NovelToon NovelToon
Dibuang Pacar Dinikahi Guru Tampan

Dibuang Pacar Dinikahi Guru Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Dosen / Dunia Masa Depan
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Aliya sofya Putri

"Siniin," pinta Dara.
"Cium dulu."
Dara melotot, "lih, siniin!"
"Iya, tapi cium dulu." Rafa menunjuk ke arah pipinya.
Dara mengulum bibir. Malu, dia mulai mendekatkan wajahnya. Hingga saat bibirnya hampir mengenai pipi Rafa, suaminya itu malah menoleh dan akhirnya bibir Dara mendarat di bibir Rafa.



Andara Maheswari (17 tahun) tidak menyangka jika sosok pacar yang dia kira tulus dan juga mencintainya ternyata bertahan dengannya hanya atas dasar rasa kasihan semata.
Dara dihina, diputuskan, atau mungkin lebih tepatnya dibuang oleh pacarnya. Braden selingkuh darinya.
Tidak cukup sampai disitu, sampai di rumah dia pun harus menyaksikan pertengkaran kedua orang tuanya. Kepahitan hidupnya seakan terus berlanjut. Dia terpaksa harus menerima perjodohan dan menikah dengan pria yang sama sekali tidak dia kenal demi menebus hutang yang dimiliki oleh ayahnya.
Dara tidak menyangka, jika pria yang dijodohkan dengannya adalah salah satu guru di sekolahnya. Pria dingin serta jutek yang membenci

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliya sofya Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13

"Ya ampun, udah jam segini!"

pekik Dara kaget saat melihat jam

di ponselnya.

"Kenapa emangnya? Lo mau

pulang?" tanya Aiden.

Dara mengangguk, membawa

buku yang akan dia beli dan pergi

meninggalkan Aiden.

Kedua bahu Dara melemah saat

Rafa tidak ada di tempat terakhir

mereka berpisah tadi. Mau

menghubungi Rafa, tapi dia tidak

tahu nomor ponsel suaminya itu.

"Dia udah pulang kayaknya,"

gumam Dara sedih. Dia ingat

ucapan Rafa yang hanya

memberinya waktu 20 menit saja.

Sedangkan dia kebablasan sampai

setengah jam lebih.

Dara membuka tas kecil yang

dia bawa. Memejamkan mata

seraya memukul kepalanya pelan

karena dia juga lupa tidak

membawa dompet.

"Ya ampun, ceroboh banget sih.

Gak bawa dompet segala!" Dara

merutuki dirinya sendiri.

"Kenapa?" tanya Aiden.

Dara menoleh dan dia ragu

untuk mengatakannya.

"Emm ... Aiden, gue ... gue

boleh pinjem duit gak? Besok gue

balikin. Gue lupa gak bawa

dompet," ucapnya lalu nyengir.

Aiden membulatkan mulutnya

kemudian berdecak pelan. "Kirai

apaan. Sini bukunya gue bayarin."

"Aiden, makasih banyak ya.

Maaf gue ngerepotin, besok

beneran gue ganti di sekolah," ucap

Dara.

"Iya, bawel banget sih! Gak

diganti juga gak apa-apa."

Dara mengerucutkan bibirnya,

masalah buku sudah selesai, kini

dia bingung mengenai pulang.

"Rumah lo di mana? Gue

anterin," ucap Aiden sambil

memberikan tas plastik berisi buku

milik Dara.

Dara menggelengkan

kepalanya cepat. Dia merasa tak

enak hati karena sudah dibayarkan

buku meski itu adalah hutang, masa

iya harus minta dianterin pulang

juga.

"Gak usah. Gue pesen ojol aja.

Nanti dibayarnya di rumah," balas

Dara.

"Beneran?" tanya Aiden

memastikan.

Kali ini Dara langsung

mengangguk mantap.

Di sini, di depan toko besar ini.

Sudah sepuluh menit tapi Dara

tidak kunjung mendapatkan ojol.

