NovelToon NovelToon
Young Master & Secret Wife

Young Master & Secret Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:440
Nilai: 5
Nama Author: Karamellatee

Theodore, sang Kakak, memberikan tantangan kepada Celestine untuk mencari calon suamimu sendiri dalam satu bulan, atau dia yang akan memilihkan.

Celestine setuju.

Baginya, pangeran-pangeran di ibu kota terlalu "lembut" karena dia ingin seseorang yang bau mesiu, darah, dan sihir kuat. Dia berangkat sebagai utusan diplomasi ke Kekaisaran Heavenorth, wilayah yang dikenal paling keras.

Demi menemukan pria impian yang memenuhi standar kejam namun ajaib nya, Putri Celestine melakukan perjalanan ke perbatasan Kekaisaran yang paling berbahaya, hanya untuk menemukan bahwa pria yang ia cari adalah seorang monster di medan perang dan penyihir dingin yang menjaga gerbang kematian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#Bab 4 : Perasaan tersentuh

Pagi di Kastil La’ Mortine tidak pernah disambut dengan kicauan burung atau hangatnya sinar matahari yang menembus kelambu sutra.

Bagi Celestine, pagi hari ditandai dengan suara dentang logam dari lapangan latihan di bawah jendelanya dan hawa dingin yang merayap masuk melalui celah-celah batu granit yang masif.

Ia duduk di tepi tempat tidur, menatap jari-jemarinya yang masih memerah karena hawa dingin semalam. Tidak ada pelayan yang datang membawakan air hangat untuk membasuh wajah, tidak ada penjahit yang datang membawa pilihan gaun harian. Di perbatasan ini, setiap orang adalah pelayan bagi diri mereka sendiri, atau pelayan bagi kelangsungan hidup kastil.

Celestine bangkit dan menghampiri cermin rias kecil yang permukaannya sudah sedikit kusam. Ia mencoba menyisir rambut emasnya sendiri, namun jemarinya yang terbiasa dilayani kini terasa kaku dan kikuk.

Setiap tarikan sisir yang tersangkut di rambutnya seolah mengingatkan betapa tidak bergunanya dia di tempat ini. Ia adalah seorang putri dari Valley, negara yang penuh dengan bunga dan tawa, namun di sini, ia hanyalah sebuah beban diplomatik yang harus diberi makan.

Dengan usaha keras, ia mengenakan gaun wol biru yang paling sederhana yang ia bawa. Ia tidak lagi memikirkan bagaimana korsetnya harus membentuk pinggang yang sempurna; yang ia inginkan hanyalah kehangatan. Setelah selesai, ia melangkah keluar kamar, menyusuri koridor yang sunyi dan panjang.

Ia berharap akan bertemu George di persimpangan aula, atau setidaknya melihat sosoknya dari jauh. Namun, George Augustine seolah menghilang ditelan tugas-tugas militernya. Sejak kejadian di aula perjamuan semalam, pria itu seolah sengaja menghindar, membiarkan Celestine "menikmati" kesepian di kastil tua ini.

Langkah kaki Celestine membawanya ke sayap timur, tempat yang tampaknya merupakan area domestik. Di sana, ia melihat beberapa wanita berpakaian kusam sedang sibuk memilah-milah tumpukan kain kasar. Mereka adalah para istri prajurit dan pelayan kastil. Saat Celestine lewat, percakapan mereka terhenti. Mata mereka menatap gaun wol Celestine yang meskipun sudah sederhana bagi standar Valley masih terlihat terlalu mewah bagi mata mereka.

"Apakah ada yang bisa saya bantu, Tuan Putri?" salah satu wanita tua bertanya, namun nada suaranya tidak mengandung penghormatan, melainkan rasa ingin tahu yang skeptis.

"Aku mencari perpustakaan, atau mungkin tempat di mana aku bisa berguna," jawab Celestine, mencoba menjaga wibawanya.

