"Sepuluh tahun tanpanya adalah sunyi yang menyiksa. Tapi kepulangannya adalah badai yang tak terduga."
Dulu, Alea hanyalah gadis kecil yang menangis tersedu-sedu saat Uncle Bima—sahabat termuda ayahnya—memilih pergi ke luar negeri. Janji untuk memberi kabar ternyata menjadi kebohongan besar selama satu dekade penuh.
Kini, di usia 18 tahun, Alea bukan lagi "burung kecil" yang lemah. Namun, tepat saat ia akan memulai lembaran baru di bangku kuliah, pria yang pernah menghancurkan hatinya itu kembali muncul. Bima kembali bukan sebagai paman yang lembut, melainkan sosok pria dewasa yang posesif, penuh teka-teki, dan gemar melontarkan godaan yang membuat jantung Alea berpacu tidak keruan.
Terpaut usia 15 tahun, Bima tahu ia seharusnya menjaga jarak. Namun, melihat Alea yang kini begitu memesona, "paman" nakal ini tidak ingin lagi sekadar menjadi sahabat ayahnya.
"Sst, little bird... kau sudah cukup bersinar. Sekarang, waktunya pulang ke sangkarmu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15. Detak Yang Terdengar
Seiring berjalannya waktu, kehadiran Bima di hidup Alea bukan lagi sekadar tamu atau bayang-bayang masa lalu. Pria itu telah bermutasi menjadi udara yang Alea hirup, tak kasatmata namun esensial.
Setiap pagi dimulai dengan kelembutan, setiap siang diisi dengan perhatian, dan setiap malam ditutup dengan rasa aman yang palsu namun memabukkan. Alea merasa seolah-olah ia sedang berjalan di atas awan, melupakan bahwa di bawahnya ada jurang obsesi yang dalam.
Kelembutan Bima benar-benar tidak memiliki batas. Ia tidak lagi menjadi badai yang merusak, melainkan sebuah pelabuhan tenang yang sangat Alea butuhkan.
Namun, justru dalam ketenangan itulah, Alea mulai menyadari bahwa ada yang salah dengan dirinya. Pertahanannya yang dulu sekuat baja, kini telah meleleh menjadi cair. Jantungnya mulai berkhianat. Ada debar yang tak keruan setiap kali langkah kaki Bima terdengar mendekati kamarnya. Ada rasa hangat yang menjalar ke pipi setiap kali mata gelap pria itu menatapnya dengan teduh.
Puncaknya terjadi pada suatu sore yang mendung. Bima mengajak Alea ke salah satu gedung perkantoran milik Baskara di pusat kota untuk mengambil beberapa dokumen penting. Alea, yang sudah benar-benar merasa nyaman, mengikuti tanpa ragu.
Saat mereka hendak kembali, lift yang mereka naiki mendadak penuh sesak di lantai sepuluh. Sekelompok karyawan yang baru saja menyelesaikan rapat berhamburan masuk, mendesak penumpang yang sudah ada di dalam hingga ke sudut-sudut kabin metal itu. Alea, yang tubuhnya jauh lebih kecil, terdorong hingga punggungnya membentur dinding lift yang dingin.
Secara insting, sebelum tubuh Alea terhimpit lebih jauh, Bima bergerak. Pria itu langsung berdiri tepat di depan Alea, membelakangi kerumunan orang. Ia meletakkan kedua tangannya di dinding lift, tepat di sisi kanan dan kiri kepala Alea, menciptakan sebuah ruang privat yang kedap dari gangguan luar.
Posisi mereka begitu rapat. Terlalu rapat untuk hubungan antara seorang paman dan keponakan.
Dada bidang Bima yang kokoh bersentuhan langsung dengan dada Alea. Melalui lapisan pakaian mereka yang tipis, Alea bisa merasakan detak jantung Bima yang kuat dan stabil.
Namun, jantungnya sendiri? Jantung Alea berpacu liar seperti mesin yang rusak. Ia merasa seolah-olah seluruh pasokan oksigen di dalam lift itu telah disedot habis oleh kehadiran Bima yang mendominasi.
Alea mendongak, mencoba mencari udara, namun yang ia temukan justru wajah Bima yang hanya berjarak beberapa inci dari wajahnya.
Napas mereka saling beradu, hangat dan beraroma kopi. Alea bisa melihat dengan jelas setiap guratan di bibir Bima, setiap garis halus di sudut matanya, dan intensitas gelap di manik matanya yang seolah sedang menghisap seluruh kesadaran Alea.
Dalam kesunyian lift yang hanya berisi suara mesin yang menderu halus, Bima bisa merasakannya. Ia bisa merasakan bagaimana tubuh Alea sedikit bergetar di bawah kurungannya.
