NovelToon NovelToon
Nyaris Jadi Kita

Nyaris Jadi Kita

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:12.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

​"Nyaris Jadi Kita" mengisahkan transformasi emosional dan profesional Arelia dari seorang wanita yang hanya dianggap sebagai "tempat pulang" bagi masa lalunya, menjadi "Arsitek Takdir" yang menyelamatkan dinasti korporat Adhitama Group di tengah kiamat finansial global. Melalui perjalanan penuh intrik dari Jakarta hingga London, Arelia berhasil menepis bayang-bayang pengkhianatan dan manipulasi pasar untuk membangun kedaulatan energinya sendiri, hingga akhirnya ia menyadari bahwa tujuan hidup yang paling agung bukanlah untuk bersandar pada pria mana pun, melainkan untuk menjadi muara bagi kebahagiaan dan harga dirinya yang mandiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35: Janji

Pagi di Paris selalu memiliki cara yang puitis untuk menyapa mereka yang sedang mencoba sembuh. Cahaya matahari yang masuk melalui jendela besar Rumah Sakit American Hospital of Paris tampak seperti helai-helai benang emas yang ditenun di atas sprei putih tempat tidurku. Bau antiseptik yang tajam perlahan memudar, digantikan oleh aroma bunga lili segar yang memenuhi ruangan—hadiah harian dari Bastian yang tidak pernah alpa meski dia sendiri sedang berada di tengah badai rapat dewan komisaris.

​Aku mencoba menggerakkan bahu kiriku. Rasa nyeri yang tajam seketika menusuk, mengingatkanku bahwa luka fisik ini adalah harga yang harus kubayar untuk sebuah kebebasan. Namun, anehnya, rasa sakit itu tidak lagi terasa pahit. Ia adalah bukti otentik bahwa aku telah berhenti menjadi bayangan. Aku telah memilih untuk berdiri di garis depan, bukan karena aku harus menyelamatkan seseorang, tapi karena aku berdaulat atas perasaanku sendiri.

​Aku menoleh ke arah meja di samping tempat tidur. Di sana, laptop perakku tertutup rapat, sebuah pemandangan yang jarang terjadi. Di atasnya, cincin berlian emerald pemberian Bastian berkilau tenang. Cincin itu adalah sebuah janji, sebuah jangkar yang menahanku agar tidak hanyut kembali ke dalam keraguan masa lalu.

​"Jangan dipaksakan, Arelia. Dokter bilang kamu butuh setidaknya dua hari lagi sebelum bisa benar-benar tegak."

​Suara bariton yang hangat itu membuatku tersenyum tanpa sadar. Bastian berdiri di ambang pintu. Dia terlihat sangat tampan dalam setelan jas berwarna biru gelap, meski wajahnya menunjukkan tanda-tanda kelelahan yang nyata. Ia melangkah mendekat, meletakkan tas kerjanya di kursi, dan duduk di tepi tempat tidurku. Tangannya yang hangat segera menggenggam tanganku, sebuah gestur yang kini terasa seperti oksigen bagiku.

​"Bagaimana rapatnya?" tanyaku, suaraku masih sedikit parau.

​Bastian mendesah panjang, ia menyandarkan kepalanya di tanganku. "Marseille sudah tenang. Marcelle secara resmi telah menandatangani kontrak jangka panjang. Tapi... ada harga lain yang harus kita bayar, Rel."

​Aku mengerutkan kening. "Maksudmu?"

​Bastian mendongak, menatap mataku dengan tatapan yang sangat kompleks. "Dewan komisaris internasional di Jakarta dan London mulai bersuara. Mereka mendengar tentang kejadian di area parkir itu. Elena memang sudah pergi, tapi dia meninggalkan 'hadiah' terakhir: laporan resmi ke komite kepatuhan perusahaan tentang adanya hubungan asmara antara CEO dan Direktur Riset Global yang dianggap bisa memicu konflik kepentingan."

​Aku tertegun. Dunia korporat adalah mesin yang sangat dingin. Mereka tidak peduli pada pengorbanan nyawa atau cinta yang tulus. Bagi mereka, segalanya adalah tentang mitigasi risiko.