Wanita itu tertawa kecil, suara tawanya terdengar kering seperti dedaunan musim gugur. "Berguna? Tangan halus sepertimu hanya cocok untuk memegang kipas, Tuan Putri. Perpustakaan ada di ujung menara utara, tapi di sana hanya ada buku-buku kuno tentang taktik perang dan sejarah monster yang mungkin akan membuatmu sulit tidur."

Celestine hanya mengangguk sopan dan melanjutkan langkahnya. Rasa tersinggung mulai membakar dadanya, namun ia menahannya. Ia harus membuktikan bahwa Theodore tidak salah mengirimnya ke sini.

Setelah menaiki tangga melingkar yang melelahkan, ia sampai di perpustakaan. Ruangan itu luas, namun gelap dan berdebu. Di sana, di antara tumpukan gulungan perkamen yang berantakan, ia melihat sesosok pria. Bukan George, melainkan sang Marquess de La’ Mortine. Ayah George itu sedang menatap sebuah peta besar dengan ekspresi yang sangat serius.

"Kau datang untuk belajar sejarah, atau hanya ingin mencari jalan pulang, Tuan Putri?" Marquess bertanya tanpa menoleh. Pendengarannya sangat tajam meski usianya sudah tidak muda.

"Saya ingin memahami mengapa perbatasan ini begitu penting hingga George harus menghabiskan seluruh waktunya di medan perang," sahut Celestine, melangkah mendekat ke meja besar itu.

Marquess akhirnya menoleh. Ia menatap Celestine dengan mata tajam yang seolah sedang membedah isi kepalanya. "Penting? Perbatasan ini adalah gerbang neraka. Jika kami jatuh, monster-monster itu akan merayap ke selatan, menuju taman-taman bungamu di Valley. George bukan menghabiskan waktu karena dia suka berperang; dia melakukannya karena tidak ada orang lain yang sanggup menahan kutukan ini."

"Kutukan?" Celestine mengerutkan kening.

Marquess menunjuk ke arah peta, tepat di sebuah wilayah yang dinamai The Weeping Frost. "Keluarga kami tidak hanya berperang dengan pedang. Darah La’ Mortine terikat pada tanah ini. Semakin kuat sihir yang kami gunakan untuk menahan kegelapan, semakin cepat tubuh kami membeku. Suatu saat nanti, George tidak akan bisa lagi merasakan hangatnya api perapian. Ia akan menjadi bagian dari es ini selamanya."

Celestine terdiam.

Bayangan George yang berdiri gagah di arena semalam kini tampak berbeda di matanya. Kekuatan luar biasa itu ternyata memiliki harga yang mengerikan. Kesunyian George, kedinginannya, dan sikapnya yang menjauh apakah itu semua adalah cara untuk mempersiapkan diri bagi keabadian yang membeku?

"Dan kau," lanjut Marquess, suaranya kini melunak namun penuh penekanan. "Jika kau benar-benar ingin menjadi istrinya, kau tidak bisa hanya duduk di sini dan menunggu diselamatkan. Kau harus belajar menjadi cahaya yang menahannya agar tidak tenggelam sepenuhnya ke dalam es."

Celestine menatap peta itu, lalu menatap tangannya sendiri. Ia tidak tahu apakah ia sanggup melakukan apa yang dikatakan Marquess. Namun, keinginan untuk memahami George semakin kuat.

Sore harinya, saat salju mulai turun kembali dengan lebat, Celestine berdiri di balkon yang menghadap ke gerbang utama. Ia melihat sekelompok ksatria berkuda memasuki halaman. Di paling depan, George memimpin dengan kuda hitamnya yang besar. Zirah peraknya kini tertutup noda darah hitam monster dan lapisan es tipis.

George turun dari kudanya dengan gerakan yang tampak sedikit kaku. Ia menyerahkan kendali kuda kepada pelayan dan mendongak sejenak. Matanya bertemu dengan mata Celestine yang sedang menatapnya dari balkon.

