NovelToon NovelToon
Luka, Dendam, Dan Cinta Yang Tak Direncanakan

Luka, Dendam, Dan Cinta Yang Tak Direncanakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Romansa
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Adrianne Hana kehilangan ayahnya akibat kesalahan operasi yang ditutupi keluarganya sendiri. Alih-alih mendapat keadilan, ia dan ibunya justru disalahkan, membuat hubungan Hana dengan keluarga Soediro dipenuhi kebencian—terlebih karena ia memilih jalan hidup berbeda sebagai aktris dan pengusaha.

Dipaksa menghadiri perjodohan dengan Reiga Reishard, Hana berencana menggagalkannya. Namun, pertemuan mereka justru menghadirkan hal tak terduga yang perlahan mengikat dua hati dengan prinsip bertolak belakang—antara luka, penolakan, dan kemungkinan cinta yang tak pernah direncanakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LDCYTD

"Hai," sapa Reiga yang cukup terkejut menemukan Hana menyambutnya di depan lobi lantai 2 townhouse miliknya malam ini.

Bukankah hari ini jadwal Hana begitu padat, full syuting film terbarunya dengan Dion. Tapi Hana memang memaksakan diri kemari. Bukan untuk menyunat Reiga dua kali. Tapi karena hatinya yang ikut jatuh merana dan sungguh merasa bangga atas berhasilnya Reiga bertahan selama ini. Rasanya Hana ingin memeluk erat Mas Ayang-nya itu selamanya.

Hana berdiri sambil tersenyum begitu manis. Serta sorot mata yang hangat. Reiga senang sudah mengambil keputusan yang benar, untuk tidak langsung memencet angka 4 pada tombol lift rumah ini, agar bisa langsung ke kamarnya. Intuisinya yang diprakarsai otak dengan sinyal haus ingin minum, sungguh diganjar begitu manis. Lelahnya sehabis bekerja sontak hilang kemana. Bagai trik sulap yang dimulai dengan jentikan jari.

"Hai, Reishard," balas Hana.

Lalu, gadis itu tidak berpikir dua kali untuk berjalan cepat menuju Reiga dan menubruk tubuh tegap pria itu. Melingkari pinggang Reiga dengan kedua tangannya.

"Kalau udah nikah, apa aku akan selalu disambut kayak gini setiap pulang kerja?" goda Reiga mengeratkan pelukan Hana.

Sejujurnya, hatinya yang kesepian dan terlalu sering diabaikan saat masih anak, membuat Reiga begitu terharu akan tindakan kecil Hana. Reiga kecil yang dulu berharap selalu mendapatkan pelukan tiap sampai di rumah sepulang dari sekolah.

Hana mendongak. "Koreksi ya, Rei. Kamu akan selalu disambut begini tiap mau pergi maupun pulang kerja sama aku. Even kamu abis pulang main sama enam ibu peri, aku juga akan menyambut kamu seperti ini," jawab Hana.

Ya.

Dia memang akan melakukannya. Sesering mungkin. Hana ingin membanjiri Reiga dengan cinta. Tidak pernah ada cinta yang terlambat. Hana ingat betul pesan almarhum ayahnya itu.

Reiga berdecak, berlagak sebal, namun kini tangannya mengelus wajah kiri Hana. Penuh sayang. Dengan senyum tipis yang terasa begitu manis.

Ah, cinta sekali dia, sampai rasanya, dadanya ini begitu sesak, tak kuat menanggung berliter-liter kebahagiaan yang selalu diisi Hana tanpa ada niat berhenti. Sampai Reiga bertanya-tanya sendiri, kapan terakhir kali ia merasa sebahagia ini?

"Makasih ya, Rei," ucap Hana.

Senyum yang dipertontonkan Hana malam ini, detik ini, Reiga terhenyak.

"Untuk?"

"Karena sudah begitu hebat dan sekuat itu, bertahan selama ini, sampai akhirnya aku menemukan kamu," jawab Hana menuangkan isi hatinya persis sama seperti apa yang dilihat Reiga dalam diri Hana.

Begitu jujur. Asli. Gamblang. Namun terasa begitu hangat di hati Reiga.

