NovelToon NovelToon
Aku Ini Istrimu

Aku Ini Istrimu

Status: sedang berlangsung
Genre:KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Penyesalan Suami
Popularitas:8.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mr. Han

Aku nggak pernah membayangkan kalau gaun putih ini bakal terasa seberat rantai besi. Menikah dengan Bara Adiwangsa bukan mimpi indah yang jadi nyata, tapi awal dari sandiwara panjang yang nggak tahu kapan selesainya.

Bara itu suamiku, tapi dia yang paling sering bikin aku merasa nggak berharga. Dia bisa bersikap manis di depan orang tuanya, lalu berubah jadi orang lain yang kasar saat dia bersamaku.

Capek? Banget. Karena suamiku mungkin berpikir dia bisa menginjak-injak harga diriku hanya karena dia merasa telah "membeliku". Dia bisa saja menatapku dengan jijik, mengacuhkanku seolah aku hanyalah pajangan mati di pojok ruangan. Dia bisa memuja masa lalunya atau mencari pelarian pada orang lain, tapi ada satu kenyataan pahit yang tidak akan pernah bisa dia hapus, sekeras apa pun dia mencoba.

"Tatap aku, Bara. Hina aku sesukamu, tapi jangan pernah lupa satu hal... Aku Ini Istrimu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Han, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28 Salah Paham

Sinar matahari sore yang temaram menerobos masuk melalui celah gorden ruang VIP, menciptakan suasana hangat yang justru membuat Reno berkali-kali berjuang melawan rasa kantuk. Ia menguap lebar, menyandarkan kepalanya ke bantalan sofa yang empuk.

​"Om Baskoro kapan sadar ya... sepi banget di sini kalau Om cuma tidur," gumamnya pelan pada diri sendiri.

​Namun, di tengah keheningan itu, sebuah suara parau terdengar memanggil namanya.

​"Reno...!"

​Reno tersentak hebat hingga hampir terjatuh dari sofa. Jantungnya berdegup kencang. Ia menoleh ke sekeliling, memastikan tidak ada orang lain selain dirinya dan Om Baskoro yang seharusnya masih terlelap. “Apa jangan-jangan itu suara Om Baskoro?” batinnya penuh harap sekaligus ngeri.

​Ia segera bangkit dan melangkah cepat mendekati ranjang pasien. Benar saja, mata Om Baskoro sudah terbuka meski masih tampak sangat sayu.

​"Om! Om sudah sadar?" seru Reno dengan wajah yang seketika cerah.

​Om Baskoro terkekeh pelan, meski suaranya masih terdengar sangat lemah di balik masker oksigen yang kini sudah digeser sedikit. "Sudah dari tadi, Reno. Gimana kamu mau tahu kalau Om sadar... kamunya saja malah asyik tidur sampai mengigau begitu."

​Reno menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, merasa malu tertangkap basah sedang bermalas-malasan. "Hehehe... maaf Om, Reno ngantuk banget. Semalam kurang tidur karena kepikiran kondisi Om."

​Om Baskoro tersenyum tipis, matanya mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan yang sunyi. "Hahaha, terus kamu kok sendirian saja, Ren? Yang lain pada ke mana? Istri saya sama Bara ke mana?"

​Reno menarik kursi dan duduk di samping ranjang, ia merasa lega luar biasa melihat pria tua itu sudah bisa bercanda. "Gini Om, tadi semalaman menantu Om yang nemenin Om di sini sampai pagi. Terus Reno baru bisa ke rumah sakit pagi tadi bareng Bara. Nah, selesai sarapan bareng tadi, Renata mual-mual terus, Om. Akhirnya Bara bawa dia pulang dulu buat istirahat."

​Mendengar nama menantu kesayangannya disebut dalam kondisi sakit, raut wajah Om Baskoro seketika berubah cemas. "Mual-mual? Terus keadaan Renata gimana sekarang, Ren? Apa udah di periksa?"

