Setelah memergoki kekasihnya berselingkuh membuat Nina Safira kehilangan akal sehatnya. Dia datang ke sebuah bar berniat untuk menghibur diri, namun hal tak terduga terjadi, akibat kecerobohannya dia mabuk berat dan bermalam bersama pria asing di sebuah hotel. Bukannya menyelesaikan masalah tapi malah menambah masalah. Lantas tindakan apa yang diambil Nina setelah kehormatannya terenggut oleh pria yang belum dikenalnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Dw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2. Masih Perawan
Udara dingin di pagi hari sangat mengganggu tidur nyenyak Nina Safira. Gadis itu masih tenang memejamkan matanya, dia berusaha menarik selimutnya agar untuk mengurangi rasa dingin yang menusuk hingga tulangnya, tapi sayangnya dia tidak mendapati selimut yang biasa dipakainya. Saat tangannya meraba-raba tidak sengaja dia memegang sesuatu dan itu bukanlah selimut, seketika matanya terbuka dan memastikan apa yang tengah dipegangnya. Begitu terkejutnya saat matanya terbuka lebar ia mendapati seorang laki-laki tertidur pulas di sebelahnya dalam kondisi tidak mengenakan sehelai benangpun.
"Argh!!!!" Nina menjerit histeris dengan menutup telinganya.
Dia terlihat begitu bingung saat mendapati ruangan yang sangat berbeda dengan kamarnya, sepertinya itu sebuah kamar hotel, dan benar saja, posisinya saat ini berada di hotel bersama pria yang tak dikenalnya.
"Apa yang sudah aku lakukan? Kenapa aku bisa berada di sini? Siapa yang membawaku ke sini?"
Nina memijit pelipisnya yang masih terasa berdenyut denyut. Ia tidak bisa mengingat sepenuhnya mengenai hal yang terjadi semalaman. Untuk mengakhirinya, Nina langsung beranjak dan memutuskan untuk pergi.
"Aku tidak boleh berlama-lama di sini. Jangan sampai ada yang tahu identitasku."
Nina langsung memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai dan bergegas untuk segera pergi.
***
Setibanya di rumah, Nina mendapati kedua orang tuanya yang sengaja menunggu kepulangannya. Tatapan dingin mereka cukup membuat nyalinya menciut.
"Dari mana saja kamu Nin! Semalaman Kamu nggak pulang ya? Kamu mau jadi apa?"
Nina terdiam, mengakui dirinya telah melakukan kesalahan besar yang sudah pasti membuat orang tuanya khawatir.
"Pamit main ke rumahnya teman sampai nggak pulang kayak gini, nggak kasih kabar orang tua!" Ibunya terus saja mengomel tanpa memberinya kesempatan untuk menjawab.
"Nina, kamu itu sudah besar, harusnya kamu bisa berpikir lebih dewasa lagi. Apa kau pikir lebih baik berada di luar dibandingkan berkumpul bersama orang tua? Mau jadi apa kamu!"
Belum juga memasuki rumah, Widya sudah marah-marah dengan berkacak pinggang di depan pintu. Semua pembantu di rumahnya yang sedang beraktivitas langsung menoleh padanya, tapi mereka memutuskan untuk segera berlalu. Nina meremas jemarinya, tangannya begitu dingin meskipun omelan ibunya membuat telinganya memanas.
"Maaf ma, tadi malam aku ketiduran di rumah temanku," jawabnya beralibi. Tidak ada alasan lain selain harus melibatkan Sania ke dalam masalahnya.
"Kok bisa-bisanya sampai ketiduran di rumah orang. Kalau udah capek itu seharusnya pulang, bukannya malah menginap di rumah orang. Papa sama Mama itu khawatir. Kalau sampai kamu kenapa-napa gimana coba?"
Hermawan selaku ayah sambungannya ikut mengomel, bukan berarti jengkel, ia hanya terlalu mengkhawatirkannya. Meskipun hanya sekedar Ayah sambung, Hermawan sangat menyayangi Nina dan menganggapnya seperti anak kandungnya sendiri, dia tidak memiliki anak perempuan, ditambah lagi pernikahannya dengan Widya tidak dikaruniai buah hati. Sedangkan anak kandungnya dari pernikahannya terdahulu memilih untuk tinggal di luar negeri.
"Maaf Pa, lain kali enggak bakalan lagi. Aku juga lupa buat cas handphoneku, charger juga nggak kebawa, jadinya lowbat."
Hermawan dan Widya saling bertatapan dengan menggelengkan kepala. Terlalu banyak alasan anak gadisnya itu.
"Memangnya di rumah temanmu tidak ada cas-casan HP?" Hermawan melayangkan tatapan dingin padanya. "Kok Papa jadi ragu buat mempercayaimu! Kalaupun handphone kamu lowbat tentunya kamu bisa meminjam cas-casan punya teman kamu kan?"
Nina mengigit bibirnya terlihat begitu gelisah. Bahkan orang tuanya tidak memiliki kepercayaan lagi padanya, namun ia tak berani membantah, di situ jelas-jelas ia yang bersalah.