Dia melirik ke arah Aiden yang

sejak tadi kekeh ingin

menunggunya sampai dia pulang.

"Gak ada, 'kan? Yuk gue anterin

aja. Ini udah mau ujan soalnya,"

ucap Aiden.

Dara langsung melihat langit

yang memang mulai berubah gelap,

belum lagi hari juga sudah beranjak

sore ke petang, sudah jam 4 sore

karena tadi pun dia dan Rafa pergi

jam 3 sore.

Dara menggigit bibir dan

mengangguk. "Maaf ya ngerepotin,"

ucapnya.

Sudah pakai helm, Aiden juga

sudah nangkring di motor

besarnya, kini Dara bingung

naiknya. Bukan karena gak bisa,

tapi karena Dara memakai rok

sebatas lutut, kalau naik motor,

nanti pasti jadi diatas lutut karena

ketarik.

Aiden yang paham pun turun

lagi dari motor besarnya, membuka

jaket yang sejak tadi dia pakai dan

memberikannya pada Dara.

Dara menatap bingung dan

matanya malah kedap kedip.

"Untuk?"

"Ck. Buat nutupin depan lo

nanti," balas Aiden.

Dara nyengir, "Makasih

banyak."

Dara langsung memakainya di

pinggang, menalikan bagian lengan

ke belakang dan naik ke atas motor.

Merasa lega karena pahanya

tertutup oleh jaket milik Aiden.

"Siap?" tanya Aiden.

"Iya."

"Pegangan!"

Dara melihat ke arah pinggang

Aiden. Ingat kalau statusnya bukan

lagi seorang lajang, dia pun hanya

memegang ujung kaos yang dipakai

Aiden saja.

Aiden tersenyum tipis di balik

helm yang dia pakai lalu mulai

melajukan motor besarnya yang

berwarna hitam itu ke jalan raya.

"Rumah lo di mana?" tanya

Aiden yang baru ngeuh kalau Dara

belum menyebutkan alamatnya.

"Apa?!" teriak Dara karena

merasa Aiden bicara tapi dia tidak

terlalu dengar.

Aiden melepaskan sebelah

pegangan tangannya dan duduk

agak tegak kemudian bertanya lagi.

"Rumah lo di mana?"

"Di jalan lele nomor 19!" jawab

Dara agak teriak.

Di persimpangan, lampu

merah menyala. Aiden melepaskan

pegangannya pada stang dan

menegakkan posisi duduknya. Dia

mengajak Dara bicara sampai Dara

tertawa dan memukul pelan

pundak Aiden.

Di saat itu pula, di jalan sebelah

kiri mereka, Braden lewat sambil

membonceng Monica. Kedua

matanya menyorot tajam melihat

Dara dibonceng oleh seseorang

yang dia kenali dari helm dan

motornya.

Braden kesal, marah, menyesal.

Andai tahu kalau Dara secantik itu,

tentu dia tidak akan dengan

bodohnya memutuskan gadis itu.

Braden merasa dia yang sudah

menjalin hubungan lama dengan

Dara, tiga tahun dengan kondisi

penampilan Dara yang tentunya

jauh dari kata cantik.

Lalu sekarang? Setelah Dara

berubah cantik, kenapa harus pria

lain yang dekat dengannya.

"Nggak, gak boleh. Dara harus

ngebayar hubungan yang selama ini

tetep kejalin sama gue. Ngebayar

waktu gue mau tetap jadi pacar dia

meski dia culun!" batin Braden.

Dara menikmati angin sore

yang menerpa kulit wajahnya.

Udaranya memang tidak sesegar di

kampung-kampung yang

kebanyakan masih asri, di Jakarta

sini sudah tercampur dengan polusi

asap dari kendaraan. Tapi tetap

saja, dia senang.

Andai dia belum menikah, dia

pasti bisa menikmati masa-masa

seperti sekarang ini. Andai juga

suaminya tidak jutek dan cuek,

mungkin saja dia juga bisa

menikmati suasana seperti

sekarang ini dengan suaminya itu.