​"Sudah diperiksa sih Om tadi di ruang IGD, tapi dokter bilang Renata baik-baik saja, mungkin cuma kelelahan," jawab Reno. Namun, ia tidak berhenti di situ. Reno memajukan posisi duduknya, menatap Om Baskoro dengan tatapan menyelidik dan nada bicara yang penuh rahasia.

​"Tapi Om... Renata mual-mual itu bisa jadi bukan karena kecapekan biasa lho. Kan bisa saja itu gejala awal kalau dia sedang hamil, Om. Masa Om nggak curiga?"

​Mata Om Baskoro yang tadinya sayu seketika melebar. Ada secercah harapan dan kebahagiaan yang mendadak muncul di wajah pucatnya. "Hamil? Kamu serius, Ren? Kamu jangan bercanda deh sama Om."

​Reno mengangkat bahunya, tersenyum penuh arti. "Ya kan cuma perkiraan Reno, Om. Tapi kalau benar, berarti doa Om selama ini manjur banget, kan?"

Om Baskoro menghela napas panjang, sebuah senyum haru terukir di wajahnya yang mulai kembali bersemangat. "Aku selalu berdoa buat mereka yang terbaik, Ren. Apalagi doa agar cepat-cepat dapat cucu... itu tidak pernah putus. Pasti aku sangat senang sekali nanti kalau cucuku lahir dan memanggilku kakek," ucapnya dengan suara yang bergetar penuh harap.

​Reno terkekeh pelan, mencoba mencairkan suasana haru yang mulai menyelimuti ruangan itu. "Hehehe, iya dong Om. Lagian Om Baskoro memang sudah cocok banget kok jadi kakek. Sudah punya aura kakek-kakek penyayang yang bakal memanjakan cucunya sampai lupa waktu," goda Reno sambil mengerlingkan matanya.

​"Dasar kamu ya! Bisa saja meledek yang tua," jawab Om Baskoro sambil tertawa kecil, meski dadanya masih terasa sedikit sesak. "Tapi benar, kalau sampai Renata benar-benar hamil, itu adalah obat paling manjur buat kesembuhan Om."

​Tepat saat tawa kecil mereka mereda, suara pegangan pintu yang diputar terdengar jelas.

​Ceklek!

​Pintu ruang VIP itu terbuka perlahan, menghentikan percakapan antara paman dan keponakan tersebut. Reno dan Om Baskoro serentak menoleh ke arah pintu, menunggu siapa yang akan muncul di balik sana.

Maya berjalan masuk dengan tergesa-gesa, pandangannya tertuju sepenuhnya pada kantong plastik di tangannya yang berisi makanan, hingga ia tak sengaja menabrak seseorang yang berdiri di depannya.

​"Eh, maaf Mas Bara!" seru Maya refleks. Namun, saat ia mendongak, bukan wajah tampan suaminya Renata yang ia lihat, melainkan Reno yang sedang menatapnya dengan satu alis terangkat.

​"Aduh, Maya! Kalau jalan pakai mata dong!" keluh Reno sambil merapikan bajunya yang sedikit tersenggol.

​Maya mendengus ketus, tak mau kalah. "Eh... maaf ya, tapi kalau jalan itu pakai kaki dong, Ren! Lagian kamu ngapain sih berdiri di tengah jalan begitu?"

​Reno baru saja hendak membalas dengan kalimat yang lebih pedas, namun suara parau dari arah ranjang menghentikan perdebatan mereka.

​"Sudah... sudah..." ucap Om Baskoro. Pandangan pria tua itu beralih pada wanita yang baru saja masuk dengan gaya sedikit canggung tersebut.

Om Baskoro menyipitkan matanya, mencoba menggali ingatan. "Kamu siapa ya? Saya kayak pernah lihat, tapi di mana... apa kamu pernah ketemu sama saya sebelumnya?"

​Maya membatin dalam hati dengan perasaan dongkol, “Kebiasaan, lupa lagi... lupa lagi!”

