NovelToon NovelToon
MILIARDER JALUR DEWA BALAS DENDAM SANG PEWARIS NAGA

MILIARDER JALUR DEWA BALAS DENDAM SANG PEWARIS NAGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Selama tiga tahun menjadi menantu yang numpang hidup, Arya Permana dianggap tak lebih dari sampah. Ia dihina oleh ibu mertuanya, dipandang rendah oleh saingan bisnis istrinya, dan menjadi bahan tertawaan seisi kota Metropolitan. Arya diam dan menanggung semua penghinaan itu demi melindungi wanita yang dicintainya.
​Namun, kesabarannya memiliki batas. Ketika keluarganya didorong ke ambang kehancuran, setetes darah Arya tanpa sengaja jatuh ke atas cincin usang warisan mendiang ibunya.
​Ding! [Sistem Naga Leluhur Berhasil Diaktifkan!]
​Dalam semalam, takdirnya berbalik 180 derajat. Tabir masa lalunya terbongkar; Arya ternyata bukan anak yatim piatu miskin, melainkan pewaris tunggal dari keluarga konglomerat paling berkuasa di dunia yang sedang disembunyikan.
​Berbekal kartu hitam dengan saldo triliunan dolar, keterampilan medis tingkat dewa yang bisa menghidupkan orang mati, dan teknik kultivasi kuno pembelah langit, Arya mulai menunjukkan taring aslinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Pembantaian di Istana Dewangga dan Utusan Bayangan

​Halaman utama Istana Dewangga, yang biasanya terawat sempurna bak taman firdaus, kini berubah menjadi zona perang yang porak-poranda. Asap mengepul dari sisa-sisa energi Formasi Segel Naga yang terbakar, berpadu dengan jeritan panik para pelayan dan penjaga bayaran yang berlarian tak tentu arah.

​Di tengah kekacauan itu, Arya Permana melangkah dengan ritme yang konstan, tak terganggu sedikit pun. Sepatunya menginjak bongkahan beton dan logam bengkok tanpa ragu.

​"Bunuh dia! Jangan biarkan dia masuk ke paviliun utama! Tuan Besar akan menghabisi kita semua jika dia lolos!" teriak seorang panglima penjaga berkepala plontos. Ia memimpin sekitar lima puluh praktisi bela diri tingkat menengah yang merupakan lapisan pertahanan terakhir Istana Dewangga.

​Mereka menerjang serentak, menghunus senjata tajam yang dialiri Qi murni, menciptakan jaring kematian yang berlapis-lapis.

​Elena, yang berjalan di belakang Arya, langsung mencabut pedang tipisnya. "Tuan, biarkan saya yang menangani sampah-sampah—"

​"Tidak perlu membuang energi secara tidak efisien, Elena," potong Arya datar. "Mati oleh pedangmu adalah sebuah kehormatan yang tidak pantas mereka dapatkan."

​Arya menghentikan langkahnya sejenak. Ia menarik napas pendek, lalu menghentakkan kaki kanannya ke tanah. Sekali lagi, Proyeksi Qi Eksternal bermanifestasi, namun kali ini bukan dalam bentuk gelombang, melainkan ribuan jarum energi berwarna biru yang setipis rambut.

​Wusss! Wusss! Wusss!

​Hujan jarum Qi itu melesat ke segala arah dengan kecepatan supersonik.

​Suara robekan daging dan tulang yang tertusuk bergema memilukan. Lima puluh praktisi bela diri itu seketika membeku di tempat. Senjata mereka terlepas dari genggaman. Detik berikutnya, mereka semua tumbang secara bersamaan seperti ilalang yang ditebas sabit raksasa. Titik saraf vital mereka hancur total tanpa setetes darah pun tumpah ke lantai. Kematian yang bersih, klinis, dan absolut.

​Elena menelan ludah. Ia adalah seorang pembunuh profesional, namun membunuh lima puluh ahli bela diri dalam satu kedipan mata tanpa menyentuh mereka... itu adalah ranah para dewa.

​Arya kembali melangkah, menaiki tangga marmer menuju pintu paviliun utama yang terbuka lebar.

