bertani dan kehadiran roh-roh alam fantasi, Lin Ye memulai kehidupan barunya yang santai namun penuh keajaiban untuk membangun kembali kejayaan ladang kakeknya, melawan intrik tetangga yang rakus, dan perlahan menjadi kaya raya di tengah kedamaian pedesaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

"Kepala Desa Wang," sapa Zhao He dengan nada suaranya yang tiba-tiba melunak dan menundukkan kepalanya sedikit. "Aku tidak mengganggu siapa-siapa. Aku hanya menyapa cucu Lin Tian ini. Dia bilang mau tinggal di gubuk reot ini."

Kepala Desa Wang mengabaikan Zhao He dan menoleh ke arah Lin Ye. Wajah tuanya menunjukkan senyum ramah yang terlihat sangat tulus. "Kamu Lin Ye? Anak dari Lin Fan?"

"Benar, Kepala Desa. Saya Lin Ye," jawab Lin Ye sambil menunduk hormat.

"Turut berduka cita atas kecelakaan kedua orang tuamu, Nak. Ayahmu sering mengirim surat kepadaku menanyakan kabar desa ini dan keadaan rumah kakekmu. Keputusanmu untuk pulang sudah tepat, meski kondisinya mungkin jauh dari apa yang kamu harapkan." Kepala Desa Wang menghela napas panjang sambil melihat ke arah rumah kayu yang rusak parah itu.

"Terima kasih banyak, Kepala Desa. Saya sudah mempersiapkan mental untuk menghadapi kondisi yang paling buruk sekalipun," kata Lin Ye.

Zhao He menyela pembicaraan itu dari samping dengan raut wajah tidak sabar. "Kepala Desa, kamu tahu sendiri aturan desa kita. Lahan yang terbengkalai lebih dari lima belas tahun dan menimbulkan sarang hama tikus serta ular bisa diambil alih oleh balai desa untuk dikelola ulang. Tanah ini sudah sangat kotor. Desa harus menyerahkannya padaku agar aku yang bersihkan dan kelola, daripada dibiarkan mati di tangan anak kota ini."

Kepala Desa Wang menggeleng pelan, menatap Zhao He dengan tegas. "Aturan itu berlaku hanya jika ahli warisnya tidak ada, menolak mengurusnya, atau tidak bisa dihubungi. Sekarang ahli waris sahnya, Lin Ye, ada di sini secara langsung. Hak kepemilikan tanah ini mutlak miliknya seutuhnya. Tapi Lin Ye, Zhao He benar soal satu hal. Aturan lingkungan desa tetap berlaku."

"Aturan lingkungan seperti apa, Kepala Desa?" tanya Lin Ye.

"Jika kamu tidak segera membersihkan ladang ini dan mulai menanam sesuatu yang berguna dalam waktu satu bulan, warga desa bisa mengajukan protes resmi. Hama dari tanahmu yang dipenuhi semak belukar bisa menyebar ke ladang mereka dan merusak panen. Jika protes itu terjadi dan terbukti benar, balai desa terpaksa harus turun tangan menyita sebagian lahanmu untuk dibersihkan secara paksa."

"Saya mengerti aturan itu, Kepala Desa," jawab Lin Ye tanpa ragu. "Saya akan mulai membersihkan rumah dan ladang ini mulai hari ini juga. Saya pastikan dalam batas waktu satu bulan, tanah ini akan bersih dan tidak akan mengganggu ladang milik tetangga mana pun." Lin Ye melirik tajam ke arah Zhao He. "Termasuk ladang jagung di sebelah."

Zhao He mendengus kasar, wajahnya merah menahan marah. "Baiklah kalau begitu. Kita lihat seberapa hebat tenaga pekerja kantoran sepertimu. Jangan menangis mencari bantuan saat tanganmu melepuh dan kapalan besok pagi. Aku tidak akan meminjamkan alat apa pun padamu."