Hanya satu detik. Tidak ada senyuman, tidak ada lambaian tangan. George segera mengalihkan pandangannya dan masuk ke dalam kastil dengan langkah terburu-buru.

Celestine merasa dadanya sesak. Ketertarikan yang ia rasakan bukan lagi sekadar haus akan figur pria gagah dari buku cerita, melainkan rasa penasaran yang mendalam tentang luka yang disembunyikan pria itu. Ia berbalik dan berlari menuruni tangga, berharap bisa mencegat George sebelum pria itu mengurung diri kembali di kamarnya.

Namun, saat ia sampai di aula bawah, George sudah menghilang. Yang tersisa hanyalah jejak air dari es yang mencair di lantai batu, menunjukkan jalan ke mana sang Young Master pergi. Celestine mengikuti jejak itu hingga sampai di depan sebuah pintu besi berat di lantai bawah tanah yaitu ruang latihan pribadi George.

Dari balik pintu, terdengar suara napas yang berat dan dentuman sihir yang menghantam dinding. Celestine tidak berani membuka pintu itu. Ia hanya bersandar di sana, mendengarkan perjuangan George sendirian di dalam kegelapan.

Suasana di depan pintu besi itu terasa begitu menekan. Celestine masih bersandar di sana, merasakan dinginnya logam yang merembat ke punggungnya. Suara di dalam ruangan itu perlahan berubah. Bukan lagi sekadar suara benturan, melainkan suara desisan es yang membeku dengan cepat, diikuti oleh keheningan yang jauh lebih menakutkan daripada kebisingan mana pun.

Celestine memberanikan diri. Ia tidak mengetuk. Ia tahu jika ia mengetuk, George pasti akan mengusirnya dengan alasan formalitas atau keamanan. Dengan kedua tangannya, ia mendorong pintu besi yang berat itu. Pintu itu terbuka dengan derit pelan yang memilukan.

Pemandangan di dalam ruangan itu membuat napas Celestine tercekat.

Ruang latihan itu kini menyerupai gua es. Dinding-dinding batunya tertutup lapisan kristal bening yang tajam. Di tengah ruangan, George berlutut dengan satu kaki. Ia tidak mengenakan baju zirah, hanya kemeja tipis yang kini basah oleh keringat dan embun beku.

Tangan kanannya mencengkeram hulu pedang hitamnya yang tertancap di lantai, sementara tangan kirinya tampak gemetar hebat, diselimuti oleh lapisan es yang mulai merambat naik hingga ke sikunya.

"Sudah kukatakan... jangan kemari," suara George terdengar parau, pecah oleh rasa sakit yang disembunyikan.

"Kau terluka," bisik Celestine, mengabaikan peringatan itu dan melangkah masuk. Sepatu botnya berderit di atas lantai yang licin.

"Ini bukan luka," sahut George tajam. Ia mendongak, matanya yang kelabu tampak lebih redup dari biasanya, dikelilingi oleh rona kebiruan di bawah kelopaknya. "Ini adalah harga yang kubayar. Pergilah, Putri. Kau tidak seharusnya melihat sisi kotor dari keajaiban yang kau puja-puja itu."

Celestine tidak berhenti. Ia justru berlutut di depan George, mengabaikan rasa dingin yang mulai menusuk lututnya melalui kain gaun wolnya. Ia menatap tangan George yang membeku. Tanpa izin, ia meraih tangan kiri pria itu dengan kedua tangannya yang hangat.

George tersentak, mencoba menarik tangannya kembali. "Jangan sentuh! Kau bisa ikut membeku!"

"Maka biarkan aku membeku bersamamu," balas Celestine dengan nada bicara yang tenang namun tak tergoyahkan. Ia menggenggam tangan George lebih erat, mencoba menyalurkan kehangatan tubuhnya yang selama ini dipelihara oleh matahari Valley yang terik.