Senyum Hana membuat kalimat jawaban tadi jauh lebih sempurna. "You don't need to be all alone anymore. Aku di sini. Nggak akan kemana-mana. Sekalipun tangan kamu lepasin tangan aku. I will hold you back, more tight than before. Lebih erat sampai kamu yakin, bahwa semua benar-benar akan baik-baik aja," tambah Hana.

Kedua mata Reiga refleks berkaca mendengarnya.

"Manis banget sih kamu, Han. Kebaikan apa yang udah aku lakuin ya? Sampai Tuhan sebaik ini sama aku, memberikan kesempatan untuk bisa bertemu, bahkan dicintai kamu," pelan Reiga mengucapnya.

Sungguh ia berterima kasih. Tidak pernah, Reiga merasa seberuntung ini sebelumnya. Di hidupnya yang menyedihkan itu.

"You did so many kind things, Sweetheart. Mas Ayang aku yang paling tersayang, yang hobinya nge-gombal, yang senyumnya paling manis sejagat raya," ucap Hana.

Reiga berdecak dengan senyum dibibirnya.

Ah, shit!

Belakangan ini, menatap Hana lama-lama bisa menggerus imannya. Bahaya! Sungguh seringkali ia nyaris lupa diri. Terbawa arus yang diciptakan hasrat yang bersekutu dengan cinta. Mereka datang dalam bentuk tsunami setinggi 10 meter dalam diri Reiga. Menghantam apapun, termasuk logika dan pertahanan diri Reiga. Mengikisnya perlahan. Membebaskan apa yang biasa disebut gelora.

Seperti malam ini, saat kecupan singkat, cepat, pemberian Hana yang durasinya bahkan tak sampai

5 detik itu, berhasil membuka segel yang terkunci rapat dalam diri lelaki dewasa seperti Reiga. Membawanya terbawa sampai akhirnya kebablasan dan mencium bibir Hana sesukanya. Menunjukkan pada Hana, bahwa cinta yang disebabkan gadis itu kadung begitu besar dan tak mampu lagi dibendung Reiga.

Perasaan dan hasrat besar nan meluap yang membuat Reiga, mendorong Hana kearah dinding, mengunci tubuh langsing namun berisi milik Hana dengan tubuh tegapnya. Mengenalkan Hana akan arti haus yang sebenarnya. Haus yang hanya bisa diredam Hana.

Hana sendiri terkesiap, namun tak sanggup menolak. Baik tubuh, otak, hati, dan jiwanya menyukai sentuhan Reiga. Ciuman Reiga. Yang malam ini tidak terasa seperti yang biasanya. Bulu kuduknya dirasa naik meremang. Bukan karena takut setan. Tapi dipicu ciuman Reiga yang membuat Hana rasanya bisa telanjang kapan saja. Gila memang! Sinting! Juga tidak bermoral! Hana berkelahi dengan diri sendiri. Karena ia tahu, hanya dirinya yang bisa menghentikan laju kebablasan Reiga saat ini.

Masalahnya, bagaimana ia bisa berhenti, saat yang mana, Hana... Ah, tidak! Hana dan Reiga ingin lebih dan lebih. Terus dan tanpa berhenti.

Bibir Reiga yang telah sampai leher jenjang Hana membuat gadis itu terperanjat atas sensasi baru yang dirasakannya. Refleks, ia mendorong Reiga. Tidak kuat. Tidak sengaja pula. Namun berkat dorongan spontan itu, Tuhan mengembalikan akal sehat Reiga ke tempatnya. Iman itu masih ada.

Mereka berdua tersengal sendiri. Seperti habis marathon dan kehabisan air di tengah jalan. Mata mereka saling menatap. Reiga yang mencaci dirinya atas lupa diri sepihak yang jika tadi Hana tidak mendorongnya, entah apa yang akan terjadi.

"Hana, Sayang... Aku minta maaf. Aku kelewatan. Nggak seharusnya aku berlebihan kayak tadi. Aku minta maaf. Kamu pasti taku .."

"I want more," potong Hana dengan senyum jahil.

Reiga bengong.

"Heh!" pekik Reiga dengan senyum tersungging diwajahnya.