​"Om, aku ini Maya lho, Om. Masa lupa lagi sih?" ucap Maya dengan nada yang dibuat semanis mungkin meski hatinya kesal. "Itu lho Om, aku yang pernah mampir ke rumah beberapa kali."

​Om Baskoro terdiam sejenak, lalu perlahan sebuah ingatan muncul di benaknya. "Oh... kamu toh. Om kira siapa gitu main asal masuk saja tanpa suara."

​"Maaf Om, aku lupa bilang permisi tadi karena buru-buru mau kasih makanan," jawab Maya membela diri.

​Reno yang masih kesal karena hampir tertabrak tadi menyahut tiba-tiba dengan nada menyindir. "Makanya, kalau mau masuk itu bilang permisi dulu kek, jangan asal nyelonong masuk saja. Emang nggak punya sopan-santun?"

​"Ren... sudah, nggak apa-apa kok," lerai Om Baskoro menenangkan keponakannya itu. Ia kemudian menatap Maya kembali. "Jadi, ada perlu apa kamu ke sini sore-sore begini?"

Maya sedikit gelagapan, ia melirik ke arah Reno yang terus memperhatikannya dengan tatapan curiga, sementara ia harus mencari alasan yang tepat kenapa ia kembali lagi ke ruangan itu dengan membawa makanan baru.

Suasana di dalam ruang rawat inap VIP itu mendadak canggung. Maya berdiri mematung di tengah ruangan yang beraroma disinfektan bercampur wangi bunga segar. Jantungnya berdegup kencang saat menyadari Reno menatapnya seolah-olah sedang menguliti setiap kebohongan yang tersimpan di kepalanya.

​Maya sedikit gelagapan, ia melirik ke arah Reno yang terus memperhatikannya dengan tatapan curiga. Ia harus memutar otak secepat kilat untuk mencari alasan yang tepat mengapa ia kembali lagi ke ruangan itu dengan menenteng wadah makanan baru, padahal tadi ia sudah berpamitan pulang pada Mama Sarah.

​"Ini... Om," Maya akhirnya bersuara, mencoba menetralkan nada bicaranya. "Maya ke sini mau kasih makanan ini buat Reno, terus sekalian mau cek kondisi Om lagi sebelum benar-benar pulang."

​Maya mengambil tempat makan itu dengan gerakan yang sedikit kaku, lalu menyodorkannya tepat di depan dada Reno. Namun, di balik senyum manis yang ia tunjukkan, hatinya berteriak penuh kejengkelan.

​“Najis banget, kenapa harus gue kasih ke dia sih? Padahal ini masakan spesial buat Mas Bara,” batin Maya merutuk.

​Reno tidak langsung menerima wadah itu. Ia justru menaikkan sebelah alisnya, merasa ada yang tidak beres. “Nih wanita kenapa tiba-tiba kasih gue gitu aja? Ada main nih. Pastinya tempat makan ini buat Bara, tapi karena ada gue di sini, dia jadinya kasih gue,” pikir Reno curiga.

​"Eh... ini buat gue? Seriusan?" tanya Reno sambil menatap wadah makanan itu bergantian dengan wajah Maya. "Tapi kenapa lo tiba-tiba banget perhatian begini sama gue, May? Kesambet apa?"

​Om Baskoro yang bersandar di tumpukan bantal tinggi, tampak memperhatikan interaksi mereka dengan senyum tipis yang lemah. Ia berdehem pelan, memecah ketegangan di antara dua anak muda itu.

​"Sudah, Reno... kamu terima saja itu," sahut Om Baskoro dengan suara parau namun tetap berwibawa. "Kasihan lho, Maya sudah jauh-jauh kesini sambil bawain makanan buat kamu. Kalau kamu nggak mau menerima apa yang maya kasih, sama saja kamu nggak menghargai harga diri wanita."

​Mendengar titah dari Om Baskoro, Reno tidak punya pilihan lain. Ia menghela napas panjang dan menerima wadah itu dengan enggan.

