NovelToon NovelToon
Pendekar Naga Pengembara

Pendekar Naga Pengembara

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:14.9k
Nilai: 5
Nama Author: Agen one

Tian Shan, pendekar terkuat yang pernah ada, memilih mengorbankan dunia demi satu tujuan—memutar balik waktu.

Ia terlahir kembali di keluarga bangsawan. Namun karena sifatnya yang dianggap aneh dan tubuhnya yang tak mampu berkultivasi, ia dipandang sebagai sampah.

Saat waktunya tiba, ia memilih pergi—bertekad membuktikan dirinya dan membalas segalanya dengan kekuatan yang akan mengguncang dunia.

Mampukah sang legenda menggapai impiannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Selamat Tidur Gu Han

Lembah Giok di tengah malam adalah cermin dari kematian yang tenang.

Kabut hijau yang beracun merayap di antara celah bebatuan, sementara di dasar jurang, sebuah kuncup bunga berwarna putih pucat mulai memancarkan cahaya perak redup.

Teratai Inti Bumi sedang bersiap untuk mekar, menyerap esensi rembulan yang jatuh ke lubang lembah.

​Gu Han berdiri di atas sebuah batu besar, sekitar lima puluh meter dari letak bunga itu.

Matanya yang haus akan kekuatan terus melirik ke arah Tian Shan yang duduk tenang di bawah pohon mati, memangku kecapinya.

​"Dengar, Nak," bisik Gu Han, suaranya mengandung racun kemunafikan. "Begitu kelopak pertamanya terbuka, Kadal Kerak Bumi itu akan keluar dari sarangnya. Tugasmu adalah mengalihkan perhatiannya. Kau cukup berlari dan menghindar sejauh mungkin. Aku yang akan mengambil bunganya, lalu kita bagi dua. Kau paham?"

​Tian Shan menatap Gu Han dengan mata perak yang datar. Ia melihat keserakahan yang meluap-luap dari pria itu. Gu Han sudah bersiap untuk menebas punggung Tian Shan begitu ia berhasil mendapatkan bunga itu.

​"Aku paham pilihannya," jawab Tian Shan singkat.

​Saat rembulan tepat berada di puncak langit, kelopak Teratai Inti Bumi terbuka perlahan, mengeluarkan aroma harum yang mampu membersihkan meridian.

Di saat yang sama, bumi bergetar. Sebuah kepala raksasa bersisik hijau tua dengan mata kuning vertikal muncul dari balik gua bawah tanah.

Kadal Kerak Bumi, monster ranah kedua, merayap keluar dengan lidah yang bercabang.

​"Sekarang! Maju!" perintah Gu Han dengan nada mendesak.

​Namun, bukannya berlari ke arah monster itu, Tian Shan justru menyentakkan jarinya ke atas senar kecapinya.

​BOOM!

​Sebuah dentuman nada rendah yang berat menggetarkan udara lembah. Alih-alih berlari, Tian Shan tetap duduk tenang.

Alunan musiknya tiba-tiba berubah menjadi ritme yang liar, kasar, dan penuh provokasi—sebuah teknik pemanggil yang ia sebut Simfoni Penarik Jiwa.

​"Apa yang kau lakukan, Bodoh?! Berhenti memetik!" teriak Gu Han panik.

​Suara kecapi itu bukan hanya mengusik Kadal Kerak Bumi, tetapi juga bergema ke seluruh penjuru hutan di atas lembah.

Dari kegelapan, sepasang mata merah, biru, dan kuning mulai bermunculan. Berbagai macam binatang buas yang haus akan energi Teratai—dan darah—mulai melompat turun dari dinding tebing.

​WHOSH! GRAAAA!

​Puluhan serigala berbulu duri dan kera bertangan empat mendarat di sekitar Gu Han, tertarik oleh frekuensi musik yang dimainkan Tian Shan.

Para monster itu tidak menyerang Tian Shan yang terlindungi oleh aura resonansi kecapinya, melainkan menyerbu Gu Han yang berdiri paling dekat dengan sumber energi bunga.

​"Sialan! Kau menjebakku?!" Gu Han menghunus pedangnya, menebas seekor kera yang mencoba mencabik wajahnya.

​JREENG!

​Tian Shan memetik nada tinggi yang tajam. Gelombang suara itu bertindak seperti pemandu sorak bagi para monster.

Kadal Kerak Bumi, yang merasa wilayahnya diinvasi, segera mengalihkan amarahnya kepada Gu Han yang paling berisik bertarung.

​Tian Shan mulai memainkan melodi yang lebih kompleks. Siluet naga perak kecil muncul kembali dari kecapinya, namun kali ini naga itu tidak menyerang; ia hanya meliuk-liuk di sekitar Tian Shan, menciptakan barikade energi yang membuat monster mana pun enggan mendekat.

​Di tengah lembah, Gu Han sedang berada dalam neraka. Sebagai Pendekar Inti, ia kuat, namun melawan satu monster ranah kedua bersama puluhan binatang buas lainnya sambil ditekan oleh frekuensi suara yang mengacaukan konsentrasinya adalah hal yang mustahil.

