Rafiq Al-Farizi adalah pria agamis yang kehilangan segalanya dalam waktu singkat. Ujian itu membuat imannya runtuh.
Ia bertemu dengan Mbah Jaya, seorang dukun yang menawarkan "keadilan" melalui ilmu hitam. Langkah demi langkah, hingga akhirnya Ia mengucapkan sumpah setia kepada makhluk gaib.
Sebagai tanda perjanjian, muncul tulisan KAF FA RO di jidatnya—stempel bahwa jiwanya telah menjadi milik kegelapan. Dengan kekuatan barunya, ia memburu balas dendam kepada semua yang menghancurkannya.
Namun semakin dalam ia melangkah, semakin ia sadar: bukan ia yang mengendalikan kegelapan, tapi kegelapan yang mengendalikannya. Dan harga dari perjanjian ini lebih mahal dari nyawanya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kunjungan
Mobil melaju kencang di jalanan kota yang mulai sepi. Aisyah duduk di kursi kemudi, kedua tangannya menggenggam setir dengan erat hingga buku-buku jarinya memutih.
Di sampingnya, Tono terbaring di kursi penumpang dengan wajah pucat, matanya terpejam, napasnya tidak beraturan. Kadang cepat, kadang lambat, kadang seperti berhenti sama sekali.
Aisyah tidak berhenti mengguncang bahu Tono sepanjang perjalanan. "Ton! TON! Buka matamu! Jangan begini, Ton! Aku takut!"
Tono tidak merespons. Tubuhnya yang besar terkulai lemas di kursi, kepalanya tersandar ke jendela, bergoyang mengikuti setiap guncangan mobil.
Aisyah menginjak pedal gas lebih dalam. Ia harus cepat. Rumah sakit terdekat masih sekitar lima belas menit lagi. Ia mengenal jalan ini—setiap hari ia melewatinya ketika pergi ke pasar atau mengantar Tono ke kantor.
Tapi malam ini, jalanan terasa asing. Lebih gelap dari biasanya. Lebih sepi. Seperti ada sesuatu yang menghapus semua kehidupan dari permukaan bumi, menyisakan hanya dia dan Tono dan mobil yang melaju di tengah kehampaan.
Dari sudut matanya, ia melihat sesuatu.
Asap. Asap hitam di pinggir jalan. Menggumpal, bergerak, seperti ada yang membakar sesuatu di kejauhan. Tapi tidak ada api. Hanya asap. Asap yang tidak membubung ke atas, tapi mengalir horizontal, sejajar dengan mobilnya, seolah mengikuti.
Aisyah mengucek matanya. Asap itu hilang. Ia menghela napas lega.
Lalu asap itu muncul lagi. Kali ini di kursi belakang.
Aisyah menoleh sekilas. Tidak ada apa-apa. Hanya bayangan. Hanya pikirannya yang mulai kacau karena panik. Ia mencoba fokus pada jalan di depannya.
Tapi dari kaca spion, ia melihatnya. Dua titik merah. Di kursi belakang. Dua titik merah yang menyala di tengah gelap, seperti mata yang menatapnya.
Aisyah berteriak. Setir mobil membanting ke kanan, lalu ke kiri. Ia berusaha mengendalikan kemudi, tapi tangannya gemetar terlalu hebat. Ia mendengar suara ban yang menggesek aspal dengan keras. Ia merasakan mobil oleng, kehilangan keseimbangan.
Dan kemudian yang ia ingat hanya benturan. Benturan yang keras, suara kaca pecah, tubuhnya terhempas ke samping, lalu ke depan, lalu semuanya menjadi hitam.
Aisyah membuka matanya dengan napas tersengal.
Putih. Semuanya putih. Langit-langit putih. Dinding putih. Lampu neon putih yang menyilaukan. Bau antiseptik menusuk hidungnya. Rumah sakit. Ia di rumah sakit.
Ia mencoba bergerak, tapi rasa sakit langsung menusuk dari lengan kirinya. Ia menoleh. Lengannya dibalut perban tebal, digantung dengan penyangga. Tubuhnya terasa pegal di sekujur tubuh. Ada perban juga di kepalanya, di pelipis kirinya.
Ia memaksa dirinya duduk. Ruangan itu kecil, satu tempat tidur pasien dengan tirai di sekelilingnya. Di sebelahnya, ranjang lain dengan tirai tertutup. Ia bisa melihat siluet tubuh di balik tirai itu—tubuh besar yang dikelilingi selang-selang dan monitor.
"Tono..." bisiknya.
