"Siniin," pinta Dara.
"Cium dulu."
Dara melotot, "lih, siniin!"
"Iya, tapi cium dulu." Rafa menunjuk ke arah pipinya.
Dara mengulum bibir. Malu, dia mulai mendekatkan wajahnya. Hingga saat bibirnya hampir mengenai pipi Rafa, suaminya itu malah menoleh dan akhirnya bibir Dara mendarat di bibir Rafa.
Andara Maheswari (17 tahun) tidak menyangka jika sosok pacar yang dia kira tulus dan juga mencintainya ternyata bertahan dengannya hanya atas dasar rasa kasihan semata.
Dara dihina, diputuskan, atau mungkin lebih tepatnya dibuang oleh pacarnya. Braden selingkuh darinya.
Tidak cukup sampai disitu, sampai di rumah dia pun harus menyaksikan pertengkaran kedua orang tuanya. Kepahitan hidupnya seakan terus berlanjut. Dia terpaksa harus menerima perjodohan dan menikah dengan pria yang sama sekali tidak dia kenal demi menebus hutang yang dimiliki oleh ayahnya.
Dara tidak menyangka, jika pria yang dijodohkan dengannya adalah salah satu guru di sekolahnya. Pria dingin serta jutek yang membenci
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliya sofya Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13
"Ya ampun, udah jam segini!"
pekik Dara kaget saat melihat jam
di ponselnya.
"Kenapa emangnya? Lo mau
pulang?" tanya Aiden.
Dara mengangguk, membawa
buku yang akan dia beli dan pergi
meninggalkan Aiden.
Kedua bahu Dara melemah saat
Rafa tidak ada di tempat terakhir
mereka berpisah tadi. Mau
menghubungi Rafa, tapi dia tidak
tahu nomor ponsel suaminya itu.
"Dia udah pulang kayaknya,"
gumam Dara sedih. Dia ingat
ucapan Rafa yang hanya
memberinya waktu 20 menit saja.
Sedangkan dia kebablasan sampai
setengah jam lebih.
Dara membuka tas kecil yang
dia bawa. Memejamkan mata
seraya memukul kepalanya pelan
karena dia juga lupa tidak
membawa dompet.
"Ya ampun, ceroboh banget sih.
Gak bawa dompet segala!" Dara
merutuki dirinya sendiri.
"Kenapa?" tanya Aiden.
Dara menoleh dan dia ragu
untuk mengatakannya.
"Emm ... Aiden, gue ... gue
boleh pinjem duit gak? Besok gue
balikin. Gue lupa gak bawa
dompet," ucapnya lalu nyengir.
Aiden membulatkan mulutnya
kemudian berdecak pelan. "Kirai
apaan. Sini bukunya gue bayarin."
"Aiden, makasih banyak ya.
Maaf gue ngerepotin, besok
beneran gue ganti di sekolah," ucap
Dara.
"Iya, bawel banget sih! Gak
diganti juga gak apa-apa."
Dara mengerucutkan bibirnya,
masalah buku sudah selesai, kini
dia bingung mengenai pulang.
"Rumah lo di mana? Gue
anterin," ucap Aiden sambil
memberikan tas plastik berisi buku
milik Dara.
Dara menggelengkan
kepalanya cepat. Dia merasa tak
enak hati karena sudah dibayarkan
buku meski itu adalah hutang, masa
iya harus minta dianterin pulang
juga.
"Gak usah. Gue pesen ojol aja.
Nanti dibayarnya di rumah," balas
Dara.
"Beneran?" tanya Aiden
memastikan.
Kali ini Dara langsung
mengangguk mantap.
Di sini, di depan toko besar ini.
Sudah sepuluh menit tapi Dara
tidak kunjung mendapatkan ojol.
Dia melirik ke arah Aiden yang
sejak tadi kekeh ingin
menunggunya sampai dia pulang.