​"Bajingan kau! Hentikan! Aku akan membaginya denganmu secara adil! Kumohon!" teriak Gu Han sembari menghindari hantaman ekor Kadal Kerak Bumi yang menghancurkan batu di sampingnya.

​Tian Shan tidak bergeming. Jemarinya menari di atas senar dengan kecepatan yang mengerikan.

Ia menggunakan Gu Han sebagai perisai hidup untuk melemahkan Kadal Kerak Bumi.

Setiap kali Gu Han mencoba melarikan diri ke arah Tian Shan, sang pemuda akan memetik nada pedas yang menciptakan ledakan udara di depan kaki Gu Han, memaksanya kembali ke tengah medan tempur.

​SLASH! CRACK!

​Gu Han berhasil memotong salah satu kaki Kadal itu, namun sebagai gantinya, bahunya robek oleh cakaran serigala.

Ia berdarah di belasan tempat. Di saat kritis itu, Teratai Inti Bumi mekar sepenuhnya, mengeluarkan cahaya yang paling murni.

​"Pilihanmu salah, Gu Han," ucap Tian Shan di sela-selanya memetik. "Kau memilih menjadikanku umpan, maka aku memilih menjadikanmu tumbal."

​TING!

​Nada terakhir yang ditarik kuat dilepaskan. Sebuah gelombang kejut Qi perak melesat, bukan ke arah monster, melainkan menghantam tanah tepat di bawah kaki Gu Han.

Tanah itu runtuh, membuat Gu Han kehilangan keseimbangan tepat saat Kadal Kerak Bumi menerjang dengan rahang terbukanya.

​CRAAAK!

​Gu Han berteriak histeris saat rahang raksasa itu mengatup di pinggangnya. Sosok Pendekar Inti yang sombong itu kini tak lebih dari sepotong daging di mulut monster.

​Tian Shan berhenti bermain. Keheningan kembali merayap, menyisakan suara kunyahan tulang yang mengerikan.

Binatang buas lainnya yang tersisa mulai mundur, ketakutan oleh aura dingin yang tiba-tiba keluar dari tubuh Tian Shan.

​Dengan langkah tenang, Tian Shan berjalan mendekati monster kadal yang sedang sibuk memangsa sisa-sisa Gu Han.

Monster itu menggeram, mencoba menyerang, namun Tian Shan hanya menatapnya dengan mata perak yang memancarkan tekanan jiwa dari seorang Pendekar Abadi di masa lalu.

​Monster itu membeku. Insting hewannya berteriak bahwa makhluk di depannya ini adalah kematian itu sendiri.

Kadal itu perlahan mundur, meninggalkan mangsanya, dan merayap kembali ke kegelapan gua dengan ketakutan.

​Tian Shan membungkuk di depan Teratai Inti Bumi. Tanpa ragu, ia memetik bunga itu dan langsung menelannya bulat-bulat.

​BOOM!

​Ledakan energi murni meledak di dalam perutnya. Seluruh tubuh Tian Shan bercahaya perak terang.

Meridiannya yang selama ini tersumbat dan rusak kini dipaksa terbuka dan diperkuat oleh esensi bumi.

Rambut putihnya semakin bercahaya, dan tekanan aura di sekitarnya melompat dari Pendekar Pemula, menembus batas, dan mencapai Pendekar Inti tahap awal dalam sekejap.

​Ia berdiri, menatap mayat Gu Han yang sudah tak berbentuk. Ia mengambil kantong penyimpanan milik Gu Han yang terjatuh—sebuah jarahan tambahan.

​"Selamat tidur Gu Han," gumamnya.

​Tian Shan mengambil kembali kecapinya, menatap ke arah langit yang mulai memucat.

1
Aisyah Suyuti
bagus
Nanik S
NEXT 💪💪💪
Nanik S
Shiiiiip
Nanik S
Lanjutkan Tor
Nanik S
Mengenang mas lalu Lewat Kua
✞👁️👁️✞
lanjit thor💪
Nanik S
Satu satunya orang yang tidak dibunuh oleh Tian Shan di Alam Abadi
✞👁️👁️✞
/Pray/
✞👁️👁️✞
pecahan jiwa
✞👁️👁️✞
lanjut💪
Nanik S
cuuuuuuust👍👍👍
Nanik S
Lanjutkan Tor🙏🙏
Nanik S
Bai Yaoju bukankah dulu kekasih Tian Shan dimasa lalu sebelum rekarnasi
Kenaya: Iya/Pray/
total 1 replies
✞👁️👁️✞
pendekar tersantuy tian shen🔥
Kenaya: /Ok//Pray//Pray//Pray/
total 1 replies
✞👁️👁️✞
apa trio Tian akan berkelana bersama?
✞👁️👁️✞
🔥🔥
✞👁️👁️✞
mantap
lanjut thor💪
✞👁️👁️✞
🐬🐬semangat
✞👁️👁️✞
tian shan!! kau pergi tanpa berpamitan😁
Kenaya: ketemu lagi kok nanti/Grievance//Pray/
total 1 replies
✞👁️👁️✞
kontrak darah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!