Pria itu terkekeh.

"Ini anak satu nggak ada takut-takutnya ya," ujar Reiga.

Hana memberi ekspresi bangga seperti tengah menerima pujian.

Reiga mengusap wajahnya, seraya geleng-geleng kepala. Menatap Hana penuh cinta seperti biasanya. Hana yang tengah memandangi wajahnya sambil memegangi sisi jas berwarna abu-abu yang dipakainya.

"Lain kali jangan pancing-pancing aku kayak gitu ya, Han," ujar Reiga.

"Karena?"

Reiga memberi ekspresi hilarius dengan pertanyaan karena milik Hana.

"Bandel ya! Aku aduin ke Om Denis nih," ujar Reiga.

Hana tertegun. "Aduin sama ayah. Maksudnya?" Reiga memaki dirinya karena keceplosan.

"Aku ini cuma lelaki biasa yang punya hawa nafsu dan aku cinta banget sama kamu. Dan aku juga sangat menginginkan kamu. Lahir bathin. Jiwa raga. Sampai sini paham kan?" jawab Reiga. Sedikit banyaknya ingin mengalihkan pertanyaan Hana akibat salah ucapnya barusan.

Hana mengangguk dengan muka meledek Reiga.

"Malah ngeledek kan!!" ujar Reiga sok mengomel sambil menjetikkan jari di dahi Hana, begitu pelan. Tidak akan terasa apapun. Lalu, diraihnya kepala Hana, dikecupnya kening Hana khidmat.

Setelahnya Reiga memandangi Hana yang juga memandanginya.

"Mending aku mandi, sholat isya, daripada di tepi jurang kesesatan begini," canda Reiga.

"Dih! Jurang kesesatan," cemooh Hana.

Reiga hanya tersenyum. Membelai kepala Hana pelan. Berbisik di telinga kiri Hana.

Pertanyaan karena milik Hana.

"Bandel ya! Aku aduin ke Om Denis nih," ujar Reiga.

Hana tertegun. "Aduin sama ayah. Maksudnya?" Reiga memaki dirinya karena keceplosan.

"Aku ini cuma lelaki biasa yang punya hawa nafsu dan aku cinta banget sama kamu. Dan aku juga sangat menginginkan kamu. Lahir bathin. Jiwa raga. Sampai sini paham kan?" jawab Reiga. Sedikit banyaknya ingin mengalihkan pertanyaan Hana akibat salah ucapnya barusan.

Hana mengangguk dengan muka meledek Reiga.

"Malah ngeledek kan!!" ujar Reiga sok mengomel sambil menjetikkan jari di dahi Hana, begitu pelan. Tidak akan terasa apapun. Lalu, diraihnya kepala Hana, dikecupnya kening Hana khidmat.

Setelahnya Reiga memandangi Hana yang juga memandanginya.

"Mending aku mandi, sholat isya, daripada di tepi jurang kesesatan begini," canda Reiga.

"Dih! Jurang kesesatan," cemooh Hana.

Reiga hanya tersenyum. Membelai kepala Hana pelan. Berbisik di telinga kiri Hana.

"Kalau udah jadi istri aku, jangan harap kamu bisa tidur cepat, pretty," ucap Reiga membuat tubuh Hana terasa panas seketika.

"Heh!!" balas Hana galak.

Reiga cuma nyengir lalu ngeloyor pergi. Keluar ruangan di lantai 2 ini dan menuju lantai 4, kamarnya. Hingga tinggalah Hana sendiri. Gadis itu menyentuh leher kanannya yang tadi dipagut bibir Reiga. Perasaan cemas apa yang tadi menjalar dalam dirinya saat Reiga melakukannya.

Dering handphone mengagetkannya. Hana berjalan menuju meja bulat dengan vas bunga ditengahnya. Hana melihat siapa nama peneleponnya. Kedua matanya menyudut, tajam, Mbok Minjo, ART kepercayaan Eyang Uti.

Ada apa ini?

Hana juga kaget, kok ternyata ia masih menyimpan nomor Mbok Minjo. Perasaan tak enak apa yang tengah menjalar ditubuhnya kini. Begitu familiar seperti pernah dirasakannya. Hana menyegerakan diri mengangkat telepon itu.