Hah..

Dara menghembuskan napas

berat. Dia benar-benar tidak bisa

menikmati masa remajanya seperti

dulu sekarang. Seperti ini saja dia

sudah merasa salah, karena tidak

izin dulu pada suaminya.

"Dih, ngapain juga gue ngerasa

bersalah. Kan dia yang bilang

sendiri kalau meski gue istrinya,

gue gak ada hak sama sekalike dia,

begitu pun sebaliknya." Dara

menbatin.

Tapi, yang namanya

perempuan, apalagi sudah

bersuami, dan Dara juga sudah

mendapat wejangan entah itu dari

ustadz yang waktu itu

menikahkannya dengan Rafa.

Entah itu dari ibunya beserta video-

video reels yang selalu dikirimkan

ibunya tentang kewajiban seorang

istri, apa yang boleh dan tidak boleh

dilakukan oleh seorang istri, Dara

merasa tak enak hati.

Sibuk dengan pikirannya

sendiri, dia sampai tidak sadar

kalau sudah sampai di depan

gerbang rumah milik suaminya itu.

"Ra, udah sampai!" seru Aiden.

Dara terhenyak, dia menatap ke

rumah yang sudah seminggu lebih

ini jadi tempat tinggalnya. "Oh, iya."

Dara turun sambil berpegangan

pada kedua pundak Aiden. Dia

melepaskan helm dan

memberikannya pada Aiden.

"Makasih banyak ya," ucap

Dara.

Aiden mengangguk, melihat

rumah Dara yang menurutnya

sangatlah mewah. Salut karena

Dara sikap dan sifatnya baik serta

tidak sombong meski berasal dari

keluarga kaya raya.

"Emm ... ini rumah saudara

gue. Gue tinggal di sini."

Aiden mengangguk. Dia

melihat jam warna hitam yang

melingkar di pergelangan

tangannya. "Gue langsung pulang

ya. Udah sore banget," ucapnya.

Dara mengangguk,

melambaikan tangan saat Aiden

pergi.

Dia tidak sadar, kalau sejak tadi

Rafa memperhatikan interaksinya

dengan Aiden dari atas balkon

kamar.

Rafa memang sengaja

menunggu Dara dan ingin melihat

istrinya itu diantarkan pulang oleh

siapa. Dugaannya benar, Dara

pulang bersama Aiden.

"Cih. Dia lupa apa kalau udah

nikah," gumam Rafa.

Tiba-tiba hujan turun dengan

derasnya, Rafa hendak masuk

karena balkon mulai terkena

guyuran air hujan.

Langkahnya terhenti saat dia

melihat Dara yang malah anteng

main hujan-hujanan.

Dara merentangkan kedua

tangan, dia memejamkan mata dan

membiarkan tetesan air hujan

mengenai wajah cantiknya. Dara

yang memang sangat menyukai

hujan pun tersenyum dan terlihat

sangat bahagia saat itu.

Rafa tanpa sadar tersenyum

tipis. Dia bahkan tidak sadar kalau

pakaiannya mulai basah terkena

guyuran air hujan yang menyorot

ke arah balkon di mana dia berada.

"Non! Aduh, jangan main

hujan-hujanan! Nanti sakit!" Dari

teras rumah, Bi Inem berteriak

memanggil Dara.

"Bentar lagi, Bi!" sahut Dara

teriak juga.

Oma Atira yang mendengar

teriakan dari teras ikut keluar

karena penasaran. Bibirnya

mengulas senyum melihat wajah

ceria Dara menikmati air hujan

yang sudah membuat tubuh dan

pakaian gadis itu basah kuyup.

"Cepet ambilkan handuk yang

agak besar," titah Oma Atira yang

langsung dituruti oleh Bi Inem.

"Kamu sangat menyukai hujan,

berbanding terbalik dengan Rafa

yang kini memiliki trauma besar

yang berhubungan dengan hujan,"

gumam Oma Atira.

