NovelToon NovelToon
Mantan Pemilik Sistem

Mantan Pemilik Sistem

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Fantasi
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Kairon04

"Aku sudah menaklukkan ribuan dunia, menghancurkan dewa-dewa kuno, dan memimpin pasukan bintang. Sekarang? Aku hanya ingin memastikan sawiku tidak dimakan ulat."

Zhou Ji Ran adalah legenda yang terlupakan—secara harfiah. Setelah menyelesaikan misi terakhir dari "Sistem Penguasa Multisemesta" yang mahakuasa, sistem tersebut hancur dan menghapus setiap jejak keberadaan Zhou Ji Ran dari memori seluruh makhluk di multisemesta. Dia bebas. Tanpa beban, tanpa misi, dan tanpa musuh yang mengejarnya.

Kini, ia hanya seorang pemuda 25 tahun yang hidup santai sebagai petani di pinggiran Desa Jinan yang terpencil. Baginya, kebahagiaan adalah melihat matahari terbit dan menyeruput teh pahit di teras rumah kayu sederhananya.

Namun, kedamaian "pensiunnya" hancur saat seorang murid jenius dari sekte besar, yang bersimbah darah dan ketakutan, mendobrak pintunya dan memohon perlindungan.

apakah sang penguasa akan kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kairon04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Enam

Suara derit kayu yang bergesekan secara konsisten memecah keheningan fajar di pinggiran Desa Jinan. Di dalam gudang gandum yang biasanya sunyi, kini terdengar napas berat yang tersengal-sengal, jauh lebih berat daripada napas kerbau penarik beban yang paling tua sekalipun. Jenderal Han, sosok yang dahulu memimpin ribuan pasukan elit Kerajaan Langit dengan sekali perintah, kini terlihat sangat mengenaskan. Jubah perangnya yang berwarna putih perak kini kusam karena debu tepung, dan wajahnya yang gagah penuh dengan peluh yang bercampur dengan bubuk gandum.

Di depannya, sebuah alat penggilingan gandum kuno yang terbuat dari batu hitam pejal terus berputar. Secara kasat mata, alat itu tampak seperti penggilingan biasa, namun bagi Jenderal Han yang berada di tahap Soul Transformation, setiap putaran alat itu terasa seperti ia sedang menyeret sebuah planet kecil. Ada segel gravitasi yang begitu kuat tertanam di dalam poros penggilingan tersebut, sebuah rahasia yang sengaja diletakkan oleh sang pemilik rumah untuk memastikan "tenaga kerja"-nya tidak bermalas-malasan.

"Sepuluh... karung... lagi..." gumam Jenderal Han dengan suara serak. Ia mencoba mengalirkan energi spiritualnya untuk meringankan beban, namun kerah energi di lehernya seketika menyusut, memberikan sensasi tersetrum yang membuat meridiannya gemetar. Ia menyadari satu hal pahit: di tempat ini, statusnya sebagai jenderal agung tidak lebih berharga daripada seekor keledai penggiling.

Tiba-tiba, pintu gudang terbuka. Sinar matahari pagi yang cerah masuk, menyilaukan mata Han yang sudah terbiasa dengan remang-remang gudang. Zhou Ji Ran melangkah masuk dengan tangan di belakang punggung, memperhatikan hasil kerja Han dengan mata menyipit. Ia mengambil sejumput tepung dari karung yang baru saja diisi, menggosoknya di antara ibu jari dan telunjuknya, lalu mendesah kecewa.

"Han, kau sudah berada di sini sepanjang malam dan kualitas tepung ini masih kasar. Apakah kau mencoba memberi makan ayam-ayamku dengan pasir? Jika teksturnya tidak sehalus sutra, roti yang dibuat Xiaoqi nanti akan terasa seperti mengunyah batu bata. Ulangi tiga karung terakhir," ucap Zhou Ji Ran datar.

Jenderal Han hampir terjatuh karena lemas. "Tuan... saya sudah mengerahkan seluruh sisa tenaga saya. Alat ini... alat ini bukan buatan manusia biasa! Bagaimana bisa penggilingan gandum membutuhkan kekuatan fisik setingkat Soul Transformation?"