​"Jadi, mereka mempertanyakan posisiku?" suaraku sedikit bergetar.

​"Mereka mempertanyakan posisi kita berdua, Arelia," Bastian meremas tanganku lebih erat. "Ada aturan non-fraternization yang sangat ketat dalam anggaran dasar Adhitama Group untuk level eksekutif. Mereka khawatir objektivitas risetmu akan terpengaruh oleh hubungan kita, atau aku akan memberikan perlakuan istimewa padamu. Elena tahu benar cara memukul di tempat yang paling menyakitkan bagi perusahaan."

​Aku menarik napas panjang, menatap ke luar jendela di mana langit Paris mulai berubah menjadi biru cerah. "Jadi, setelah semua yang kita lalui, mereka ingin kita memilih? Antara karier atau kita?"

​Bastian terdiam. Ia berdiri dan berjalan menuju jendela, menatap ke arah kejauhan. Punggungnya yang tegap tampak begitu terbebani. "Ayahku mencoba menahan mereka, tapi tekanan dari pemegang saham institusi sangat besar. Mereka meminta audit independen atas semua hasil risetmu di Marseille dan Paris untuk memastikan tidak ada manipulasi data demi kepentingan pribadi."

​Rasa panas menjalar di dadaku. Bukan karena takut, tapi karena tersinggung. "Mereka meragukan integritas risetku? Setelah aku menyelamatkan proyek Marseille dari sabotase?"

​"Itulah dunia yang kita tinggali, Arelia. Di sana, prestasi adalah hal lumrah, tapi integritas adalah sesuatu yang bisa diperjualbelikan dengan gosip," Bastian berbalik, menatapku dengan tatapan yang penuh dengan janji yang belum terucap. "Tapi aku tidak akan membiarkan mereka menyentuhmu. Jika pilihannya adalah mengundurkan diri sebagai CEO agar kamu bisa tetap memimpin riset, aku akan melakukannya malam ini juga."

​"Jangan konyol, Bastian!" aku mencoba duduk tegak, mengabaikan rasa nyeri di bahuku. "Kamu adalah ruh dari Adhitama. Jika kamu mundur, Elena dan Aristhoteles Group akan menang tanpa perlu bertempur. Kita tidak akan lari. Kita akan menghadapi mereka dengan cara yang paling aku kuasai: data."

​Bastian berjalan kembali ke arahku, ia berlutut di samping tempat tidur, menatapku dengan rasa kagum yang tak terhingga. "Kamu baru saja terluka, Rel. Kamu harusnya beristirahat."

​"Aku tidak bisa beristirahat saat harga diriku dipertanyakan," kataku mantap. "Panggil Jean-Pierre. Katakan padanya untuk menyiapkan semua raw data dari proyek Marseille dan audit logistik Paris. Kita akan melakukan audit terbuka. Aku sendiri yang akan mempresentasikannya di depan komite kepatuhan minggu depan."

​Bastian tersenyum tipis, lalu ia mengecup keningku lama. "Inilah alasan kenapa aku tidak pernah bisa melepaskanmu. Kamu adalah satu-satunya orang yang berani menantang dunia saat semua orang memilih untuk tunduk."

​Sore harinya, ruangan rumah sakitku berubah menjadi kantor darurat. Jean-Pierre datang dengan tumpukan dokumen dan dua laptop tambahan. Meskipun Bastian awalnya keberatan, ia akhirnya mengalah setelah melihat kegigihanku.

​"Nona Arelia, komite kepatuhan telah menunjuk firma audit dari London, Sterling & Co, untuk memeriksa laporan Anda," Jean-Pierre menjelaskan sambil membentangkan struktur audit di meja kecil. "Mereka dikenal sangat dingin dan tidak kenal kompromi. Jika ada satu desimal saja yang meleset, mereka akan merekomendasikan pembatalan kontrak Paris."

