Di SMA Garuda, Arkananta Dewa adalah personifikasi dari aturan itu sendiri. Sebagai Ketua OSIS yang perfeksionis, ia adalah matahari yang ditakuti sekaligus dikagumi. Di sisi lain, Ziva Clarissa adalah anomali; siswi jurnalisme yang vokal, ceroboh, dan pembenci birokrasi. Mereka adalah dua kutub yang seharusnya tidak pernah bertemu dalam satu garis takdir.
Namun, sebuah perjodohan bisnis yang dipaksakan oleh kedua orang tua mereka mengubah segalanya dalam semalam. Tanpa cinta, tanpa persiapan, mereka diikat dalam pernikahan siri yang sah di mata agama dan keluarga, namun terlarang di mata sekolah.
Keduanya sepakat pada satu hal: Rahasia ini harus mati bersama mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iinayah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Racun dalam Obsesi dan Panggung Pembalasan
Malam itu, di sebuah kamar mewah yang didominasi warna putih dan emas, Clarissa Putri tidak bisa memejamkan mata. Ia duduk di depan meja riasnya, menatap pantulan dirinya di cermin. Di tangannya, ia menggenggam ponsel yang layarnya menampilkan foto pernikahan siri Arkan dan Ziva—hasil tangkapan layar dari orang suruhannya tadi siang.
"Istri?" Clarissa berbisik, suaranya parah karena amarah.
"Lo sebut perempuan ceroboh itu istri, Ar?"
Ia tertawa sumbang, sebuah tawa yang kering dan mengerikan. Selama dua tahun, Clarissa telah membangun citra sebagai pendamping sempurna untuk Arkan. Ia menjaga nilainya, ia menjaga reputasi ayahnya, dan ia menyingkirkan setiap gadis yang berani mendekati sang Ketua OSIS. Namun sekarang, ia mendapati bahwa Arkan bukan hanya dekat dengan seseorang, tapi sudah terikat secara permanen.
"Gue nggak peduli ini perjodohan atau cinta," gumam Clarissa sambil mengusap layar ponselnya kasar. "Besok, di depan seluruh guru, di depan Pak Wijaya, dan di depan semua siswa... gue akan seret lo turun dari takhta lo, Arkan.
Dan lo, Ziva... lo bakal tahu rasanya diusir dari sekolah ini dengan label sampah."
Clarissa bangkit, berjalan menuju jendela kamarnya yang besar. Ia menatap rintik hujan dengan mata yang berkilat penuh dendam. Ia sudah menyiapkan segalanya. Ia sudah menyuap salah satu staf bagian operator untuk memberinya akses bypass ke proyektor aula. Ia tidak butuh Gibran, ia tidak butuh izin siapa pun. Begitu pengumuman beasiswa dimulai, ia akan menekan satu tombol yang akan meledakkan bom ini.
"Selamat malam, Arkan. Nikmati malam terakhirmu sebagai pahlawan sekolah," desisnya sebelum mematikan lampu kamar dengan kasar.
Pagi yang Menyesakkan di SMA Garuda
Matahari terbit dengan malu-malu di balik awan mendung, seolah tahu akan ada badai yang pecah di SMA Garuda pagi ini. Aula besar sudah dipenuhi oleh ratusan siswa yang mengenakan seragam formal lengkap. Riuh rendah suara siswa terdengar seperti dengungan lebah yang tak henti-henti.
Di barisan depan, Arkan duduk dengan punggung tegak, ekspresinya sedatar air di sumur tua. Di sebelahnya, Pak Wijaya duduk sebagai ketua komite, memberikan kesan wibawa yang menekan siapa saja yang melihatnya. Ziva berada di barisan tengah bersama klub jurnalisme. Ia merasakan telapak tangannya dingin dan berkeringat. Ia berkali-kali melirik ke arah Arkan, namun Arkan tetap pada posisinya—tak menoleh sedikit pun sesuai perjanjian "musuh" mereka.
"Ziv, lo oke? Muka lo pucet banget," bisik Sisil sambil menyenggol lengannya.
"Gue... gue cuma gugup soal pengumuman beasiswa, Sil," dusta Ziva.
Di sudut aula, dekat meja operator, Clarissa berdiri dengan angkuh. Ia mengenakan almamater yang sangat rapi, namun tangannya terus meremas ponsel di dalam saku. Ia melihat Gibran sibuk di depan layar komputer utama.
Silakan saja lo jaga komputer itu, Gibran, batin Clarissa. Gue punya transmiter nirkabel yang langsung terhubung ke proyektor.