"Mbak Hana?"

Suara Mbok Minjo terdengar berat.

"Iya, Mbok. Ini Hana. Ada apa ya? Kok telepon Han ..."

"Ibu jatuh di kamar, Mbak. Sampai sekarang belum siuman..."

Dua kalimat itu sudah mampu membuat waktu disekeliling Hana berhenti. "Eyang Uti jatuh...?"

bisiknya dalam hati.

"Si Mbok takut. Nggak ada orang di rumah. Den Devan. Den Derma. Nggak ada yang bisa dihubungi. Mbak Lana malah teleponnya di luar jangkauan. Si Mbok nggak punya nomor lain. Ada di handphone Ibu. Si Mbok nggak tahu pin-nya. Mbak Hana bisa ke rumah nggak, Mbak?"

Hana terhenyak dengan informasi yang diterimanya. Perasaan takut mencekam seperti saat mendengar dan melihat Denis jatuh di ruang TV rumah mereka waktu itu. Napas Hana kadung tersengal. Pikirannya kacau. Namun ia masih punya tenaga untuk berlari keluar, menuju lift yang membawanya langsung ke lantai 4. Pergi menuju kamar Reiga. Pria itu bersiap mandi. Kemejanya sudah dilepas, menunjukkan badan six packs yang selama ini belum pernah dilihat Hana.

Reiga terperanjat.

"Han??"

Muka panik dan banjir airmata Hana membuat Reiga tidak ingat lagi bahwa ia tengah bertelanjang dada.

Reiga berjalan menghampiri Hana.

Dicengkramnya lembut dua lengan Hana. "Atur napas dulu, kenapa? cerita pelan-pelan sama aku," ucap Reiga cemas melihat Hana yang sudah banjir airmata serta napas yang tersengal.

"Eyang..."

"Eyang? Eyang kenapa?"

"Eyang jatuh, pingsan, dan belum siuman sampai sekarang! Dan semua orang nggak bisa dihubungin!!!"

Hana menjawabnya dengan berantakan dan menggebu. "Kamu ternyata masih sesayang ini sama Eyang kamu, Han?"

"Tenang, Sayang. Semua akan baik-baik aja," ucap Reiga yang setelahnya langsung mengambil sweater navy miliknya beserta kunci mobil. Tidak jadi mandi. Belum isya.

Reiga mendampingi Hana yang tengah kalut.

Bergerak cepat menuju rumah Eyang yang syukurnya tidak jauh dari rumah Reiga. Ambulans ditelepon agar Eyang Uti bisa segera menuju RS tanpa harus menunggu-nunggu dan syukurnya lagi, malam ini, dokter jaga IGD adalah Zidane Arsa Satyanegara, sahabat baik mereka.

Hana ingat momen ini. Saat Denis terkapar tak berdaya di ruang TV rumah. Mengagetkannya dan Sara. Kala itu, jantung Hana pun terasa berhenti meski faktanya berdebar dengan sangat cepat.

Kejadian yang begitu cepat. Operasi yang begitu menegangkan. Berakhir dalam sebuah kepergian yang menyesakkan.

Badan Hana masih gemetar. Hari ini kedua kalinya, Hana mengantar seseorang masuk ke dalam ruangan operasi. Pintu yang tertutup rapat. Ketakutannya. Kenangan yang buruk dengan ruangan ini. Hana terpekur diam sendiri. Sebenci apapun ia dengan Eyang Uti atas keputusan sepihak menutupi penyebab kematian ayahnya, Hana tetap sayang Eyang-nya.

Hana tetap takut Eyang-nya pergi. Seperti Denis meninggalkan Sara dan Hana. Wajah pucat. Kesadaran yang belum kembali. Tanpa sempat berkata. Tanpa pemberitahuan. Hana bergemeretak melawan traumanya sendiri. Sampai seseorang menyelubunginya dalam kehangatan yang bukan hanya mendekap tubuh gemetarnya. Tapi juga hatinya yang penuh ketakutan dan prasangka buruk pada takdir Tuhan.