​Di dalam aula yang luas dan dipenuhi pilar berukir naga emas, Bramantya Dewangga berdiri menantang. Darah segar masih mengotori sudut bibirnya akibat serangan balasan dari hancurnya formasi pelindungnya. Namun, aura di sekujur tubuhnya kini meledak-ledak. Energi keemasan bercampur dengan kabut hitam pekat menyelimuti otot-ototnya yang membesar tak wajar.

​Di tangannya, Bramantya memegang sebuah belati pendek berwarna obsidian yang memancarkan hawa dingin menyengat.

​"Arya Permana..." geram Bramantya, suaranya terdengar ganda, seolah ada entitas lain yang berbicara bersamanya. "Kau menghancurkan kerajaanku. Kau memusnahkan darah dagingku. Hari ini, aku akan mengorbankan sisa umurku untuk menarikmu ke neraka bersamaku!"

​Arya menatap Bramantya dengan pandangan menganalisis. Mata Fisik Petarung-nya langsung mengupas struktur energi pria tua itu.

​[Ding! Menganalisis target: Bramantya Dewangga.]

[Status: Setengah Langkah Menuju Grandmaster (Dipaksakan).]

[Peringatan: Target sedang membakar esensi jiwa menggunakan Artefak Kutukan Kelas Rendah dari Kuil Kegelapan. Energi bersifat korosif dan memakan kewarasan pengguna.]

​"Mengorbankan umurmu menggunakan mainan murahan dari sekte bawah tanah?" Arya menggeleng pelan, wajahnya memancarkan rasa kasihan yang merendahkan. "Secara logis, jika Kuil Kegelapan benar-benar menghargaimu, mereka tidak akan memberimu belati yang mengonsumsi jiwamu sendiri. Kau bukan sekutu mereka, Bramantya. Kau hanyalah anjing umpan."

​Kebenaran yang diucapkan Arya dengan nada datar itu menohok ego Bramantya. Pria tua itu meraung histeris, kehilangan sisa-sisa kewarasannya. Ia melesat maju dengan kecepatan bayangan, belati obsidian di tangannya membelah udara, meninggalkan jejak kabut hitam beracun yang melelehkan lantai marmer di bawahnya.

​"Tebasan Jiwa Iblis! MATIIII!"

​Bilah hitam itu mengarah tepat ke leher Arya, membawa kekuatan yang cukup untuk membelah sebuah gedung pencakar langit.

​Namun, Arya hanya menyeringai dingin. Ia tidak menggunakan senjata. Ia bahkan tidak menghindar.

​Tepat ketika belati korosif itu berjarak satu inci dari kulitnya, Arya mengangkat tangan kanannya yang telah dilapisi Qi Pembentuk Fondasi murni berwarna putih kebiruan. Tangannya mencengkeram bilah belati obsidian itu dengan telanjang.

​Trang! Sssshhhh!

​Suara logam beradu disusul bunyi mendesis keras bergema di aula. Kabut hitam beracun itu berusaha merusak kulit Arya, namun langsung menguap tak bersisa saat bersentuhan dengan Qi murninya yang jauh lebih padat dan superior.

​Mata Bramantya melotot ngeri. Serangan pamungkas yang ia bayar dengan nyawanya ditahan hanya dengan genggaman tangan kosong?!

​"Tingkat kepadatan Qi-mu terlalu lemah," bisik Arya, suaranya bagai vonis dari dewa kematian.

​Arya meremas jarinya.

​KRAK! Belati obsidian yang diklaim tak bisa dihancurkan itu meledak menjadi serpihan debu hitam.

​Sebelum Bramantya sempat berteriak, Arya melayangkan tendangan lurus yang sangat sederhana namun memiliki perhitungan kinetik yang mematikan. Ujung sepatu Arya menghantam dada Bramantya dengan presisi milimeter.

​BUMMM!

​Tulang dada Bramantya hancur berkeping-keping melesak ke dalam. Tubuhnya terpental ke udara seperti boneka kain, menghancurkan dua pilar penyangga marmer yang kokoh, sebelum akhirnya membentur dinding aula hingga retak parah.

