Siapa sangka, Playboy yang paling ditakuti di sekolah itu ternyata hanyalah pria patah hati. Pria yang menyimpan dendam selama tujuh tahun karena ditinggal pergi oleh sahabat masa kecilnya bernama Melody.
Selama bertahun-tahun ia sangat membenci wanita, dan menjadikan mereka hanya sebagai pelampiasan.
Hingga takdir mempertemukannya kembali dengan gadis yang selama ini ia benci sekaligus rindukan. Gadis itu kembali dengan membawa cerita pahit dari panti asuhan dan kehidupan jalanan.
Dan sialnya ... gadis itu ternyata saudara tiri dari sahabatnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Murid Baru di Kelas Adden
"Gimana ketemu fans barunya?" tanya Adden dengan nada mengejek.
Messy memegang buku Aljabar 2 di tangan kanannya. Dia memperhatikan Adden mengambil buku dari loker lalu membanting pintunya keras-keras.
"Enggak sesuai ekspektasi aku sama sekali," jawab Messy datar.
"Maksud kamu gimana?" tanya Adden lagi.
Messy mengacak-acak rambut pirang gelapnya, tampak jelas dia sedang kesal. "Cewek itu pendiam banget. Jawabannya singkat semua, iya, enggak, makasih, halo. Cuma segitu doang."
Jojo mendekat ke arah mereka, sepertinya baru mendengar potongan akhir pembicaraan itu.
"Cantik enggak sih tuh cewek?" tanya Jojo asal bunyi.
Messy langsung melotot tajam ke arah temannya.
"Bro, kamu ngomong apa sih? Aku sama sekali enggak ada niat godain cewek yang tiba-tiba dateng ke rumah aku dan ngaku-ngaku jadi saudara tiriku. Kamu juga enggak pernah lihat aku ngelirik Giggi kan, adik kamu tuh? Itu aneh banget!"
Wajah Jojo langsung tegang mendengar nama adiknya disebut. Giggi adalah satu-satunya cewek dari tim cheerleader yang selalu mereka lindungi. Cewek itu cantik sih, tapi bukan tipe Adden dan terlalu polos.
Adden sebenarnya sering melihat Messy melirik Giggi, tapi dia memilih diam. Kayaknya Jojo tidak sadar, tapi Adden juga tidak berniat membocorkan rahasia itu.
Mata kan memang buat melihat. Kalau ada cewek cantik lewat, wajar dong kalau dilihat?
Enggak peduli siapa pun orangnya, prinsipnya sama. Cewek juga pasti sering lihatin cowok kan?
Jojo menepuk bahu Messy pelan, nada suaranya berubah jadi lebih lembut. "Sorry, bro. Aku cuma mau bercanda doang biar suasananya enggak kaku. Makasih ya kamu masih respect sama Giggi."
Matanya berpaling ke arah Adden.
"Makasih juga kalian udah bantuin aku jagain dia dari orang-orang aneh itu sejak kelas delapan."
Giggi itu Usianya cuma beda setahun lebih beberapa bulan sama Jojo. Sampai kemarin, Jojo satu-satunya yang punya saudara kandung. Tapi sekarang Messy juga punya adik perempuan. Berarti cuma Adden yang anak tunggal di antara mereka bertiga.
"Terus, kapan kita kenalan sama adik kamu itu?" tanya Adden.
Wajah Messy langsung masam.
"Dia bukan adik aku. Dia itu kesalahan masa lalu Papa aku, bukan kesalahan aku. Aku enggak kenal dia dan aku enggak peduli sama sekali. Jadi, kalian mau kenalan atau enggak, itu urusan kalian, enggak ada hubungannya sama aku."
Jojo mengangkat alis mendengar nada bicara Messy yang ketus banget.
"Wah, parah banget sih?"
Bel tanda persiapan masuk kelas berbunyi. Sisanya cuma ada waktu lima menit sebelum pelajaran dimulai.
Adden agak heran kenapa cewek itu tidak ada di dekat Messy sekarang. Adden yakin, Ibu Messy yang terkenal baik hati itu pasti nyuruh anaknya menemani si anak baru itu keliling sekolah atau setidaknya mengantar sampai ke kelas.
"Itu urusan Papa aku. Aku ogah jadi kakak protektif segala macem. Aku enggak peduli. Semakin cepat tahun ajaran ini selesai, semakin cepat juga aku bisa kabur kuliah keluar kota. Aku enggak mau liat muka dia lagi, dan aku enggak mau denger rasa bersalah Papa aku melulu."
"Terus Mama kamu gimana reaksinya pas pertama kali ketemu dia?"
Messy menggeleng pelan.
"Mama malah merasa bersalah dan pura-pura enggak tahu kalau Papa nyembunyiin fakta kalau dia pernah punya anak sama cewek lain waktu mereka awal pacaran dulu."
"Atau kayak enggak ada apa-apa padahal Papa nutupin itu dari pas Mama hamil aku sampai mereka nikah. Tapi ya gitu deh sifat Mama, pasti dia bakal memperlakukan cewek itu kayak anak kandung sendiri yang selama ini dia pengen banget."
Ibu Messy memang tidak bisa punya anak lagi setelah melahirkan Messy. Padahal dulu dia ingin sekali punya anak.