​"Biarkan mereka datang, Jean-Pierre," jawabku sambil jemariku mulai menari di atas papan ketik. "Aku tidak pernah memalsukan satu angka pun dalam hidupku. Kaivan mungkin mengajariku cara bertahan di bawah tekanan, tapi kejujuran ini adalah milikku sendiri."

​Selama beberapa jam, aku dan Jean-Pierre membedah kembali setiap variabel. Aku merasa seperti sedang membangun benteng. Setiap data adalah batu bata, dan setiap analisis adalah semen yang merekatkannya. Aku ingin membuktikan pada dunia—dan terutama pada ayah Bastian—bahwa cintaku pada Bastian tidak membuatku menjadi lemah atau buta. Justru, cinta itu adalah standar tertinggi bagi kinerjaku.

​Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka perlahan. Prasetyo Adhitama melangkah masuk.

​Aura pria tua itu masih sama—dominan dan mengintimidasi. Namun, kali ini, matanya tidak lagi memancarkan kebencian. Ada semacam rasa ingin tahu yang besar di sana. Ia melihat ruangan yang dipenuhi dokumen dan menatapku yang masih mengenakan baju pasien namun sedang sibuk dengan laptop.

​"Bastian bilang kamu sedang sekarat. Ternyata kamu justru sedang menyiapkan perang baru," ucap Prasetyo, suaranya rendah dan berwibawa.

​Jean-Pierre segera berdiri dan membungkuk sebelum keluar dari ruangan, memberiku privasi dengan sang ketua dewan komisaris.

​"Selamat sore, Pak Prasetyo," kataku, mencoba tetap tenang. "Saya tidak punya waktu untuk sekarat saat reputasi perusahaan sedang dipertaruhkan oleh komite kepatuhan."

​Prasetyo duduk di kursi yang tadi diduduki Bastian. Ia menatap cincin berlian di jariku. "Cincin itu... adalah warisan keluarga Adhitama yang sengaja Bastian ambil tanpa seizinku. Kamu tahu apa artinya memakai benda itu di tengah krisis seperti ini?"

​"Artinya saya memiliki tanggung jawab ganda, Pak. Sebagai Direktur Riset dan sebagai orang yang dipilih oleh putra Anda," jawabku tanpa ragu.

​Prasetyo mendesah, ia menyandarkan punggungnya di kursi. "Komite kepatuhan tidak akan mudah. Mereka dipengaruhi oleh jaringan Elena di Eropa. Mereka ingin kepala seseorang untuk menenangkan pasar. Jika kamu gagal membuktikan objektivitasmu, mereka akan meminta Bastian untuk memilih: memutuskan hubungan dengannya secara legal atau menyerahkan kursi CEO."

​"Kenapa Bapak memberitahu saya hal ini?"

​"Karena aku ingin tahu seberapa jauh 'nyaris' itu sudah berubah," Prasetyo menatapku tajam. "Dulu, kamu hanya asisten yang nyaris jadi pasangannya. Sekarang, kamu adalah wanita yang nyaris menghancurkan hidupnya atau justru menyelamatkannya. Aku ingin melihat apakah kamu memiliki cukup nyali untuk menghadapi Sterling & Co tanpa bantuan Bastian."

​"Saya akan menghadapinya sendirian, Pak. Saya tidak butuh Bastian di ruang audit. Saya hanya butuh dia di garis finis," kataku mantap.

​Prasetyo berdiri, ia terdiam sejenak sebelum berjalan menuju pintu. "Jika kamu menang, aku akan merestui pernikahan kalian secara resmi di Jakarta. Tapi jika kamu kalah... pastikan kamu pergi sebelum aku yang mengusirmu."

​Pintu tertutup. Aku terdiam, merasakan detak jantungku yang berpacu kencang. Ini adalah pertaruhan terakhir. Bukan lagi tentang melawan mantan kekasih yang toksik atau mantan istri yang pendendam, tapi melawan sistem yang begitu kaku.

​Malam harinya, Bastian kembali setelah mengantar ayahnya ke bandara. Ia menemukanku sedang tertidur di atas tumpukan berkas. Ia memindahkan laptopku dengan sangat hati-hati dan menarik selimut untuk menutupi tubuhku.

