NovelToon NovelToon
Tasbih Cinta Ustadzah Buta

Tasbih Cinta Ustadzah Buta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat / Penyelamat
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: ingflora

Collins Grow—anak seorang milyarder, begitu senang bisa kabur dari pengawasan ketat bodyguard sang ayah. Tanpa sengaja, ia mengejar seorang wanita cantik nan buta bernama Aida Dewi karena menjatuhkan sebuah tasbih di stasiun kereta api. Cinta pada pandangan pertama, dan didukung sebuah keluarga Betawi hangat yang mengangkatnya, Collins mati-matian mengejar cinta Aida. Sayang, ketika semua berjalan mulus, sebuah kenyataan pahit menghancurkan segalanya. Lewat tasbih itu mereka berpisah.

Dapatkah tasbih itu mempersatukan cinta mereka kembali? Ataukah Collins harus menyerah pada penjara dingin sang ayah dengan ibu tiri yang masih mengintainya? Dapatkah Collins membuktikan kejahatan ibu tirinya yang terus dilindungi sang ayah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ingflora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10. Kerja Bakti

"Biarin aja ah, Be! Aku ngak mau terlalu pendek kayak tentara."

Babe mendengus sambil tertawa.

****

"Bara!"

"Ya?"

"Pagi ini kita kerja bakti dulu bersihin selokan. Lu ikut bapak-bapak entuh di depan. Dah pada ngumpul semua," sahut babe.

"'Kan kotor, Be?" protes Collins.

"Ssh ... kamu gak pernah ikut kerja bakti RT, ye?" Babe dari awal sudah curiga, Collins pastilah anak orang kaya. Dilihat dari wajah dan sepatu yang dia punya. Hanya ia tidak mengerti alasan pria ini melarikan diri. Collins tidak terlihat seperti anak nakal. Apa dia berasal dari keluarga yang berantakan?

"Ee ...." Collins paling takut kalau identitasnya diketahui, karena itu ia berusaha untuk sebisa mungkin melakukan segala pekerjaan yang ditawarkan padanya. "Iya, Be. Nanti aku ke sana," ucapnya pelan.

Tak lama, pria itu telah berbaur dengan para pria yang telah siap membersihkan selokan. Karena tinggal dengan babe, ia cepat dikenal di antara para tetangga. Apalagi Collins cukup tampan. Ada beberapa tetangga wanita yang mengintipnya bekerja.

Awalnya Collins sedikit pusing melihat kotornya selokan yang berisi sampah, tapi dari mengamati, sebentar saja ia sudah bisa dengan tangkas bersama tetangga yang lain ikut membersihkan selokan yang penuh sampah. Babe senang Collins bisa berbaur dengan mereka.

"Ini ada gorengan, ayo dicicipi!" Seorang wanita berkerudung panjang dengan seorang gadis membawakan setumpuk gorengan dalam sebuah wadah besar.

Para pria sempat menoleh dan sebagian berhenti untuk beristirahat. Yang berhenti, mencari keran untuk mencuci tangan. Adalagi warga lain yang menyumbang minuman gelas kemasan.

"Bara, ayo istirahat dulu." Salah seorang pria mengajaknya untuk duduk.

Collins mencuci tangan di sebuah keran. Ketika ia mencari tempat untuk duduk, gadis yang membawa gorengan, menyodorkan wadah gorengan itu padanya.

"Ayo, Kak."

Collins menoleh. "Oh, iya. Terima kasih." Ia sedikit merasa aneh karena tak satu pun orang yang ditawari makanan seperti dirinya. Yang lain mengambil sendiri gorengan di wadah. Padahal gadis manis itu sudah malu-malu meliriknya. Collins kemudian mengambil bakwan dan lontong dari dalam wadah.

"Nana ... aku tawarin juga dong," goda seorang pria. Ia tampak lebih muda dari Collins.

Gadis itu merengut mendatangi pria itu. "Kamu 'kan bisa ambil sendiri, Idan."

"Nana, ayo!" ternyata wanita berkerudung itu menunggunya. Gadis itu kesal dan mendatangi wanita itu. Keduanya masuk ke dalam rumah yang tak jauh dari situ. Para pria yang melihat, hanya bisa geleng-geleng kepala.

****

Dengan motor, Collins melewati rumah itu dengan ragu-ragu. Hari Minggu, rumah itu tampak sepi. Sebenarnya Collins tiba-tiba terkena penyakit rindu. Hari ini ia tak melihat Aida, dirinya merasa gelisah. Bagaimana cara bertemu dengannya?

Collins merogoh kantong celananya. Ia mengeluarkan tasbih yang ia temukan waktu itu. Adakah benda ini bisa menjadi alasan untuknya bertemu?

Dengan nekat, ia membuka pagar. Kemudian setelah memarkir motornya di halaman, ia mengetuk pintu. Terdengar bunyi suara tongkat dan sendal berganti-ganti datang mendekat. Pintu terbuka. Ada wajah cantik wanita itu memakai kerudung instan keluar dari balik pintu. "Pak Munir ya? Mau rapiin halaman?"

"Ha?" Collins terkejut. Apa Aida tengah menunggu seseorang?

Aida kaget mendengar suara Collins yang berbeda dari yang diharapkan. Ia mengerut dahi. "Kamu siapa?"

Tentu saja, Bara tak tahu harus bicara apa. "Eh, aku ...."

Bola mata wanita itu melebar sempurna. "Bang Bara ...?" Aida kini bisa menebaknya.

"Eh, ya. Ini aku. Aku ...."