"Gak ada, 'kan? Yuk gue anterin
aja. Ini udah mau ujan soalnya,"
ucap Aiden.
Dara langsung melihat langit
yang memang mulai berubah gelap,
belum lagi hari juga sudah beranjak
sore ke petang, sudah jam 4 sore
karena tadi pun dia dan Rafa pergi
jam 3 sore.
Dara menggigit bibir dan
mengangguk. "Maaf ya ngerepotin,"
ucapnya.
Sudah pakai helm, Aiden juga
sudah nangkring di motor
besarnya, kini Dara bingung
naiknya. Bukan karena gak bisa,
tapi karena Dara memakai rok
sebatas lutut, kalau naik motor,
nanti pasti jadi diatas lutut karena
ketarik.
Aiden yang paham pun turun
lagi dari motor besarnya, membuka
jaket yang sejak tadi dia pakai dan
memberikannya pada Dara.
Dara menatap bingung dan
matanya malah kedap kedip.
"Untuk?"
"Ck. Buat nutupin depan lo
nanti," balas Aiden.
Dara nyengir, "Makasih
banyak."
Dara langsung memakainya di
pinggang, menalikan bagian lengan
ke belakang dan naik ke atas motor.
Merasa lega karena pahanya
tertutup oleh jaket milik Aiden.
"Siap?" tanya Aiden.
"Iya."
"Pegangan!"
Dara melihat ke arah pinggang
Aiden. Ingat kalau statusnya bukan
lagi seorang lajang, dia pun hanya
memegang ujung kaos yang dipakai
Aiden saja.
Aiden tersenyum tipis di balik
helm yang dia pakai lalu mulai
melajukan motor besarnya yang
berwarna hitam itu ke jalan raya.
"Rumah lo di mana?" tanya
Aiden yang baru ngeuh kalau Dara
belum menyebutkan alamatnya.
"Apa?!" teriak Dara karena
merasa Aiden bicara tapi dia tidak
terlalu dengar.
Aiden melepaskan sebelah
pegangan tangannya dan duduk
agak tegak kemudian bertanya lagi.
"Rumah lo di mana?"
"Di jalan lele nomor 19!" jawab
Dara agak teriak.
Di persimpangan, lampu
merah menyala. Aiden melepaskan
pegangannya pada stang dan
menegakkan posisi duduknya. Dia
mengajak Dara bicara sampai Dara
tertawa dan memukul pelan
pundak Aiden.
Di saat itu pula, di jalan sebelah
kiri mereka, Braden lewat sambil
membonceng Monica. Kedua
matanya menyorot tajam melihat
Dara dibonceng oleh seseorang
yang dia kenali dari helm dan
motornya.
Braden kesal, marah, menyesal.
Andai tahu kalau Dara secantik itu,
tentu dia tidak akan dengan
bodohnya memutuskan gadis itu.
Braden merasa dia yang sudah
menjalin hubungan lama dengan
Dara, tiga tahun dengan kondisi
penampilan Dara yang tentunya
jauh dari kata cantik.
Lalu sekarang? Setelah Dara
berubah cantik, kenapa harus pria
lain yang dekat dengannya.
"Nggak, gak boleh. Dara harus
ngebayar hubungan yang selama ini
tetep kejalin sama gue. Ngebayar
waktu gue mau tetap jadi pacar dia
meski dia culun!" batin Braden.
Dara menikmati angin sore
yang menerpa kulit wajahnya.
Udaranya memang tidak sesegar di
kampung-kampung yang
kebanyakan masih asri, di Jakarta
sini sudah tercampur dengan polusi
asap dari kendaraan. Tapi tetap
saja, dia senang.
Andai dia belum menikah, dia
pasti bisa menikmati masa-masa
seperti sekarang ini. Andai juga
suaminya tidak jutek dan cuek,
mungkin saja dia juga bisa
menikmati suasana seperti
sekarang ini dengan suaminya itu.
Hah..