Adden ingat pernah dengar Messy cerita, kayaknya ibunya ingin sekali punya anak cewek setelah dia lahir, tapi berkali-kali keguguran. Kejam sih, kadang orang yang tidak pantas jadi orang tua malah dikasih banyak anak, tapi yang emang bener-bener ingin dan siap jadi orang tua, malah susah.
"Terus sekarang si 'anak kesalahan' itu di mana?" celetuk Adden lagi.
"Enggak tahu. Mungkin lagi jalan-jalan keliling sekolah."
Sekelompok cewek cheerleader lewat di depan mereka sambil melirik-lirik. Mihoy, Jen, sama Tania ada di situ.
Luccy mungkin merasa dia adalah cewek favorit Adden soalnya mereka sering tidur bareng. Cewek itu mungkin merasa dia lah satu-satunya cewek yang pernah 'ditempati' Adden. Padahal, Luccy cuma yang paling gampang diajak.
Kalau Luccy tahu semalam waktu dia chat good night, Adden malah lagi ada di apartemen Mihoy dan lagi sibuk sama cewek itu, bisa berantem habis-habisan mereka.
Mihoy senyum-senyum malu ke arah Adden, seakan ada hubungan khusus di antara mereka.
Adden rasa Luccy belum tahu kalau sebenarnya Adden sudah pernah tidur sama hampir semua cewek di tim cheerleader dan tim tari, kecuali Giggi ... tentulah.
Masalahnya, semua cewek itu selalu mengeluh hal yang sama. Mereka bilang Adden tak mau serius. Dan itu memang bener. Tak ada satu cewek pun di sekolah ini yang bisa membuat Adden klepek-klepek atau mau berkomitmen. Jadi mending mereka sadar dari sekarang dan biarkan Adden melakukan apa yang mau Adden lakukan sama mereka.
Adden masuk ke ruang kelas bersama Jojo, Messy, Luccy, dan Mihoy. Mereka baru saja duduk tepat saat Bu Rirris masuk.
Bu Rirris adalah salah satu guru yang mengajar materi sama untuk beberapa tingkatan. Kebanyakan murid di sini sudah kenal dia sejak lama.
Hari ini Bu Rirris pakai seragam staf sekolah. Untuk karyawati pakai rok dan blus, sedangkan staf cowok pakai polo shirt biru tua dan celana panjang.
"Selamat datang di Aljabar 2. Kebanyakan kalian pasti pernah belajar sama saya," ujar Bu Rirris.
Adden duduk di barisan paling belakang. Jojo dan Messy ada di sebelah kanannya, sementara di sebelah kiri, Luccy dan Mihoy berebut tempat duduk. Hari ini Luccy yang menang.
"Bagi yang belum kenal, saya..."
Kalimat Bu Rirris terhenti karena pintu terbuka. Seorang cewek masuk pakai hoodie biru tua yang menutupi seluruh wajahnya.
Adden tahu kalau itu cewek dari potongan rok seragamnya. Matanya otomatis memperhatikan kaki jenjang dan berkulit sawo matang yang berjalan melewati lorong.
Tanpa sadar dia menjilat bibirnya sendiri. Pasti murid baru, soalnya kalau cewek secakep ini sudah ada di sini dari dulu, pasti dia sudah tahu.
Gadis itu terus menunduk dan berjalan menuju kursi kosong di pojok kanan belakang. Seluruh kelas memperhatikannya.
Tiba-tiba tubuh Messy menegang kaku. Tangannya mencengkeram pinggiran meja begitu kuat. Adden langsung paham situasinya. Itu pasti saudara tirinya. Saudara tiri yang selama ini Messy harapkan tak pernah ada.
Bu Rirris berdeham pelan untuk mencairkan suasana. "Bagi yang belum kenal, saya Bu Rirris dan akan mengajar kalian Aljabar tahun ini."
Matanya melirik ke arah gadis misterius di belakang yang masih menunduk. Gadis itu tak bergeming dan anehnya tidak membawa tas maupun buku sama sekali.
"Saya mau kalian ambil kertas, lalu tulis satu paragraf tentang kegiatan liburan lalu. Bisa soal jalan-jalan atau pengalaman bareng orang terdekat."
"Nanti saya baca supaya bisa lebih kenal sama kalian sebelum pelajaran dimulai," tambahnya lagi.
Suara buku dibuka dan kertas disobek memenuhi ruangan. Adden mengambil pulpen favoritnya dari saku dan membuka buku catatan.
Isi liburannya standar saja. Latihan, nongkrong sama teman, main cewek, party, tidur, dan ulangi lagi dari awal.
Saat sedang menulis, dia mendengar Bu Rirris mulai membacakan daftar hadir. Dia tak peduli sampai nama 'Messy' dipanggil.
Dia tahu nama keluarganya tak akan jauh dari situ, tapi nama yang terdengar berikutnya membuatnya terpaku. Tinta pulpennya malah menodai kertas saat nama itu diucapkan lagi.
"Luki ... Melody Lukita."
Jantung Adden berdegup kencang, perutnya terasa melilit. Dia perlahan menoleh ke kanan, tak percaya.
Tidak mungkin.
"Melody Lukita? Tolong konfirmasi kehadirannya," panggil Bu Rirris lagi.