​Aku terbangun saat merasakan kecupan lembut di pipiku.

​"Ayah bicara apa padamu tadi?" tanya Bastian pelan.

​"Dia memberikan janji," jawabku, sambil menarik tangannya untuk kupeluk. "Sebuah janji bahwa jika aku memenangkan audit ini, kita tidak perlu lagi bersembunyi di balik kata 'mitra strategis'."

​Bastian tersenyum, senyum yang begitu jernih hingga membuat air mataku hampir jatuh. "Aku tidak butuh restu siapa pun untuk mencintaimu, Arelia. Tapi aku tahu, bagimu, pengakuan atas kerjamu adalah segalanya. Kita akan lalui ini. Bersama."

​"Bastian... berjanji padaku satu hal."

​"Apa pun, sayang."

​"Jangan masuk ke ruang audit nanti. Biarkan aku berdiri di sana sendirian sebagai Arelia, Direktur Riset Global. Aku ingin mereka melihat bahwa aku berharga bukan karena siapa yang berdiri di belakangku, tapi karena apa yang ada di dalam kepalaku."

​Bastian terdiam cukup lama, ia menatapku dengan mata yang berkaca-kaca sebelum akhirnya mengangguk. "Aku berjanji. Aku akan menunggumu di luar pintu. Dan apa pun hasilnya, bagiku, kamu sudah memenangkan segalanya sejak malam di Marseille itu."

​Kami menghabiskan sisa malam itu dalam keheningan yang nyaman. Di luar, Menara Eiffel berkelap-kelip, memberikan pertunjukan cahaya yang seolah-olah ditujukan hanya untuk kami. Paris mungkin sedang dingin, dan dunia mungkin sedang menghakimi, tapi di dalam ruangan ini, sebuah janji baru saja terukir. Janji yang tidak lagi dibangun di atas pasir kepalsuan, melainkan di atas batu karang kejujuran.

​Nyaris jadi kita?

​Kalimat itu kini terasa begitu kuno. Karena apa yang kami miliki sekarang adalah sebuah kepastian yang sedang diuji oleh api. Dan aku... aku siap untuk terbakar demi membuktikan bahwa emas yang kami miliki adalah murni.

​Tiga hari kemudian, aku keluar dari rumah sakit. Bahuku masih sedikit kaku, namun langkahku sangat mantap. Aku mengenakan setelan jas berwarna putih gading, melambangkan awal yang bersih dan transparansi mutlak. Bastian mengantarku sampai di depan gedung kantor pusat Adhitama Group.

​Di sana, tim auditor dari Sterling & Co sudah menunggu. Mereka adalah jajaran pria dan wanita Inggris dengan tatapan yang sangat analitis dan tidak bersahabat.

​Bastian menggenggam tanganku untuk terakhir kalinya sebelum aku memasuki lift.

​"Aku akan di sini, Rel. Tepat di luar pintu ini," bisiknya.

​Aku tersenyum, menarik napas panjang, dan melangkah masuk ke dalam lift yang akan membawaku ke ruang penghakiman. Saat pintu lift tertutup, aku melihat pantulan diriku di cermin. Aku bukan lagi Arelia yang takut kehilangan Kaivan. Aku adalah Arelia yang tahu benar nilainya.

​Audit dimulai tepat pukul sembilan pagi.

​Ruang rapat itu terasa seperti pengadilan. Ribuan baris data diproyeksikan ke dinding. Setiap pengeluaran, setiap variabel logistik, dan setiap keputusan strategis dibedah dengan ketajaman yang luar biasa.

​"Nona Arelia," pimpinan auditor, Mr. Henderson, memulai dengan aksen London yang berat. "Kami menemukan korelasi yang sangat tidak biasa antara efisiensi vendor di Marseille dan kedekatan personal Anda dengan CEO. Bagaimana Anda menjelaskan bahwa pemilihan vendor ini bukan karena tekanan dari Monsieur Bastian?"

