Setelah bertahun-tahun tak pernah dibuka, gudang tua di belakang rumah akhirnya kembali disentuh Zee. Dia hanya berniat merapikan peninggalan kedua orang tuanya yang telah lama tiada. Di antara debu dan kardus usang, Dia menemukan sebuah kamera analog tua yang tak pernah Dia ingat sebelumnya, kamera itu masih menyimpan satu gulungan film.
Karena penasaran, Zee mencoba memotret halaman belakang rumahnya, tempat sumur lama yang sudah kering berdiri sunyi di dalam pagar, tidak ada yang aneh saat Dia menekan tombol rana. Namun saat hasil cetaknya muncul, Dia terkejut.
Di dekat sumur kering itu, tampak sebuah pintu tua transparan, berdiri tegak tanpa dinding, seolah-olah mengarah tepat ke bibir sumur, pintu itu tidak ada saat Dia memotret.
Zee bingung apa maksud dari jepretan kamera tua itu? Penasaran lanjutan cerita nya? Yukk ikutin kelanjutan ceritanya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon _SyahLaaila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34.
Hening kembali datang di antara mereka. Jawaban singkat dari Sofia masih menggantung di udara, dan cukup untuk membuat suasana berubah sedikit.
Ketegangan yang tadi menyesakkan kini perlahan melonggar, meski belum sepenuhnya hilang.
Zee memperhatikan gadis itu dengan seksama. Tubuhnya tampak kurus, pakaiannya sederhana dan sedikit lusuh.
Keranjang di punggungnya berisi beberapa sayur liar yang tampak baru saja dipetik. Dan kain yang menutupi wajahnya.
Bukan tanpa alasan. Zee tidak bertanya, tapi belum.
"Aku Zee," ucap Zee akhirnya, memperkenalkan diri dengan suara tenang. Tangannya tidak di ulurkan, hanya sedikit menunduk sebagai tanda hormat.
Lia mengikuti. "Saya Lia."
Sofia terdiam sesaat. Nama-nama terdengar asing di telinganya.
Dia ragu. Namun setelah beberapa detik, dia menjawab dengan pelan, "Sofia, biasa di panggil Fia."
Suaranya hampir tertelan angin. Tapi cukup jelas untuk didengar.
Zee mengangguk kecil. "Sofia nama yang bagus."
Sofia sedikit menunduk, tidak tahu harus merespon apa.
Beberapa menit berlalu tanpa kata. Lalu Lia melirik ke arah rumah, sebelum kembali menatap Zee.
"Nona... bagaimana kalau kita masuk dulu? Kita belum memeriksa bagian dalam rumahnya."
Zee mengangguk pelan. sebelum berbalik, pandangannya kembali ke Sofia. Gadis itu masih berdiri diam di atas batu, dengan ragu dan menjaga jarak.
Seolah dunia di depannya terlalu asing untuk dia dipercaya.
Zee menarik napas pelan. "Fia, mau ikut dengan kita ke dalam rumah?" tanyanya.
Sofia tersentak kecil. "Ikut...?" ulang Sofia lirih
Zee menunjuk ke arah rumah. " Kita ke sana dulu. Setidaknya untuk duduk sebentar."
Lia pun menambahkan dengan nada lembut, "Kami tidak akan memaksa. Tapi kalau kamu lelah... Kamu bisa mampir dulu sebentar."
Sofia menggenggam keranjangnya dengan erat. Ajakan itu sederhana, tapi baginya terasa besar.
Masuk ke rumah orang asing. Bahkan dia tidak pernah lagi bertamu atu pergi ke rumah orang sejak wajahnya terkena penyakit aneh itu.
Sementara orang yang bahkan baru saja muncul bersama rumah itu, mengajaknya untuk masuk ke dalam rumah mereka.
Mungkin tatapan mereka yang tidak jahat, tidak ada paksaan, dan tidak ada ancaman. Hanya ketulusan yang membuat dia sedikit mulai percaya.
Sofia menatap rumah itu lagi. Lalu ke arah Zee dan Lia. Hatinya berdebat, takut atau percaya?.
Akhirnya, dengan sangat pelan, dia turun dari baru besar itu. Kakinya menyentuh tanah dengan ragu.
Satu langkah, lalu satu langkah lagi. Dia masih menjaga jarak, namun kini tidak lagi berada di atas batu.
"Aku... cuman singgah sebentar saja," ucapnya pelan.
Zee tersenyum tipis. "tidak Maslah."
Mereka bertiga berjalan menuju rumah itu. Jarak di antara mereka masih ada. Sofia tetap berada beberapa langkah di belakang, seolah siap berbalik kapan saja.
Lia membuka pintu lebih dulu. "Biar saya yang periksa, Nona."
Zee mengangguk.
Pintu terbuka perlahan. Suara engselnya halus, hampir tidak terdengar. Di dalamnya, ruangan tampak bersih.
Terlalu bersih untuk sebuah rumah yang baru saja muncul di tengah hutan. Terdapat sofa panjang berbentuk huruf L.
Ada dua kamar tidur di sisi kiri dan kanan, dapur kecil yang sudah lengkap dengan peralatan dapur, serta kamar mandi yang terdapat di samping dapur.
Seolah rumah ini memang sudah siap ditinggali sejak awal. "Bersih dan aman, Nona." lapor Lia setelah memeriksa sekilas.
Zee mulai masuk dengan perlahan. Matanya menyapu setiap sudut. Lalu Dia kembali menoleh ke arah pintu.
"Fia... Kamu boleh silakan masuk."
Sofia yang berdiri di ambang pintu, kakinya terasa berat untuk melangkah masuk. Namun rasa penasaran itu, kembali mendorongnya.
perlahan, dia melangkah masuk. Begitu kakinya melewati ambang pintu, dia berhenti. Matanya membelalak.
"Ini bersih sekali, dan juga keramik lantainya putih bersih, bisa untuk berkaca juga." batinnya.
Sofia langsung menunduk sedikit, merasa canggung. Tangannya masih menggenggam keranjang erat-erat, seolah itu satu-satunya hal yang membuatnya merasa aman.
Zee yang memperhatikan reaksi itu, Dia tidak mengatakan apa-apa. Tapi dalam pikirannya... Dia mulai menyadari sesuatu.
Tempat atau dunia yang Dia datang ini tidak seperti dunia asalnya. Dan gadis di depannya ini mungkin adalah kunci untuk memahami semuanya.
Zee berjalan ke arah meja di ruang tamu, lalu meletakkan tasnya. "Duduklah," ucapnya pelan.
Sofia ragu, namun akhirnya dia duduk perlahan di ujung sofa. Seketika dia terdiam, merasakan empuknya kursi ini, tidak seperti kursi yang di rumahnya yang begitu keras.
Lia menuangkan sedikit air minum ke dalam gelas, lalu meletakkannya di depan Sofia. "Minum dulu."
Sofia menatap gelas kaca bening itu dengan wajah yang terkejut, airnya jernih, bersih, terlihat dari luar.
perlahan, tangannya bergerak... lalu berhenti di tengah jalan. Dia menatap Lia. "Ini... untukku?"
Lia mengangguk. "Iya."
Sofia terdiam beberapa detik. Lalu, dengan ragu... dia mengambil gelas itu dengan kedua tangannya.
Tangannya sedikit gemetar memegang gelas berisi air itu, dia memegangnya dengan hati-hati takut kalau di genggaman terlalu kuat maka akan pecah.
Kali ini dia mulai sedikit percaya dengan semua yang terjadi hari ini.