Di pedalaman hutan belantara, sebuah kuil kuno yang lama terkubur ternyata menyimpan rahasia mematikan incaran sindikat teroris internasional. Kolonel Rayyan Aksara, Komandan elit Black Ops yang dingin, kaku, dan tak kenal kompromi, ditugaskan memimpin misi infiltrasi untuk menetralkan ancaman tersebut. Baginya, misi ini hanyalah tugas mematikan biasa—sampai pihak intelijen memaksanya membawa seorang “beban”. Dr. Lyra Andini adalah arkeolog jenius bertubuh mungil yang kemampuannya memecahkan sandi kuno hanya bisa ditandingi oleh kecerobohannya. Lyra lebih sering menjatuhkan barang, tersandung kakinya sendiri, dan membuat kacamata tebalnya melorot daripada berdiri tegak. Kehadirannya menguji batas kesabaran Rayyan hingga ke titik maksimal. Namun, di dalam labirin kuil yang dipenuhi jebakan mematikan dan desingan peluru musuh, kecerdasan Lyra menjadi satu-satunya kunci keselamatan mereka. Rayyan segera menyadari bahwa melindungi Lyra dari peluru musuh adalah satu hal, tetapi melindungi hatinya sendiri dari pesona kekacauan gadis itu adalah misi yang jauh lebih berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NP (Naika Permata), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Garis Batas yang Mengabur di Bawah Langit Jakarta
Tawa renyah Lyra perlahan mereda, menyisakan senyum manis yang membuat mata cokelatnya melengkung indah di balik kacamata. Rayyan menatap senyum itu sejenak, menyimpan pemandangan lekat-lekat di dalam memori, sebelum ia melipat kembali dokumen SANGAT RAHASIA tersebut dan memasukkannya ke dalam saku kemejanya.
“Urusan negara selesai,” gumam Rayyan rendah.
Ia berdiri dari kursinya, postur tubuhnya yang menjulang seketika memenuhi ruang privat yang remang-remang itu. Ia berjalan mengitari meja, mengulurkan tangan kanannya ke hadapan Lyra. “Sekarang, ikut aku.”
Lyra meletakkan serbetnya, meletakkan tangannya yang mungil di atas telapak tangan Rayyan yang lebar dan kapalan. Sentuhan kulit mereka selalu berhasil mengirimkan sengatan listrik yang sama setiap kalinya. Rayyan menarik Lyra berdiri dengan lembut, sama sekali tidak melepaskan genggamannya, lalu menuntun gadis itu menuju pintu kaca ganda di ujung ruangan yang mengarah ke balkon privat.
Rayyan mendorong pintu kaca itu terbuka. Udara malam Jakarta yang sejuk dan dipenuhi riuh rendah sayup suara kota langsung menyapa mereka. Dari lantai atas L’Atelier, lautan lampu gedung pencakar langit berpendar bagai ribuan bintang emas yang jatuh ke bumi.
Lyra melangkah ke pagar kaca balkon, terkesiap pelan melihat pemandangan di bawah sana. “Ini indah sekali, Rayyan.”
Tanpa Lyra sadari, pria itu sudah berdiri tepat di belakangnya. Tidak ada jarak tersisa. Rayyan melingkarkan kedua lengannya yang kokoh di pinggang Lyra, menarik punggung gadis itu hingga bersandar sepenuhnya pada dada bidangnya.
Jantung Lyra nyaris melompat dari tulang rusuknya. Sensasi tubuh Rayyan yang begitu solid, keras, dan hangat melingkupinya dari belakang membuat lutut Lyra seketika melemas. Jika bukan karena pelukan pria itu, ia yakin ia sudah merosot ke lantai.
“Sedingin ini, dan kau tidak membawa mantel?” Bisik Rayyan tepat di telinga Lyra. Hembusan napas hangat pria itu menerpa leher Lyra, membuat bulu kuduk gadis itu meremang oleh gairah yang belum pernah ia kenal sebelumnya.
“A-aku tidak tahu kita akan keluar ke balkon,” cicit Lyra terbata-bata, tangannya secara refleks naik untuk meremas lengan bawah Rayyan yang berotot dan terbalut kemeja hitam yang digulung.
Rayyan terkekeh pelan. Ia menundukkan wajahnya, menyembunyikan hidungnya di perpotongan leher dan bahu Lyra, menghirup dalam-dalam aroma vanilla dari rambut gadis itu yang bercampur dengan wangi parfum lembutnya.
“Kau wangi sekali malam ini, Lyra,” gumam Rayyan serak, suaranya menggetarkan punggung Lyra. “Ini jauh lebih baik daripada bau belerang dan tanah kuburan.”
“Kau sendiri yang bilang bau mesiu lebih rasional daripada parfum,” balas Lyra, mencoba bersikap berani meski suaranya bergetar hebat karena gugup dan euforia.
Rayyan perlahan memutar tubuh Lyra hingga gadis itu menghadapnya. Di bawah pendar cahaya kota dan lampu temaram balkon, wajah Rayyan terlihat luar biasa tampan—garis rahangnya setajam pahatan batu andesit, namun matanya memancarkan kelembutan yang hanya ia simpan untuk satu orang di dunia ini.
Tangan Rayyan yang besar terangkat. Dengan gerakan yang sangat lambat dan penuh perhitungan, ibu jari dan telunjuk Rayyan menjepit frame kacamata bulat Lyra, lalu menariknya perlahan dari wajah gadis itu.
Lyra mengerjap, pandangannya sedikit mengabur melihat lampu kota di belakang Rayyan, tetapi wajah pria di hadapannya tetap menjadi fokus utamanya yang paling tajam.