Zhou Ji Ran menatap alat penggilingan itu dengan pandangan nostalgik. "Oh, itu? Dulu aku menggunakannya untuk menghancurkan inti energi dari dewa-dewa yang sombong sebelum aku mengubah fungsinya menjadi penggiling gandum. Tentu saja itu berat. Jika kau tidak bisa menghaluskan gandum, bagaimana kau bisa menghaluskan emosimu yang meledak-ledak itu? Lanjutkan kerjamu. Jika tidak selesai sebelum sarapan, kau hanya akan mendapatkan air putih tanpa jatah roti."

Zhou Ji Ran kemudian berbalik dan keluar, meninggalkan sang jenderal yang kini menatap karung gandum dengan pandangan penuh dendam namun tak berdaya.

Di halaman luar, suasana tampak sedikit lebih ceria—setidaknya bagi mereka yang bukan tawanan. Lin Xiaoqi sedang sibuk menyiapkan sarapan di dapur terbuka samping rumah. Aroma bawang putih yang digoreng dan nasi hangat menguar, menciptakan kontras yang aneh dengan pemandangan di ladang jagung. Di sana, Elder Mo dan murid-murid Sekte Gerhana Darah masih berdiri kaku. Tanaman melon pahit yang ditanam Zhou Ji Ran kemarin sore telah tumbuh dengan kecepatan yang tidak wajar, berkat energi spiritual yang secara tidak sengaja "dibocorkan" oleh para tawanan tersebut.

Sulur-sulur melon hijau segar kini melilit bahu Elder Mo, dan beberapa kuntum bunga kuning mulai mekar di dekat telinganya. Sang sesepuh agung itu tampak seperti patung dewa kesuburan yang gagal.

Ye Hua, Sang Dewi Pedang, berdiri di tepi ladang sambil memegang sebuah ember besar berisi air sungai. Ia sedang mencoba mengikuti instruksi Zhou Ji Ran tentang cara menyiram tanaman dengan "ritme pedang". Setiap kali ia menuangkan air, ia harus memastikan aliran airnya membentuk busur sempurna yang tidak merusak permukaan tanah.

"Lebih lembut, Ye Hua. Kau sedang menyiram kehidupan, bukan sedang menebas kepala musuh. Bayangkan air itu adalah bagian dari jiwamu yang tenang," teriak Zhou Ji Ran yang kini sedang duduk di teras sambil menikmati teh pahit pertamanya.

Ye Hua mengertakkan gigi, mencoba menahan emosinya. "Tuan... ini sangat sulit. Mencabut rumput jauh lebih mudah daripada memastikan setiap tetes air mendarat dengan kasih sayang."

"Itulah masalahmu. Kau terlalu fokus pada kehancuran hingga kau lupa cara merawat. Jika kau tidak bisa merawat sebatang bibit, bagaimana kau bisa memahami puncak ilmu pedang yang bertujuan untuk melindungi?" Zhou Ji Ran menyesap tehnya, matanya menatap kejauhan, ke arah cakrawala di mana langit mulai berubah warna menjadi merah darah yang tidak wajar.

Ekspresi santai Zhou Ji Ran perlahan memudar. Ia bisa merasakan adanya pergeseran dimensi yang sangat halus. Sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar jenderal kerajaan atau sesepuh sekte sedang mendekat. Bukan dari dunia ini, melainkan dari "Dunia Atas" atau mungkin... dari sisa-sisa jejak yang seharusnya sudah terhapus.

"Xiaoqi, siapkan porsi ekstra untuk sarapan. Sepertinya kita akan kedatangan tamu yang memiliki selera makan tinggi dan kesombongan yang lebih tinggi lagi," ucap Zhou Ji Ran tenang.

Lin Xiaoqi menjengukkan kepalanya dari dapur. "Tamu lagi, Tuan? Apakah mereka akan menjadi orang sawah juga?"

"Tergantung apakah mereka tahu cara mengetuk pintu atau tidak," jawab Zhou Ji Ran.

Hanya berselang beberapa menit setelah ucapan itu, langit di atas Desa Jinan tiba-tiba terbelah. Tidak ada awan hitam kali ini, melainkan cahaya keemasan yang begitu menyilaukan hingga penduduk desa di kejauhan segera berlutut, mengira itu adalah berkah dari para dewa. Sebuah kereta kencana yang ditarik oleh sembilan ekor naga perak turun dari celah langit. Naga-naga itu meraung, suara mereka menggetarkan pegunungan di sekitarnya dan membuat air sungai meluap sesaat.

