Bagi dunia luar, Reihan Arta Wiguna adalah sosok "Ice King" di lantai bursa—dingin, tak tersentuh, dan selalu kalkulatif. Namun, di balik kemewahan hidupnya, ia terikat oleh janji konyol kakeknya puluhan tahun silam. Ia dipaksa menikahi Laluna Wijaya, seorang gadis yang ia anggap hanya sebagai "beban" tambahan dalam hidupnya yang sudah sibuk.
Laluna sendiri tidak punya pilihan. Menikah dengan Reihan adalah satu-satunya cara untuk melindungi apa yang tersisa dari nama baik keluarganya. Mereka sepakat pada satu aturan main: Pernikahan ini harus menjadi rahasia. Tidak ada cinta, tidak ada kemesraan di depan publik, dan tidak ada campur tangan dalam urusan pribadi masing-masing.
Namun, tinggal di bawah satu atap perlahan meruntuhkan tembok yang dibangun Reihan. Laluna bukan sekadar gadis penurut yang ia bayangkan; ia adalah api yang hangat di tengah musim dingin Reihan. Saat satu per satu rahasia keluarga dan pengkhianatan bisnis mulai terkuak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifra Sulistya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: PERJAMUAN DI SARANG SERIGALA
Udara di ruang rapat utama gedung Arta Wiguna terasa statis, seolah oksigen pun enggan masuk ke ruangan yang dipenuhi oleh ego dan ambisi para pemegang saham.
Laluna berdiri di depan cermin toilet lantai eksekutif, membasuh tangannya dengan air dingin. Ia mengenakan setelan kerja berwarna charcoal yang sangat formal, jauh dari apron linen yang biasa ia kenakan.
Di saku blusnya, tersimpan dokumen yang telah dilegalisir oleh Baskoro. Sebuah kuasa hukum yang menjadikannya perwakilan sah dari 15% saham pribadi Surya Arta Wiguna.
"Kau bisa melakukan ini, Luna," bisiknya pada bayangannya sendiri.
"Bukan untuk saham, tapi untuk Reihan."
Saat ia melangkah masuk ke ruang rapat, semua mata tertuju padanya. Reihan, yang duduk di kepala meja, tampak sangat terkejut. Alisnya bertaut, matanya memancarkan kebingungan sekaligus kekhawatiran.
"Laluna? Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Reihan, suaranya rendah namun penuh penekanan.
Sebelum Laluna sempat menjawab, seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun dengan rambut perak yang disisir rapi berdiri dari kursinya.
Itulah Tuan Malik. Senyumnya tampak ramah, namun sorot matanya sedingin mata belati.
"Ah, Tuan Arta Wiguna, sepertinya Anda belum tahu bahwa kita kedatangan pemegang suara baru," ucap Malik dengan nada merendahkan.
"Nyonya Laluna adalah pemegang 15% suara pribadi Tuan Surya. Beliau hadir untuk memastikan bahwa keputusan hari ini tidak hanya didominasi oleh keinginan emosional Anda."
Reihan menatap Laluna, menuntut penjelasan. Laluna hanya bisa memberikan tatapan yang memohon agar pria itu tetap tenang.
Rapat dimulai dengan agenda yang brutal, Tuan Malik memaparkan data penurunan kepercayaan investor dengan grafik yang sangat mendetail.
"Reihan adalah pemimpin yang cakap, namun dia terlalu banyak membawa masalah personal ke meja kerja,"
Malik bersuara, suaranya berat dan berwibawa.
"Pernikahannya dengan putri keluarga Wijaya, meskipun kini terbukti sebagai kesalahpahaman masa lalu, tetap menjadi noda bagi reputasi kita. Saya mengusulkan agar posisi CEO dialihkan sementara kepada dewan direksi."
Beberapa direktur mengangguk setuju. Reihan mengepalkan tangannya di atas meja. Ia tidak bisa membela diri tanpa menyerang balik kakeknya sendiri, sesuatu yang tidak akan ia lakukan di depan umum.
