NovelToon NovelToon
Yun Miao 1: Satu Sabda Penyembuh

Yun Miao 1: Satu Sabda Penyembuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Penyelamat / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Auzora Maleeka

"Di saat napas terakhir Pak Tua Arman dianggap sebagai akhir dari kejayaan keluarga Chandra, seorang asing berpakaian putih muncul tanpa suara. Tak ada obat, tak ada mantra rumit. Ia hanya membungkuk, membisikkan satu kalimat di telinga kakek yang sekarat itu, lalu berbalik pergi. Detik berikutnya, jantung kembali berdetak kuat, membuat para anak tercengang. Siapakah dia? Dan apa yang diucapkannya untuk menantang kematian?"

"Sebuah kalimat yang mengubah takdir. Saat dunia medis menyatakan Kakek sekarat, seorang asing bernama Yun Miao muncul dan menyembuhkannya hanya dengan satu kalimat perintah. Siapakah Yun Miao, dan bagaimana kalimat sederhana bisa melawan maut?"

Mohon maaf ya teman-teman kalau novel pertamaku belum bisa membuat kalian puas bacanya. InsyaAllah aku akan terus berusaha agar novelku selanjutnya bisa memenuhi keinginan dan kriteria kalian semua.... Terimakasih

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Auzora Maleeka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10

 "Mutiara malam diletakkan di kedua sisi matanya untuk membutakan matanya agar dia nggak dapat menemukan jalan. Adapun benang emas yang dicelupkan ke dalam darah adalah tali pengikat jiwa. Di tambah dengan darah keturunannya, hal ini membuatnya nggak pernah bisa bereinkarnasi dan menderita siksaan pengikat jiwa selamanya." Sambung Nadira.

  Sementara Nyonya Sonia, yang mendengar perkataan dari Nadira begitu syok mengetahui fakta bahwa apa yang dilakukan olehnya dan kedua kakaknya itu salah sehingga membuat ibunya tidak tenang.

 "Kau jangan katakan itu lagi. Ini nggak mungkin. Kalau seperti ucapanmu, bukankah aku sudah melukai ibuku ?" Nyonya Sonia berteriak histeris di depan Nadira setelah tau apa yang dia perbuat.

 "Jangan menangis di depanku, kalau nggak percaya padaku, kau bisa buka peti mati ibumu dan lihat apa ada goresan kuku di dalam peti mati." Kata Nadira sambil membuka kembali buku yang dia pegang.

 "Pak Eko, antar tamu." Sambung Nadira.

 "Nona Nadira, aku mohon beri tahu aku, apa yang harus aku lakukan ? Apa...... Apa membuka peti mati ibu dan mengambil mutiara malam, memasukkan giok, lalu mengambil benang emas, sudah nggak apa-apa ?" Tanya Nyonya Sonia kepada Nadira berlutut sambil tangannya memegang lutut Nadira yang mana Nadira masih duduk dengan memegang bukunya.

 "Kau, cepat sekali menerimanya. Begitu cepat sampai aku merasa ada yang kau sembunyikan." Tanya Nadira

 "Nona Nadira, kau cuma perlu memberitahuku, apakah cara yang kukatakan tadi bisa dilakukan ?" Jawab Nyonya Sonia.

 "Nggak bisa. Dia dikubur hidup-hidup. Matinya nggak tenang, lalu dijebak oleh anak sendiri. Penyesalan yang tak hilang, berubah menjadi kebencian karena dendam. Semua kejadian ini, apakah menurutmu bisa diselesaikan dengan mudah ?" Kata Nadira.

 "Tapi kami juga ditipu." Histeris Nyonya Sonia.

 "jadi, keluarga kalian nggak hanya kejam, tapi juga bodoh. Penyesalan ibumu terlalu dalam. Kalau tetap di biarkan, tali pengikat jiwa mungkin nggak akan bisa mengendalikannya. Tiba saatnya nanti......"Ucap Nadira tanpa melihat ke arah Nyonya Sonia yang masih menangis sesegukan di bawahnya.

 "Nanti, semua akan ada pertanggung jawabannya. Nggak ada seorang pun dari keluargamu yang akan lolos. Saat itulah semuanya nggak akan bisa diperbaiki lagi." Sambung Nadira sambil melihat ke arah Nyonya Sonia.

 "Kami juga nggak sengaja melakukan itu. Bagaimanapun, dia adalah ibu kami." Kata Nyonya Sonia.

 "Keterikatan itu nggak memiliki kesadaran." Lanjut Nadira lagi.

 Pak Eko, akhirnya muncul setelah dipanggil oleh Nadira tadi untuk mengantar tamu keluar dari ruang tamu yang mana ada Nadira disana.

 "Nyonya Sonia, Nona Nadira mau istirahat." Kata Pak Eko.

 Nyonya Sonia pun bangkit dari duduknya dan melihat ke arah Nadira yang masih lanjut membaca buku tersebut.

 "Nona Nadira, aku kembali dulu. Maaf, hari ini sungguh mengganggumu." Pamit Nyonya Sonia kepada Nadira sambil menundukkan kepalanya sedikit.

 Pak Eko, akhirnya mengantarkan Nyonya Sonia keluar, meskipun jalannya sempoyongan karena begitu Shok saat mengetahui semuanya .

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

 "Omong kosong. Sonia, kenapa kau bisa dengar omong kosong orang lain ?" Sentak Tuan Gavin sambil melemparkan gelas teh ke lantai. Dia begitu murka karena mengetahui bahwasannya Adiknya itu lebih percaya omongan orang lain.

