Ia melangkah satu langkah maju, membuat Sybilla instingtif mundur hingga punggungnya menempel pada dinding.
"Tapi," lanjut Cyprian, matanya menyipit sedikit saat menatap gaun tidur Sybilla yang masih berantakan, "bagaimana kau akan menjelaskan perilakumu ini? Berlarian di koridor istana dengan pakaian seperti ini, seolah-olah kau lupa tata krama yang telah diajarkan padamu selama sepuluh tahun terakhir?"
Nada suaranya tenang, namun setiap katanya menghujam seperti pisau, mengingatkan Sybilla (dan Christina) akan betapa besarnya kesalahan yang baru saja ia lakukan di mata dunia bangsawan yang kaku ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Sybilla
Sybilla mendarat dengan anggun di atas puing-puing altar yang hancur. Mahkota hitam di atas kepalanya berdenyut, memancarkan aura dominasi yang membuat makhluk-makhluk magis di pilar terdiam ketakutan.
Ia melangkah turun. Setiap sentuhan kaki telanjangnya pada lantai marmer meninggalkan retakan es berwarna merah.
Mata ungu Christina yang kini berpendar merah darah terkunci pada satu sosok: Count Felix Davenport.
Ayahnya itu gemetar, wajahnya yang tadinya angkuh kini pasi. "Sybilla... apa yang kau lakukan? Kau menghancurkan sumber energi Aethelgard!" teriaknya dengan suara melengking panik.
Sybilla berhenti tepat di depan Felix. Ia tidak bicara, namun tekanan udara di sekitar mereka mendadak turun drastis. Christina bisa merasakan sisa kemarahan Sybilla yang asli mengalir dalam nadinya. Dengan gerakan lambat, ia mengangkat tangan dan menyentuh dada ayahnya.
Zzap!
Felix terpekik saat sisa sihir kristal di tubuhnya tersedot keluar, membuatnya lemas dan jatuh berlutut di hadapan putrinya sendiri. "Aku bukan lagi kuncimu, Ayah," bisik Sybilla, suaranya bergema ganda. Perpaduan antara suara Christina yang tenang dan suara Sybilla yang penuh luka.
Cyprian segera mendekat, pedangnya masih terhunus namun arahnya ke bawah. "Sybilla, cukup. Kau akan membunuhnya," ucap sang Duke.
Sybilla menoleh. Tatapan mereka bertemu. Cyprian melihat tanda di dekrit tadi kini berpindah ke pergelangan tangan Sybilla sebagai tato cahaya yang menyala. Bukan Sybilla yang terikat, melainkan seluruh aliran sihir Skyrosia kini berpusat pada jantung gadis itu.
"Duke," panggil Sybilla datar. "Pernikahan ini tetap sah. Tapi mulai detik ini, Skyrosia tetap melayang bukan karena ritual kalian, tapi karena aku mengizinkannya."
Grand Duke Mendelssohn hampir memberi perintah pada pasukan pemanah, namun istrinya menahan tangannya. Mereka sadar: menyerang Sybilla sekarang berarti menjatuhkan pulau ini ke bumi.
Sybilla berbalik membelakangi orang tuanya yang hancur dan para penguasa yang ketakutan. Ia menatap lurus ke arah jendela besar yang memperlihatkan langit malam.
"Bawa aku ke kamar, Cyprian. Aku lelah berpura-pura menjadi tumbal kalian."
.
.
.
Kemenangan itu fana. Pintu kamar di istana Skyrosia yang berlapis emas baru saja tertutup di belakang Cyprian dan Sybilla (Christina), mengunci mereka dari kekacauan di katedral, saat "bayaran" dari sihir curian itu menuntut tagihannya.
Sybilla tidak sempat berjalan ke tempat tidur. Langkahnya terhenti di tengah ruangan yang diterangi cahaya bulan perak.
Rasa panas yang tadi terasa seperti kekuatan mendadak berubah menjadi api yang membakar pembuluh darahnya. Urat-urat merah-biru di leher dan lengannya berpendar menyakitkan, seolah-olah energi yang ia "makan" sedang mencoba mencabik keluar dari dalam tubuhnya.
Ribuan fragmen memori dari ritual-ritual katedral sebelumnya—kesedihan puluhan pengantin wanita yang jiwanya terhisap—membanjiri pikiran Christina. Suara-suara mereka menjerit di kepalanya, tumpang tindih dengan memori Christina dan memori Sybilla asli.
Kekuatan dominan yang membuatnya melayang di katedral lenyap seketika.
Zzap!
Pendar merah di matanya padam. Mahkota hitam di atas kepalanya hancur menjadi debu sihir. Rambut perak yang tadinya berdiri tegak jatuh lunglai, menutupi wajahnya yang pucat pasi.
