Setelah 8 tahun mendekam dalam penjara, selama
8 tahun juga tidak pernah ada yang datang menjenguknya. Arlan, pria penuh kuasa yang haus akan balas dendam, tiba-tiba datang menjemputnya.
Bukan untuk menyelamatkan, melainkan untuk menjadikan Adira tawanan dalam ikatan suci pernikahan.
Arlan bersumpah akan menghancurkan hidup Adira hingga ayahnya muncul untuk menyerahkan diri. Dalam istana kemegahan yang dingin, Adira menyadari bahwa "Mahar Kebebasan" yang diberikan Arlan hanyalah awal dari hukuman mati yang berjalan perlahan.
Apakah cinta bisa tumbuh di atas tanah yang disirami kebencian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salsabilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Flashback part 2
"SEBASTIAN!!!!!!!"
Sutra tersentak hebat, jantungnya seolah berhenti berdetak seketika saat ia tiba di kediamannya. Matanya membelalak ngeri melihat Anisa sudah tewas terkapar dengan darah yang bersimbah luas di lantai yang dingin.
"Apa kau sudah gila, Sebastian?!" teriak Sutra dengan seluruh sisa tenaganya. Suaranya menggelegar, penuh dengan kemarahan dan keputusasaan yang mendalam.
Ia benar-benar tidak menyangka bahwa ancaman Sebastian di kantor tadi—permintaan keji untuk membunuh Anisa yang sempat ia tolak mentah-mentah—ternyata benar-benar dilaksanakan dengan tangan dingin oleh adik tirinya sendiri.
Sutra melangkah gemetar mendekati jasad Anisa. Air mata mulai mengalir deras membasahi pipinya. "Kenapa... kenapa kau melakukan ini, Sebastian? Dia sudah seperti putriku sendiri!" rintihnya dengan suara parau yang menyayat hati. Ia berjongkok mengangkat kepala Anisa ke pangkuannya dan memeluk Gadis tak bernyawa itu.
"Maafkan Paman terlambat pulang..." ucapnya menangis jenazah Anisa.
Di ambang pintu, Sebastian hanya berdiri tenang sambil membersihkan noda darah di bajunya akibat cipratan tadi, menatap kakaknya dengan seringai yang sangat sulit diartikan.
"Dari kecil aku sudah iri padamu, Sutra!" ucap Sebastian, wajahnya yang tenang kini berubah menjadi penuh kebencian. "Kau enak, terlahir dari keluarga kaya. Hidupmu tampak begitu sempurna!"
Ia melangkah mendekat, matanya berkilat tajam menatap kakak tirinya. "Bahkan sampai ibuku menikah dengan ayahmu, rasa iri itu semakin memuncak di dadaku. Meskipun dari kecil kita selalu diperlakukan sama oleh ayahmu, aku tetap tidak bisa menerimanya. Aku tetap merasa iri!"
Sebastian tertawa hambar, sebuah tawa yang penuh kepahitan. "Dan yang paling menyakitkan adalah saat Ayah sialan mu mewasiatkan harta itu. Aku hanya mendapatkan dua puluh persen saham, sementara kau... kau mendapatkan delapan puluh persen! Aku tidak terima itu!"
Napasnya memburu saat ia meluapkan segala emosi yang selama ini ia pendam rapat. "Meskipun dia memperlakukanku seperti anak kandungnya sendiri waktu kita masih kecil, tetap saja pembagian harta itu tidak adil!" teriak Sebastian, memperlihatkan watak aslinya yang penuh dengan keserakahan dan dendam.
"Kau terlalu serakah, Sebastian! Kau terlalu serakah!" balas Sutra dengan suara yang bergetar karena emosi.
"Padahal, jika kau meminta sebagian saham yang kumiliki untuk dibagi rata, aku akan memberikannya dengan sukarela! Tidak perlu kau melakukan kekejian seperti ini! Apalagi sampai membunuh Nona dari keluarga Erlangga... kau benar-benar cari mati! Kau tahu sendiri seperti apa keluarga Erlangga, bukan? Apa yang akan mereka lakukan jika mengetahui hal ini? Mereka akan membunuhmu!"
Sebastian justru tertawa sinis, seolah-olah ancaman Sutra hanyalah lelucon murahan. "Kau pikir aku sebodoh itu untuk mengakuinya?"
Sutra terperanjat kaget, firasat buruk mulai menyergap hatinya. "Apa maksudmu? Apa maksudmu, Sebastian?!"
"Semua ini sudah aku rencanakan dengan sangat matang, Kakakku sayang," ujar Sebastian seraya melangkah semakin mendekat dengan tatapan yang mematikan. "Aku akan membuatmu terlibat dengan keluarga besar yang sangat berkuasa itu. Aku akan memastikan kau beserta putrimu menderita di tanganku, dan juga di tangan mereka!"
"Kau... kau benar-benar licik!" gumam Sutra dengan wajah pucat pasi. "Apa yang ingin kau lakukan?!"
Sebastian menyeringai lebar, memperlihatkan wajah aslinya yang penuh kegilaan. "Kau cuma punya dua pilihan, Kak. Pertama, biarkan putrimu mendekam di penjara selamanya sampai dia mampus di sana. Atau kedua... kau ingin aku membunuh putrimu tepat di depan matamu sekarang juga?!"
"Kau sudah gila, Sebastian!" raung Sutra.
"Ya! Aku memang sudah gila! Dan aku menjadi gila karena kau, Sutra!" teriak Sebastian balik, meluapkan dendam yang telah membusuk selama puluhan tahun di hatinya.
Sutra tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa terduduk lemas di lantai, meratapi mayat Anisa dengan tangis yang menyayat hati.
"Berhentilah menangis! Kau bukan anak kecil!" bentak Sebastian dingin. "Sebentar lagi putrimu akan tiba di sini. Buatlah seolah-olah putrimu yang melakukan semua ini! Jika tidak, nyawanya akan menyusul gadis itu."
Sutra menatap adik tirinya dengan tatapan nanar. "Kau sungguh tega, Sebastian!"
"Iya, aku memang tega, dan aku juga yang merancang semua ini!" jawab Sebastian dengan seringai licik. "Dan dengar, aku tidak akan membunuhmu sekarang... karena aku tahu aku tidak bisa memiliki hartamu jika kau mati saat ini juga."
Ia melangkah menuju pintu, namun berhenti sejenak untuk memberikan peringatan terakhir. "Ingat, jika kau tidak melakukannya sesuai dengan keinginanku, jangan salahkan aku jika putrimu juga kubunuh di tempat ini!"
Ancaman itu dilemparkan tepat ke wajah Sutra sebelum Sebastian menghilang dari ruangan, membiarkan sang kakak terjebak dalam kengerian sendirian.
Tak lama kemudian, Adira pulang dan mendapati vila itu sunyi sepi serta sedikit gelap di ruang keluarga. Kejadian tragis pun dimulai, persis seperti adegan di awal cerita. Setelah Adira dijebak dan ditangkap, Sutra dibawa paksa oleh Sebastian dan disekap di ruang bawah tanah selama delapan tahun sehingga saat ini belum ada yang tahu keberadaan Sutra yang ternyata disekap oleh adik tirinya sendiri.
Flashback berakhir
"Prans, berhenti bermain-main. Papa punya tugas menarik untukmu,"