Detik-Detik Menuju Kehancuran
Acara dimulai. Kepala Sekolah memberikan sambutan panjang yang membosankan. Arkan naik ke atas panggung untuk memberikan laporan pertanggungjawaban OSIS tahunan. Suaranya terdengar lantang dan berwibawa melalui pengeras suara.
"Demikian laporan saya. Selanjutnya, mari kita saksikan video dokumentasi kegiatan kita selama setahun terakhir," ucap Arkan tenang.
Inilah momennya.
Clarissa dengan cepat mengeluarkan ponselnya. Ia menekan aplikasi mirroring yang sudah disiapkan. Jantungnya berdegup kencang karena adrenalin.
Tiga... dua... satu... Mampus lo, Ziva!
Layar besar di belakang Arkan mendadak berubah menjadi gelap selama dua detik. Seluruh siswa terdiam. Kemudian, sebuah gambar muncul.
Namun, bukan foto pernikahan Arkan dan Ziva yang terpampang di sana.
Aula itu seketika riuh dengan suara gumaman kaget. Di layar raksasa itu, muncul rekaman CCTV dari sebuah apartemen. Terlihat seorang pria bermasker sedang menggeledah laci, memotret pakaian dalam perempuan, dan mencoba membobol brankas kecil. Di sudut video, tertulis keterangan:
"REKAMAN PENYUSUPAN DAN PENCURIAN DATA PRIBADI - APARTEMEN KETUA OSIS".
Clarissa membelalak. Ia menekan-nekan ponselnya dengan panik, tapi layarnya terkunci.
Tiba-tiba, video itu berganti. Kali ini muncul rekaman suara percakapan telepon yang sangat jernih.
"...Sekarang. Mereka sudah di sekolah. Pastikan kamu masuk lewat pintu darurat... Foto semua dokumen..."
Itu suara Clarissa. Seluruh aula langsung sunyi senyap. Semua mata tertuju pada Clarissa yang berdiri mematung di sudut ruangan.
Arkan masih berdiri di podium. Ia tidak tampak panik. Ia justru menatap ke arah Clarissa dengan tatapan yang sangat dingin, seolah sedang menatap serangga kecil yang baru saja terjepit.
"Sepertinya ada gangguan teknis yang mengungkap sebuah kejahatan serius," suara Arkan bergema melalui mik, tenang namun mematikan. "Seseorang telah menyewa kriminal untuk menyusup ke tempat tinggal pribadi saya dan melakukan tindakan asusila serta penguntitan."
Pak Wijaya berdiri dari kursinya. Wajahnya merah padam karena amarah, namun bukan kepada Arkan, melainkan kepada Clarissa. Sebagai orang tua dan komite, ini adalah penghinaan terhadap keamanan keluarganya.
"Siapa yang bertanggung jawab atas transmisi ilegal ini?!" teriak Pak Wijaya.
Kepala Sekolah langsung pucat pasi. Gibran, dari meja operator, mengangkat tangannya. "Pak, transmisi nirkabel berasal dari ponsel Clarissa Putri. Saya sudah memblokir aksesnya dan mengalihkan output-nya ke bukti rekaman kejahatan yang kami temukan tadi malam."
Clarissa gemetar hebat. Ponselnya jatuh ke lantai dan hancur. Ia melihat semua teman-temannya menatapnya dengan tatapan jijik. Sisil bahkan terang-terangan berteriak,
"Wah, gila! Ternyata lo se-psiko itu ya, Cla?"
Ziva, yang duduk di barisannya, merasa beban di bahunya terangkat seketika. Ia menatap Arkan. Arkan memberikan kode mata yang sangat tipis—sebuah pesan bahwa perang ini sudah berakhir.
Arkan turun dari podium, berjalan lurus menuju Clarissa yang kini terduduk lemas di lantai. Ia membungkuk sedikit, membisikkan sesuatu yang hanya bisa didengar oleh gadis itu.
"Kamu menyentuh rumahku, kamu menyentuh istriku. Ini adalah konsekuensi bagi siapa pun yang mencoba melompati pagar aturan yang aku buat."
Arkan kembali tegak, menatap petugas keamanan sekolah.
"Bawa dia ke ruang Kepala Sekolah. Saya ingin proses hukum berjalan secara formal."
Pagi itu, bukan Arkan yang hancur. Justru "sang ratu" yang jatuh dengan cara paling memalukan di depan seluruh rakyat sekolahnya. Dan di tengah kerumunan itu, hanya Ziva yang tahu bahwa di balik kedinginan Arkan, ada hati yang baru saja berjuang mati-matian untuk melindunginya.