Dara akhirnya menyudahi

aksinya bermain hujan saat Oma

Atira yang memanggil. Dia naik ke

lantai atas dan minta maaf pada Bi

Inem yang harus mengepel lantai

yang jadi basah karena ulahnya.

"Udah, gak apa-apa. Nanti Bibi

buatin minuman hangat ya," ucap Bi

Inem.

❤️

Paginya, Dara dan Rafa

dikejutkan oleh kabar mengenai

Oma Atira yang katanya ada

pekerjaan di luar kota selama satu

minggu. Begitu juga dengan Bi Inem

yang katanya harus pulang

kampung karena ada keluarganya

yang sakit. Sama, izinnya satu

minggu juga.

Dia melirik ke arah Dara yang

juga sedang melihat ke arahnya. Itu

artinya ... selama satu minggu ini,

mereka hanya akan berdua di

rumah.

"Kenapa Oma gak serahin

pekerjaan sekarang ke orang lain?

Oma kan harus banyak istirahat,"

ucap Rafa khawatir.

"Gak bisa, ini proyek penting

dan Oma gak begitu percaya buat

serahin pekerjaan ini ke orang yang

bukan keluarga Oma sendiri."

Rafa langsung diam, dia tahu ke

mana arah dan maksud ucapan

sang oma barusan. Keduanya

berdiri di teras, menatap mobil

yang dikendarai oleh Pak Beno

mulai pergi keluar gerbang.

Dara menepuk keningnya

karena lupa memesan ojol.

Beruntung langsung dapat dan

lokasi kang ojolnya juga lumayan

dekat.

Sambil menunggu, Dara

memutuskan untuk berselancar di

sosial media. Namun, dia terkesiap

saat ponselnya diambil oleh Rafa.

"Eh, mau ngapain? Siliniin

gak?!" seru Dara. Berusaha meraih

ponsel miliknya yang sayangnya

diangkat tinggi oleh Rafa.

"Sebentar," ucap Rafa.

Dia memberikan ponsel itu

kembali setelah selesai menyimpan

nomor dia sendiri.

"Oma gak ada selama

seminggu, jadi kalau ada apa-apa,

kamu hubungin saya!" ucapnya

tetap dengan nada judes kemudian

pergi dan masuk ke mobilnya.

Kening Dara mengkerut, dia

mencari kontak yang sudah

disimpan sendiri oleh Rafa.

Kedua matanya melebar

melihat kontak baru dengan nama

"Handsome" di sana. "Dihhh! Narsis

banget!"

"Tapi ... emang beneran

ganteng sih."

 

Di sekolah, jam pertama

dimulai dengan pelajaran Kimia.

Semua murid fokus mendengarkan

materi yang dijelaskan oleh Pak

Lexi.

"Hukum kesetimbangan kimia, seperti yang dirumuskan oleh Le

Chatelier, memberikan panduan

tentang bagaimana sistem bereaksi

terhadap perubahan kondisi

eksternal." Pak Lexi menjelaskan.

"Untuk tugasnya, kalian

kerjakan soal di buku halaman 25.

Bagian yang menghitung nilai Kc

atau Kp. Dikumpulkan besok!" ujar

Pak Lexi setelah bel tanda pelajaran

usai berbunyi.

"Iya, Pak!"

"Mau ke kantin?" tanya Bebi.

Dara terdiam sejenak dan

mengangguk. "Iya deh. Beli susu

kotak doang tapinya. Masih agak

kenyang."

"Ya udah, yuk!" ajak Bebi.

Baru juga berdiri, ponsel

miliknya bergetar, ada pesan masuk

dari nomor Braden. Lupa belum

diblokir hanya saja nama kontaknya

sudah berbeda, bukan lagi MyBee

seperti dulu.

[Gue tunggu di belakang

gudang]

[Sekarang!]

"Ck. Apaan sih!" Tidak

membalas, apalagi mengiyakan.

Dara memilih untuk langsung

memblokir kontak Braden.

