NovelToon NovelToon
DUDUK BERDUA

DUDUK BERDUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Cintapertama / Teen
Popularitas:601
Nilai: 5
Nama Author: BiMO33

"Gue gak akan pergi," jawab Angga akhirnya. Suaranya tegas. Pasti. Tidak ada keraguan. "Itu cuma mimpi. Gue di sini. Nyata. Dan gue gak kemana-mana."

Adea menghela napas lega. Matanya yang tadinya tegang mulai mengendur.

"Janji?"

"Janji."

"Sumpah?"

Angga tersenyum kecil. "Sumpah pake kucing."

Adea menoleh ke bawah. Cumi sedang duduk manis di samping kursinya, menatap bolak-balik antara Angga dan Adea.

"Cumi jadi saksinya," ucap Angga.

"Meong," sahut Cumi, seolah mengiyakan.

Emang boleh sahabat jadi cinta? Emang boleh sahabat tapi tinggal se atap? Emang boleh manja-manjaan ke 'sahabat'..... Emang boleh~

Ikut cerita dua anomali ini yaaa~~~~

Intip dikit gpp lahhh~ kalo betah ya tinggal, kalo nggk ya skip ajaaaa~~~~~

Happy Reading ^^

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32: Keterlaluan

Pagi itu. Kamar Angga.

Cahaya matahari mulai menyelinap melalui celah tirai kamar Angga. Tirai abu-abu tebal yang tidak pernah ia buka lebar-lebar karena ia lebih suka ruangan gelap saat tidur. Tapi pagi ini, celah kecil itu cukup untuk menerangi ruangan dengan cahaya keemasan yang lembut.

Adea terbangun perlahan.

Matanya masih berat. Pikirannya masih terselubung kabut tipis khas orang yang baru keluar dari tidur nyenyak. Ia menarik napas panjang dan mencium aroma yang sangat familiar.

Aroma Angga.

Bukan aroma parfum atau sabun. Tapi aroma khas tubuh pria itu. Hangat. Sedikit seperti kayu dan sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan. Aroma yang selalu ia hirup setiap kali memeluk Angga dari belakang di motor.

Adea tersenyum kecil dalam tidurnya.

Ia berguling ke samping, mencari kehangatan tubuh pria yang seharusnya ada di sebelahnya. Tangannya meraba-raba seprai di sampingnya.

Kosong.

Dingin.

Adea membuka mata.

Ia duduk perlahan. Rambutnya kusut masai, lebih kusut dari biasanya. Matanya masih sayu. Pipinya masih merona karena hangatnya selimut. Ia mengucek matanya dengan punggung tangan, berusaha mengusir kabut di kepalanya.

Ia melihat sekeliling.

Bukan kamarnya.

Dinding polos tanpa poster. Tidak ada boneka panda di sudut kasur. Tidak ada lampu tidur berbentuk bintang. Yang ada hanya lemari kayu sederhana, meja belajar dengan tumpukan buku ekonomi, dan sketsa-setengah jadi yang menempel di dinding dekat jendela.

Kamar Angga.

Adea mengerjap.

Kenapa ia ada di kamar Angga?

Pikirannya masih melayang, belum bisa mencerna. Seperti orang yang baru bangun dari mimpi panjang dan belum bisa membedakan mana mimpi mana nyata.

Dan tiba-tiba saja...

Gambaran-gambaran pecah di kepalanya seperti gelombang.

Adea membeku.

Matanya membelalak.

Ia tidak bermimpi.

Itu nyata.

Semalam.

Di kamar ini, di kasur ini, di bawah tubuh Angga yang besar dan hangat...

Adea menunduk.

Ia melihat apa yang ia kenakan.

Bukan piyama bintang-bintangnya. Bukan kemeja tidur motif beruang.

Kemeja hitam. Kemeja lengan panjang milik Angga yang terlalu besar untuk tubuhnya, yang ujung bajunya hampir menutupi pahanya. Kemeja yang kancingnya ia kenali sebagai kemeja favorit Angga untuk melukis.

Di bawah kemeja itu, ia tidak mengenakan apa pun.

Adea merasakan darahnya mendidih. Wajahnya terasa panas seperti baru keluar dari sauna. Dadanya naik turun dengan cepat. Bukan karena sesak napas, tapi karena jantungnya berdetak terlalu kencang.

Ia mengangkat selimut. Memeriksa tubuhnya di bawah kemeja hitam itu.

Paha kirinya ada bekas memar merah seperti bekas jari yang mencengkeram terlalu erat. Perutnya... bersih. Tidak ada apa-apa. Tapi ada rasa pegal di pangkal pahanya. Rasa yang tidak ia kenal, rasa yang membuatnya sadar bahwa semalam tubuhnya digunakan dengan cara yang belum pernah ia bayangkan.

Adea menjatuhkan selimut.

Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan.

"Astaga..." bisiknya. Suaranya teredam oleh telapak tangannya sendiri.

Ia ingat semuanya sekarang. Setiap detik. Setiap sentuhan. Setiap bisikan di telinganya.

