"Mantan kabur, adiknya malah melamar? Dunia ini sudah gila!"
Bagi Cantik (26 tahun), hidupnya berakhir tragis saat rencana pernikahannya hancur karena Satria, sang calon suami, ketahuan selingkuh tepat sebulan sebelum hari H. Di tengah rasa sakit hati dan niatnya untuk menutup diri dari laki-laki, sebuah kekacauan muncul di depan pagarnya.
Bukan Satria yang datang meminta maaf, melainkan Juna (18 tahun), adik kandung Satria yang baru saja pamer foto ijazah SMA. Tidak tanggung-tanggung, bocah ugal-ugalan itu datang membawa rombongan motor sport, spanduk lamaran, hingga surat izin menikah dari ibunya sendiri!
Bagi Cantik, Juna hanyalah "bocil" bau matahari yang tidak tahu diri. Namun bagi Juna, Cantik adalah bidadari yang sudah ia incar sejak ia masih memakai seragam putih-abu.
"Lu itu berlian, Kak! Nggak pantes nangisin kerikil kayak Bang Satria. Daripada jadi mantan kakak, mending jadi istri adek. Gaskeun?!"
Sanggupkah Cantik mempertahankan tembok gengsinya mengahadapi pesona Juna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17. Pembuktian Juna
Malam di meja makan tempo hari hanyalah api kecil, namun pagi ini di depan bengkel Juna, api itu telah berubah menjadi kebakaran besar yang melahap habis sisa-sisa harga diri Satria.
Matahari Jakarta yang mulai terik seolah sengaja menyoroti sebuah spanduk besar yang terbentang gagah di atas pintu masuk bengkel yang dulunya dihina kumuh.
"Official Partnership: Juna Modifikasi x International Custom Expo"
Tulisan itu bukan sekadar pengumuman bisnis; itu adalah tamparan keras bagi siapa pun yang meremehkan tekad seorang pria yang rela kotor demi impiannya.
Di depan bengkel, puluhan wartawan otomotif dan influencer sedang berkerumun, mengabadikan momen di mana sebuah bengkel lokal berhasil menembus pasar internasional tanpa sokongan dana dari dinasti keluarga.
Di seberang jalan, sebuah sedan mewah berhenti mendadak. Satria duduk di balik kemudi, tangannya mencengkeram setir dengan sangat kuat hingga buku jarinya memutih, seolah-olah ia ingin meremukkan benda itu.
Matanya merah, bukan karena kurang tidur, melainkan karena rasa iri yang sudah mencapai ubun-ubun.
Di sampingnya, Sintia terus meracau, mencoba memprovokasi, namun Satria sudah tidak mendengar apa pun. Pikirannya hanya terfokus pada spanduk itu—benda mati yang seolah sedang menertawakan segala hinaan yang ia lemparkan semalam.
"Sandiwara... ini pasti cuma sandiwara," desis Satria. Ia turun dari mobil dengan langkah kasar, membanting pintu hingga membuat beberapa orang menoleh.
Ia berjalan menyeruak masuk ke tengah kerumunan, mengabaikan segala etika, tepat saat Juna sedang tertawa lebar sambil merangkul bahu Cantik di hadapan kilatan lampu flash kamera.
"Sandiwara apa lagi ini, Juna?!" bentak Satria. Suaranya yang menggelegar seketika memotong keceriaan pagi itu.
Para wartawan terdiam. Kamera-kamera yang tadinya fokus pada motor modifikasi spek dewa di sana, kini beralih arah pada sosok pria perlente dengan jas slim-fit yang tampak sangat tidak sinkron dengan suasana bengkel yang maskulin.
Juna menghentikan tawanya perlahan. Ia tidak tampak kaget, apalagi takut. Dengan gerakan yang sangat tenang, ia melepaskan rangkulannya dari bahu Cantik, lalu melangkah maju satu langkah—sebuah gestur perlindungan yang otomatis menempatkan Cantik di belakang punggungnya yang kokoh.
"Sandiwara? Lu liat spanduk itu, Bang. Itu bukan editan Photoshop atau hasil beli followers kayak foto-foto pencapaian palsu lu di Instagram," jawab Juna. Suaranya rendah, namun memiliki ketenangan yang sangat mematikan.
Satria tertawa sumbang, sebuah tawa yang dipaksakan untuk menutupi rasa malunya. Jarinya menunjuk-nunjuk ke arah deretan motor hasil modifikasi Juna yang tampak berkilau meskipun di tempat yang dianggapnya "sampah".
"Palingan lu pake nama Papa buat dapetin kontrak ini, kan? Ngaku lu! Lu nggak mungkin bisa berdiri sendiri. Lu cuma montir dekil yang kebetulan beruntung karena bawa nama besar keluarga!"
Mendengar itu, Cantik tidak bisa lagi tinggal diam. Ia melangkah maju dari balik punggung Juna, menatap Satria dengan tatapan paling dingin yang pernah ia miliki. Wajahnya yang tadi berseri karena bangga, kini mengeras seperti batu karang.