Di belakang gudang, Braden

menunggu kedatangan Dara

dengan berbagai kalimat yang

sudah dia susun sebelumnya.

"Lo harus mau jadi milik gue

lagi," gumam Braden.

Ponsel di saku celananya

bergetar, tertera nama My❤️ di

sana. Nama yang tentunya

disimpan oleh Monica sendiri.

"Ck. Ganggu aja!"

Entah ya, padahal selama dua

tahun ini dia benar-benar tidak bisa

berpaling dari Monica yang

menurutnya paling cantik diantara

semua gadis cantik. Tapi, saat

melihat Dara, dia merasa kalau

mantan kekasihnya itu lebih cantik

dan menarik dari Monica.

Dara cantik dengan riasan

alami yang hanya pelembab dan

bedak bayi serta lipcream warna

bibir. Monica yang sampai alis pun

turut diukir dan riasan yang

membuatnya terlihat lebih dewasa

dari usianya.

Braden mengecek pesan yang

dia kirim pada Dara. Kedua

matanya melotot karena kontak

Dara jadi tidak ada fotonya.

"Gue diblokir?" gumam Braden.

Braden langsung mencoba

mengirim pesan dan sialnya

centang satu.

"Sial! Gue beneran diblokir

sama dia!" umpat Braden kesal.

Kedua tangannya mengepal,

berniat untuk menyusul Dara ke

kelasnya namun di tengah jalan, dia

malah bertemu dengan Monica.

"Kamu mau ke mana? Kenapa

telpon aku gak diangkat?" tanya

Monica.

Biasanya Braden selalu gemas

dengan sikap posesif Monica, kali

ini Braden malah merasa jengah.

"Mau ke ruang guru, tadi Pak

Lexi manggil. Hapenya aku silent,"

jawab Braden dengan nada malas.

Monica tentu menyadari

perubahan Braden. Ingin mencecar

kekasihnya itu dengan berbagai

pertanyaan, tapi dia takut kalau

Braden akan marah.

"Oh, ya udah sana. Aku mau

balik ke kelas," ucap Monica.

Braden hanya mengangguk dan

melewati Monica begitu saja.

 

Pulang sekolah, Dara langsung

membersihkan tubuhnya dan

berganti pakaian. Seminggu ini Bi

Inem gak ada, itu artinya dia harus

menyiapkan makanannya sendiri.

"Om Rafa mau makan di rumah

gak ya nanti malam?" gumam Dara

bertanya-tanya.

Dia memutuskan untuk

bertanya langsung pada sang suami

yang sama-sama sudah berada di

rumah.

Tok, tok, tok!

Pintu kamar yang dia ketuk

langsung terbuka, menampilkan

Rafa yang hanya menggunakan

celana tanpa atasan.

Dara tertegun melihat barisan

roti sobek yang ada di perut sang

suami. Mengerjap saat Rafa

melambaikan tangan di depan

matanya.

"Ada apa?" tanya Rafa.

"Hah? Oh, i-itu ... anu ... itu ...."

Dara malah jadi gagap, otaknya

mendadak ngeblank karena malah

fokus pada pemandangan di

depannya.

"Apa?" tanya Rafa lagi.

"Oh iya. Om mau makan malam

di rumah?" tanya Dara saat

kesadarannya sudah kembali.

Rafa hanya mengedikkan

bahunya kemudian menutup pintu

kamarnya.

Di depan pintu, Dara masih

bengong. "Jawaban macam apa

itu?" gumamnya kesal.

Dara memutuskan untuk turun

ke lantai bawah, berjalan menuju

dapur dan melihat isi lemari es yang

tentunya selalu penuh dengan

bahan masakan.

"Masak apa ya?"

Dara membuka freezer, di sana

ada toples berisikan potongan

sayap ayam.

"Paha ayamnya abis apa ya?"

Dara bergumam lagi.

Dia ingat dengan resep ayam

chili padi yang sedang viral

sekarang dan berniat untuk

memasak itu saja.

Petangnya, Rafa turun ke lantai

bawah untuk mengambil air

minum. Dia ketiduran tadi.