Untuk beberapa saat, tidak ada suara selain napas mereka yang menguap di udara dingin. George terpaku. Ia menatap bagaimana jemari halus Celestine melingkari tangannya yang kasar dan membeku. Ia sudah terbiasa dengan rasa dingin ini sejak kecil.

Baginya, dingin adalah satu-satunya teman yang setia. Namun, sentuhan Celestine terasa asing. Itu bukan sekadar panas yang membakar, melainkan kehangatan yang lembut, seperti sinar matahari yang mengintip dari balik awan badai.

Perlahan, lapisan es di lengan George mulai retak dan mencair, berubah menjadi tetesan air yang jatuh ke lantai batu. Napas George yang tadinya memburu mulai stabil.

"Kenapa kau melakukan ini?" tanya George, suaranya kini lebih rendah, kehilangan sebagian besar duri-durinya.

"Kau seharusnya takut padaku. Semua orang di kastil ini menghormati ku karena mereka takut. Ayahku melihatku sebagai senjata. Dan kau... kau menatapku seolah aku adalah sesuatu yang harus diselamatkan."

Celestine mendongak, menatap langsung ke dalam mata George. "Aku tidak ingin menyelamatkanmu, George. Aku ingin mengenalmu. Aku ingin tahu pria seperti apa yang bersedia menanggung kedinginan abadi agar orang-orang yang bahkan tidak ia kenal bisa hidup dalam kehangatan. Itu bukan sekadar kekuatan, itu adalah pengorbanan yang paling indah yang pernah aku dengar."

George terdiam. Untuk pertama kalinya, ia tidak memiliki kata-kata sarkasme untuk membalas. Ia merasakan kehangatan dari tangan Celestine mulai menjalar ke dadanya, meluluhkan sedikit demi sedikit dinding es yang telah ia bangun di sekeliling hatinya selama bertahun-tahun.

Ia melepaskan genggaman tangan Celestine dengan lembut, lalu berdiri. Ia mengambil jubahnya yang tergeletak di sudut ruangan dan melemparkannya ke bahu Celestine.

"Kembalilah ke kamarmu, Putri. Tempat ini tidak baik untuk kesehatanmu," ujar George. Ia berjalan menuju pintu, namun sebelum keluar, ia berhenti sejenak.

"Besok... jika kau benar-benar ingin melihat perbatasan, aku akan membawamu ke desa di bawah kaki bukit. Tapi jangan harap ada kereta kencana atau pelayan. Kau akan menunggang kuda bersamaku."

Celestine tersenyum, sebuah senyuman kecil yang tulus. "Aku akan siap sebelum matahari terbit, George."

George tidak menjawab, namun Celestine bisa melihat bahu pria itu sedikit melunak sebelum ia menghilang di balik pintu besi.

Malam itu, Celestine kembali ke kamarnya dengan perasaan yang campur aduk. Ia menyadari bahwa perjalanannya di Heavenorth akan jauh lebih sulit dan menyakitkan daripada yang ia bayangkan. George bukan sekadar ksatria gagah dalam mimpinya; ia adalah pria yang hancur namun tetap berdiri tegak.

Di sudut ruangan, Celestine melihat sepatu kristalnya yang kini tampak sangat konyol dan tidak berarti. Ia mengambil sepatu itu dan menyimpannya jauh di dalam peti pakaian. Ia tidak lagi membutuhkan sepatu itu. Ia sedang belajar cara berjalan di atas es, setapak demi setapak, menuju hati seorang pria yang telah lama membeku.

Sementara itu, di menara pengawas, Marquess de La' Mortine menatap kegelapan malam. Ia tahu bahwa kehadiran Celestine mulai mengubah putranya. Namun, ia juga tahu bahwa di luar sana, bayangan sedang berkumpul, bersiap untuk menghancurkan kehangatan kecil yang baru saja mulai tumbuh di dalam kastilnya yang dingin.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!