Zhao He memutar tubuhnya dengan kasar dan berjalan pergi menyusuri pembatas ladang menuju rumahnya sendiri.

Kepala Desa Wang menepuk bahu Lin Ye dengan pelan dan hangat. "Jangan terlalu diambil hati ucapan Zhao He tadi. Istrinya sedang sakit parah di rumah sakit yang ada di kota. Dia sedang sangat tertekan mencari uang untuk biaya operasi yang tidak murah. Tapi tabiatnya memang sedikit keras dan kadang menghalalkan segala cara. Kamu harus ekstra hati-hati bertetangga dengannya."

"Saya sangat mengerti, Kepala Desa. Di kota besar, saya sering menemui orang yang jauh lebih licik dari dia. Setiap orang punya masalahnya sendiri. Tapi saya tidak akan membiarkan masalah orang lain dijadikan alasan untuk merebut hak milik saya," jawab Lin Ye.

"Pemikiran yang bagus dan dewasa. Kakekmu pasti bangga melihatmu berpendirian teguh. Jika butuh bantuan alat bersih-bersih seperti sapu atau ember, datang saja ke rumahku di tengah desa. Kakekmu dulu adalah teman baikku saat kami masih muda. Masuklah dan istirahatlah dulu hari ini, perjalanan dari kota pasti sangat melelahkan."

"Terima kasih atas kebaikan Anda, Kepala Desa Wang. Saya akan mampir jika butuh sesuatu."

Setelah Kepala Desa berjalan pergi menjauh, Lin Ye kembali berdiri sendirian. Dia menarik napas panjang, mengumpulkan tekadnya, lalu mendorong gerbang kayu yang reyot itu.

Kreeek.

Engsel gerbang yang berkarat menjerit nyaring memecah keheningan. Gerbang itu hampir copot saat Lin Ye mendorongnya masuk. Dia menyeret kopernya melewati rerumputan tinggi dan semak berduri, harus berhati-hati agar celananya tidak robek. Dia berjalan menuju pintu depan rumah. Pintunya terkunci dari luar, tapi gemboknya sudah sangat berkarat hingga berwarna cokelat kemerahan. Lin Ye mengambil sebuah batu berukuran sekepalan tangan dari tanah dan memukul gembok itu dua kali.

Klak.

Gembok itu patah dan terlepas. Pintu kayu berderit saat dibuka. Udara pengap yang bercampur bau kayu lapuk dan kotoran debu langsung menyambutnya. Di dalam rumah yang remang-remang karena cahaya matahari terhalang jendela kotor, hanya ada perabotan kayu tua yang diselimuti debu setebal satu sentimeter. Meja makan bundar di tengah ruangan, dua kursi kayu yang salah satu kakinya patah, dan sebuah tempat tidur kayu keras di sudut ruangan.

"Kakek, ayah, ibu, aku pulang," batin Lin Ye dengan rasa sesak di dadanya. "Maaf baru datang mengurus tempat ini sekarang."

Dia meletakkan koper dan tas punggungnya di atas meja makan yang tampaknya masih cukup kokoh menahan beban. Suhu di dalam ruangan terasa sangat gerah. Lin Ye melepaskan jaketnya, menggulung lengan kemejanya sampai ke siku, dan melangkah menuju pintu belakang. Dia ingat dari cerita masa kecil yang sering didongengkan ayahnya, kakeknya memiliki sumur tua yang airnya sangat jernih dan ladang sayur luas di halaman belakang rumah.

Saat dia menendang terbuka pintu belakang, pemandangan yang terlihat di luar jauh lebih buruk dari halaman depan. Ladang kakeknya benar-benar hancur lebur dimakan alam. Bukan hanya tumbuhan liar biasa, tapi semak berduri beracun tumbuh liar merambat menutupi seluruh permukaan tanah. Sisa-sisa pagar kayu pembatas kandang ayam sudah rata dengan tanah, kayunya membusuk dan hancur dimakan koloni rayap. Tanah yang dulunya subur kini terlihat kering kerontang dan pecah-pecah di beberapa bagian.