"Om mau makan? Aku udah

masak," ucap Dara yang baru selesai

masak.

Rafa melirik ke arah masakan

yang sudah Dara tata di meja

makan. "Gak, saya gak tertarik

sama makanan buatan kamu itu.

Banyak biji cabenya, pasti pedas.

Lebih baik saya pesan saja."

Dara mencebik. "Terserah!"

ucapnya, memilih untuk pergi ke

kamar dan membersihkan diri

karena dia merasa tubuhnya gerah

sekali setelah masak.

Cukup setengah jam, Dara

turun lagi ke lantai bawah.

Langsung mengambil piring dan

menuangkan nasi serta lauk dan

sayuran yang tadi dia buat.

Kedua matanya berbinar

karena rasanya sungguh lezat.

"Emmm ... Enak banget!" ucapnya

dengan kepala yang bergerak-

gerak.

Glek!

Melihat Dara makan dengan

lahap, Rafa mendadak ngiler

sendiri. Dia menggelengkan

kepalanya dan pergi ke depan untuk

mengambil makanan yang dia

pesan.

Tak lama kemudian, Rafa

duduk di seberang Dara. Membuka makanan yang dia pesan, namun

Rafa merasa masakan Dara jauh

lebih menarik di matanya.

Bau masakan Dara semakin

membuat Rafa tergoda, namun ego

dan gengsinya membuatnya enggan

untuk mencoba. Ia terus mencuri

pandang ke arah Dara yang terus

makan dengan lahap.

Beberapa menit berlalu, dan

Rafa semakin tidak tahan melihat

Dara menikmati masakannya.

Akhirnya, dengan perasaan yang

tercampur antara malu dan iri, Rafa

meraih piring Dara yang berisi lauk

buatan Dara.

"Eh!"

"Jangan geer dulu. Saya cuman

gak mau kamu buang-buang

makanan. Ini kamu masak

kayaknya kebanyakan dan pasti gak

bakal habis sama kamu sendiri,"

ucap Rafa. Padahal Dara tidak

bertanya sama sekali.

Dara tidak menyahuti ucapan

Rafa, dia tersenyum simpul. Tahu

pasti kalau Rafa akhirnya akan

menyerah karena tergoda pada

masakannya.

Rafa pun mencicipi masakan

Dara dengan perasaan tidak sabar,

dan tak disangka, rasanya jauh

lebih enak daripada yang ia

bayangkan sebelumnya.

Karena sudah selesai makan,

Dara pun membawa piring kotor

bekas dia makan ke dapur dan

mencucinya.

Dia tertawa pelan di dapur

sana. "Dasar! Gengsi digedein

akhirnya kalah juga, 'kan!"

 

Sedangkan di sebuah rumah

mewah yang lain. Oma Atira juga

sedang menikmati makanan yang

disiapkan oleh Suster Tiara dan Bi

Inem.

"Oma yakin kalau mereka bakal

baik-baik aja?" tanya Suster Tiara.

Dengan yakin Oma Atira

mengangguk. "Coba kamu lihat.

Mereka baik-baik saja, 'kan?"

Menunjukkan rekaman CCTV di

tablet miliknya.

Suster Tiara menghela napas

pelan. "Mudah-mudahan mereka

semakin dekat dan semua harapan

Oma terkabul."

Oma Atira memang sengaja

meninggalkan Rafa dan Dara

berdua di rumah. Dia beralasan

harus ke luar kota, padahal hanya

tinggal di rumah lain miliknya yang

lebih dekat dengan perusahaan. Bi

Inem pun yang katanya akan

pulang kampung turut dibawa ke

sana.

1
falea sezi
enak bgt si aldi najis pas sakit ke istri pas seneng2 ke. selingkuh an jangan. bego erina np erina di buat bloon sih
falea sezi
erina mending cerai duda tua banyak ngapain suami mu bekas. jalang lu mau
Ikky
dipersilahkan
Ikky
3
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!