Dalam hitungan detik, sosok Duchess yang menakutkan itu hilang. Saat Sybilla mengangkat wajahnya menatap Cyprian, mata ungu itu kembali sayu, jernih, dan penuh ketakutan murni—persis seperti tatapannya saat menabrak Cyprian di koridor Aethelgard.
Air mata langsung tumpah, membasahi pipinya yang kotor oleh debu altar.
"Ampun..." bisiknya, suaranya pecah dan gemetar hebat. Ia mundur selangkah, menjauh dari Cyprian yang berdiri mematung di dekat pintu. "Itu... itu bukan aku! Your Grace, tolong... aku tidak bermaksud menghancurkan katedral... Aku... Aku tidak tahu apa yang terjadi!"
Tubuh rapuh Sybilla tidak lagi mampu menahan beban rasa sakit dan ketakutan itu. Lututnya lemas, dan ia terjatuh ke lantai marmer yang dingin dengan suara gedebuk yang memilukan. Ia meringkuk di sana, menyembunyikan wajahnya di tangan, terisak-isak ketakutan menunggu hukuman dari Duke yang kini secara sah adalah suaminya.
Cyprian tidak bergerak. Pedang Adamant-nya sudah ia letakkan di meja, namun aura kekuasaannya masih mendominasi ruangan. Ia menatap gadis yang meringkuk di lantai itu dengan tatapan yang sulit diartikan.
Ia melihat tanda kepemilikan sihir yang kini terukir di pergelangan tangan Sybilla. Tanda yang membuktikan bahwa gadis ini baru saja melakukan sesuatu yang mustahil. Namun, ia juga melihat ketakutan murni yang sama dengan gadis yang dulu sering ia lihat bersembunyi di balik pilar istana.
"Sybilla," panggil Cyprian pelan, suaranya tidak dingin seperti biasanya, melainkan berat karena kebingungan. "Siapa... siapa kau sebenarnya?"
Cyprian melangkah maju, selangkah demi selangkah, menuju Sybilla yang semakin gemetar di lantai.
Sybilla mendongak dengan wajah yang hancur oleh tangisan, matanya yang ungu bergetar hebat mencari belas kasihan di balik tatapan emas Cyprian.
"Aku Christina..." bisiknya dengan suara yang nyaris hilang, seolah identitas itu adalah satu-satunya pegangan terakhirnya. "Aku hanya gadis biasa dari tempat yang sangat jauh. Aku tidak tahu mengapa aku bisa berada di tubuh ini, atau mengapa takdir ini menyeretku ke sini! Tolong... demi apa pun, jangan sakiti aku! Aku takut... aku sangat takut!"
Kata-kata itu jatuh seperti belati di keheningan kamar. Pengakuan Christina (jiwa asing yang terjebak dalam raga bangsawan) membuat udara di sekitar mereka membeku.
Sybilla (Christina) meringkuk semakin kecil di lantai marmer, bahunya berguncang karena isak tangis yang tak tertahankan. Energi "pemangsa" yang tadi meledak di katedral kini benar-benar padam, meninggalkan sesosok gadis remaja yang tampak begitu rapuh dan malang di bawah bayangan pria paling perkasa di Skyrosia.
Duke Cyprian tidak langsung menjawab. Ia berdiri mematung, tangannya yang masih mengenakan sarung tangan kulit yang hangus mengepal kuat di sisi tubuhnya. Matanya yang emas menyipit, bukan karena amarah, melainkan karena guncangan batin yang luar biasa. Ia adalah pria yang dilatih untuk mendeteksi kebohongan, namun di depan matanya sekarang, ia hanya melihat kejujuran yang menyakitkan.
Cyprian perlahan berlutut di depan Sybilla. Ia tidak menyentuhnya. Takut gadis itu akan semakin histeris, namun ia merendahkan tubuhnya agar sejajar dengan posisi Sybilla yang terjerembab di lantai.
"Christina?" gumam Cyprian, mengulang nama asing itu dengan nada bariton yang berat. Nama yang tidak pernah ada dalam silsilah Aethelgard maupun Skyrosia. "Jadi itu alasan mengapa 'warna' jiwamu berbeda sejak kau bangun dari danau?"
Ia menarik napas panjang, lalu melepaskan sarung tangan kulitnya yang rusak, menampakkan tangan yang dipenuhi bekas luka perang. Dengan gerakan yang sangat lambat dan hati-hati, ia mengulurkan tangan itu ke arah helai rambut perak Sybilla yang menutupi wajahnya.
"Aku tidak akan menyakitimu," ucap Cyprian, suaranya kini terdengar sangat rendah dan jujur, jauh dari nada otoriter yang biasa ia gunakan. "Jika kau benar-benar bukan Sybilla yang ingin mati di danau itu... maka kau adalah satu-satunya hal yang nyata di istana yang penuh kepalsuan ini."