Namun, di ujung halaman belakang, tepat di dekat perbatasan dengan hutan bukit yang mulai menggelap, mata tajam Lin Ye menangkap sesuatu yang sangat janggal dan tidak masuk akal.

Di tengah semua kematian, tanah gersang, dan tanaman liar yang membusuk itu, berdiri kokoh menjulang sebuah pohon raksasa.

Batang pohon itu sangat besar, Lin Ye memperkirakan butuh setidaknya tiga orang pria dewasa bergandengan tangan untuk bisa memeluk batang tersebut. Kulit kayunya berwarna cokelat kehitaman dengan guratan-guratan aneh menyala yang terlihat seperti pola aliran sungai dari kejauhan. Tapi hal yang paling mencolok dan aneh adalah dedaunannya. Daun-daun pohon raksasa itu sangat rimbun dan berwarna hijau zamrud yang sangat cerah, seolah memancarkan cahayanya sendiri di bawah langit senja. Sama sekali tidak ada satupun tanda-tanda daun layu, penyakit, atau ranting kering seperti tanaman liar di sekelilingnya.

Wushhh.

Angin sore kembali bertiup pelan, menggerakkan daun-daun zamrud pohon raksasa itu. Entah mengapa, saat melihat gerakan dedaunan itu, Lin Ye merasa pohon tersebut seolah memanggil namanya dari kejauhan. Rasa penasaran yang kuat mengalahkan rasa lelah di sekujur tubuhnya. Lin Ye tanpa sadar melangkah maju, kakinya menerobos semak berduri yang menutupi jalan setapak menuju ke arah pohon misterius tersebut.

Srrk. Srrk.

Kakinya beberapa kali tersangkut akar liar yang menyembul dari dalam tanah. Semakin dekat jaraknya dengan pohon itu, udara di sekitarnya terasa semakin berubah. Udara yang pengap menjadi sangat sejuk dan segar memenuhi paru-parunya. Bau busuk dari kayu lapuk dan tanah mati perlahan menghilang, sepenuhnya digantikan oleh aroma manis dan menenangkan, persis seperti wangi bunga teratai yang baru mekar setelah diguyur hujan deras.

Lin Ye akhirnya berdiri tepat di bawah bayangan dahan pohon itu. Dia mendongakkan kepalanya ke atas, melihat betapa besar dan megahnya mahkota pohon ini menutupi sebagian langit.

"Aneh sekali. Sangat tidak masuk akal. Di daerah tanah gersang dan penuh tumbuhan liar perusak seperti ini, bagaimana mungkin ada pohon sebesar dan sesubur ini bisa bertahan hidup puluhan tahun tanpa ada satu orang pun yang merawat atau menyiramnya?" batin Lin Ye penuh tanda tanya.