Di atas kereta kencana itu berdiri seorang pria muda dengan jubah bordiran emas yang memancarkan aura kemurnian. Ia adalah Pangeran Long Wei, putra mahkota dari Kerajaan Langit Pusat di Dunia Atas. Di sampingnya, berdiri seorang wanita bercadar dengan mata yang memancarkan cahaya ungu misterius—sang Peramal Suci.

"Jadi, di sinilah Jenderal Han menghilang? Di sebuah lubang lumpur yang mereka sebut desa?" suara Pangeran Long Wei terdengar tenang namun mengandung kekuatan hukum yang membuat tanaman-tanaman biasa di luar ladang Zhou Ji Ran seketika layu karena tekanan aura tersebut.

Jenderal Han, yang mendengar raungan naga dari dalam gudang, seketika merasa harapan hidupnya kembali. "Pangeran! Saya di sini! Tolong selamatkan saya dari penggilingan terkutuk ini!" teriaknya sambil mencoba mendobrak pintu gudang.

Namun, pintu gudang itu tidak bergeming. Zhou Ji Ran telah menguncinya dengan aturan yang hanya bisa dibuka olehnya sendiri.

Pangeran Long Wei memandang ke bawah, ke arah gubuk kayu Zhou Ji Ran. Matanya kemudian tertuju pada Elder Mo dan ladang jagungnya. Ia sempat tertegun sejenak, lalu tawa dingin merayap di bibirnya.

"Menarik. Benar-benar menarik. Menjadikan ahli Nascent Soul sebagai tiang penyangga melon? Siapa pun kau yang bersembunyi di dalam gubuk itu, kau memiliki keberanian yang luar biasa. Keluar dan bersujudlah di hadapanku, maka aku mungkin akan mempertimbangkan untuk tidak menghapus desa ini dari peta dunia," perintah sang Pangeran.

Zhou Ji Ran tidak berdiri. Ia tetap duduk di kursi kayunya, menuangkan secangkir teh lagi. "Naga-naga itu... mereka sangat berisik. Dan mereka baru saja mengotori langitku dengan sisik-sisik perak mereka yang rontok. Xiaoqi, apakah naga perak rasanya enak jika dipanggang?"

Lin Xiaoqi yang sudah terbiasa dengan kegilaan tuannya, menjawab dengan polos, "Saya dengar daging naga agak keras, Tuan. Tapi mungkin jika direbus lama dengan bumbu dari kebun kita, rasanya akan lumayan."

Mendengar percakapan itu, Pangeran Long Wei merasa harga dirinya diinjak-injak hingga ke dasar bumi. Ia adalah penguasa masa depan Dunia Atas, dan di sini ada seorang petani yang membicarakan cara memasak hewan tunggangannya?

"Beraninya kau!" Pangeran Long Wei mengangkat tangannya. Sebuah segel emas raksasa terbentuk di langit, berukuran sepuluh kali lebih besar dari telapak tangan darah milik Elder Mo. Segel itu memancarkan aura "Penghakiman Kaisar", sebuah kekuatan yang secara teori hanya bisa digunakan oleh mereka yang sudah mencapai tahap Nirvana.

"Hancurlah bersama debu!"

Segel emas itu turun dengan kecepatan yang bisa membelah benua. Tekanannya membuat rumah kayu Zhou Ji Ran bergetar hebat. Ye Hua dan Lin Xiaoqi segera berlari ke arah Zhou Ji Ran, wajah mereka pucat pasi. Kekuatan ini berada di level yang sama sekali berbeda. Ini adalah kekuatan yang bisa mengubah hukum alam secara permanen.

Zhou Ji Ran akhirnya meletakkan cangkir tehnya. Ia berdiri perlahan, mengambil sebuah sapu lidi tua yang tergeletak di sudut teras—sapu yang biasanya ia gunakan untuk membersihkan kotoran ayam.

"Kalian orang-orang dari atas selalu saja suka membuat pertunjukan cahaya yang berlebihan. Apakah kalian tidak tahu kalau lampu yang terlalu terang bisa merusak kualitas tidur tanaman jagungku?"

Zhou Ji Ran melakukan gerakan sederhana. Ia menyapu udara di depannya dengan sapu lidi itu, seolah-olah ia sedang menyapu debu dari lantai.