"Papa tidak suka kebohongan Nina! Papa ingin memiliki anak yang jujur dan patuh pada orang tua. Kalau kamu seperti ini bukannya papa percaya tapi papa malah meragukanmu!"
Nina semakin gelisah. Ia merasa berdosa karena berani membohongi orang tuanya. Tapi tidak mungkin juga ia mengatakan kejadian yang sebenarnya. Ia tak sengaja bisa tidur satu ranjang dengan pria asing yang tak pernah dikenalnya.
"Maaf Pa," ucapnya lirih. Lidahnya kelu, tak berani memberikan penjelasan yang hanya akan menambah masalah.
"Ya sudah, sana masuk! Lain kali Papa tidak ingin mendengar alasan lagi."
Cukup lega melihat anaknya sudah kembali. Dia memang harus mengambil sikap tegas untuk membuatnya takut.
"Punya anak perempuan satu aja bikin makan hati," gerutu Widya.
"Tapi lain kali jangan sampai terulang lagi. Papa khawatir Nina bakalan sering kelayapan di luar tanpa sepengetahuan kita. Kita kan jarang ada di rumah." Hermawan memberikan peringatan pada istrinya agar bisa tegas mendidik anak perempuannya. Ia khawatir, jika dibiarkan Nina bakalan tak terarah.
****
Di dalam kamar mandi Nina menangis sejadi-jadinya. Dia mengunci pintu dari dalam dan mengguyur tubuhnya dengan shower. Ia masih tidak percaya jika dirinya sudah tidak lagi suci setelah kejadian malam itu. Bahkan orang yang sudah menidurinya tidak diketahui asal-usulnya atau bahkan namanya.
"Kenapa bisa seperti ini?"
Nina merasa jijik dengan kondisinya sekarang. Entah seperti apa pria itu memperlakukannya. Ia benar-benar tak sadar.
"Ya Tuhan,, kenapa aku harus seceroboh ini? Bagaimana aku bisa sampai di dalam hotel dan melakukan hal keji bersama orang yang tak kukenal?"
Nina menarik nafas dengan kedua tangan mencengkram rambutnya berusaha untuk mengingat-ngingat apa yang terjadi malam itu, tapi sayangnya ingatannya minim, bahkan hampir tidak bisa mengingatnya sama sekali.
"Bukannya malam itu aku diantarkan Sania untuk menemui Bagas di hotel?" Perlahan-lahan ingatannya mulai pulih, namun tidak sepenuhnya. "Ya, aku datang ke hotel bersama Sania dan menggerebek Bagas bersama wanitanya di dalam sebuah kamar. Habis itu aku diajak Sania pulang, tapi ...?"
Cetek,, Nina menjentikkan jemarinya hingga menimbulkan suara. "Oh iya, sekarang aku mengingatnya. Waktu itu aku nggak mau pulang dan memutuskan untuk pergi ke bar. Aku minum di bar dan setelah itu ~~~
Kembali ia kebingungan untuk bisa mengingatnya dengan jelas, tapi seingatnya ia minum di bar dan bertemu dengan seorang pria yang mengajaknya berkenalan. Berhubung ia sudah setengah mabuk tak bisa lagi mengingatnya dengan jelas.
"Oh ..., ayolah Nina, tenanglah, jangan panik. Kejadian ini cuma sekali, nggak akan pernah terulang lagi. Jangan sampai orang tuamu tahu akan kejadian ini."
Nina berusaha untuk terlihat tenang agar tidak ada yang mencurigainya.
***
Di tempat lain tepatnya di sebuah hotel, seorang pemuda bangun dari tidurnya. Ia terkejut mendapati dirinya yang dalam kondisi tidak mengenakan pakaian. Buru-buru dia bangun dan tidak sengaja pandangannya tertuju pada sprei putih yang sudah ternoda dengan cairan merah segar. Ia mengusap wajahnya kasar mengingat kejadian malam itu bersama seorang wanita.
"Ternyata dia masih perawan? Berarti aku yang pertama?"
Senyuman tipis terlukis di sudut bibirnya. Ia merasa menang pertama kalinya bercinta langsung dapat perawan, tapi sayangnya gadis itu keburu kabur.
Mengingat hari mulai siang ia langsung menyambar celananya yang berserakan di lantai dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Ia sudah berjanji akan datang tepat waktu. Ia yakin orang tuanya sudah menunggu kedatangannya.
"Kemana perginya cewek itu? Bisa ketemu lagi nggak ya?" Mengingat kejadian malam itu membuat barang privasinya berkedut. Si Joni rasanya tak rela melepaskan wanita yang sudah memberinya kepuasan.
Ia kembali ke dalam kamar untuk mengemasi barang-barangnya. Dilihatnya ada sebuah anting yang terselip diantara bantal, ia segera memungutnya. "Sepertinya dia meninggalkan anting ini."
Senyuman smirk terbit di sudut bibirnya. Ia merasa hari itu bukan hari terakhirnya bertemu dengan gadis itu. Ya, ia yakin dengan anting itu ia bisa mencari identitasnya.