Seorang perawat masuk, melihat Aisyah yang sudah duduk. "Bu, Ibu jangan bergerak dulu. Ibu mengalami gegar otak ringan dan patah tulang lengan. Dokter masih melakukan observasi."
"Suami saya—Tono—bagaimana kondisinya?" Aisyah memotong, suaranya panik.
Perawat itu menoleh ke ranjang sebelah.
"Pasien masih belum sadar, Bu. Kami sudah melakukan CT scan. Ada indikasi pendarahan ringan di otak. Dokter masih memantau."
Aisyah merasakan dadanya sesak. Air mata mulai mengalir di pipinya. Ia menutup wajahnya dengan tangan kanannya yang masih utuh.
"Ya Allah... ya Allah... kenapa ini semua terjadi..."
Perawat itu menghampiri, meletakkan tangan di pundak Aisyah dengan lembut. "Ibu, saya sarankan Ibu beristirahat. Kondisi Ibu sendiri masih belum stabil. Saya akan panggil dokter untuk—"
"Aku tidak butuh dokter!" Aisyah membentak. Ia menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri.
"Maaf... maaf... aku hanya... aku hanya ingin dia sadar..."
Perawat itu mengangguk pengertian. "Baik, Bu. Saya akan memeriksa kondisi pasien. Ibu tenang dulu di sini."
Perawat itu berjalan ke ranjang Tono, memeriksa monitor, mencatat sesuatu di tabel pasien. Aisyah hanya bisa menatap dari balik tirai yang tidak sepenuhnya tertutup. Wajah Tono terlihat pucat. Ada selang oksigen di hidungnya. Matanya terpejam rapat.
Aisyah menunduk. Tangisnya tidak bisa ia tahan lagi.
---
Pagi datang. Sinar matahari masuk melalui jendela ruangan, membuat cahaya putih lampu neon terasa berlebihan. Aisyah masih duduk di ranjangnya, tidak tidur semenit pun.
Matanya sembab, lingkaran hitam di bawah matanya semakin dalam. Gamis krem yang ia kenakan semalam kini kusut dan berlumur noda darah kering. Rambutnya yang panjang terurai kusut tak tersisir. Wajahnya pucat, bibirnya kering pecah-pecah.
Ia tidak berani tidur. Setiap kali ia memejamkan mata, ia melihat dua titik merah di kaca spion. Ia mendengar suara benturan. Ia merasakan tubuhnya terhempas. Dan yang paling menakutkan, ketika ia memejamkan mata terlalu lama, ia mendengar suara itu.
Suara yang ia kenal. Suara yang membuat bulu kuduknya berdiri.
Suara Rafiq.
Bukan Rafiq yang dulu—lembut, sabar, penuh kasih. Tapi Rafiq yang malam itu. Rafiq di ambang pintu. Rafiq dengan mata kosong dan senyum dingin.
"Kau tidak pantas menjadi ibunya."
Kalimat itu masih terngiang di kepalanya. Kalimat yang diucapkan Rafiq sebelum ia pergi meninggalkan rumah malam itu. Kalimat yang terus berputar di pikirannya seperti rekaman yang rusak.
Pintu ruangan terbuka.
Aisyah mengangkat wajahnya, berharap itu dokter, berharap itu perawat, berharap itu siapa saja yang bisa memberinya kabar baik tentang Tono.
Dan kemudian ia melihatnya.
Rafiq.
Berjalan masuk ke ruangan itu dengan langkah pelan, tenang, seperti ia adalah dokter yang akan melakukan kunjungan rutin. Ia mengenakan kemeja hitam lengan panjang, gelap seperti malam.
Celana bahan hitam, rapi tapi tidak terlalu formal. Di kepalanya, ia memakai kupluk hitam sederhana yang menutupi sebagian dahinya. Kupluk itu ditarik agak ke depan, membayangi area di atas alisnya. Tapi Aisyah bisa melihat. Di bawah bayangan kupluk itu, di tengah dahi Rafiq, ada sesuatu. Hitam. Tiga huruf. Tidak jelas dari kejauhan, tapi jelas ada.
Wajah Rafiq berubah. Jenggotnya tumbuh lebat, tidak terawat, membuatnya terlihat jauh lebih tua dari usianya yang 35 tahun. Matanya—Mata yang dulu selalu teduh ketika menatapnya, yang dulu selalu memancarkan ketulusan dan kasih sayang, kini kosong.
Kosong seperti lubang sumur yang tak berdasar. Tapi di dalam kekosongan itu, ada sesuatu yang menyala. Api kecil yang tidak terlihat, tapi bisa dirasakan. Api yang membuat Aisyah ingin berteriak.