*Sret... sret...*

Suara sapu yang bergesekan dengan lantai teras terdengar jelas di tengah gemuruh segel emas. Dan kemudian, sesuatu yang mustahil terjadi. Segel emas raksasa yang membawa kekuatan penghancur dunia itu tiba-tiba terfragmentasi, hancur berkeping-keping seolah-olah itu hanyalah gumpalan debu yang tersapu angin. Fragmen-fragmen cahaya itu kemudian terbang tak tentu arah, berubah menjadi kembang api kecil yang indah di langit pagi.

Bahkan sembilan naga perak yang menarik kereta kencana itu tiba-tiba kehilangan sayap energi mereka dan jatuh bergedebuk ke tanah, mendarat di area ladang yang masih kosong. Mereka mencoba meraung, namun hanya suara rintihan lemah yang keluar dari mulut mereka.

Pangeran Long Wei berdiri kaku di atas keretanya yang kini teronggok di atas tumpukan jerami. Wajahnya yang tadinya angkuh kini dipenuhi oleh keterkejutan yang murni. "Apa... apa yang kau lakukan? Teknik apa itu? Itu bukan energi spiritual... itu bukan hukum dunia..."

Zhou Ji Ran berjalan menuruni tangga teras, masih memegang sapu lidinya. Ia melangkah mendekati kereta kencana yang mewah itu. "Ini bukan teknik. Ini hanya kebersihan dasar. Jika ada kotoran di langit, kau harus menyapunya. Bukankah itu masuk akal?"

Sang Peramal Suci yang bercadar tiba-tiba melompat turun dan berlutut di hadapan Zhou Ji Ran. Tubuhnya gemetar hebat. "Mata Ilahiku... Mata Ilahiku buta saat menatap Anda. Anda... Anda adalah entitas yang tidak seharusnya ada di sini. Maafkan ketidaktahuan Pangeran kami, Senior!"

Pangeran Long Wei tersentak. "Peramal Suci, apa yang kau lakukan?! Dia hanya seorang petani yang menggunakan trik sulap!"

"Diam, Pangeran!" teriak sang peramal. "Anda tidak mengerti! Pria di depan kita ini... jika dia mau, dia bisa memadamkan matahari hanya dengan satu tiupan napas! Dia bukan dari dunia ini, dia adalah sesuatu yang lebih tua dari waktu itu sendiri!"

Zhou Ji Ran menatap sang peramal sejenak. "Mata yang bagus. Tapi cadarmu itu terlalu banyak menggunakan energi ungu, itu membuat matamu cepat lelah. Gunakan kompres air dingin dari sungai belakang nanti malam."

Ia kemudian beralih ke Pangeran Long Wei. "Dan kau, Pangeran Naga. Karena kau sudah merusak pagi yang tenang ini dan menjatuhkan sembilan kadal besar di ladangku, kau harus membayar harganya."

"Apa... apa yang kau inginkan? Emas? Teknik abadi?" tanya Long Wei dengan suara bergetar.

"Emas tidak bisa dimakan. Dan teknik abadi kalian hanya membuat kepala pusing," Zhou Ji Ran menunjuk ke arah sembilan naga perak yang kini tampak ketakutan. "Sembilan naga ini... mereka memiliki tenaga yang luar biasa. Aku sedang merencanakan sistem irigasi baru untuk ladang padi di bukit belakang. Mereka akan menjadi penarik pompa air permanen di sana."

"Dan kau," Zhou Ji Ran menatap Pangeran Long Wei. "Pakaianmu terlalu mewah untuk bekerja. Xiaoqi, berikan dia apron cadangan milik Ye Hua. Mulai hari ini, tugasmu adalah membersihkan sisik-sisik naga itu setiap hari agar tidak menyumbat saluran air. Jika ada satu sisik pun yang tertinggal, kau akan bergabung dengan Elder Mo di ladang melon."

Pangeran Long Wei ingin memprotes, namun saat ia menatap mata Zhou Ji Ran, ia melihat kehampaan yang begitu dalam—sebuah jurang tanpa dasar yang pernah menelan ribuan galaksi. Nyalinya seketika menciut. Ia menyadari bahwa di tempat ini, statusnya sebagai putra mahkota tidak lebih berguna daripada sebutir debu di bawah sapu lidi Zhou Ji Ran.