"Tenang, Sayang. Kita doain aja Eyang. She will be okay," ucap Reiga sambil memeluk erat Hana dari belakang.

Hana menoleh dan memeluk erat Reiga. Membenamkan kepalanya pada tubuh Reiga. Ah, seandainya dulu ia juga sudah punya Reiga.

"Rei, Han," sapa Zidane datang dengan langkah tergesa. Ia sungguh kaget saat Reiga mengabarinya akan identitas pasien yang baru saja masuk IGD. Eyang Uti-nya Hana. Dengan diagnosa sementara gagal jantung.

Hana langsung mendekat kearah Zidane.

"Dane, tolong selamatkan eyang gue," ucapnya penuh harap.

Hana percaya kemampuan Zidane. Lulusan terbaik spesialis jantung Harvard Medical School. Sekalipun manusia satu ini bisa dibilang cupu dalam kehidupan pribadinya. Namun begitu menyangkut profesi yang dianutnya ini. Zidane bergelar zero mistakes. Tanpa kegagalan.

"I do my best, Han," ucap Zidane tersenyum tipis.

Ekspresi frustasi Hana. Kalimat Hana yang baru terucap barusan adalah kalimat dan ekspresi yang acap kali disaksikannya dari keluarga pasien.

"Jangan putus doa ya," ucap Zidane lagi.

"Gue masuk ya," ujarnya kearah Reiga dan Hana.

"Success, surgeon," ucap Reiga mengiringi Zidane yang masuk ruang operasi.

Pintu yang sedikit terbuka itu kembali tertutup. Ketegangan itu kembali menyeruak dalam diri Hana.

"Sholat yuk," ajak Reiga.

"Kalau aku sedih, nggak berdaya, aku langsung datang ke sang pemilik hidup, meminta belas kasihnya agar aku bisa bertahan. Sama seperti sekarang, Han. Kita cuma bisa minta tolong sama Dia, agar menyelamatkan Eyang kamu lewat perantara Zidane," ucap Reiga begitu teduh.

Hana terhenyak. Lalu tersenyum.

Bersyukur, kali ini, ada Reiga yang menemaninya.

*

Hana memandangi Eyang Uti yang kondisinya sudah dalam kondisi stabil selesai Zidane

melakukan bedah torakoskopi 2,5 jam yang lalu. 2,5 jam yang sungguh menegangkan bagi Hana. Semua orang sedang menuju kesini sekarang. Hana cukup lega.

"Susu dingin, kopi dingin, air mineral, atau aku?" ucap Reiga memecah muka tegang nan pucat Hana, berubah jadi sedikit cerah dengan senyum tipis di wajah yang bengep karena menangis sesunggukkan di sesi doa sehabis sholat.

Hana-nya juga punya sisi ini ya?

Sisi rapuh tanpa superioritas yang biasa ditunjukkan Hana pada siapapun. Sisi yang membuat Reiga ingin memeluknya erat.

"She sleeps well," gumam Reiga yang ikut melihat kearah pandang Hana. Ada Denis di sana, di sisi kanan tempat tidur ibunya. Menatap cemas sama halnya dengan Hana.

"Hmm, syukurlah," sahut Hana lega.

Sungguh lega.

Reiga memandangi Hana lalu meraihnya dalam satu tarikan lengan kirinya.

"Ternyata sayang ya sama Eyang," ledek Reiga.

Hana menyipitkan mata.

"Mulai iseng kan??" sebal Hana.

Reiga terkekeh.

Hana lantas menyenderkan badannya yang lelah pada Reiga yang langsung mendekapnya tanpa diminta. Sungguh hari ini sangat melelahkan, bukan karena aktivitas yang dilakukannya sepanjang hari tadi. Tapi berkat ketegangan yang diberikan Mbok Minjo dari telepon dadakan yang membawa berita maha menakutkan bagi Hana.

Pandangan Hana, tak lepas dari kasur Eyang Uti.

"She is my idol, Rei," ujar Hana.

Tidak banyak yang tahu.