Dara menghembuskan napas
berat. Dia benar-benar tidak bisa
menikmati masa remajanya seperti
dulu sekarang. Seperti ini saja dia
sudah merasa salah, karena tidak
izin dulu pada suaminya.
"Dih, ngapain juga gue ngerasa
bersalah. Kan dia yang bilang
sendiri kalau meski gue istrinya,
gue gak ada hak sama sekalike dia,
begitu pun sebaliknya." Dara
menbatin.
Tapi, yang namanya
perempuan, apalagi sudah
bersuami, dan Dara juga sudah
mendapat wejangan entah itu dari
ustadz yang waktu itu
menikahkannya dengan Rafa.
Entah itu dari ibunya beserta video-
video reels yang selalu dikirimkan
ibunya tentang kewajiban seorang
istri, apa yang boleh dan tidak boleh
dilakukan oleh seorang istri, Dara
merasa tak enak hati.
Sibuk dengan pikirannya
sendiri, dia sampai tidak sadar
kalau sudah sampai di depan
gerbang rumah milik suaminya itu.
"Ra, udah sampai!" seru Aiden.
Dara terhenyak, dia menatap ke
rumah yang sudah seminggu lebih
ini jadi tempat tinggalnya. "Oh, iya."
Dara turun sambil berpegangan
pada kedua pundak Aiden. Dia
melepaskan helm dan
memberikannya pada Aiden.
"Makasih banyak ya," ucap
Dara.
Aiden mengangguk, melihat
rumah Dara yang menurutnya
sangatlah mewah. Salut karena
Dara sikap dan sifatnya baik serta
tidak sombong meski berasal dari
keluarga kaya raya.
"Emm ... ini rumah saudara
gue. Gue tinggal di sini."
Aiden mengangguk. Dia
melihat jam warna hitam yang
melingkar di pergelangan
tangannya. "Gue langsung pulang
ya. Udah sore banget," ucapnya.
Dara mengangguk,
melambaikan tangan saat Aiden
pergi.
Dia tidak sadar, kalau sejak tadi
Rafa memperhatikan interaksinya
dengan Aiden dari atas balkon
kamar.
Rafa memang sengaja
menunggu Dara dan ingin melihat
istrinya itu diantarkan pulang oleh
siapa. Dugaannya benar, Dara
pulang bersama Aiden.
"Cih. Dia lupa apa kalau udah
nikah," gumam Rafa.
Tiba-tiba hujan turun dengan
derasnya, Rafa hendak masuk
karena balkon mulai terkena
guyuran air hujan.
Langkahnya terhenti saat dia
melihat Dara yang malah anteng
main hujan-hujanan.
Dara merentangkan kedua
tangan, dia memejamkan mata dan
membiarkan tetesan air hujan
mengenai wajah cantiknya. Dara
yang memang sangat menyukai
hujan pun tersenyum dan terlihat
sangat bahagia saat itu.
Rafa tanpa sadar tersenyum
tipis. Dia bahkan tidak sadar kalau
pakaiannya mulai basah terkena
guyuran air hujan yang menyorot
ke arah balkon di mana dia berada.
"Non! Aduh, jangan main
hujan-hujanan! Nanti sakit!" Dari
teras rumah, Bi Inem berteriak
memanggil Dara.
"Bentar lagi, Bi!" sahut Dara
teriak juga.
Oma Atira yang mendengar
teriakan dari teras ikut keluar
karena penasaran. Bibirnya
mengulas senyum melihat wajah
ceria Dara menikmati air hujan
yang sudah membuat tubuh dan
pakaian gadis itu basah kuyup.
"Cepet ambilkan handuk yang
agak besar," titah Oma Atira yang
langsung dituruti oleh Bi Inem.
"Kamu sangat menyukai hujan,
berbanding terbalik dengan Rafa
yang kini memiliki trauma besar
yang berhubungan dengan hujan,"
gumam Oma Atira.
