Hamil dengan pria asing yang ternyata, Mafia???!
Aria hamil dari pria tak dikenal setelah malam yang menghancurkan hidupnya. Ia memilih mempertahankan anak itu, meski pikirannya nyaris runtuh.
Hingga pria itu kembali.
Lorenzo de Santis—datang, mengaku bertanggung jawab, dan masuk ke hidupnya tanpa izin. Namun Aria tidak tahu…
Bahwa kehamilan tersebut bukanlah kebetulan.
Melainkan rencana.
Dan pria yang berdiri di hadapannya bukan sekadar masa lalu yang kelam—
melainkan seorang bos mafia yang sejak awal telah mengendalikan segalanya.
°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon dukungannya ✧◝(⁰▿⁰)◜✧
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MBM — BAB 17
PENJELASAN
Di sebuah ruangan VIP yang berada di restoran. Matteo tengah sibuk dengan seorang klien wanita cantik yang tengah membahas pekerjaan. Mereka bahkan nampak akrab dan bercanda ringan.
“Aku percaya dengan de Santos. Tapi sesuai perjanjian kalau kita akan adil.” kata wanita yang lebih tua dari Matteo itu tersenyum kecil.
Matteo tersenyum, meneguk habis minumannya. “Jangan khawatir, kau bisa mempercayai de santos.” Kata Matteo yang kini saling beradu pandang dengan si wanita rambut pendek berkulit putih itu.
“Ngomong-ngomong.... Anda sudah berapa lama sendirian? Bukankah harusnya Anda mencari seseorang untuk anak Anda Anda?” tanya Matteo yang sekedar basa-basi.
Wanita bernama Stella itu terdiam lalu tersenyum kecil. “Selagi aku masih bisa berdiri sendiri, aku tidak membutuhkan seorang pria di sisiku Mr. De Santos.” Katanya dengan santai yang membuat Matteo ikut menyeringai kecil.
Hening sejenak, wanita itu memperhatikan Matteo.
“Bagaimana dengan Anda? Aku yakin de Santos membutuhkan keturunan juga.”
Pria itu meletakkan gelas kosong di atas meja, dan bersandar santai. “Mencari seseorang untuk diajak serius sangatlah sulit, Nyonya Stella. Dan aku lebih memilih mengembangkan bisnis de Santos daripada memikirkan semua itu. Sama seperti mu.” katanya dengan berwibawa.
Stella tersenyum tipis. Meletakkan gelas berisi wine dan sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan. “Kita sama!” Katanya sejenak. “Bertemu dengan Anda aku pikir hanya membuang waktu, ternyata lebih menyenangkan dari yang lain.” kata wanita itu yang membuat Matteo menyeringai kecil dan menatapnya dalam.
.
.
.
Selang beberapa menit kemudian. Suara desahan dan erangan terdengar di sebuah ruangan yang tertutup itu.
Terlihat seorang wanita berambut pendek yang kini tengah duduk di atas pangkuan Matteo ambil bergerak naik dan turun dalam keadaan pakaian utuh namun compang-camping hingga punggungnya terekspos jelas.
“Ahhh~ ”lenguh wanita bernama Stella itu yang kini tengah menikmati keintimannya bersama Matteo.
Mereka berciuman dan benar-benar menikmatinya hingga gerakan semakin cepat dan mencapai puncaknya.
Sementara di sisi lain. Aria masih terdiam dan sesekali menoleh ke suaminya yang sejak tadi fokus menyetir tanpa memperdulikan lukanya. Hingga Aria berkerut alis saat melihat keberadaan mereka yang nampak asing— bukan ke arah jalan mansion, melainkan ke pelabuhan dan masuk ke sebuah gudang tua.
“Ke-kenapa kita kemari?” tanya Aria terheran saat mobil membawa mereka ke sana.
Sementara Lorenzo nampak tenang-tenang saja. “Tenang saja. Aku tidak akan melukaimu.” kata Lorenzo yang sekilas menatap istrinya yang nampak masih tegang hingga Loren keluar mobil lebih dulu, lalu Aria menyusul.
Dan terlihat jelas, keadaan di gudang itu sangat sibuk. Ada beberapa pria berkaos hitam yang sibuk mengurus sebuah barangan di dalam kotak besar. Mereka terlihat sangar seperti Lorenzo sendiri, termasuk si pria bernama Fabio.
“Saya mengerti, Tuan.” kata Fabio ketika tengah bisik-bisik serius dan matanya tertuju pada Aria, hingga tak berselang lama, Fabio menghampirinya saat Lorenzo sendiri langsung melangkah maju entah mau ke mana.
“Nyonya, tuan Lorenzo menyuruh saya untuk mengantar Anda pulang.”
“Apa? Tidak. Ma-maksudku... Aku ingin menemuinya, dia mau pergi ke mana?” tanya Aria gugup dan mencoba untuk tetap berani.