"Baik... Senior," ucap Long Wei dengan kepala tertunduk.

Dalam sekejap, Desa Jinan kembali menjadi tenang, namun dengan penambahan tenaga kerja yang semakin prestisius. Sembilan naga perak kini diikat dengan rantai energi transparan di dekat sungai, mulai memutar kincir air raksasa dengan napas mereka. Pangeran Long Wei, dengan apron kain kasar, mulai belajar cara menyikat naga dengan benar tanpa membuat mereka marah.

Jenderal Han akhirnya dibebaskan dari gudang, namun tugas barunya tidak lebih ringan: ia harus mengawasi Pangeran Long Wei dan memastikan sang pangeran tidak malas dalam bekerja. Sebuah pemandangan yang akan membuat seluruh penduduk Dunia Atas pingsan massal jika mereka melihatnya.

Sore harinya, Zhou Ji Ran kembali duduk di terasnya. Ye Hua membawakannya teh lagi, namun kali ini ia melakukannya dengan keanggunan yang lebih alami. Ia mulai memahami apa yang dimaksud dengan "ritme pedang dalam kehidupan".

"Tuan, apakah ini akan terus berlanjut? Semakin banyak ahli yang Anda tangkap, semakin besar perhatian yang akan Anda tarik. Mungkin sebentar lagi kaisar dari Dunia Atas sendiri yang akan turun," ucap Ye Hua sambil duduk di sampingnya.

Zhou Ji Ran menyesap tehnya, matanya menatap matahari yang mulai terbenam, memberikan warna emas pada ladang-ladangnya. "Biarkan mereka datang, Ye Hua. Semakin banyak yang datang, semakin cepat ladang ini berkembang. Aku selalu bermimpi untuk memiliki pertanian otomatis yang dikelola oleh para dewa. Bukankah itu masa pensiun yang sangat efisien?"

Ye Hua tersenyum tipis. "Anda benar-benar pria yang paling malas sekaligus paling menakutkan yang pernah saya temui."

"Aku tidak malas. Aku hanya menghargai waktu luangku," sahut Zhou Ji Ran.

Tiba-tiba, dari arah jalan masuk desa, seorang pria tua dengan pakaian compang-camping dan membawa tongkat kayu berjalan mendekat. Ia tampak seperti pengemis biasa, namun langkah kakinya tidak mengeluarkan suara sedikit pun di atas tanah. Ia berhenti di depan pagar, menatap Zhou Ji Ran dengan senyum misterius.

"Tuan Tanah, bolehkah seorang pengembara tua meminta segelas air?" tanya pria tua itu.

Zhou Ji Ran menatap pria tua itu cukup lama. Ia merasakan sesuatu yang berbeda. Pria ini tidak memiliki aura kekuatan, namun ia memiliki sesuatu yang sangat langka: memori yang seharusnya tidak ada.

"Air di sumur itu gratis untuk siapa saja. Tapi jika kau datang untuk mencari 'Sistem' yang sudah hancur itu, kau berada di tempat yang salah, pak tua," ucap Zhou Ji Ran dengan suara rendah yang hanya bisa didengar oleh pria tua itu.

Mata pria tua itu berkilat. "Aku tidak mencari Sistem, Penguasa Multisemesta. Aku hanya ingin melihat bagaimana rasanya hidup tanpa belenggu misi. Sepertinya kau melakukannya dengan cukup baik... meskipun kau masih saja suka mengumpulkan pelayan cantik dan jenderal perang."

Zhou Ji Ran terkekeh. "Kebiasaan lama sulit dihilangkan. Duduklah. Xiaoqi sedang membuat roti gandum yang teksturnya... yah, masih agak kasar, tapi lumayan untuk dimakan."

Pria tua itu duduk di tangga teras. "Dunia luar sedang kacau, Ji Ran. Kehilangan Jenderal Han dan Pangeran Long Wei telah memicu pergerakan di antara Faksi Bayangan dan Dewa Kuno yang mulai terbangun. Mereka merasa ada sesuatu yang salah dengan tatanan semesta."

"Biarkan mereka bergerak. Selama mereka tidak menginjak sawiku, aku tidak peduli," jawab Zhou Ji Ran tegas.

"Dan jika mereka menginjaknya?"