Ia bisa mendengar napas Alea yang pendek-pendek dan tidak beraturan. Dan yang paling nyata, Bima bisa merasakan detak jantung Alea yang luar biasa kencang—seperti seekor little bird yang sayapnya mengepak panik di dalam sangkar karena menyadari sang pemangsa ada di depan matanya, namun ia tidak ingin lari.
Bima menunduk sedikit lagi, membiarkan ujung hidung mereka nyaris bersentuhan. Tatapannya tidak lagi manis seperti beberapa hari terakhir. Untuk sekejap, kilatan predator yang dulu sempat membuat Alea ketakutan kembali muncul, namun kali ini bercampur dengan gairah yang tak tertahankan.
Alea merasa kakinya lemas. Ia ingin memalingkan wajah, namun matanya seolah terkunci oleh sihir pria di hadapannya. Ia ingin mendorong dada Bima, namun tangannya justru terasa ingin mencengkeram kemeja pria itu dan menariknya lebih dekat. Euforia yang ia rasakan begitu besar hingga ia harus menggigit bibir bawahnya mati-matian agar tidak mengeluarkan suara apa pun.
Bima menyadari perlawanan batin Alea. Ia menyadari bahwa gadis di depannya ini sedang berjuang menahan ledakan perasaan yang mulai tumbuh. Bima tidak berkata-kata. Ia hanya memberikan sebuah seringai tipis, sebuah senyum kemenangan yang sangat memabukkan, yang seolah menyatakan bahwa ia tahu persis apa yang Alea rasakan.
"Kau baik-baik saja?" bisik Bima. Suaranya rendah, parau, dan begitu dalam hingga Alea merasakannya bergetar di tulang rusuknya sendiri.
Alea hanya bisa mengangguk kecil, tidak berani membuka suara karena ia takut suaranya akan pecah. Ia memejamkan matanya rapat-rapat, mencoba meredam detak jantungnya yang semakin gila.
Namun, saat matanya terpejam, indra penciumannya justru menjadi lebih tajam. Aroma cedarwood dan maskulin Bima terasa semakin pekat, membungkusnya dalam sebuah dunia di mana hanya ada mereka berdua.
Detik-detik di dalam lift itu terasa seperti keabadian yang manis sekaligus menyiksa. Alea merasa sedang berada di ambang batas antara kewarasan dan kegilaan. Ia sadar bahwa perasaan ini salah. Pria ini adalah sahabat ayahnya. Pria ini jauh lebih tua darinya. Pria ini adalah orang yang pernah membuatnya menangis. Namun, di saat yang sama, ia tidak pernah merasa sehidup ini saat berada di dekat orang lain, termasuk Revan.
Tepat saat pintu lift berdenting terbuka di lantai dasar, Bima tidak langsung menjauh. Ia memberikan satu detik tambahan untuk menatap dalam ke mata Alea, memberikan pesan tanpa suara bahwa ia telah memenangkan pertempuran batin gadis itu.
Bima menarik tangannya dari dinding lift, memberikan ruang bagi Alea untuk keluar. Namun, saat Alea melangkah melewatinya dengan kaki yang masih gemetar, Bima sempat menyentuh punggung tangan Alea dengan ujung jarinya, sebuah sentuhan ringan yang terasa seperti sengatan listrik.
Sepanjang perjalanan pulang di dalam mobil, Alea hanya terdiam, menatap ke luar jendela dengan wajah yang masih terasa panas. Ia terus mengulang momen di dalam lift tadi di kepalanya. Ia menyadari bahwa ia tidak bisa lagi membohongi dirinya sendiri. Rasa benci itu telah kalah telak. Ia sedang jatuh hati, dan ia jatuh hati pada orang yang paling berbahaya di hidupnya.
Alea meremas jemarinya sendiri di atas pangkuan, berusaha menahan euforia yang meluap-luap di dadanya. Ia harus menyembunyikan ini. Ia harus bersikap biasa saja di depan Daddy-nya.
Namun, saat ia melirik ke arah Bima yang sedang menyetir dengan tenang di sampingnya, ia tahu bahwa Bima sudah tahu segalanya. Pria itu telah mendengar detak jantungnya, dan sejak saat itu, sangkar tersebut bukan lagi paksaan, Alea sedang berjalan masuk ke dalamnya dengan sukarela.
Bima tetap diam, fokus pada jalanan di depannya, namun sudut bibirnya terangkat membentuk senyum puas yang sangat tipis. Strateginya mendapatkan kepercayaan Alea telah mencapai puncaknya. Sekarang, ia hanya perlu satu dorongan kecil lagi untuk membuat Alea benar-benar menyerahkan kuncinya secara total.
"Detak jantungmu tidak bisa berbohong, little bird," batin Bima penuh kemenangan. "Kau sudah menjadi milikku, bahkan sebelum kau menyadarinya."