Dihimpit hutang dan keputusasaan, Agus, seorang pria penuh ambisi yang gagal, meyakinkan istrinya, Endang, untuk melakukan pesugihan Lanang Sewu, meskipun ritualnya menuntut pengorbanan keintiman yang sakral. Untuk mempertahankan kehormatan istrinya, Agus merencanakan penipuan tingkat tinggi: menyewa Sari, seorang wanita yang memiliki kemiripan fisik dengan Endang, dan menyamarkannya secara spiritual menggunakan sihir. Penipuan ini berhasil. Mereka hidup dalam kemewahan sementara waktu, menikmati hadiah dari Raden Titi Kusumo, entitas pesugihan yang karismatik tapi terluka secara emosional. Namun, kecerdasan spiritual Titi Kusumo perlahan mencium kepalsuan itu. Ketika penyamaran terbongkar, semua kekayaan lenyap, dan Titi Kusumo memulai pembalasan keji, menargetkan tidak hanya nyawa Agus dan Endang, tetapi juga orang-orang tak bersalah di sekitar mereka, memaksa pasangan itu menghadapi kebenaran pahit bahwa penebusan sejati tidak dapat dibeli.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ancaman Lanang Sewu
Ki Joladrang menunggu, tidak tergesa-gesa. Asap kemenyan dari pipanya mengepul, membentuk spiral kelabu yang tampak seperti tangan hantu.
“Waktu adalah kemewahan yang tidak dimiliki oleh orang yang putus asa, Nyonya Endang,” desis Ki Joladrang, suaranya kembali menyerupai gesekan batu. “Aku tahu kau tidak ingin setuju. Aku tahu kau jijik. Itu wajar. Tapi Lanang Sewu tidak membeli tubuh, ia membeli ikatan. Keikhlasan spiritualmu adalah mata uang yang paling ia hargai.”
Agus menyentuh lutut Endang, cengkeramannya mendesak. “Cepat, Endang. Kita tidak punya waktu untuk drama.”
Endang menepis tangan Agus, tetapi ia tidak menoleh ke suaminya. Ia menatap Ki Joladrang, mencari celah, mencari jalan keluar yang tidak ada.
“Apa yang terjadi jika… perjanjian ini gagal?” tanya Endang, suaranya nyaris tak terdengar. “Apa yang terjadi jika aku tidak bisa memberikan ‘koneksi spiritual tulus’ itu?”
Ki Joladrang tertawa kecil, tawa yang terdengar seperti ranting kering yang patah.
“Ah, itulah inti dari kutukan Raden Titi Kusumo,” jawabnya, mencondongkan tubuh lebih dekat. Bau kemenyan dan tanah lembap terasa sangat kuat. “Dia dikutuk untuk mencari koneksi tulus yang ia tolak saat masih hidup. Itulah sebabnya ia membutuhkan istri sah, yang terikat sumpah murni. Jika kau hanya memberinya kepalsuan, jika kau memberinya koneksi yang busuk, jiwanya yang terkutuk akan merasakan penghinaan itu seribu kali lipat.”
Agus menyela, merasa khawatir. “Tunggu, apa maksudmu dengan penghinaan? Apakah dia akan mengambil uangnya kembali?”
“Uang adalah debu baginya, Tuan Agus,” kata Ki Joladrang dingin, memalingkan muka dari Agus dan kembali fokus pada Endang. “Jika ia merasa dipermainkan, ia tidak akan mengambil emasmu. Ia akan mengambil semua yang terikat padamu. Ia akan mengambil nyawa, sukma, dan warisan garis keturunanmu. Ia akan memastikan bahwa harga penghinaan yang ia rasakan dibayar dengan penderitaan abadi.”
Ki Joladrang menyeringai. “Kalian berdua harus tulus dalam pengorbanan ini. Kau, Nyonya Endang, harus tulus menyerahkan hak suci pernikahanmu. Dan kau, Tuan Agus, harus tulus menyerahkan hakmu sebagai suami. Jika ada kepalsuan sekecil apa pun dalam ikatan itu, Titi Kusumo akan merasakannya. Dia punya Mata Jati, Tuan. Dia bisa menembus topeng yang kalian kenakan.”
Pernyataan Ki Joladrang menghantam Agus seperti palu. Rencana liciknya yang samar-samar, rencana untuk mungkin menggunakan Endang hanya sekali dan kemudian mencoba melarikan diri, seketika hancur. Entitas ini terlalu sensitif. Penipuan adalah bunuh diri.
Namun, Agus adalah seorang yang ambisius yang tidak pernah menerima kekalahan. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan keluar dari kemiskinan. Ia harus membuat Endang setuju.
Ia kembali memegang tangan Endang, kali ini dengan cengkeraman yang lembut namun kuat, memaksa Endang menatapnya.
“Endang, kita tidak punya pilihan. Kita harus melakukan ini,” bisik Agus, air mata palsu mulai berkumpul di matanya. Ia memainkan kartu terakhirnya: rasa bersalah dan cinta yang terdistorsi. “Aku tidak bisa kembali ke jurang itu. Aku tidak bisa hidup sebagai pecundang lagi. Aku mencintaimu, Sayang. Aku melakukan ini untuk kita. Kita akan membayar kembali dosa ini nanti. Kita akan menebusnya.”