Zhou Ji Ran berdiri, menatap ladang melonnya di mana Elder Mo kini sedang menangis dalam diam karena sulur melon mulai merambat ke dalam hidungnya. "Maka aku akan memperluas ladangku hingga mencakup seluruh kerajaan mereka. Aku butuh lebih banyak lahan untuk menanam padi surgawi musim depan."

Pria tua itu tertawa terbahak-bahak. "Kau tidak berubah. Tetap sombong meskipun sudah menjadi petani."

Malam itu, di gubuk kecil Desa Jinan, sebuah pertemuan antara dua legenda lama terjadi di bawah sinar bulan. Tanpa sepengetahuan dunia, masa depan semesta sedang diputuskan di meja kayu yang penuh dengan noda teh dan remah roti gandum kasar.

Di luar, naga-naga perak mendengkur pelan di dekat sungai, dan Pangeran Long Wei sedang mencoba mengobati luka di tangannya akibat terkena sisik naga yang tajam. Ye Hua berlatih gerakan menyapu dengan sapu lidi, mencoba memahami rahasia di balik kekuatan Zhou Ji Ran.

Segalanya tampak harmonis, namun di balik cakrawala, bayangan gelap yang lebih besar mulai terbentuk. Dewa-dewa kuno yang pernah dikalahkan Zhou Ji Ran di masa lalunya mulai merasakan kehadirannya kembali, meskipun ingatan mereka telah terhapus. Insting mereka untuk membalas dendam tetap hidup, terkubur di dalam esensi jiwa mereka.

Namun bagi Zhou Ji Ran, masalah terbesarnya malam itu bukanlah dewa kuno, melainkan seekor ulat bulu besar yang ia temukan sedang mencoba memakan daun sawi primadonanya.

"OIII! XIAOQI! AMBILKAN PINSET! MUSUH BESAR SUDAH DATANG!"

Teriakan Zhou Ji Ran memecah keheningan malam, membuat Pangeran Long Wei dan Jenderal Han terjaga dari tidurnya dengan panik, mengira ada invasi musuh besar lainnya. Mereka tidak tahu bahwa bagi tuan mereka, seekor ulat bulu di atas daun sawi jauh lebih berbahaya daripada seluruh pasukan Kerajaan Langit.

Begitulah kehidupan sang mantan pemilik sistem. Setiap hari adalah pertempuran, setiap saat adalah komedi, dan setiap langkah adalah bagian dari perjalanan panjang yang tidak akan pernah ia sesali. Ia telah melepaskan takhta kemuliaan hanya untuk mendapatkan kepuasan dari sepetak tanah, dan ia akan memastikan bahwa tanah itu tetap aman, satu ulat bulu pada satu waktu.

Dunia mungkin tidak lagi mengingat namanya, namun bumi Jinan akan selalu merasakan kehadirannya, merayakan setiap butir peluh yang jatuh dari dahi sang legenda yang hanya ingin hidup dalam damai. Dan bagi Zhou Ji Ran, itu sudah lebih dari cukup. Perjalanan 500 langkah ini masih sangat jauh dari kata berakhir, dan setiap harinya menjanjikan keajaiban baru yang hanya bisa ditemukan di ladang seorang petani yang pernah menguasai segalanya.

"Tuan, ulatnya sudah saya tangkap!" seru Lin Xiaoqi dengan bangga.

"Bagus! Buang dia ke hutan, jangan biarkan dia kembali. Besok kita mulai menanam melon pahit di baris kedua. Aku rasa Pangeran Long Wei punya struktur bahu yang bagus untuk jadi penyangga tambahan."

"Baik, Tuan!"

Di bawah langit bertabur bintang, tawa Zhou Ji Ran menggema, sebuah tawa yang menandakan bahwa meskipun ia sudah pensiun, ia masih merupakan pemain paling berbahaya di papan catur kehidupan. Dan bagi siapa pun yang berani mencoba mengganggu kedamaiannya, mereka hanya akan berakhir menjadi bagian dari ekosistem pertaniannya yang megah. Kehidupan ini memang sangat menyenangkan.

1
anggita
pernah baca novel terjemahan yg ceritanya mirip ini di platform lain. tapi lupa judulnya🤭. dukung like👍, 2iklan☝☝.
anggita: oke👌Thor.
total 2 replies
anggita
Zhou Ji Ran.... joss 💪😊. moga lancar novelnya.
anggita
cerita yg cukup menarik..👍☝👌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!