NovelToon NovelToon
Tiba-tiba Cinta

Tiba-tiba Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:121
Nilai: 5
Nama Author: nisa_prafour

Aruna Prameswari tidak pernah tahu bagaimana hidupnya berubah menjadi runyam. Semenjak Kedatangan sosok Liam Noah Rajasa, Atlet bola sekaligus Pengusaha ibukota. Hidupnya dibuat kacau balau sejak laki-laki itu selalu merecoki harinya yang gitu-gitu aja. Kerja, lembur, nongkrong, dan pulang.

Laki-laki itu semakin gencar mendekati dirinya ketika tahu kalau dirinya baru saja putus dari pacarnya, padahal Aruna masih belum begitu move on. Namun Liam dengan segala usahanya hingga membuat dirinya menyerah dan cinta itu datang tiba-tiba.

akankah Cinta Aruna yang datang tiba-tiba berakhir dengan indah atau malah sebaliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nisa_prafour, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 9

Fokus! Ayo fokus Aruna!!

Berkali-kali Aruna mengucapkan mantra itu dalam hatinya. Sudah terhitung sejak satu jam yang lalu Aruna mulai gagal fokus karena kedatangan sosok Marinos dalam ruangan para atlet ini.

Mata laki-laki itu seolah mampu melubangi seluruh tubuhnya jika saja ada laser didalamnya. Dan akhirnya ia yang menjadi kurang fokus dalam kerjaannya.

Namun ia mencoba menepis jauh-jauh perasaan aneh yang tengah melingkupi seluruh tubuhnya saat ini. Ia tidak boleh melakukan hal konyol hanya karena tatapan Marinos yang secara terang-terangan mengulitinya.

"Sebaiknya kita realistis saja Sir" Kalimat akhirnya yang mampu ia keluarkan meski dengan suara yang nyaris hilang.

"Sorry bagaimana maksudnya Miss Runa?"

"Jadi begini Sir, Maaf saja sebelumnya Setelah saya ambil hasil akhir dilihat dari segi team dan sesuai yang bapak inginkan, alangkah baiknya jika desain kostum sesuai dengan rencana awal saya saja. Dari segi warna kita ambil warna putih untuk warna utamanya"

"Boleh saya tahu kenapa harus warna putih?"

Aruna tersenyum, Gadis itu berdiri dari tempatnya duduk sambil memperhatikan satu persatu para team atlet yang duduk sambil memperhatikan dirinya.

"Team atlet kali ini berbeda dari biasanya pak. Maksud saya, banyak wajah-wajah baru and I think it can also influence the fashion team"

"Maksudnya?"

Aruna menoleh, Menatap sosok laki-laki bertubuh lebih mungil ketimbang teman-teman team nya itu. Bibirnya sontak tersenyum lebar, "Jangan tersinggung dulu dong Leon. Maksud saya, bukan apa-apa. Cuma dari segi fisik, ras kita berbeda dengan para pemain pendatang baru lainnya. Dan kenapa saya merekomendasikan warna putih untuk ikon utama kita itu karena warna putih juga punya banyak sekali kelebihan "

"....."

"Selain warna dasar, warna putih juga identik dengan lambang negara kita kan? Dan mungkin banyak yang belum tahu kalau warna putih bisa memberikan energi positif pada kita dan orang-orang disekitar juga"

Semua pasang mata yang berada dalam ruangan itu seakan terpana oleh kalimat penjelasan yang Aruna berikan. Suara Aruna bagaikan melodi lembut yang menenangkan ketika mulai masuk dalam indra pendengaran mereka masing-masing. Bahkan sosok tinggi yang tadi sempat menjadi objek pengelihatan Aruna juga terpana menatap gadis cantik itu.

"Okey. Saya rasa penjelasan Kamu dan alasan yang kamu berikan masuk akal dan saya juga amat tertarik. Begitu juga dengan Team saya mereka juga menyukainya"

Pak Ramos tersenyum. Laki-laki 50 an itu menatap Aruna sebentar kemudian kembali fokus dengan anak-anak bawahannya. Ia menatap satu persatu anggota team dan yang terakhir ia menatap Axcel bos-nya.

"Pak Axcel, kita sebaiknya makan siang sambil membicarakan kontrak selanjutnya bagaimana?"

"Boleh pak. Silahkan"

.

.

.

.

.

Setelah kepergian Axcel dan Pak Ramos, Aruna masih disibukkan dengan kegiatannya yang terlihat mengukur beberapa ukuran tubuh para atlet untuk kebutuhan pekerjaannya.

Aruna sangat amat fokus dibantu dengan Vano dan Saking fokusnya Aruna tidak sadar jika mata coklat keabu-abuan itu menatapnya tajam sejak beberapa saat yang lalu. Dan tepat ketika pekerjaannya selesai, Aruna yang hendak keluar dari ruangan dihadang oleh sosok tinggi itu.

Sosok yang sejak tadi ia hindari dan enggan ia temui. Marinos.

"Run, we need talk"

"Aku lagi kerja"

"Kamu lagi istirahat kan? Come on kita ngga bisa kayak gini terus kan?"