Hanya Ayah dan ibu-nya. Sejak kecil Hana memang sangat mengidolai Eyang Uti. Sepak terjang Eyang Uti sebagai dokter spesialis ginjal legendari negara ini. Juga ibu dari tiga anak yang sukses bertengger di jajaran dokter-dokter hebat dan terkemuka di Indonesia. Hana sungguh kagum. Bahkan sepertinya DNa tidak mau kalah, tegas, itu berasal dari

Reiga melirik Eyang Uti yang tampak tertidur, meski faktanya, Reiga bisa merasakan bahwa kesadaran Eyang mulai kembali. Sekalipun kedua mata tua itu lekat tidak bisa dipaksa membuka.

Reiga yaki bahwa Eyang Uti bisa mendengar apapun yang dikatakan Hana nantinya.

Isi hati Hana yang sebenarnya.

Hana kembali duduk tegak. "Eyang aku itu, pernah jadi kepala tim dokter kepresidenan.

Kemampuan Eyang sebagai dokter spesialis ginjal terbaik, bukan cuma di Indonesia. Pionir banget. Inspiratif. Eyang Uti adalah standar semua keberhasilan cucunya. Tapi dari semua pencapaian karir Eyang, justru bagian bakti Eyang sebagai seorang istri dan ibu lah yang paling memukau bagi aku. Hana yang masih lima tahun selalu bilang, dia akan jadi istri dan ibu seperti Eyang Uti. Konyol kan?"

Hana tersenyum lucu saat mengatakannya.

Reiga menatap Hana dengan senyum tipis.

Mengelus kepala belakang Hana. Mendengarkan Hana seksama.

"Sesibuk apapun Eyang, dia sendiri yang akan selalu memastikan bahwa semua penghuni rumahnya terpenuhi kebutuhan lahir bathinnya. Pergi dengan bahagia, lalu pulang karena rindu akan hangatnya rumah. Eyang selalu masak, selalu jadi teman curhat, dan motivator handal buat tiga anak lelakinya. Nggak pernah absen pada momen penting apapun. I wanna be like her," ucap Hana lalu kenangan tamparan Eyang pada pipi kirinya sungguh sangat menyakitkan.

Sampai sekarang.

"Aku salah nggak sih, Rei?"

"Nggak tahu," karena seyogyanya, Reiga pun mempertanyakan hal itu pada dirinya sendiri. Apa sikap dan reaksinya pada Mama-nya selama ini adalah hal yang benar?

"Ih, nggak solutif!" dumel Hana.

Reiga terkekeh.

Ia dengan gemas menarik Hana mendekat lalu menempelkan kening mereka. Hana terkesiap lalu mendorong Reiga mundur. "Ada Eyang, Reishard!! Astaga!!" heran Hana.

RIP Moral!

Tawa Reiga kembali berderai.

"You know what, Han."

"Apa!?" galak Hana.

Tatapan Reiga menyudut. Lekat. Pekat. Namun terasa hangat. Mengunci Hana dalam keadaan tergugah.

"Kamu akan jadi istri dan ibu sebaik idola kamu itu. Dan Eyang Uti kamu itu akan dengan bangga berkata sama semua orang, kalau Adrianne Hana, cucunya yang paling suka mendebatnya ini, menjadikannya sebagai idola," ujar Reiga. "Harusnya aku bilang juga betapa Eyang Uti kamu sayang dan bangga sama kamu, Han. Kamu adalah kebanggaannya. Tekad kamu. Keberanian kamu. Eyang kamu itu kagum sama besarnya seperti aku kagum sama kamu. So, i let her to say it with herself, biar Eyang sendiri yang bilang sama kamu, isi hatinya, "ucap Reiga dalam hatinya.

"Iya kan, Om?"Reiga melirik Denis yang tersenyum kearahnya.

Hana menatap Reiga. Menangkup wajah pria kesayangannya ini.

"Aamiin," pelan Hana tercekat, saking malunya. "Akan aku pastikan kamu bahagia lahir bathin Reiga Reishard," tambahnya dengan wajah serius.

"Can't wait to see it," ucap Reiga dengan senyum terkulum.

"Wish, she has fast recovery," ucap Hana kembali melihat kearah Eyang Uti.