 Tuan Gavin benar-benar marah, saat mengetahui apa yang Nyonya Sonia katakan. Karena habis dari bertemu Nadira, dia langsung bertemu dengan Kakaknya untuk memberitahukan apa yang ia dengar dari Nadira tadi. Mengetahui hal itu Tuan Gavin sangat murka karena tidak percaya akan omong kosong itu.

 "Mau tahu benar atau nggak, pasti akan jelas saat buka peti mati ibu." Kata Nyonya Sonia.

 "Mana boleh kita buka peti mati ? Bukankah itu tindakan durhaka ?" Kata Tuan Gavin dengan marah.

 "Kak Gavin, kalau ibu memang karena kita..... Dia pasti sangat kecewa. bukankah ini juga tindakan durhaka ?" Ujar Nyonya Sonia dengan marah, karena Kakaknya tidak ingin mengikuti keinginannya untuk mengetahui kebenarannya.

 "Bagaimanapun nggak boleh buka peti mati. Kalau hal ini diketahui oleh keluarga Chandra, bagaimana mereka akan memandang kita ?" Kata Nyonya Stella kepada adik iparnya itu.

 "Ya. Keluarga Chandra mungkin sudah tahu. Nggak bisa. Masalah ini harus diselesaikan dengan jelas. Kalau nggak, keluarga Chandra pasti akan memutuskan hubungan dengan keluarga kita di masa depan." Kata Tuan Gavin.

 "Kak Gavin, jadi maksudmu ?" Tanya Nyonya Sonia.

 "Buka." Jawab Tuan Gavin.

 Setelah mendengar jawaban dari Kakaknya itu, nyonya Sonia begitu senang mendengarnya. Hingga ia menjadi tersenyum mendengar jawaban dari Kakaknya.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

 Pada malamnya, keluarga Wibowo datang ketempat peristirahatan dari Ibu mereka yang telah meninggal. Mereka memberikan penghormatan kepada ibu dan nenek mereka.

 "Ibu." Panggil Adrian. Nyonya Sonia langsung menoleh kearah anaknya, dimana Adrian ada di belakang ibunya.

 "Nona Nadira, bilang benar-benar akan membuka peti mati itu ?" Sambung Adrian.

 Sedangkan Nyonya Sonia hanya bisa mengangguk membenarkan ucapan Nadira.

 Setelah itu, mereka melakukan ritual membakar kertas untuk membuat acaranya lancar tanpa ada gangguan dari makhluk lainnya.

 "Nisan ini aneh sekali. kenapa sekali lihat saja membuatku merasa nggak nyaman ?" Kata Adrian.

 Setelah itu mereka terus membakar kertas yang berwarna kuning. Sedangkan yang lainnya mulai menggali makam tersebut. Hingga pada akhirnya peti mati pun terbuka.

 Tuan Gavin, Nyonya Sonia, Adrian dan lainnya pun terkejut dengan keanehan yang terjadi di depan mata mereka, sehingga mereka semua berteriak karena peti mati itu terbuka sendiri.

  Hingga muncullah sebuah benang berwarna merah, dari dalam peti tersebut dimana benang benar-benar melilit tubuh dari Nyonya Wibowo tersebut.

 "Ibu." Panggil Nyonya Sonia dengan histeris.

 "Goresan ini... " Tanya Tuan Gavin

 "Ibu." Panggil Nyonya Sonia

 Mereka pun kaget dengan apa yang dilihat oleh mereka. Mereka awalnya tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Nadira, sehingga mereka akhirnya membenarkan ucapan Nadira.

"Bekas goresan ini. Nenek benar-benar dikubur hidup-hidup." Tanya Adrian.

 Sedangkan mereka pun masih kaget dan Shok, dengan apa yang mereka lihat. Hingga akhirnya muncul sosok ibu mereka yang diyakini mati karena usia bukan karena dikubur hidup-hidup.

 "Ibu. Ibu... Kau jangan..... kami juga ditipu orang. Kami nggak benar-benar mau mengubur mu hidup-hidup, Bu. Dia membohongi kami. kau jangan marah pada kami." Kata Tuan Gavin sambil berlutut.

 Pada saat, Tuan Gavin memanggil nama ibunya, Adrian pun ikut berlutut begitu pula dengan Nyonya Stella pun ikut berlutut.

 Mereka pun semua diam tak menentu hingga pada akhirnya Nyonya Sonia pingsan disana.

 "Ibu.... Ibu.... Ibu sadarlah. ibu." Panggil Adrian kepada ibunya.

 Apalagi Nyonya Stella pun juga ikutan pingsan, sehingga mereka pun menolong mereka berdua yang pingsan di depan nisan tersebut.

 "Nggak bisa bergerak. Rasanya tubuh ini bukan milikku lagi." Kata Adrian dalam hati.

 "Tamatlah sudah."Kata Adrian. Sehingga ia mendengar suara Nadira untuk menyuruh nya kembali.

 "Kembali."Kata Nadira. Hingga akhirnya, mereka pun bisa mengangkat kembali tubuh Nyonya Sonia dan juga Nyonya Stella untuk di bawa kembali pulang.

"Ibu. Bisa gerak lagi." kata Adrian dengan nada terdengar lega.

 Nadira muncul dibelakang mereka, dengan memegang sebuah lampion di tangannya dan juga dia memakai sebuah jubah di badannya, berjalan menghampiri mereka yang masih berada di depan nisan Nyonya Wibowo tersebut.

 "Tidurlah dengan nyaman. Biar aku yang mengurus obsesimu. Kamu nggak perlu melakukannya." Kata Nadira sambil melihat ke arah peti mati tersebut.

1
Andira Rahmawati
absend dulu thor...
Chen Nadari
mampir Thorr
Dewiendahsetiowati
hadir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!