Wanita modern yang bertransmigrasi ke dalam sebuah novel kuno. Berjuang dari nol sampai akhirnya menjadi immortal, bagaimana kisahnya? Ikuti terus perjalanannya!!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mellisa Gottardo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Duapuluhtujuh
“Meskipun kau menggunakan umur 10 tahun dan tubuhmu sedikit menyusut, kau akan kembali besar dalam 4 tahun kan? saat kau pulang pasti adikmu sudah bisa berlarian menyambutmu. Bagaimana? lagipula di sana tidak ada yang mengenalmu jadi tidak masalah pura-pura jadi anak kecil.” Ucap Jessy mengambil jalan tengah.
Zhao terlihat berpikir keras, dia suka dengan wujudnya saat ini yang tinggi dan muda. Jika dia menjadi anak 10 tahun maka dia akan kehilangan semua otot dan tinggi badannya, dia pasti akan kesulitan melawan orang yang lebih kuat.
Tapi jika di usia 10 tahun dia bisa mengalahkan banyak orang kuat bukankah itu keren? dia pasti akan terkenal dan banyak yang mengakui kehebatannya. Tiba-tiba Zhao tersenyum, menjadi kecil untuk sementara itu bukan pilihan yang buruk.
“Baiklah, aku akan jadi kecil untuk sementara waktu.” Ucap Zhao setuju.
“Yang benar?.” Jessy menobang dagu nya meledek.
“Iya, aku akan berlatih menggunakan tubuh kecil agar lebih terbiasa.” Ucap Jessy.
“Jangan berhenti di tengah jalan jika sudah memutuskan.” Ucap Ziang.
“Iya Ayah, aku sudah yakin.” Zhao serius.
“Kalau begitu Ayah akan melatihmu mulai hari ini.” Putus Ziang.
“Eh bukannya kau harus mencari anggota? masih ada Ocong yang bisa melatih Zhao.” Ucap Jessy.
“Tidak mau, aku bisa melanjutkan itu nanti.” Ziang tidak suka Ocong.
“Pftttt iya-iya lakukanlah apa yang kalian inginkan.” Jessy hanya tertawa saja.
Akhirnya hari itu Ziang melatih Zhao yang kini sudah jadi lebih kecil dan pendek. Lemak bayi di pipinya terlihat lucu, matanya jadi bulat dengan tubuh tanpa otot yang terlihat sangat lemah.
“Kau…. seperti rakun.” Ucap Ziang, gengsi mengatakan imut.
“Ayah sudah berjanji tidak akan meledekku!!!!.” Suara Zhao kini jadi sangat nyaring.
“Ekhem.. iya baiklah kita mulai saja.” Ziang memalingkan wajahnya.
Zhao berlatih menggunakan tubuh kecilnya, meskipun dia masih sama kuatnya tapi menggunakan tubuh yang lebih kecil dan pendek itu menyusahkan. Dia jadi gampang jatuh dan serangannya jadi tidak akurat, itu lah yang perlu Zhao latih.
Hoshh
Hoshhh
“Ini curang! lagi pula tidak mungkin lawanku nanti sebesar Ayah.” Teriak Zhao kelelahan.
“Ini latihan, serangan mu masih tidak akurat dan kakimu kehilangan keseimbangan.” Ucap Ziang.
“Ini karena kaki ku pendek.” Kesal Zhao.
“Karena itu kau harus melatihnya agar terbiasa dengan kaki pendek, dasar bocah.” Geram Ziang.
“Aku tidak mau, aku tidak jadi per___
Dughh
Auchh
Ziang menggetok kepala Zhao dengan gagang pedang, membuat lidah Zhao tergigit. Akhirnya sesi latihan hari pertama penuh dengan drama, di umur ini Zhao ternyata jadi lebih menjengkelkan.
Satu hari, satu minggu, satu bulan berlalu dengan cukup monoton. Ziang melatih Zhao dari pagi sampai sore, lalu dari sore sampai malam harinya dia akan melatih anggota guild nya. Jessy sudah selesai mengajari para juru masak dan kini kios sosis sudah di buka di ibu kota.
Seperti perkiraan Jessy, karena ada atraksi api membuat banyak yang datang ke kios untuk melihat dan membeli. Yang paling banyak di beli adalah sosis keju bakar, mereka suka bumbu sosis bakar yang gurih dan sosis isi keju yang lumer.
Sedangkan anak-anak yang tidak bisa makan pedas lebih suka sosis kuah susu, rasanya sangat creamy dan cocok di lidah mereka. Untuk sosis keju lumer masih sedikit peminat karena menurut mereka tekstur keju nya sangat tidak senonoh meskipun rasanya enak. Yang terakhir keju krispy sangat di sukai oleh kalangan anak kurang mampu, karena bagi mereka itu adalah lauk yang sangat lezat tapi murah.