"Tenang aja, Sayang. Dokter Zidane Arsa Satyanegara Sp. BTKV itu nggak kaleng-kaleng kemampuannya," ujar Reiga yang ingin membuat Hana tidak terlalu tegang.

Hana terkekeh.

"Iya ya. Aku nggak menyangka loh. Zidane bisa sekeren dan kharismatik kayak tadi. Looks like someone else," ucap Hana jujur.

Reiga terkekeh pelan.

Zidane memang sangat keren tadi. Penjelasan keadaan Eyang Uti, baik sebelum dan sesudah operasi. Runtut. Jelas. Sederhana dan mudah dimengerti. Pembawaan Zidane yang tenang menyambar Hana yang entah kenapa ikut tenang juga. Hana sampai lupa kalau yang tengah bicara dengannya tadi adalah Zidane yang tadi siang dia bully bersama Tristan.

"Kalau udah urusan jantung orang, Zidane nggak pernah cengengesan, Han," ucap Reiga membanggakan sahabatnya.

"Ciee.. bangga banget sama sahabatnya," ledek Hana.

"Oo iya lah! They're my proud. Kebanggaan aku," bangga Reiga dengan senyum menawannya.

Persahabatan yang jelas begitu kuat.

"Kok bisa sampai hajar Zidane hanya karena Cyila," ledek Hana.

Reiga tertegun.

Lalu, terkekeh pelan. "Siapa yang cerita? Tristan ya? Oversharing tuh anak!"

"Oh jadi nggak boleh oversharing soal Cyila sama aku??? Gitu, Rei!?" usil Hana belagak marah.

Reiga menyunggingkan senyum.

"Bukannya gitu, Sayangku!" sangkalnya.

Hana menyipitkan mata kearah Reiga.

"Beneran aku sunatin kalau macam-macam!!" ancam Hana. Reiga terkekeh. Dengan gemas ia menguatkan cengkraman jemari kirinya di pinggang Hana.

"Ada 100 juta Cyila sekalipun, yang datang deketin aku, Hati aku nggak akan berubah, Han. Cuma kamu dan akan selalu kamu," ucap Reiga serius, begitu dekat, intens.

"All of me is yours, Adrianne Hana," tambahnya.

Wajah Hana memerah. Jantungnya berdebar cepat. Mereka saling menatap satu sama lain.

"Sayang ada Eyang, kalau nggak, udah aku cium, "ucap Reiga dalam hatinya.

"Dih!!" sahut Hana tanpa sadar bersuara.

KRETTT!

"Et dah! Lagi nungguin orang sakit aja masih sempet-sempetnya mesra-mesraan!!!" sinis Zidane muncul dari pintu yang dibuka.

"Surgeonnnnn, makasih yaaaaa," ucap Hana dengan wajah sumringah.

"Sama-sama."

Zidane tersenyum bangga. "Harus tetap di-maintenance ya, Han. Dan beberapa kali check up," ujar Zidane mode serius.

Tangan kirinya mengulurkan kaos putih polos Uniqlo kearah Reiga yang langsung menerimanya. Dan tanpa ba bi bu lagi, Reiga membuka sweater yang dipakainya, memperlihatkan otot kekar di setiap jengkal permukaan tubuhnya. Hana bengong. Terpukau melihatnya. Sungguh pemandangan yang mengalihkan perhatian dan menguji iman.

"Jangan gelo deh, Han, tadi di rumah, lu liat beginian biasa aja, kenapa sekarang udah kayak ikan hiu cium bau darah. Shit!!"heboh Hana dalam hati.

Saking terpananya akan otot six packs Reiga. Hana sampai lupa kalau pacarnya itu bisa baca pikiran. Reiga mengulum senyum mendengarnya.

"Biasa aja lu liatnya!! Nggak usah nge-ces gitu kali, Han!" celetuk Zidane mengaburkan lamunan Hana.

"Sembarangan lu, Dane!!!" sangkal Hana dengan pipi merah.

"Sembarangan....??? Jelas-jelas dari tadi lu pelototin Reiga kayak gini nih," ejek Zidane memperagakan muka melongo Hana melihat tubuh bagian atas Reiga.