“K-kenapa dilepas?” Bisik Lyra, merasa aneh dan telanjang tanpa pelindung kacamatanya.
“Karena,” Rayyan melipat kacamata itu dan menyimpannya dengan aman di saku celananya, “aku tidak ingin ada benda apa pun, sekecil apa pun, yang menjadi penghalang di antara kita malam ini.”
Rayyan menangkup wajah Lyra dengan kedua tangannya. Ibu jarinya membelai tulang pipi Lyra dengan sentuhan memuja. Mata obsidian pria itu menggelap, menanggalkan seluruh sisa-sisa tembok pertahanan sang Komandan Black Ops, menyisakan hanya seorang pria yang dimabuk kepalang oleh wanita di pelukannya.
Lyra menelan ludah. Ia memiringkan wajahnya sedikit, bersandar pada kehangatan telapak tangan Rayyan. Keberanian yang entah datang dari mana membuat Lyra berjinjit, tangannya merayap naik, melingkah di leher kokoh Rayyan, dan meremas kerah kemeja hitam pria itu.
Rayyan tidak butuh undangan kedua.
Pria itu menundukkan kepalanya, dan bibir mereka akhirnya bertemu dalam ciuman yang menghapus seluruh sisa jarah di antara mereka.
Jika ciuman di rumah sakit yang lalu adalah sebuah pengakuan yang berhati-hati, ciuman malam ini adalah sebuah klaim absolut. Rayyan melumat bibir Lyra dengan intensitas yang membuat napas Lyra tersita habis. Itu dalam, menuntut, namun luar biasa lembut di saat yang bersamaan. Tangan Rayyan turun dari wajah Lyra, melingkar kuat di pinggang ramping gadis itu, mengangkat tubuh mungil Lyra sedikit hingga ujung kaki Lyra nyaris tidak menyentuh lantai.
Lyra mengerang pelan di sela-sela ciuman mereka, jari-jarinya menelusup ke dalam rambut gelap Rayyan yang tebal. Respon Lyra yang begitu jujur dan tak terduga membuat Rayyan semakin kehilangan kendali. Pria itu memperdalam ciumannya, mengecap rasa teh chamomile dan manis yang memabukkan dari bibir gadis itu.
Dunia di sekitar mereka—hiruk-pikuk Jakarta, rahasia negara, dokumen intelijen—semuanya memudar. Lyra merasa dirinya meleleh, tenggelam sepenuhnya dalam pelukan sang tentara baja yang kini menjadi sauhnya.
Ketika paru-paru mereka akhirnya memohon oksigen, Rayyan melepaskan pagutan itu dengan enggan. Ia menurunkan Lyra kembali ke lantai, namun tetap menahan dahi gadis itu menempel pada dahinya.
Keduanya terengah-engah hebat. Dada bidang Rayyan naik-turun dengan cepat beradu dengan dada Lyra. Bibir Lyra membengkak kemerahan, matanya yang tidak berkacamata tampak sayu dan berkabut oleh gairah yang baru saja tersulut.
Rayyan menatap wajah itu, menelan ludah dengan susah payah untuk mengendalikan sisa-sisa hasrat yang masih membakar urat nadinya. Jari tangannya naik, mengusap bibir bawah Lyra dengan Ibu jarinya.
“Sial,” umpat Rayyan pelan, suaranya serak dan bergetar. “Menjinakkan C4 jauh lebih mudah daripada menahan diri untuk tidak menciummu lagi sekarang juga, Lyra.”
Lyra tersenyum dengan napas yang masih terputus-putus. Rona merah di pipinya mengalahkan cahaya lampu kota. “Kau… tidak perlu menahan diri, Rayyan.”
Rayyan memejamkan mata sejenak, terkekeh frustasi bercampur puja. Ia mengecup kening Lyra dengan sangat lama dan mendalam.
“Tidak di sini. Tidak malam ini,” bisik Rayyan, merapikan anak rambut Lyra yang berantakan karena ulahnya. “Aku tidak akan membiarkan kencan pertama kita berakhir dengan terburu-buru. Kau terlalu berharga untuk itu.”
Rayyan mundur selangkah, memberi Lyra ruang untuk bernapas, lalu mengeluarkan kacamata Lyra dari sakunya. Dengan sangat hati-hati, ia memakaikan kembali kacamata itu ke wajah sang arkeolog, memastikan posisinya pas di hidung bangir Lyra.
“Lebih baik?” Tanya Rayyan dengan senyum miringnya yang khas.
Lyra mengangguk, merapikan gaunnya yang sedikit berantakan. Ia seperti baru saja berlari maraton, namun hatinya seringan kapas. “Lebih baik.”
Rayyan menawarkan lengannya lagi, matanya memancarkan kehangatan yang membuat Lyra merasa menjadi wanita paling dilindungi di seluruh dunia.
“Ayo kuantar kau pulang, Mitra,” ucap Rayyan lembut. “Kita butuh istirahat. Lusa, kita harus mendaki gunung vulkanik untuk mencari candi purba.”
Lyra mengaitkan lengannya ke lengan Rayyan, menyandarkan kepalanya ke bahu bidang pria itu saat mereka berjalan meninggalkan balkon.
“Kau tahu, Rayyan?” Gumam Lyra dengan senyum tertahan. “Jika misinya seberbahaya bersamamu malam ini, aku rasa butuh rompi-anti-peluru-ganda.”
Tawa bariton Rayyan menggema di koridor yang sepi malam itu, menandai berakhirnya malam yang panjang, dan menjadi awal dari kisah panjang mereka yang sesungguhnya.