"Satria, cukup!" seru Cantik tegas. "Lu nggak tahu berapa banyak malam Juna nggak tidur di sini. Lu nggak tahu berapa ribu jam dia ngulik mesin sampai tangannya luka-luka. Lu nggak tahu berapa banyak proposal yang dia bikin sendiri, dia revisi sendiri, tanpa bantuan siapa pun, apalagi Papa. Jangan ukur kemampuan orang lain pake standar ketergantungan lu pada fasilitas orang tua."
"Oh, sekarang lu udah jadi juru bicara bocah ini, Cantik?!" Satria mendekat, wajahnya hanya terpaut beberapa senti dari Juna, memancing keributan di depan publik.
"Lu liat tangan dia! Penuh oli, kotor! Lu beneran mau hidup sama laki-laki yang penampilannya kayak sampah begini? Lu wanita karier, Cantik! Lu harusnya sama pria yang selevel, bukan sama montir dekil!"
Juna sama sekali tidak terpancing emosinya. Ia justru tersenyum tipis—sebuah senyum kemenangan yang membuat Satria makin meradang.
Dengan gerakan yang sengaja diperlambat, Juna mengangkat tangannya yang hitam legam karena oli mesin, lalu dengan santai menepuk bahu jas mahal Satria.
Pluk.
Noda hitam yang sangat mencolok tertinggal di atas kain jas mahal itu.
"Jas lu mahal, Bang. Tapi isinya kosong," bisik Juna tepat di telinga Satria, cukup keras untuk didengar oleh para jurnalis yang menahan napas.
"Tangan gue kotor karena gue sedang membangun masa depan dengan keringat gue sendiri. Tangan lu bersih karena lu nggak pernah benar-benar bekerja untuk hidup lu sendiri. Lu tahu kenapa Papa semalam diam saat lu hina gue? Karena Papa sadar, anak bungsunya yang lu panggil 'bocah' ini punya nilai yang nggak bisa dibeli pake koneksi atau uang keluarga."
Tiba-tiba, suara klakson mobil yang sangat berwibawa terdengar dari arah belakang kerumunan. Itu mobil Papa.
Pria tua yang merupakan kepala keluarga Bani Sudirjo itu keluar dari mobil dengan langkah yang tenang namun sarat akan otoritas.
Ia menatap Satria yang sedang meledak emosinya, lalu beralih menatap Juna yang tetap berdiri dengan kepala tegak.
Papa melihat noda oli di jas Satria, lalu matanya beralih menatap spanduk kemitraan internasional milik Juna.
Ada keheningan yang panjang sebelum Papa akhirnya bicara.
"Satria, masuk ke mobil sekarang," perintah Papa. Suaranya tidak keras, namun dinginnya sanggup membekukan suasana.
"Tapi Pa, Juna cuma—"
"Papa bilang MASUK!" bentak Papa, kali ini dengan nada yang tidak bisa dibantah.
"Jangan bikin Papa makin malu dengan kelakuanmu yang seperti anak kecil yang iri karena mainannya direbut. Juna membuktikan omongannya semalam dengan hasil nyata di depan mata dunia. Sedangkan kamu? Kamu membuktikan omonganmu dengan keributan memalukan di depan umum."
Satria membeku. Ia menatap Papa dengan tatapan tidak percaya, lalu beralih menatap Juna dengan kebencian yang mendalam. Terakhir, ia melirik Cantik yang kini menggenggam tangan Juna dengan sangat erat, seolah menegaskan di mana posisinya sekarang.
Dengan sisa-sisa harga diri yang hancur berkeping-keping dan jas yang ternoda oli, Satria berbalik arah dan pergi meninggalkan tempat itu.
Papa mendekati Juna. Ia menatap spanduk kemitraan internasional itu cukup lama, seolah sedang membaca setiap hurufnya dengan saksama.
Pria tua itu kemudian menoleh ke arah anak bungsunya, lalu dengan perlahan menepuk pundak Juna yang masih mengenakan kaos bengkel hitamnya.
"Jaga kontrak ini baik-baik, Juna. Papa jujur... Papa tidak menyangka kamu benar-benar bisa melakukannya sendiri," ujar Papa tulus.
Ada binar kebanggaan yang tak bisa disembunyikan di mata pria tua itu.
Juna tersenyum, sebuah senyum yang menunjukkan kedewasaan melampaui usianya. Ia kemudian menoleh ke arah Cantik yang masih berdiri di sampingnya dengan wajah yang kembali berseri.
"Bukan Juna namanya kalau nggak bikin kejutan, kan Kak?" goda Juna.
Cantik hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum bangga, matanya berkaca-kaca melihat perjuangan pria di sampingnya akhirnya diakui oleh dunia dan keluarganya sendiri.
Hari ini, di depan etalase prestasi yang dibangun dari noda oli dan kerja keras, Cantik menyadari bahwa ia telah membuat keputusan terbaik dalam hidupnya. Masa lalunya yang penuh kepalsuan kini benar-benar telah menjadi debu di bawah roda motor Juna yang siap melesat jauh menuju masa depan yang cerah.