"Abang mau gantiin Pak Munir?"

"Eh? Apa?" Collins kembali kebingungan.

"Aku tidak tahu seberapa berantakan halamannya, tapi tolong dirapikan ya, Bang."

Collins memutar kepala ke belakang melihat halaman rumah itu. Rumputnya sudah mulai panjang dan bercampur rumput liar. Tanaman di sekitar pagar juga sedikit berantakan. "Eh, maksudmu tanaman atau ...."

"Iya , Bang."

"Boleh ...." Collins merasa senang. Seketika ia punya alasan untuk ada di sana. "Oh, iya. Eh, tapi aku perlu gunting rumput," sahut Collins saat memperhatikan lagi halaman yang luas itu.

"Oh, barang-barang itu ada di halaman belakang, Bang. Tinggal muter aja." Aida menunjukkan arahnya.

"Oh, iya." Collins bergerak ke halaman belakang sambil melirik wanita itu. Saat ia berpikir, betapa sulitnya mendekati Aida, ternyata ada saja cela untuknya bisa bersama. Walaupun kali ini hanya sebagai tukang kebun. Bagi Collins tidak masalah karena dulu ia sering membantu almarhum ibunya berkebun saat punya waktu luang. Kini ia melakukannya di rumah orang lain.

Collins mencabut rumput liar dan memotong rumput yang sudah panjang. Sesekali ia memperhatikan ke arah pintu depan yang terbuka lebar.

Tiba-tiba wanita itu bergegas keluar menuju pagar. "Sebentar ya, Bang. Saya mau keluar dulu."

"Eh, iya." Collins mengintip keluar lewat pagar yang dihias tanaman. 'Mau ke mana dia?' Kemudian ia meneruskan pekerjaan.

Tak lama Aida kembali sambil membawa bungkusan. Collins hanya melihat saja. Ia kemudian fokus membuang daun-daun yang busuk dan menggemburkan tanah di dalam tanaman pot.

"Eh, Bang. Silakan tehnya!" Wanita itu kembali keluar dengan membawa wadah berisi segelas teh hangat dan sepiring kue. Ternyata Aida tadi pergi membeli kue untuk Collins.

"Oh, ya." Pria itu tampak antusias dan mendatangi keran di luar lalu mencuci tangan, tapi ia tak terbiasa kalau tak ada sabun. Ia kemudian balik mendatangi Aida. "Maaf, aku biasanya cuci tangan pakai sabun kalau gak pakai sarung tangan. Apa aku boleh minta sedikit sabun cuci tangannya?"

Aida tertegun. Tukang kebun sebelumnya tak pernah serumit ini. "Eh, aku hanya punya sabun cuci piring dan sabun mandi."

"Oh, sabun mandi mungkin."

Aida menunjuk ke dalam rumah. "Masuk saja terus. Nanti sebelum dapur, belok kiri. Di situ ada kamar mandi."

Collins menengok ke dalam. "Eh, maaf ya?"

"Oh, iya. Tidak apa-apa."

Sementara Collins masuk, Aida menunggu di luar. Ia bisa melihat rumah yang ukurannya kurang lebih sama dengan rumah babe dan tertata rapi walaupun barangnya tidak banyak. Perabotannya kebanyakan barang-barang yang sudah tua. Ia kemudian menemukan kamar mandi.

Tak lama, Collins keluar. Ia melihat Aida yang duduk di beranda. Collins duduk di kursi yang satu lagi karena kursi di beranda itu hanya ada dua. Sambil menatap Aida, pria itu meraih gelas tehnya. "Aku minum ya?"

Oh, iya. Silakan, Bang." Aida tersenyum.

Collins meneguk pelan air teh hangat sambil mengagumi makhluk cantik di depannya. Betapa kesempatan begitu terbuka lebar untuknya memandangi Aida berlama-lama. Ia juga mengulurkan tangan meraih kue cucur yang berada di atas piring. "Mmh, enak," ucapnya sambil mengunyah.

"Alhamdulillah," sahut sang wanita sambil memeluk wadah di tangan. "Apa pekerjaannya sudah selesai?"

"Oh, belum. Apa aku harus menyelesaikannya terlebih dahulu?" Collins terlihat ragu-ragu menyelesaikan kunyahannya.

"Eh?" Wanita itu sedikit terjeda. "Oh, bukan begitu. Saya cuma tanya. Ngak papa, Abang istirahat dulu aja, mumpung tehnya masih hangat."

Collins memperhatikan lekuk wajah Aida. Kulit wanita ini terlihat lembut dan putih bersih. Hidungnya bangir dengan manik mata cemerlang. Sekilas ia tak terlihat buta. Sayang sekali Aida tak bisa melihat dirinya.

"Eh, Abang masih muda ya?"

"Eh? Bagaimana Ustadzah tau?" Kedua mata pria itu melebar.

"Eh, dari suaranya," jawab sang wanita malu-malu. "Eh, pekerjaan Abang banyak juga ya? Serabutan. Dari tukang ojek, tukang parkir sampai bersihin halaman. Memangnya gak punya pekerjaan tetap ya, Bang?"

Bersambung ....

1
elief
lanjut thor, makin seru ceritanya
Mustofa Aris
lanjutannya mana?
Baby_Miracles: iya, otw ya
total 1 replies
RaDja
terima kasih
Wiwi Sukaesih
up LG Thor
elief
Bagus thor ceritanya, tetap semangat berkarya nya💪💪💪
Baby_Miracles: makasih
total 1 replies
elief
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!