1
SENJA
hadeeeh bulshit semua 🤮
Jeffie Firmansyah
keren semangat suka cerita nya
Jeffie Firmansyah
terimakasih Thor saya sdh baca hingga selesai, ceritanya bagus , dengan genre yg berbeda, pada novel 2 , yg lain... sehat selalu Thor 💪💪💪💪
Yui: terimakasih banyak kak sudah membaca sampai selesai, maaf klo banyak kesalahan dalam penulisannya, dan mungkin bisa baca juga novel author yang lain😊😊😊
total 1 replies
Endro Budi Raharjo
tanamannya gak jelas.... cm panen sekali bubar ganti lg...
Memyr 67
𝗉𝖺𝗅𝗂𝗇𝗀 𝗆𝖾𝗅𝗈𝗇 𝗓𝖺𝗆𝗋𝗎𝖽𝗇𝗒𝖺 𝖼𝗎𝗆𝖺 𝗌𝖺𝗍𝗎 𝗂𝗍𝗎 𝖺𝗃𝖺. 𝗅𝗂𝗇 𝗒𝖾 𝗄𝖺𝗇 𝗌𝗂𝗌𝗍𝖾𝗆 𝖻𝖾𝗋𝖼𝗈𝖼𝗈𝗄 𝗍𝖺𝗇𝖺𝗆𝗇𝗒𝖺, 𝗌𝖾𝖽𝗂𝗄𝗂𝗍 𝗌𝖾𝖽𝗂𝗄𝗂𝗍, 𝖽𝗂𝖼𝗈𝖻𝖺 𝗌𝖾𝗆𝗎𝖺.
Memyr 67
𝖽𝗂 𝗍𝖾𝗇𝗀𝖺𝗁 𝖽𝖺𝗇𝖺𝗎 𝖺𝖽𝖺 𝗉𝗎𝗅𝖺𝗎? 𝗈𝗐 𝗂𝗍𝗎 𝖽𝖺𝗁 𝗇𝗒𝖺𝗆𝗉𝖾 𝖽𝖺𝗇𝖺𝗎 𝗍𝗈𝖻𝖺 𝖻𝖾𝗋𝖺𝗋𝗍𝗂 🤣🤣🤣
Memyr 67
𝖽𝗂 𝖼𝗁𝗂𝗇𝖺, 𝗌𝖺𝗒𝗎𝗋 𝖻𝖾𝗇𝗂𝗇𝗀 𝖽𝗂𝗇𝖺𝗆𝖺𝗄𝖺𝗇 𝖽𝗎𝗉 𝗃𝗎𝗀𝖺 𝗒𝖺? 𝗄𝖺𝗅𝖺𝗎 𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀 𝗂𝗇𝖽𝗈𝗇𝖾𝗌𝗂𝖺, 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝖺𝖽𝖺 𝖽𝖺𝗀𝗂𝗇𝗀𝗇𝗒𝖺 𝗂𝗍𝗎 𝗌𝖺𝗒𝗎𝗋 𝖻𝖾𝗇𝗂𝗇𝗀, 𝖻𝗎𝗄𝖺𝗇 𝗌𝗎𝗉.
Memyr 67
𝗌𝖺𝗐𝗂 𝖼𝖺𝗆𝗉𝗎𝗋 𝗆𝖾𝗅𝗈𝗇? 𝖺𝗉𝖺 𝗋𝖺𝗌𝖺 𝖽𝖺𝗎𝗇 𝗌𝖺𝗐𝗂𝗇𝗒𝖺 𝖺𝗄𝖺𝗇 𝗌𝖾𝗉𝖾𝗋𝗍𝗂 𝗆𝖾𝗅𝗈𝗇?
Reyzz: melonnya yang rasa sawi kak😭