"Tunggu dulu," suara Laluna memecah keheningan.
Ia berdiri, suaranya tenang namun memiliki bobot yang tidak bisa diabaikan.
"Tuan Malik benar tentang satu hal, reputasi adalah segalanya.Namun, beliau salah tentang sumber masalahnya."
Laluna meletakkan sebuah map di tengah meja.
"Selama sebulan terakhir, selain memanggang roti, saya mempelajari aliran dana investasi Arta Wiguna. Saya menemukan bahwa penurunan saham kita bukan karena 'skandal' pernikahan kami, melainkan karena ada penjualan saham besar-besaran yang dilakukan secara rahasia oleh perusahaan cangkang di Singapura,"
Laluna menatap Malik tepat di matanya.
"Dan perusahaan cangkang itu memiliki kaitan langsung dengan Malik Group."
Ruangan mendadak riuh.
Reihan menatap dokumen itu dengan cepat, matanya berkilat saat menyadari apa yang sedang dilakukan Laluna.
"Ini tuduhan serius, Nyonya!" bentak Malik, wajahnya mulai memerah.
"Ini bukan tuduhan, ini audit," balas Laluna.
"Sebagai pemegang 15% saham, saya menggunakan hak saya untuk meminta penyelidikan internal terhadap Tuan Malik atas dugaan manipulasi pasar demi menurunkan nilai perusahaan agar beliau bisa melakukan pengambilalihan paksa."
Reihan segera mengambil alih kendali.
"Berdasarkan bukti awal ini, saya selaku CEO menyatakan rapat mosi tidak percaya ini ditunda hingga audit independen selesai. Dan saya membekukan hak suara Tuan Malik untuk sementara waktu."
Setelah rapat berakhir dengan kekalahan telak bagi faksi Malik, Reihan menarik Laluna masuk ke ruang kerjanya dan mengunci pintu.
"Laluna, jelaskan padaku. Sekarang," tuntut Reihan.
"Dari mana kau mendapatkan 15% saham itu? Dan dari mana kau mendapatkan data audit itu?"
Laluna terduduk di sofa kulit, energinya seolah terkuras habis.
"Kakek memberikannya padaku, Reihan. Melalui Baskoro. Dia ingin aku menjadi pelindungmu saat dia tidak lagi mampu."
"Dan soal audit itu?"
"Itu bantuan dari Clarissa," Ucap Laluna pelan.
"Dia tahu Malik sedang mencoba menghancurkanmu. Dia mengirimkan data itu padaku tadi pagi. Dia bilang... dia lebih suka melihatmu bersamaku daripada melihatmu jatuh di tangan Malik."
Reihan terdiam.
Ia berjalan mendekat dan berlutut di depan Laluna, menggenggam kedua tangan istrinya.
"Kau mempertaruhkan namamu dan keselamatannya untuk masuk ke ruangan yang penuh serigala itu, Luna."
"Aku sudah bilang, aku tidak akan membiarkanmu menghadapi badai sendirian," bisik Laluna.
Namun, momen haru itu terputus oleh dering ponsel Laluna.
Sebuah nomor asing mengirimkan foto, itu adalah foto ruko "Khay Bakery" yang sudah dipasangi garis polisi, dengan kepulan asap tipis keluar dari jendela belakangnya.
"Tepung memang mudah terbakar, Nona Laluna. Mari kita lihat seberapa kuat suamimu saat duniamu berubah menjadi abu."
Laluna menjerit kecil, ponselnya terjatuh ke lantai.
Reihan segera melihat foto tersebut dan matanya memancarkan kemarahan yang belum pernah Laluna lihat sebelumnya.
"Malik," desis Reihan.
"Dia baru saja menandatangani surat kematian bisnisnya sendiri."
Laluna tidak peduli soal saham atau perusahaan lagi. Ia hanya memikirkan toko rotinya, mimpinya, dan karyawannya. Perang ini tidak lagi terbatas pada ruang rapat ber-AC. Kini, api telah menyentuh hal yang paling ia cintai.