​Aku berdiri, membuka folder digital yang sudah kusiapkan. "Mari kita bicara tentang algoritma, Mr. Henderson. Pemilihan vendor di Marseille didasarkan pada weighted scoring model yang saya kembangkan menggunakan data historis sepuluh tahun terakhir. Jika Anda melihat pada baris 402, Anda akan melihat bahwa skor vendor pilihan saya lima belas persen lebih tinggi dari kompetitor terdekat dalam hal kepatuhan lingkungan. Jika Monsieur Bastian mencoba menekan saya, algoritma ini akan menunjukkan anomali. Apakah Anda menemukan anomali tersebut?"

​Mr. Henderson terdiam, ia memeriksa kembali kode yang kusajikan.

​Selama enam jam berikutnya, aku menjawab setiap serangan mereka dengan presisi yang mematikan. Aku tidak menggunakan emosi. Aku menggunakan logika. Aku menunjukkan bahwa hubunganku dengan Bastian justru menjadi motivasi untuk menciptakan sistem yang paling tidak bisa ditembus oleh siapa pun, termasuk oleh kami sendiri.

​Pukul empat sore, ruangan itu menjadi sangat sunyi. Mr. Henderson menutup laptopnya, ia menatap rekan-rekannya sebelum akhirnya menatapku.

​"Nona Arelia," ucapnya dengan nada yang jauh lebih lembut. "Dalam dua puluh tahun karier saya sebagai auditor, saya jarang melihat sistem yang begitu transparan dan berani seperti ini. Anda tidak hanya membersihkan nama Anda sendiri, Anda baru saja menciptakan standar baru untuk tata kelola perusahaan di Adhitama Group."

​Ia berdiri dan mengulurkan tangannya. "Audit selesai. Hasilnya adalah Clear and Exemplary. Saya akan merekomendasikan kepada dewan komisaris untuk tidak hanya mempertahankan Anda, tetapi juga memberikan penghargaan atas integritas ini."

​Aku menjabat tangannya, merasakan beban yang sangat besar luruh dari pundakku. Aku melangkah keluar dari ruangan itu dengan kepala tegak. Begitu pintu terbuka, aku melihat Bastian berdiri di sana, bersandar pada dinding dengan wajah yang penuh kecemasan.

​Begitu dia melihat senyumku, seluruh ketegangannya hilang. Ia tidak peduli pada kerumunan staf atau auditor yang mulai keluar. Ia langsung berlari dan memelukku erat, mengangkat tubuhku sedikit ke udara.

​"Kamu berhasil, Rel! Kamu benar-benar berhasil!" teriaknya senang.

​"Kita berhasil, Bastian," bisikku di telinganya. "Janji ayahmu... dia harus menepatinya sekarang."

​Di tengah lobi kantor yang mewah di Paris itu, kami tidak lagi peduli pada aturan kepatuhan atau pandangan orang lain. Kami adalah pemenang. Bukan hanya pemenang dalam bisnis, tapi pemenang dalam memperjuangkan hak kami untuk saling mencintai secara terhormat.

​Fajar baru benar-benar telah menyingsing. Dan kali ini, matahari tidak akan pernah terbenam di atas janji yang kami buat.

​Nyaris jadi kita?

​Bukan. Sekarang adalah tentang "Kita" yang utuh. Dan perjalanan ini... baru saja dimulai ke arah yang jauh lebih indah.

1
sukensri hardiati
ini kaivan sama nadine kok ngrusuh terus sih...
Misterios_Man: lah gatau... kok tanya saya😄
total 1 replies
Kinanda Husnancandra
hufhhhhjhhhh...
tarik nafas dulu Thor,terkadang kita harus lebih gila untuk menghadapi kegilaan org lain
Misterios_Man: sampai kapan kak nafasnya ditarik?? saya udah ga kuat!!/Puke/
total 1 replies
Lili Inggrid
bagus
Indah
Tarus bangkit menjadi wanita kuat
Indah
Masih memantau
Quinza Azalea
bener benar puas baca ceritamu thor
Quinza Azalea
lanjut thor💪💪💪
Quinza Azalea
sangat bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!