tergantung genetik sih, kalo dominan melonnya ya sawi rasanya melon, kalo dominan sawi ya melon rasa sawi
total 1 replies
Memyr 67
𝗌𝖾𝗎𝗉𝗎 𝗐𝖺𝗇 𝗃𝗂𝗇 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝗉𝖺𝖽𝖺 𝗌𝖺𝖽𝖺𝗋 𝖽𝗂𝗋𝗂, 𝗆𝖾𝗇𝗀𝗀𝗎𝗇𝖺𝗄𝖺𝗇 𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀 𝗍𝗎𝖺𝗇𝗒𝖺 𝗎𝗇𝗍𝗎𝗄 𝗆𝖾𝗇𝖾𝗄𝖺𝗇 𝗐𝖺𝗇𝗃𝗂𝗇 𝖽𝖺𝗇 𝖺𝗒𝖺𝗁𝗇𝗒𝖺, 𝗉𝖺𝖽𝖺𝗁𝖺𝗅 𝗉𝖺𝗋𝖺 𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀𝗍𝗎𝖺 𝗆𝖾𝗋𝖾𝗄𝖺 𝖽𝗂𝗍𝖾𝗄𝖺𝗇 𝖻𝖺𝗅𝗂𝗄, 𝗀𝖾𝗅𝖺𝗀𝖺𝗉𝖺𝗇, 𝖻𝖾𝗇𝖺𝗋 𝖻𝖾𝗇𝖺𝗋 𝗌𝖾𝗄𝖾𝗅𝗂𝗆𝗉𝗈𝗄 𝗆𝖺𝗇𝗎𝗌𝗂𝖺 𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁. 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝖻𝗂𝗌𝖺 𝗆𝗂𝗄𝗂𝗋
Memyr 67
𝗍𝖾𝗋𝗇𝗒𝖺𝗍𝖺, 𝗉𝖺𝗋𝖺 𝗉𝖾𝗍𝗂𝗇𝗀𝗀𝗂 𝗁𝗈𝗍𝖾𝗅 𝗀𝗋𝖺𝗇𝖽 𝗒𝗎𝗌𝗁𝖺𝗇 𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀 𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀 𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁 𝗒𝗀 𝖻𝖾𝗋𝗉𝗂𝗄𝗂𝗋𝖺𝗇 𝗌𝖾𝗆𝗉𝗂𝗍. 𝗉𝖺𝗇𝗍𝖺𝗌 𝖺𝗃𝖺 𝖽𝗂𝗋𝖾𝗆𝖾𝗁𝗄𝖺𝗇 𝗈𝗅𝖾𝗁 𝗀𝗋𝗎𝗉 𝗄𝗎𝗅𝗂𝗇𝖾𝗋 𝗅𝖺𝗇𝗀𝗂𝗍
Memyr 67
𝖻𝖺𝗋𝗎 𝗌𝖾𝗇𝖾𝗇𝗀 𝗌𝖾𝗇𝖾𝗇𝗀 𝖽𝖺𝗉𝖺𝗍 𝖽𝗎𝗂𝗍 𝗋𝖺𝗍𝗎𝗌𝖺𝗇 𝗋𝗂𝖻𝗎 𝗒𝗎𝖺𝗇, 𝖽𝖺𝗁 𝗍𝖾𝗀𝖺𝗇𝗀 𝗅𝖺𝗀𝗂.
Memyr 67