Rafiq berdiri di kaki ranjang Aisyah. Ia tidak duduk. Tidak bergerak mendekat. Ia hanya berdiri di sana, menatap Aisyah dengan mata yang tidak berkedip.
"Abi..." suara Aisyah keluar lirih, gemetar. Panggilan yang dulu selalu ia ucapkan dengan hangat, kini keluar dari mulutnya seperti doa yang putus asa.
Rafiq tersenyum.
Senyum yang tidak sampai ke matanya. Senyum yang membuat Aisyah merasakan dingin menjalar dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Jangan panggil aku itu," kata Rafiq. Suaranya datar, tenang, tanpa emosi. Seperti ia sedang berbicara tentang cuaca.
"Kau tidak berhak."
Aisyah menggigit bibirnya. Air mata mulai menggenang di matanya. "Abi—Rafiq... maafkan aku... aku tahu aku salah... tapi ini... apa yang terjadi semalam... apa yang kau lakukan..."
"Kau tahu apa yang aku lakukan?"
Rafiq melangkah mendekat. Satu langkah. Dua langkah. Kini ia berdiri tepat di samping ranjang Aisyah, cukup dekat untuk melihat ketakutan di mata mantan istrinya. Ia menunduk sedikit, menatap Aisyah dari atas.
"Kau pikir itu aku? Kau pikir aku yang membanting mobil kalian? Kau pikir aku yang membuat Tono pingsan?" Ia tertawa kecil. Tertawa pendek, pahit.
"Itu bukan aku, Aisyah. Itu adalah sesuatu yang kalian sendiri yang panggil. Kalian yang memanggilnya ketika kalian memilih untuk mengkhianati. Kalian yang memanggilnya ketika kalian memilih untuk mengabaikan anak kalian sendiri."
Aisyah menunduk. Bahunya bergetar. Air matanya jatuh ke seprai putih rumah sakit.
"Aku menyesal... aku menyesal, Rafiq..."
"Penyesalanmu tidak berguna," potong Rafiq dingin.
"Penyesalanmu tidak akan mengembalikan anakku. Penyesalanmu tidak akan memperbaiki apa yang sudah kalian hancurkan."
Ia berbalik, berjalan ke ranjang Tono. Ia menyingkirkan tirai yang memisahkan kedua ranjang, membiarkannya terbuka. Ia berdiri di samping Tono, menatap pria yang terbaring pucat dengan selang di mana-mana.
Tono masih tidak sadar. Dadanya naik turun pelan, diatur oleh ventilator yang berbunyi berirama. Wajahnya lebam di beberapa tempat, bekas kecelakaan.
Rafiq menatapnya lama. Di matanya, tidak ada amarah. Tidak ada kebencian. Hanya kepastian.
"Kau tahu, Aisyah," katanya tanpa menoleh.
"Aku dulu menyayangi pria ini. Seperti saudara kandungku sendiri. Kami membangun perusahaan dari nol. Kami berbagi mimpi, berbagi keringat, berbagi roti di masa-masa sulit. Aku percaya padanya. Aku percaya seperti aku percaya pada diriku sendiri."
Ia berhenti. Napasnya tarik dalam.
"Dan dia mengambil semuanya. Istriku. Perusahaanku. Kehormatanku. Anakku."
Ia menoleh ke arah Aisyah. Matanya kini menyala. Api yang tadinya hanya titik kecil di dalam kekosongan kini membesar, membara, siap membakar apa pun di depannya.
"Sekarang giliranku."
Aisyah merasakan dadanya sesak. Ia ingin berteriak, ingin memanggil perawat, ingin lari dari ruangan ini. Tapi tubuhnya tidak bisa bergerak. Ia hanya bisa duduk di ranjang itu, menatap Rafiq dengan mata penuh ketakutan.
Rafiq berjalan kembali ke samping ranjang Aisyah. Ia menunduk, mendekatkan wajahnya ke telinga Aisyah. Suaranya berbisik, tapi setiap kata terasa seperti belati yang menusuk.
"Ini hanya awal, Aisyah. Kalian akan merasakan sakit. Kalian akan merasakan apa yang aku rasakan. Tapi kalian tidak akan mati. Tidak sekarang. Tidak sebelum anakku kembali hidup."
Aisyah tersentak. Matanya membelalak. "Apa? Apa maksudmu? Fatih sudah—Fatih sudah—"
"Fatih sudah meninggal. Aku tahu. Aku yang menguburnya dengan tanganku sendiri. Tapi bukan berarti dia tidak bisa kembali."