Dara akhirnya menyudahi
aksinya bermain hujan saat Oma
Atira yang memanggil. Dia naik ke
lantai atas dan minta maaf pada Bi
Inem yang harus mengepel lantai
yang jadi basah karena ulahnya.
"Udah, gak apa-apa. Nanti Bibi
buatin minuman hangat ya," ucap Bi
Inem.
❤️
Paginya, Dara dan Rafa
dikejutkan oleh kabar mengenai
Oma Atira yang katanya ada
pekerjaan di luar kota selama satu
minggu. Begitu juga dengan Bi Inem
yang katanya harus pulang
kampung karena ada keluarganya
yang sakit. Sama, izinnya satu
minggu juga.
Dia melirik ke arah Dara yang
juga sedang melihat ke arahnya. Itu
artinya ... selama satu minggu ini,
mereka hanya akan berdua di
rumah.
"Kenapa Oma gak serahin
pekerjaan sekarang ke orang lain?
Oma kan harus banyak istirahat,"
ucap Rafa khawatir.
"Gak bisa, ini proyek penting
dan Oma gak begitu percaya buat
serahin pekerjaan ini ke orang yang
bukan keluarga Oma sendiri."
Rafa langsung diam, dia tahu ke
mana arah dan maksud ucapan
sang oma barusan. Keduanya
berdiri di teras, menatap mobil
yang dikendarai oleh Pak Beno
mulai pergi keluar gerbang.
Dara menepuk keningnya
karena lupa memesan ojol.
Beruntung langsung dapat dan
lokasi kang ojolnya juga lumayan
dekat.
Sambil menunggu, Dara
memutuskan untuk berselancar di
sosial media. Namun, dia terkesiap
saat ponselnya diambil oleh Rafa.
"Eh, mau ngapain? Siliniin
gak?!" seru Dara. Berusaha meraih
ponsel miliknya yang sayangnya
diangkat tinggi oleh Rafa.
"Sebentar," ucap Rafa.
Dia memberikan ponsel itu
kembali setelah selesai menyimpan
nomor dia sendiri.
"Oma gak ada selama
seminggu, jadi kalau ada apa-apa,
kamu hubungin saya!" ucapnya
tetap dengan nada judes kemudian
pergi dan masuk ke mobilnya.
Kening Dara mengkerut, dia
mencari kontak yang sudah
disimpan sendiri oleh Rafa.
Kedua matanya melebar
melihat kontak baru dengan nama
"Handsome" di sana. "Dihhh! Narsis
banget!"
"Tapi ... emang beneran
ganteng sih."
Di sekolah, jam pertama
dimulai dengan pelajaran Kimia.
Semua murid fokus mendengarkan
materi yang dijelaskan oleh Pak
Lexi.
"Hukum kesetimbangan kimia, seperti yang dirumuskan oleh Le
Chatelier, memberikan panduan
tentang bagaimana sistem bereaksi
terhadap perubahan kondisi
eksternal." Pak Lexi menjelaskan.
"Untuk tugasnya, kalian
kerjakan soal di buku halaman 25.
Bagian yang menghitung nilai Kc
atau Kp. Dikumpulkan besok!" ujar
Pak Lexi setelah bel tanda pelajaran
usai berbunyi.
"Iya, Pak!"
"Mau ke kantin?" tanya Bebi.
Dara terdiam sejenak dan
mengangguk. "Iya deh. Beli susu
kotak doang tapinya. Masih agak
kenyang."
"Ya udah, yuk!" ajak Bebi.
Baru juga berdiri, ponsel
miliknya bergetar, ada pesan masuk
dari nomor Braden. Lupa belum
diblokir hanya saja nama kontaknya
sudah berbeda, bukan lagi MyBee
seperti dulu.
[Gue tunggu di belakang
gudang]
[Sekarang!]
"Ck. Apaan sih!" Tidak
membalas, apalagi mengiyakan.