𝗉𝖺𝗋𝖺 𝗌𝖾𝗉𝗎𝗉𝗎 𝗐𝖺𝗇𝗃𝗂𝗇 𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁. 𝖺𝗉𝖺 𝗒𝗀 𝖺𝗄𝖺𝗇 𝗆𝖾𝗋𝖾𝗄𝖺 𝖽𝖺𝗉𝖺𝗍 𝖽𝖺𝗋𝗂 𝗀𝗋𝗎𝗉 𝗄𝗎𝗅𝗂𝗇𝖾𝗋 𝗅𝖺𝗇𝗀𝗂𝗍, 𝗍𝗂𝖽𝖺𝗄 𝖺𝖽𝖺 𝖺𝗉𝖺 𝖺𝗉𝖺𝗇𝗒𝖺 𝖽𝗂𝖻𝖺𝗇𝖽𝗂𝗇𝗀𝗄𝖺𝗇 𝖺𝗉𝖺 𝗒𝗀 𝖺𝗄𝖺𝗇 𝖽𝗂𝖽𝖺𝗉𝖺𝗍 𝗀𝗋𝗎𝗉 𝗄𝗎𝗅𝗂𝗇𝖾𝗋 𝗅𝖺𝗇𝗀𝗂𝗍. 𝗄𝖾𝗁𝖺𝗇𝖼𝗎𝗋𝖺𝗇 𝗀𝗋𝖺𝗇𝖽 𝗒𝗎𝗌𝗁𝖺𝗇, 𝗒𝗀 𝖻𝖾𝗋𝖺𝗋𝗍𝗂 𝗄𝖾𝗁𝖺𝗇𝖼𝗎𝗋𝖺𝗇 𝗆𝖾𝗋𝖾𝗄𝖺 𝗌𝖾𝗆𝗎𝖺. 𝗍𝖺𝗉𝗂 𝗉𝖺𝗋𝖺 𝖺𝗇𝗀𝗀𝗈𝗍𝖺 𝖽𝖾𝗐𝖺𝗇 𝗅𝖾𝖻𝗂𝗁 𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁. 𝖻𝗂𝗌𝖺 𝖽𝗂𝗍𝖾𝗄𝖺𝗇 𝗈𝗅𝖾𝗁 𝗉𝖺𝗋𝖺 𝗌𝖾𝗉𝗎𝗉𝗎 𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁 𝗐𝖺𝗇𝗃𝗂𝗇.
Memyr 67
𝗍𝖾𝗀𝖺𝗇𝗀 𝗅𝖺𝗀𝗂
Memyr 67
𝗉𝖾𝗍𝖺𝗇𝗂 𝗎𝖽𝗂𝗄 𝗒𝖺? 𝗅𝗈𝗇𝗀 𝗐𝖾𝗂 𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁 𝖽𝖺𝗇 𝖼𝖾𝗋𝗈𝖻𝗈𝗁 𝗀𝗂𝗍𝗎, 𝖻𝗂𝗌𝖺 𝗃𝖺𝖽𝗂 𝗉𝖾𝗆𝗂𝗆𝗉𝗂𝗇 𝖽𝗎𝗇𝗂𝖺 𝖻𝖺𝗐𝖺𝗁. 𝗅𝗈𝗅
Memyr 67
𝗉𝖾𝗍𝖺𝗇𝗂 𝗎𝖽𝗂𝗄? 𝗍𝗎𝗇𝗀𝗀𝗎 𝗌𝖺𝗃𝖺, 𝗌𝗂𝖺𝗉𝖺 𝗒𝗀 𝗅𝖾𝖻𝗂𝗁 𝗎𝖽𝗂𝗄. 𝗅𝗈𝗇𝗀 𝗐𝖾𝗂 𝗉𝗎𝗇𝗒𝖺 𝖺𝗇𝖺𝗄 𝖻𝗎𝖺𝗁, 𝖼𝗎𝗆𝖺 𝖻𝗂𝗌𝖺 𝗆𝖾𝗇𝗀𝖺𝗇𝖽𝖺𝗅𝗄𝖺𝗇 𝗈𝗍𝗈𝗍, 𝗍𝖺𝗉𝗂 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝖺𝖽𝖺 𝗈𝗍𝖺𝗄𝗇𝗒𝖺.
Memyr 67
𝖺𝗄𝗎 𝖼𝗎𝗆𝖺 𝖻𝖺𝖼𝖺 𝖺𝗃𝖺, 𝗍𝖺𝗉𝗂 𝗂𝗄𝗎𝗍 𝗌𝖾𝗌𝖾𝗄 𝗇𝖺𝗉𝖺𝗌
Memyr 67
𝖾𝗉𝗂𝗌𝗈𝖽𝖾 𝗆𝖾𝗇𝖾𝗀𝖺𝗇𝗀𝗄𝖺𝗇
Memyr 67
𝖻𝗎𝖺𝗒𝖺 𝖻𝗎𝗇𝗍𝗎𝗇𝗀 𝗆𝖾𝗇𝖽𝖾𝗄𝖺𝗍𝗂 𝗍𝖺𝗋𝗀𝖾𝗍
Memyr 67
𝗍𝖾𝗀𝖺𝗇𝗀
Memyr 67
𝗆𝖺𝗍𝖺 𝖺𝗂𝗋 𝗄𝗈𝗄 𝖻𝗂𝗌𝖺 𝖽𝗂 𝖽𝖺𝗅𝖺𝗆 𝖻𝗈𝗍𝗈𝗅?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!