Endang melihat ketulusan dalam tatapan Agus—ketulusan dalam ambisinya yang gelap. Ia menyadari bahwa jika ia menolak sekarang, Agus akan hancur total, dan mungkin akan bunuh diri karena rasa malu. Ia tidak hanya takut pada penyitaan; ia takut kehilangan suaminya, meskipun suaminya telah menjadi monster.
Ia menghela napas panjang, melepaskan semua perlawanan yang tersisa. Kekuatan moralnya telah terkuras habis oleh keputusasaan finansial.
“Baiklah,” kata Endang, suaranya pecah. “Aku… setuju.”
Agus menarik napas lega, senyum kemenangan terukir di wajahnya.
Ki Joladrang mengangguk puas. “Pilihan yang bijak, Nyonya. Sekarang, kita segel.”
Ki Joladrang bangkit dari kursinya yang reyot. Ia melangkah masuk ke dalam pondok dan kembali dengan sebuah mangkuk kuningan kecil berisi air keruh dan sebuah pisau kecil yang ujungnya tampak berkarat.
“Aku akan mengikat perjanjian ini dengan darah kalian, sebagai tanda pengorbanan suci. Ini akan menjadi gerbang yang ia gunakan untuk menghubungimu, Endang.”
Ki Joladrang meletakkan mangkuk itu di tanah. Ia menyuruh Endang dan Agus untuk menjulurkan tangan kanan mereka.
Agus dengan cepat menjulurkan tangannya, matanya berbinar menantikan kekayaan. Endang ragu, tetapi ia akhirnya menuruti.
Ki Joladrang memegang pisau itu dengan hati-hati. Ia tidak memotong kulit, tetapi menusuk ujung jarinya sendiri. Setetes darah gelap menetes ke dalam air di mangkuk kuningan itu.
“Ini adalah darahku sebagai saksi,” gumam Ki Joladrang, mengucapkan mantra dalam bahasa Jawa kuno yang cepat dan tidak dimengerti.
Kemudian, ia mengambil jari Agus, dan tanpa peringatan, ia menyayat kecil ujung jari telunjuk Agus. Agus meringis. Setetes darah Agus menetes ke air.
Terakhir, ia meraih tangan Endang. Endang merasakan dinginnya pisau itu di kulitnya. Ki Joladrang menatap matanya dalam-dalam.
“Ingat, Nyonya. Jika ini palsu, harganya adalah jiwamu.”
Endang mengangguk, bibirnya terkatup rapat.
Sret!
Sayatan kecil terasa perih. Darah Endang menetes ke air di mangkuk.
Begitu darah Endang menyentuh air, air keruh itu mengeluarkan cahaya redup berwarna biru kehijauan, dan aroma melati yang kuat, dingin, dan memabukkan seketika menyeruak, mengalahkan bau kemenyan yang tadi mendominasi.
Agus menatap mangkuk itu dengan kagum. Kekuatan gaib itu nyata. Kekayaan itu nyata.
Ki Joladrang segera mencelupkan ibu jarinya ke dalam mangkuk dan mengoleskan sedikit air darah itu ke dahi Endang dan Agus.
“Perjanjian sudah terikat. Raden Titi Kusumo akan segera mengaktifkan kekayaan yang kau pinta,” ujar Ki Joladrang, nadanya formal. “Kau, Agus, akan mendapatkan uang. Kau, Endang, akan mendapatkan koneksi.”
Tiba-tiba, aroma melati itu semakin kuat, dan hawa di sekitar mereka berubah. Tidak hanya dingin, kini terasa menekan, seolah-olah ada beban tak terlihat yang baru saja diletakkan di atas bahu mereka.
Endang tersentak. Ia melihat bayangan di balik punggung Ki Joladrang, sebuah kilatan perak yang cepat, seperti zirah kuno.
“Dia sudah tahu,” bisik Endang, suaranya penuh teror.
Ki Joladrang tersenyum sinis. “Tentu saja. Dia tidak pernah jauh.”
Tiba-tiba, suara Ki Joladrang berubah, menjadi lebih dalam, resonan, dan dingin. Itu bukan suara manusia tua. Itu adalah suara Raden Titi Kusumo yang berbicara melalui perantara.
“Aku melihat ikatanmu. Aku merasakan pengorbananmu.” Suara itu bergema, membuat pepohonan di sekitar pondok bergetar.
Agus mencoba berbicara, tetapi suaranya tercekat.
“Namun, aku juga merasakan ketakutan dan kebohongan di hati sang pengantin. Ingat ini, Manusia kerdil. Jika kau berani menipu Lanang Sewu, jika kau berani memberiku koneksi yang busuk… aku akan menuntut Lanang Sewu: Seribu jiwa untuk satu kebohongan.”
Suara itu menghilang secepat ia datang, meninggalkan keheningan yang mematikan. Ki Joladrang terhuyung, kembali ke dirinya sendiri, tampak lelah.
Agus dan Endang duduk membeku, wajah mereka pucat pasi. Mereka tidak hanya membuat perjanjian; mereka baru saja menerima ancaman kematian yang mutlak.
“Sekarang, pergilah,” kata Ki Joladrang, mengusir mereka dengan lambaian tangan yang lemah. “Kekayaanmu akan segera datang. Dan Lanang Sewu akan datang untuk mengambil haknya.”