​"Ya sudah, makasih ya, May," ujar Reno singkat, nadanya terdengar datar.

​Maya memaksakan senyum lebarnya. "Sama-sama, Ren. Dimakan ya, mumpung masih hangat."​Padahal dalam hati, ia ingin sekali merebut kembali wadah itu.

​Om Baskoro menyandarkan punggungnya pada bantal, wajahnya yang pucat tampak sedikit lebih cerah karena rasa ingin tahu yang besar. Matanya beralih dari Maya ke Reno, lalu kembali lagi ke arah wadah makanan yang baru saja berpindah tangan itu.

​"Kamu sama Reno ada hubungan deket atau gimana tuh?" tanya Om Baskoro dengan nada menyelidik namun terdengar santai. "Sampai kamu bawain reno makanan, masakan kamu sendiri. Om jadi kepo sama kalian berdua."

​Reno yang baru saja hendak menyuapkan sesendok makanan ke mulutnya langsung tersentak. Ia tersedak hebat hingga wajahnya memerah. "Uhuk! Uhuk!" Ia segera meraih air mineral di nakas dengan gerakan panik.

​Maya mengerjapkan matanya beberapa kali, tampak benar-benar bingung dengan arah pembicaraan pria tua itu. "Bentar Om... maksud Om gimana ya? Maya nggak paham," tanya Maya dengan dahi berkerut, mencoba mencerna maksud tersembunyi di balik senyum tipis Om Baskoro.

​Om Baskoro terkekeh pelan, meski suaranya masih terdengar serak. "Aduhh, masa kamu nggak paham sih, Maya. Ini lho, kalian kayak ada hubungan lebih gitu. Kayak pacar gitu, atau memang kalian cuma sekadar teman aja?"

​Pertanyaan itu bagaikan petir di siang bolong bagi Reno. Ia meletakkan wadah makanannya dengan kasar, seolah selera makannya hilang seketika digantikan oleh rasa kikuk yang luar biasa.

​"Kita cuma teman aja, Om!" balas Reno cepat, suaranya naik satu oktav karena gugup. "Nggak ada yang harus dilebih-lebihkan. Maya ini teman lama saya sama Bara juga, nggak ada yang lebih."

​Maya pun segera menambahkan dengan anggukan mantap, meski dalam hati ia merasa ini adalah kesempatan untuk menutupi niat aslinya kepada Bara. "Iya, Om. Benar kata Reno. Kita sudah kenal lama, jadi sudah kayak saudara sendiri. Maya cuma merasa nggak enak aja kalau Reno kelaparan pas lagi jaga Om di sini."

​Maya melirik Reno sekilas, sementara Reno hanya mendengus, mencoba menyembunyikan rasa curiganya bahwa makanan ini sebenarnya punya pemilik yang sebenarnya. Di balik tirai jendela rumah sakit yang tertutup, malam datang, membawa rahasia masing-masing dari mereka yang terjebak dalam percakapan canggung itu.

Beralih ke dalam kamar, Renata terbangun dari tidurnya dengan napas yang terasa berat. Cahaya lampu tidur yang temaram membuat kepalanya semakin pening. Tubuhnya terasa lemas, seolah seluruh tenaganya tersedot habis oleh rasa mual yang tiba-tiba menyerang untuk kedua kalinya di malam ini.

​"Ugh..." Renata menutup mulutnya rapat-rapat, mencoba menekan gejolak hebat dari perutnya yang terasa diaduk-aduk.

​Dengan sisa tenaga yang ada, ia merangkak ke arah nakas di samping tempat tidur. Jemarinya yang gemetar meraba-raba ke dalam tas yang tergeletak di sana, mencari benda kecil yang sudah ia siapkan. ​Setelah beberapa saat mengaduk isi tas, ujung jarinya menyentuh sebuah plastik bening. Akhirnya test pack berhasil ia dapatkan.