Dara memilih untuk langsung
memblokir kontak Braden.
Di belakang gudang, Braden
menunggu kedatangan Dara
dengan berbagai kalimat yang
sudah dia susun sebelumnya.
"Lo harus mau jadi milik gue
lagi," gumam Braden.
Ponsel di saku celananya
bergetar, tertera nama My❤️ di
sana. Nama yang tentunya
disimpan oleh Monica sendiri.
"Ck. Ganggu aja!"
Entah ya, padahal selama dua
tahun ini dia benar-benar tidak bisa
berpaling dari Monica yang
menurutnya paling cantik diantara
semua gadis cantik. Tapi, saat
melihat Dara, dia merasa kalau
mantan kekasihnya itu lebih cantik
dan menarik dari Monica.
Dara cantik dengan riasan
alami yang hanya pelembab dan
bedak bayi serta lipcream warna
bibir. Monica yang sampai alis pun
turut diukir dan riasan yang
membuatnya terlihat lebih dewasa
dari usianya.
Braden mengecek pesan yang
dia kirim pada Dara. Kedua
matanya melotot karena kontak
Dara jadi tidak ada fotonya.
"Gue diblokir?" gumam Braden.
Braden langsung mencoba
mengirim pesan dan sialnya
centang satu.
"Sial! Gue beneran diblokir
sama dia!" umpat Braden kesal.
Kedua tangannya mengepal,
berniat untuk menyusul Dara ke
kelasnya namun di tengah jalan, dia
malah bertemu dengan Monica.
"Kamu mau ke mana? Kenapa
telpon aku gak diangkat?" tanya
Monica.
Biasanya Braden selalu gemas
dengan sikap posesif Monica, kali
ini Braden malah merasa jengah.
"Mau ke ruang guru, tadi Pak
Lexi manggil. Hapenya aku silent,"
jawab Braden dengan nada malas.
Monica tentu menyadari
perubahan Braden. Ingin mencecar
kekasihnya itu dengan berbagai
pertanyaan, tapi dia takut kalau
Braden akan marah.
"Oh, ya udah sana. Aku mau
balik ke kelas," ucap Monica.
Braden hanya mengangguk dan
melewati Monica begitu saja.
Pulang sekolah, Dara langsung
membersihkan tubuhnya dan
berganti pakaian. Seminggu ini Bi
Inem gak ada, itu artinya dia harus
menyiapkan makanannya sendiri.
"Om Rafa mau makan di rumah
gak ya nanti malam?" gumam Dara
bertanya-tanya.
Dia memutuskan untuk
bertanya langsung pada sang suami
yang sama-sama sudah berada di
rumah.
Tok, tok, tok!
Pintu kamar yang dia ketuk
langsung terbuka, menampilkan
Rafa yang hanya menggunakan
celana tanpa atasan.
Dara tertegun melihat barisan
roti sobek yang ada di perut sang
suami. Mengerjap saat Rafa
melambaikan tangan di depan
matanya.
"Ada apa?" tanya Rafa.
"Hah? Oh, i-itu ... anu ... itu ...."
Dara malah jadi gagap, otaknya
mendadak ngeblank karena malah
fokus pada pemandangan di
depannya.
"Apa?" tanya Rafa lagi.
"Oh iya. Om mau makan malam
di rumah?" tanya Dara saat
kesadarannya sudah kembali.
Rafa hanya mengedikkan
bahunya kemudian menutup pintu
kamarnya.
Di depan pintu, Dara masih
bengong. "Jawaban macam apa
itu?" gumamnya kesal.
Dara memutuskan untuk turun
ke lantai bawah, berjalan menuju
dapur dan melihat isi lemari es yang
tentunya selalu penuh dengan
bahan masakan.
"Masak apa ya?"
Dara membuka freezer, di sana
ada toples berisikan potongan
sayap ayam.
"Paha ayamnya abis apa ya?"