​Pria tua itu merosot ke lantai, memuntahkan gumpalan darah hitam. Basis kultivasinya hancur total. Esensi jiwanya yang telah dibakar tak menyisakan apa pun selain raga yang menunggu ajal. Tuan Besar Keluarga Dewangga, penguasa absolut Ibukota, ditumbangkan hanya dalam satu gerakan.

​Arya berjalan santai menghampirinya, lalu meletakkan satu kakinya di atas dada Bramantya yang hancur, menekannya pelan namun mematikan.

​"Waktumu kurang dari dua menit sebelum organ dalammu sepenuhnya mati," ucap Arya rasional. "Tiga tahun lalu, Penerbangan 777. Apa yang sebenarnya dicari oleh Kuil Kegelapan dari orang tuaku?"

​Bramantya tertawa parau, darah terus menggelegak dari kerongkongannya. "Hehe... hahaha! Kau sangat kuat, Arya... sangat kuat. Tapi kau tidak tahu... monster macam apa yang kau hadapi. Orang tuamu... mereka menyembunyikan 'Kunci Dimensi Naga'... artefak yang bisa membuka segel dunia atas..."

​"Kunci Dimensi Naga?" Arya mengerutkan kening. Secara refleks, ia merasakan hawa hangat memancar dari cincin naga hitam usang di jarinya—Sistem Naga Leluhur.

​"Ya..." napas Bramantya semakin tersengal. "Mereka... Kuil Kegelapan... sudah tahu kau masih hidup. Utusan mereka... Sang Bayangan... sudah berada di Ibukota. Malam ini... saat kau menghancurkan formasiku, energinya akan menarik Sang Bayangan kemari. Kau... kau akan menyusul orang tuamu ke neraka!"

​[Ding! Informasi Dikonfirmasi.]

[Misi Baru: Bertahan Hidup dan Lenyapkan Utusan Kuil Kegelapan.]

​"Begitu," Arya mengangguk pelan, wajahnya sama sekali tak menunjukkan kepanikan. "Terima kasih atas informasinya yang efisien. Sebagai imbalan, aku akan membebaskanmu dari rasa sakit ini."

​Arya menekan ujung sepatunya sedikit lebih dalam.

​Krak. Jantung Bramantya Dewangga hancur. Napas terakhirnya terhembus, dan matanya kehilangan cahaya. Raksasa Ibukota itu telah tewas.

​Arya menarik kakinya dan berbalik. Ia mengambil komunikator dari saku jasnya. "Thomas, Keluarga Dewangga telah dibersihkan. Bawa tim akuisisi masuk. Malam ini, Ibukota resmi berada di bawah bendera Dragon Corp."

​"Sesuai perintah Anda, Tuan Muda," suara Thomas terdengar bergetar menahan kebanggaan di ujung sana.

​Arya memutuskan komunikasi. Ia menatap ke arah pintu keluar paviliun. Angin malam berhembus masuk, membawa aroma darah dan debu. Namun, indera keenam Arya mendeteksi sesuatu yang lain—sebuah fluktuasi Qi yang sangat dingin, kelam, dan jauh lebih pekat daripada apa pun yang pernah ia temui di bumi sejauh ini.

​Elena, yang berdiri di dekat pintu, tiba-tiba jatuh berlutut sambil memegangi dadanya. Wajahnya pucat pasi, tak bisa bernapas akibat tekanan aura pembunuh yang tiba-tiba menyelimuti seluruh Istana Dewangga.

​"T-Tuan... ada sesuatu yang datang..." bisik Elena terbata-bata.

​Dari balik kegelapan di halaman depan, sebuah siluet berjubah hitam perlahan melayang mendekat. Kaki siluet itu bahkan tidak menyentuh tanah. Hawa dingin seketika membekukan genangan darah di sekitar reruntuhan.

​Arya menyilangkan tangan di depan dada, senyum tipis dan mematikan menghiasi wajahnya. Ia akhirnya menemukan lawan yang secara logis layak untuk menguji batas kekuatannya.

​"Sang Bayangan," gumam Arya, matanya berkilat penuh antisipasi. "Selamat datang di wilayahku."

1
T28J
hadiir 👍
Aisyah Suyuti
menarik
Glastor Roy
update ya torku yg baik hati
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!