​Tanpa membuang waktu, ia segera turun dari tempat tidur dengan langkah gontai. Ia menekan rasa mual yang kian mendesak di kerongkongannya, berusaha sekuat tenaga agar tidak tumpah sebelum ia sampai ke tujuan. Begitu sampai di dalam kamar mandi, ia segera mengunci pintu dan bersandar di sana dengan jantung yang berdegup kencang.

​Di bawah lampu kamar mandi yang terang benderang, Renata menatap benda di tangannya dengan perasaan campur aduk. Ada rasa takut, namun ada juga harapan kecil yang terselip di sana. Dengan napas yang masih tersenggal, ia mulai mengikuti petunjuk penggunaan benda tersebut, menunggu beberapa menit yang terasa seperti berjam-jam untuk mengetahui sebuah jawaban yang mungkin akan mengubah segala hidupnya.

Di tempat lain, suasana kantor pusat tampak mencekam meski malam masih awal. Bara duduk di balik meja kerjanya, dan jasnya sudah tersampir di kursi dan kemejanya tergulung hingga siku. Ia memijat pangkal hidungnya dengan keras, sementara layar monitor di hadapannya menampilkan grafik berwarna merah yang menukik tajam.

​Line produksi yang perlahan turun akibat kendala teknis di kantor cabang mulai berdampak domino, mengakibatkan nilai saham perusahaan ikut bergejolak. Bara harus mengambil keputusan cepat untuk menjual sebagian aset saham sebelum kerugian semakin membengkak. Fokusnya tersedot sepenuhnya pada angka-angka dingin di layar, membuatnya sama sekali tak terpikir untuk mengecek ponsel atau sekadar menanyakan kabar istrinya di rumah.

​Sementara itu, di dalam kamar yang sunyi, pintu kamar mandi perlahan terbuka. Renata melangkah keluar dengan wajah yang sulit dibaca. Tiba-tiba, ia mengangkat kedua tangannya, menutup mulutnya rapat-rapat seolah-olah ia baru saja melihat sesuatu yang mustahil. Matanya yang sembab membelalak lebar, memancarkan binar keterkejutan yang begitu hebat hingga tubuhnya sedikit gemetar. Ada kilatan emosi yang campur aduk di sana—antara rasa tidak percaya, takut, dan sesuatu yang jauh lebih dalam yang belum sempat ia definisikan.

​Ia berdiri terpaku selama beberapa menit, membiarkan keheningan kamar menyelimuti rahasia yang baru saja terungkap di balik pintu kamar mandi tadi. Tanpa sedikit pun menunjukkan hasil benda kecil itu kepada dunia, ia menyimpannya rapat-rapat, membiarkan misteri itu mendekam dalam dadanya sendiri.

​Setelah berhasil menguasai diri, ia mengusap sudut matanya, menarik napas panjang untuk menetralkan debaran jantungnya yang menggila,​Renata meletakkan benda itu di tempat tersembunyi, lalu merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Perutnya masih terasa tidak nyaman, namun ia sadar bahwa ia butuh tenaga. Dengan langkah perlahan, ia keluar dari kamar. Malamnya sendirian di bawah temaram lampu rumah yang sepi.

1
akumahapa
SETUJUUU BANGET🤣
akumahapa
iri aja nih perempuan
akumahapa
suasana di bab ini terasa sesak sekaligus panas. maya mengeluarkan semua pernyataannya, ia merasa dendam, sudah di khianati oleh mantan kekasihnya, tapi pelariannya itu ke orang lain. orang lainnya, sepepupu mantannya lagi. Emang cewe modelan maya ada?
tifara zahra
bikin renata hamil tor
Mr. Han: Boleh sih kak, tapi kita belom tau nih, nanti renata bakal mengalami gejala mual-mual apa itu cuma penyakit umum, atau bisa jadi hamil. Jangan lupa baca kelanjutannya kak. Terimakasih😍
total 1 replies
Nanda
salam kenal yah...
neng aja
bintang 5 buat renata hehehe
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!