Dara bergumam lagi.
Dia ingat dengan resep ayam
chili padi yang sedang viral
sekarang dan berniat untuk
memasak itu saja.
Petangnya, Rafa turun ke lantai
bawah untuk mengambil air
minum. Dia ketiduran tadi.
"Om mau makan? Aku udah
masak," ucap Dara yang baru selesai
masak.
Rafa melirik ke arah masakan
yang sudah Dara tata di meja
makan. "Gak, saya gak tertarik
sama makanan buatan kamu itu.
Banyak biji cabenya, pasti pedas.
Lebih baik saya pesan saja."
Dara mencebik. "Terserah!"
ucapnya, memilih untuk pergi ke
kamar dan membersihkan diri
karena dia merasa tubuhnya gerah
sekali setelah masak.
Cukup setengah jam, Dara
turun lagi ke lantai bawah.
Langsung mengambil piring dan
menuangkan nasi serta lauk dan
sayuran yang tadi dia buat.
Kedua matanya berbinar
karena rasanya sungguh lezat.
"Emmm ... Enak banget!" ucapnya
dengan kepala yang bergerak-
gerak.
Glek!
Melihat Dara makan dengan
lahap, Rafa mendadak ngiler
sendiri. Dia menggelengkan
kepalanya dan pergi ke depan untuk
mengambil makanan yang dia
pesan.
Tak lama kemudian, Rafa
duduk di seberang Dara. Membuka makanan yang dia pesan, namun
Rafa merasa masakan Dara jauh
lebih menarik di matanya.
Bau masakan Dara semakin
membuat Rafa tergoda, namun ego
dan gengsinya membuatnya enggan
untuk mencoba. Ia terus mencuri
pandang ke arah Dara yang terus
makan dengan lahap.
Beberapa menit berlalu, dan
Rafa semakin tidak tahan melihat
Dara menikmati masakannya.
Akhirnya, dengan perasaan yang
tercampur antara malu dan iri, Rafa
meraih piring Dara yang berisi lauk
buatan Dara.
"Eh!"
"Jangan geer dulu. Saya cuman
gak mau kamu buang-buang
makanan. Ini kamu masak
kayaknya kebanyakan dan pasti gak
bakal habis sama kamu sendiri,"
ucap Rafa. Padahal Dara tidak
bertanya sama sekali.
Dara tidak menyahuti ucapan
Rafa, dia tersenyum simpul. Tahu
pasti kalau Rafa akhirnya akan
menyerah karena tergoda pada
masakannya.
Rafa pun mencicipi masakan
Dara dengan perasaan tidak sabar,
dan tak disangka, rasanya jauh
lebih enak daripada yang ia
bayangkan sebelumnya.
Karena sudah selesai makan,
Dara pun membawa piring kotor
bekas dia makan ke dapur dan
mencucinya.
Dia tertawa pelan di dapur
sana. "Dasar! Gengsi digedein
akhirnya kalah juga, 'kan!"
Sedangkan di sebuah rumah
mewah yang lain. Oma Atira juga
sedang menikmati makanan yang
disiapkan oleh Suster Tiara dan Bi
Inem.
"Oma yakin kalau mereka bakal
baik-baik aja?" tanya Suster Tiara.
Dengan yakin Oma Atira
mengangguk. "Coba kamu lihat.
Mereka baik-baik saja, 'kan?"
Menunjukkan rekaman CCTV di
tablet miliknya.
Suster Tiara menghela napas
pelan. "Mudah-mudahan mereka
semakin dekat dan semua harapan
Oma terkabul."
Oma Atira memang sengaja
meninggalkan Rafa dan Dara
berdua di rumah. Dia beralasan
harus ke luar kota, padahal hanya
tinggal di rumah lain miliknya yang
lebih dekat dengan perusahaan. Bi
Inem pun yang katanya akan
pulang kampung turut dibawa ke
sana.