Wajah Hana merah seketika. Malu. Asli! Apa iya muka dia tadi secabul yang ditunjukkan Zidane.

"Anjir!! Adrianne Hana, udah nggak ada harga diri lu ya!!!!" pekik Hana dalam kepalanya. Rasanya ia ingin menampar mukanya sendiri sekarang.

"Nah tuh! Gimana mau berkilahnya lu, Han!?" ejek Zidane.

Hana menyipitkan mata. Sebal. Namun ia memang tidak bisa menyangkal tuduhan Zidane.

Zidane tertawa senang. Bersamaan dengan masuknya Om Derma dan Tante Wulan dengan wajah panik. "Eyang gimana, Han?" tanya Derma.

Hana langsung berdiri, menyambut adik bungsu ayahnya. Menjelaskan kronologis kejadian yang diketahuinya dari Mbok Minjo. Begitu jelas. Lalu, Hana pun melibatkan Zidane dalam obrolan tersebut. Reiga memperhatikan Hana. Tersenyum.

Kesayangannya itu sudah kembali ke bentukannya yang semula. Kuat dan superior.

Om Derma dan Tante Wulan tampak menghela napas lega. "Om tahu kamu memang sesayang itu sama Eyang kan, Han," goda Derma.

"Ommmm ...." ucap Hana yang merasa ledekan itu seharusnya tidak diucapkan dalam situasi ini.

Rada malu juga sih. Karena ternyata kebenciannya pada Eyang yang selama ini dielukannya, kini terasa semu.

"Nggak dikenalin?" tanya Derma seraya melirik Reiga yang sudah berdiri. Tersenyum ramah. Sopan.

Menyalimi Derma dan Wulan.

"Apa kabar, Rei?"

"Baik, Om."

basi. "Pacaran sama Hana?" tanya Derma tanpa basa-

"Om!" pekik Hana malu. Istrinya Derma, Wulan tersenyum geleng-geleng kepala.

"Iya, Om," jawab Reiga gentle dengan tatapan mata serius.

Hana terhenyak seraya menatap Reiga.

"Serius?"

"Sangat amat serius, Om."

"Udah siap?"

"Siap lahir bathin, Om," jawab Reiga membuat ratusan kupu-kupu mengerubungi tubuh Hana.

Sungguh ia terhenyak, terpana akan balasan ucapan itu. Juga dengan cara Reiga mengucapnya. Lelaki ini serius. Hana bisa merasakannya.

"Om tunggu ya, kunjungannya sama orangtua kamu," ujar Derma serius.

"Siap, Om. Secepatnya," jawab Reiga.

"Om Dermaaaa..." malu Hana.

Sangat kaget melihat Derma yang biasanya slengean itu terdengar seperti almarhum ayahnya.

Rei?" "Apa sih, Han??? Reiganya juga asik-asik aja. Ya,

Reiga tersenyum.

"Aman, Om."

Derma tersenyum senang, ia menepuk lengan kanan Reiga. Akrab.

*

"Nold."

"Ya, Pak?"

"Hana setuju untuk tetap stay," Pak Mano tertawa senang dari sambungan telepon.

Arnold terdiam.

Lalu, senyumnya menyungging lebar.

Melengkung bagai bulan sabit. Perlahan tawa renyah Arnold terdengar. Memenuhi ruang kerja di apartemen miliknya.

Pria itu merasa Tuhan begitu baik dengan dirinya. Sekali lagi dia diberi kesempatan untuk mencuri Hana kembali. Sebulan di Semeru, dirasa Arnold cukup.

"Secepatnya lo akan liat ini, Rei. Hari di mana lo kembali jadi orang asing buat Hana," tukas Arnold yakin.

1
𝐀⃝🥀Weny
thor, kok blm up lagi😪
𝐀⃝🥀Weny
wiiih... kira² mau ngomongin apa ya🤔apa mau kasih surprise ke Hana ya🤔
𝐀⃝🥀Weny
tumben up dikit thor😁
𝐀⃝🥀Weny
yang perlu dibuang ke tong sampah itu kamu chil😤
𝐀⃝🥀Weny
ohhh.. so sweet banget sih kamu Rei😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!