Adea menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri. Tapi napasnya malah tercekat ketika ia menyadari sesuatu yang lain.

Sprei di bawahnya terasa berbeda. Kasar. Baru.

Selimut yang menutupinya juga berbeda. Bukan selimut tipis milik Angga yang biasa ia lihat terlipat rapi di ujung kasur, tapi selimut tebal berwarna abu-abu yang biasa ada di ruang tamu.

Dan tubuhnya... bersih.

Tidak lengket. Tidak ada bekas keringat atau cairan yang mengering di kulitnya.

Seperti seseorang sudah membersihkannya.

Adea menunduk. Ia menggigit bibir bawahnya, bibir yang masih terasa sedikit bengkak.

Angga.

Pria itu bangun lebih pagi. Mengganti sprei. Mengganti selimut. Mengganti pakaian Adea dengan kemeja hitam miliknya. Membersihkan tubuh Adea. Mengelap wajah gadis itu.

Dan pergi ke dapur untuk memasak sarapan.

Seolah tidak terjadi apa-apa.

Adea tidak tahu harus merasa apa. Marah? Tidak. Malu? Iya, sedikit. Tapi lebih dari itu, ada sesuatu yang hangat di dadanya. Sesuatu yang membuat matanya berkaca-kaca bukan karena sedih.

Dia merawatku. Setelah semalam... dia merawatku.

Adea ingin turun dari kasur. Ia menggiring tubuhnya ke tepi, merayap perlahan. Tapi begitu kakinya menyentuh lantai, ia merasakan getaran aneh di otot-otot pahanya.

Lemah.

Gemetar.

Ia berdiri dan terjatuh.

"Ah-!"

Pantatnya mendarat di lantai dingin dengan bunyi dug pelan.

Adea terduduk di lantai, kaki terlipat ke samping, kemeja hitam Angga naik sedikit hingga hampir memperlihatkan pahanya. Rambutnya yang kusut menutupi separuh wajahnya.

Dari lorong, terdengar suara langkah kecil.

Cumi.

Kucing abu-abu gembul itu muncul di ambang pintu kamar Angga, pintu yang tidak pernah tertutup rapat sejak Angga keluar tadi pagi. Cumi menatap Adea dengan mata kuningnya yang bulat, lalu berjalan mendekat, menggesekkan kepalanya ke betis Adea.

"Meong." Suaranya pelan, seperti bertanya kamu kenapa di lantai?

Adea mengelus kepala Cumi dengan tangan gemetar. "Cumi... gue..."

Belum sempat ia menyelesaikan kalimat, suara langkah berat terdengar dari dapur. Mendekat. Cepat.

Angga muncul di ambang pintu.

Celemek biru lusuh melilit di pinggangnya. Kemeja lengan pendek berwarna putih. Lengan kekarnya terlihat jelas. Wajahnya sedikit berkeringat karena memasak. Matanya terlihat lelah, mungkin karena semalam ia tidak tidur nyenyak. Atau mungkin karena ia bangun lebih pagi untuk membersihkan semuanya.

"Dea?" Suaranya sedikit terkejut. Matanya jatuh ke Adea yang terduduk di lantai dekat kasur, kaki gemetar, rambut kusut, kemeja hitamnya hampir lepas dari bahu.

Angga bergerak cepat.

Ia berlutut di depan Adea, tangannya meraih bahu gadis itu, memeriksa dari atas ke bawah.

"Lu kenapa? Jatuh? Sakit? Ada yang luka?" Pertanyaannya beruntun, panik, tidak seperti biasanya.

Adea tidak menjawab.

Ia hanya menatap Angga.

Menatap wajah pria yang semalam membaringkannya di kasur ini. Yang semalam menyentuh tubuhnya dengan tangan yang sekarang memegang bahunya dengan lembut. Yang semalam membisikkan namanya di telinga dengan suara serak penuh hasrat.

Dan yang pagi ini... membersihkannya. Mengganti pakaiannya. Memasak untuknya. Seolah Adea adalah sesuatu yang berharga yang harus dijaga.

"Dea, jawab. Lu kenapa?" Angga mulai khawatir. Tangannya naik ke wajah Adea, menangkup pipi chubby gadis itu, memaksanya menatapnya. "Sakit? Di mana sakitnya?"

Adea menggigit bibir bawahnya. Matanya berkaca-kaca.

"Angga..."

"Ya."

"Gue... gue gak bisa jalan."

Angga mengerjap. "Apa?"

"Kaki gue gemeteran. Gue gak bisa berdiri."

Angga terdiam.

Wajahnya berubah merah. Bukan karena marah, tapi merah karena sadar.

Ia menunduk. Memejamkan mata. Napasnya berat.

"Maaf," bisiknya. Suaranya parau. "Gue minta maaf, Dea. Gue keterlaluan semalam. Gue kehilangan kendali-"

"Angga."

Angga mengangkat wajahnya.

Adea tersenyum. Senyum kecil yang sama seperti biasa. Manis, hangat, dan sedikit nakal.

"Gue laper. Bawain gue ke dapur."

 

Bersambung..

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!