“Tuan Lorenzo harus mengurus sesuatu— ”
“Aku tidak peduli.” kata Aria yang berjalan melewati Fabio begitu saja dan mengikuti langkah suaminya tadi hingga membawanya ke toilet, dimana Aria tak peduli akan tatapan dari anak buah Loren yang lainnya dan kini, dia bisa melihat suaminya itu tengah sibuk mencuci tangan dan menghilangkan noda darah di kedua tangannya.
“Kenapa kau masih di sini?” tanya Loren dingin tanpa menoleh. Namun rokok terselip di bibirnya.
Aria berjalan mendekat namun masih berjarak.
Ia terlihat takut, tapi tetap memaksakan diri untuk tetap tegar. “Aku perlu mendengar sesuatu darimu, tuan Lorenzo.”
Pria itu mematikan keran airnya, mengibatkan kedua tangannya yang basah sebelum akhirnya berjalan menghampiri Aria, tepat di depan wanita itu.
“Soal apa?”
Aria menelan ludahnya kasar saat matanya sesekali melirik ke arah kening kanan Loren yang terluka dan sedikit-sedikit mengeluarkan darah.
“So-soal... Soal kejadian tadi. Dan... Tempat apa ini? Siapa sebenarnya dirimu?” tanya Aria sedikit menggebu-gebu karena dia tegang sendiri.
Sementara Lorenzo sesekali menghisap rokoknya hingga asap menerpa wajah Aria lalu ia mencabut rokok itu dan menjauhkannya dari istrinya. “Kau tidak akan suka mendengarnya.”
“Te-tentu aku akan mendengarkannya, ja-jangan khawatir.” kata Aria yang penasaran.
Mata perak itu menatap lekat wajah tegang Aria. Tatapannya dingin dan datar, hingga Lorenzo mengangkat suaranya. “Kau lihat sekitar sini. Mereka semua bekerja bersamaku. Kami menjual barang yang menguntungkan banyak. Dan jaringan— ”
“Kriminal.” potong Aria yang seolah langsung cepat tanggap.
Lorenzo menatapnya sejenak, lalu mengangguk. “Ya. Kriminal kata yang tepat. Dan ini adalah bisnis turun temurun dari de Santos. Aku yang akan memegang nya dan perusahaan de Santos jauh dari kegiatan ini.”
Aria rasanya ingin tersenyum dan menangis pilu saat mendengar itu. “Lalu... Kalian semua adalah pembunuh?”
“Sudah kubilang, kami hanya membunuh musuh.”
“Itu tetap saja, membunuh.” tegas Aria dengan perasaan yang kalut hingga jantungnya berpacu cepat. “Ak-aku... Aku mau pulang! Antar aku pulang.” tegasnya.
“Fabio akan mengantar mu.”
“Aku tidak mau. Aku ingin kau yang mengantar ku. I-ini keinginan nya.” kata Aria gugup menunjuk ke perutnya sendiri.
pria itu menatap diam kepergian Aria begitu saja. Dia tahu bagaimana wanita itu tertekan setelah melihat dan mendengar semua itu.
“Dasar wanita.” gerutu Lorenzo dengan malas, namun ia menurutinya dan mengikuti langkah istrinya.
“SEMANGAT UNTUK PENGIRIMAN MALAM INI, SEMUANYA!!” tegas Lorenzo dengan suara kerasnya kepada anak buahnya. “Dan jangan lupa untuk istirahat.” lanjutnya rendah sambil berjalan keluar.
Hingga akhirnya dia masuk ke mobil dan Aria sudah ada di dalamnya, duduk diam mencoba tenang.
“Ini terkahir kalinya aku menuruti mu.” kata Lorenzo.
Aria tidak mempedulikannya dan bersandar sembari memejamkan mata dengan kepala menengok ke arah jendela mobil.
Tentu saja Lorenzo hanya berdecak pelan melihat tingkah istrinya yang benar-benar sangat sulit ditebak. Itu sebabnya dia tak mau berurusan dengan seorang wanita bahkan untuk seorang klien pun.
Mobil melaju cepat dari pelabuhan menuju mansion de Santos.
Keadaanya sangat sunyi karena sudah hampir tengah malam. Bahkan Monica yang suka mengamati orang-orang di sana pun sudah tidak terlihat.
“Kau bisa turun dan pergi ke kamar mu sendiri. Aku harus kembali— ”
Pria itu terhenti ketika ia menoleh dan melihat istrinya tertidur pulas cukup cepat. Dan tentunya Lorenzo semakin dibuat rumit oleh wanita.
Namun tanpa pikir panjang, ia keluar, membuka pintu mobil dan membawa Aria keluar dalam gendongannya menuju sampai ke kamarnya.
Dengan telaten, Lorenzo menyelimuti wanita itu saat hendak meninggalkan nya begitu saja. Lalu ia menatapnya sejenak. “Sangat rumit.” gumamnya hingga akhirnya pergi, meninggalkan Aria yang tertidur pulas.
Dan Lorenzo juga sudah meletakkan mantel Aria di atas sofa sebelum akhirnya dia benar-benar keluar lagi.