Meletakkan beberapa alat kerjanya, Aruna berdiri didepan Marinos. Ia sempat melirik sekitarnya dan mendapati tempat sudah lumayan sepi. Hanya ada ia dan Marinos yang kini berada dalam ruangan ini.

"Mau kamu itu apasih?! Udah lah Rinos, kita udah selesai jadi stop seperti ini"

"Why do you insist on leaving me?"

"Kamu masih tanya? Udah nggak waras kamu!"

"Aku nggak mau kita pisah!"

"Kalau gitu tinggalkan anak-anak mu demi aku! Bisa?!"

"Run apa maksud kamu? Meninggalkan anak-anak bagaimana?"

"Kamu nggak bisa kan Rinos? Kamu ngga bisa meninggalkan anakmu demi aku kan? Begitu pula sebaliknya, kamu bisa meninggalkan aku demi anak mu. Se-simpel itu yang aku takutkan "

"....."

"Jadi aku mohon jangan paksa aku untuk mempertahankan hubungan ini "

"Run, please harus bagaimana agar kamu ngga ninggalin aku?"

"Apapun dan gimanapun aku akan tetap tinggalin kamu"

"Apa kamu ada cadangan lain selain aku?"

"Cadangan apa?! Gila kamu"

"Laki-laki lain maybe"

Aruna terperangah. Ia membuang nafas dengan kasar sambil berkacak pinggang, Kedua bola matanya menatap sosok tinggi didepannya dengan pandangan tidak percaya. Laki-laki lain? Bukankah Marinos secara tidak langsung menuduhnya selingkuh?

"Kamu nuduh aku selingkuh?"

"No! Aku cuma -- oh God aku cuma bingung Run. Kenapa kamu ngotot sekali buat pisah dari aku. Kita bisa menyelesaikan kesalahpahaman ini dengan baik kan?"

"Kesalahpahaman? Ringan banget mulutmu cuma bilang ini kesalahpahaman. Sekarang aku tanya ke kamu, selama dua tahun ini apa pernah kamu cinta sama aku?"

"Of course Run. Itu jelas kan?"

"Kamu nggak pernah cinta sama aku Rinos. Dua tahun ini kamu bertahan sama hubungan ini karena kamu nyaman dan cuma butuh teman saja. Kamu kesepian!"

"Kenapa kamu menyimpulkan seperti itu?"

"Karena itu kenyataannya! Kamu selalu memberi batasan dengan hubungan ini. Kamu enggan pulang bercerita tentang semua apa yang kamu rasakan. Dan kamu lebih memilih untuk memendamnya sendiri. Semua hal tentang kamu, selalu aku tahu dari orang lain. Kamu nggak bener-bener cinta aku Rinos. Kamu hanya kesepian maka dari itu kamu mencoba mencari kesenangan. Iya kan? Apa pernyataan ku ada yang salah? Coba katakan?!"

"....."

"Maafin aku Run"

"Aku juga butuh tempat untuk cerita dan saling bertukar cerita Rinos. Aku juga butuh kamu, bukan cuma kamu yang butuh aku"

"....."

"Jadi tolong hargai keputusan aku"

Sekali lagi Aruna menghembuskan nafasnya kasar ketika ia selesai dengan kalimat terakhirnya. Ia sudah bersiap untuk meninggalkan ruangan dengan ransel yang ia sampirkan di pundak kirinya namun harus urung ketika suara berat Marinos kembali terdengar. Bukan suaranya, Lebih tepatnya kalimat Marinos yang membuatnya diam mematung seketika.

"Kalau itu maumu, oke. Kalau pisah membuatmu lebih baik kamu mendapatkannya. But one thing you should know. that I can't leave you. and it's not easy to forget you Run"

Dan setelahnya Aruna benar-benar meninggalkan ruangan itu. Tidak menoleh kebelakang barang sedikitpun. Tanpa diketahui keduanya, sosok laki-laki tinggi dengan beberapa art di lengan dan lehernya mencuri dengar sambil berdiri di balik loker ruangan tersebut.

"Lama banget sih Run. Aku sampek kering disini"

"Bar yuk Van nanti pulang. Aku lagi pengen mabok"

"Wow, aku nggak salah dengar kan? Kamu ke Bar? Minum soda kebanyakan aja kamu pusing. Pakek acara pengen mabok segala. Udah, anak baik-baik di rumah saja ngga usah ikut sekte-sekte aneh. Mendingan pulang habis itu bobok"

"Sialan kamu!"

"Kalau ada masalah tu cerita, jangan mabuk-mabukan apaan sih kamu Run. Image mu tuh anak baik-baik"

"Nggak ada perempuan baik yang pacaran sama suami orang"

"WHAT! Apaan maksud kamu Run?! Kamu jadi ani-ani?!"

Tidak menggubris Vano yang terkejut, Aruna dengan cepat memasukkan semua barang-barang pekerjaannya kedalam mobil kantor. Ia lebih memilih untuk berlalu karena ia ingat jika sebentar lagi adalah jam makan siang dan kebetulan ia berjanji untuk makan siang bersama dengan para team nasional. Sial! Harusnya ia tolak saja kan tadi ajakan manager bola itu. Ia harus kuat mental saja jika harus bertemu Marinos dan segala macam orang-orang yang kepo terhadapnya nanti.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!