Guild Ziang masih belum terbentuk karena Ziang masih fokus melatih Zhao. Jadi semuanya harus tertunda sampai urusan Zhao selesai, masih ada banyak waktu jadi tidak perlu terburu-buru.
Karena perjalanan dari rumah menuju Changhai itu memerlukan waktu sekitar 1 bulan, mereka pun akan berangkat mulai hari ini. Perut Jessy sudah mulai terlihat dan itu sedikit membuat Ziang khawatir.
Perjalanan menaiki kereta kuda, selama Jessy dan Ziang pergi segala urusan di rumah, pabrik dan kios diurus oleh Ocong. Sedangkan guild di jaga oleh ular batu milik Ziang.
Melewati perbukitan, hutan, pedesaan, perkotaan, persawahan, ladang tandus, padang rumput hingga tanah berlumpur untuk bisa sampai ke perbatasan selatan. Jessy merasa pingganya akan patah, ini perjalanan yang sangat melelahkan sekali untuk Ibu hamil.
Untunglah saat sampai di perbatasan mereka bisa lewat tanpa hambatan, karena Ziang masih memiliki plakat pemberian Kaisar Ruan untuk bisa pergi kemanapun. Mereka sampai di wilayah Changhai yang ternyata sangat panas sekali.
“Siaaallll aku akan mati terpanggang sekarang.” Ucap Jessy tidak tahan lagi.
“Wilayah ini memang panas karena berdekatan dengan wilayah gurun pasir. Bertahanlah sampi penginapan, maafkan aku.” Ziang merasa bersalah.
“Ini bukan salahmu, memang harus seperti ini agar memiliki kenangan saat perjalanan jauh.” Ucap Jessy melirik Zhao kecil yang duduk dengan lucu di sebelah Ziang.
Bokongnya yang kecil terlihat imut saat sedang duduk, Jessy ingin sekali memeluk Zhao sampai remuk saking gemasnya.
“Ya ampun anakku yang lucu akan pergi merantau.” Batin Jessy merasa lucu.
Setelah banyaknya drama dalam perjalanan akhirnya mereka sampai di penginapan. Jessy langsung mandi dan minum air dingin, dia benar-benar butuh asupan air dingin yang banyak.
“Kita datang terlalu mepet, jadi besok kita harus sudah sampai di lokasi turnamen. Sayang apa kau baik-baik saja? bagaimana kondisi perutmu?.” Tanya Ziang.
“Kakiku pegal dan punggungku sakit hanya itu saja. Sekarang sudah memasuki bulan ke 7 jadi wajar saja aku merasa engap.” Ucap Jessy mengelus perutnya.
“Ibu, apa adik menendang lagi?.” Tanya Zhao, baru selesai mandi.
“Iya, kemarilah.” Jessy tersenyum.
Zhao memeluk perut Jessy, merasakan tendangan maut dari bayi di dalam perut. Zhao selalu tertawa dan merasa itu lucu, sedangkan Ziang merasa ngeri karena takut perut istrinya jebol.
“Adik laki-laki atau perempuan ya?.” Ucap Zhao.
“Memangnya kenapa?.” Tanya Jessy.
“Kalau perempuan aku harus menjaga nya dengan baik jangan sampai tergores dan menangis. Kalau laki-laki aku akan mengajarkannya jadi pria yang hebat, dia harus mencontoh Kakaknya ini.” Ucap Zhao dengan ceria.
“Salah, seharusnya mencontoh Ayahnya.” Ziang berkomentar.
“Ayah bersama Ibu saja, adik bersamaku.” Ucap Zhao kesal.
“Oh tentu saja adik akan bersama Ayah selama kau di akademi kan?.” Ziang menang telak.
“Tidaakkkkkk, Ibuu ayo pulang sajaaaa.” Rengek Zhao.
“Ziang berhentilah mengajak Zhao bertengkar. Kau akan masuk akademi jika menang, surat panggilan juga akan datang setelah dua bulan jadi masih ada waktu sebentar bermain bersama adik sebelum berangkat.” Ucap Jessy menjadi penengah.
“Lalu setelah itu aku akan pergi selama empat tahun.” Zhao dramatis.
“Ya, dan mungkin saja saat kau kembali adikmu bukan satu tapi ada empat.” Ucap Ziang semakin menjadi.
“ZIANG!!!!.” Jessy yang tidak terima di hamili setiap tahun.
Ziang hanya tertawa tanpa dosa, Zhao duduk termenung sambil menghitung sedangkan Jessy marah-marah. Seperti ini lah cara mereka menghilangkan penat, keharmonisan yang cukup aneh.
Season 2 aku tunggu❤
mosok ceritane Podo Karo Yuwen biyen? reinkarnasi maneh .