Rafiq tersenyum lagi. Senyum yang membuat darah Aisyah membeku.
"Kau—kau gila, Rafiq. Kau benar-benar gila. Orang mati tidak bisa hidup kembali. Itu—itu mustahil. Hanya Tuhan yang bisa—"
"Tuhan?" Rafiq tertawa. Tertawa keras, panjang, seperti orang yang mendengar lelucon paling konyol di dunia.
"Kau bicara tentang Tuhan? Kau yang berselingkuh di belakang suamimu? Kau yang mengabaikan anakmu yang sedang sakit? Kau yang mengirim anakmu ke neneknya agar kau bisa bersenang-senang dengan kekasih gelapmu? KAU BICARA TENTANG TUHAN?!"
Suaranya meninggi di akhir kalimat, memenuhi seluruh ruangan. Aisyah menutup telinganya, tubuhnya gemetar hebat.
Rafiq menarik napas panjang. Ia menenangkan dirinya. Ketika bicara lagi, suaranya kembali datar. Dingin.
"Tuhan tidak mengembalikan anakku. Tapi ada yang lain yang bisa."
Ia menatap Aisyah. Matanya beralih dari wajah Aisyah yang pucat, turun ke perutnya. Perut yang masih rata, tapi Rafiq bisa melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain.
Matanya yang baru terbuka bisa melihat garis-garis kehidupan. Dan di perut Aisyah, ada garis baru. Garis tipis, redup, tapi tumbuh. Garis kehidupan baru.
"Kau hamil."
Bukan pertanyaan. Itu Pernyataan.
Aisyah membeku. Tangannya tanpa sadar bergerak menutupi perutnya. Wajahnya berubah pucat menjadi lebih pucat.
"Kau... kau tahu?"
Rafiq tidak menjawab. Ia hanya menatap perut Aisyah dengan mata yang kosong, tapi ada sesuatu di dalam kekosongan itu. Sesuatu yang membuat Aisyah merasakan dingin yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
"Anak yang kau kandung sekarang," kata Rafiq pelan, "akan menggantikan anakku."
Aisyah merasakan jantungnya berhenti berdetak sesaat. "Apa? Tidak! Rafiq, kau tidak bisa—"
"Aku tidak akan—"
"Kau tidak punya pilihan, Aisyah."
Rafiq melangkah mundur. Ia menatap Aisyah sekali lagi, lalu menatap Tono yang masih terbaring tak sadar. Keduanya. Dua orang yang paling ia percaya. Dua orang yang menghancurkan hidupnya.
"Kalian akan merasakan sakit yang sama seperti yang aku rasakan. Setiap hari. Setiap malam. Tidak akan ada istirahat. Tidak akan ada ampun. Hanya ada satu cara untuk menghentikan semua ini: anakku harus kembali."
Ia berbalik menuju pintu. Di ambang pintu, ia berhenti sejenak, menoleh ke belakang.
"Dan ingat ini, Aisyah. Setiap kali kau memejamkan mata, kau akan melihatnya. Setiap kali kau mencoba tidur, kau akan mendengarnya. Fatih. Anakmu. Anak yang kau biarkan mati karena kau terlalu sibuk bersenang-senang dengan pria itu. Dia akan menghantuimu setiap malam. Sampai kau memberikan apa yang aku minta."
Ia membuka pintu.
"Selamat menjalani siksaan, Aisyah."
Pintu tertutup.
Aisyah terduduk lemas di ranjangnya. Seluruh tubuhnya gemetar. Air matanya mengalir deras, tapi ia tidak berani menangis keras-keras. Takut Rafiq masih di luar. Takut mendengar suaranya lagi. Takut apa yang akan terjadi selanjutnya.
Ia menunduk, menatap perutnya yang masih rata. Tangan kanannya yang masih utuh menyentuh perutnya dengan gemetar.
"Maafkan aku, Nak," bisiknya. "Maafkan ibu... ibu tidak tahu... ibu tidak tahu akan begini..."
Di ranjang sebelah, Tono masih terbaring tak sadar. Monitor detak jantungnya berbunyi pelan, berirama, seperti detak waktu yang terus berjalan menuju sesuatu yang tidak bisa mereka hentikan.
Dan di luar ruangan, di lorong rumah sakit yang sepi, Rafiq berjalan pelan. Kupluk hitamnya masih menutupi dahi, tapi tiga huruf di jidatnya terasa panas. Membara. Menyala. Ia tersenyum.