NovelToon NovelToon
Target Transmigrasi: Berhenti Jadi Istri Durhaka Sang CEO Bucin!

Target Transmigrasi: Berhenti Jadi Istri Durhaka Sang CEO Bucin!

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Transmigrasi ke Dalam Novel / CEO / Anak Genius / Fantasi Wanita / Balas Dendam
Popularitas:8.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

​"Jangan pakai namaku untuk karakter mati tragis, Elodie!"
​Peringatan Blair diabaikan. Ia justru terbangun sebagai Charlotte Lauren Blair, istri durhaka dan ibu kejam dalam novel sahabatnya. Di naskah asli, ia akan mati mengenaskan dikhianati selingkuhannya, Andreas.
​Misi Blair hanya satu: Batalkan Kematian!
​Namun, rencananya terhambat oleh suaminya, Ralph Liam Alexander. CEO dingin yang ditakuti dunia itu selalu menatapnya tajam. Tapi tunggu... kenapa Blair bisa mendengar suara hati suaminya yang sangat berisik?
​Liam (Dingin): "Jangan harap kau bisa bercerai dariku!"
Suara Hati Liam (Bucin): [Tolong jangan pergi... Aku mencintaimu sampai mau gila. Satu langkah kau menjauh, aku akan mengurungmu di kamar selamanya!]
​Ternyata, sang "Monster" adalah simp kelas berat yang takut kehilangan dirinya! Bisakah Blair mengubah alur tragis ini, meluluhkan hati putranya yang membencinya, dan bertahan dari obsesi gila sang suami?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Luka yang Tak Terlihat + Visualisasi

Sore itu, mansion Alexander terasa lebih sunyi dari biasanya. Aku duduk di sofa ruang tengah, berkali-kali melirik jam dinding berlapis emas yang berdetak angkuh. Di depanku, sebuah kotak P3K sudah terbuka rapi.

Ayo, Blair. Kau menghadapi nasabah yang marah karena kartu kreditnya terblokir saja bisa, masa menghadapi anak remaja sendiri gemetar? batinku menyemangati diri.

Suara deru mobil di halaman depan membuat jantungku mencelos. Tak lama kemudian, pintu besar itu terbuka. Axelle melangkah masuk dengan bahu merosot, wajahnya tertunduk, dan langkahnya tampak goyah.

"Axelle," panggilku pelan.

Langkah kaki itu terhenti. Axelle mendongak, matanya yang tajam menatapku dengan kilatan benci yang sudah menjadi makanan sehari-harinya. Namun, fokusku tertuju pada sudut bibirnya yang pecah dan noda darah kering di seragam putihnya yang mahal.

"Apalagi, Nyonya? Aku sudah pulang tepat waktu sesuai perintah pelayanmu," suara Axelle terdengar parau dan dingin.

"Kemari sebentar. Duduk di sini," aku menepuk sisi sofa di sampingku.

Axelle tertawa hambar, sebuah tawa yang terdengar terlalu tua untuk remaja seusianya. "Duduk di sana? Supaya Mama bisa lebih mudah menamparku karena aku membuat Lucas menangis lagi hari ini? Tidak perlu repot-repot. Lakukan saja di sini."

Hatiku seperti diremas. Blair yang asli benar-benar iblis.

"Mama tidak akan menamparmu, Axelle. Kemarilah, biarkan Mama mengobati lukamu," ucapku selembut mungkin.

Axelle mematung. Ia menatapku seolah-olah aku adalah alien yang baru saja turun dari piring terbang. Dengan ragu dan langkah yang sangat lambat, ia mendekat, namun tetap menjaga jarak dua meter dariku.

"Apa rencana Mama kali ini? Ingin aku mengaku bersalah pada Andreas agar dia mau datang ke rumah ini lagi?" tanya Axelle sinis.

"Duduk, Axelle Kai Alexander. Aku tidak suka mengulang perintah," sahutku dengan nada sedikit tegas agar dia patuh.

Akhirnya, dia duduk di ujung sofa, tubuhnya kaku seperti batu. Aku menggeser dudukku mendekat, mengambil kapas yang sudah dibasahi alkohol. Saat tanganku terangkat, Axelle refleks memejamkan mata dan menarik napas dalam, seolah bersiap menerima pukulan.

Ya Tuhan, betapa traumanya anak ini padaku, bisikku dalam hati.

"Ini akan sedikit perih. Tahan sebentar, ya," gumamku sambil menempelkan kapas itu ke sudut bibirnya yang pecah.

Axelle tersentak. Matanya terbuka lebar, menatapku dengan jarak yang sangat dekat. Aku bisa melihat bulu matanya yang lentik dan iris matanya yang persis milik Liam.

"Kenapa?" tanya Axelle tiba-tiba. Suaranya bergetar.

"Kenapa apa?"

"Kenapa Mama melakukan ini? Kemarin Mama bilang aku adalah kutukan dalam hidup Mama. Mama bilang melihat wajahku hanya membuat Mama mual. Lalu kenapa sekarang Mama menyentuhku seolah-olah... seolah-olah aku ini berharga?"

Aku menghentikan gerakanku. Aku menatap matanya yang mulai berkaca-kaca meski ia berusaha keras terlihat tangguh.

"Karena Mama baru sadar kalau Mama bodoh, Axelle," jawabku jujur. "Mama terlalu buta melihat siapa yang benar-benar menyayangi Mama. Maafkan Mama... Mama tahu ini sudah terlambat, tapi biarkan Mama mengobati luka ini dulu."

"Mama... minta maaf?" Axelle tertawa kecil, namun air mata akhirnya jatuh di pipinya. "Dunia pasti sudah gila."

Di saat itulah, pintu utama kembali terbuka. Sosok Liam berdiri di sana, masih dengan jas kantornya yang lengkap. Ia terpaku melihatku sedang memegang wajah Axelle dengan kapas di tangan.

[Apa yang kulihat ini nyata? Blair... dia menangis? Dia mengobati Axelle? Ya Tuhan, pemandangan ini jauh lebih indah daripada semua transaksi bisnis yang pernah kumenangkan. Tapi tunggu... kenapa Axelle menangis? Apa Blair menyakitinya lagi?!]

Suara hati Liam meledak di kepalaku. Liam melangkah cepat mendekati kami, wajahnya terlihat sangat mengerikan karena emosi yang bercampur aduk.

"Apa yang kau lakukan pada Axelle, Blair?!" bentak Liam, suaranya menggelegar di ruang tamu.

Aku mendongak, menatap Liam dengan tenang meski jantungku berdebar. "Aku sedang mengobati anakku, Liam. Bisa tidak kau tidak berteriak?"

Liam terhenti. Ia melihat kotak P3K, lalu melihat wajah Axelle yang kini penuh dengan obat merah.

[Dia tidak memukulnya? Dia benar-benar mengobatinya? Oh, jantungku... berhentilah berdegup sekeras ini. Aku ingin ikut duduk di sana. Aku ingin merangkul mereka berdua. Tapi aku tidak bisa... aku takut mereka berdua akan menolakku.]

"Kenapa kau pulang secepat ini?" tanyaku sambil kembali fokus pada luka Axelle.

"Rapatnya... selesai lebih awal," jawab Liam kaku.

[Bohong. Aku membatalkan tiga rapat penting hanya karena aku khawatir kau akan menyiksa Axelle lagi setelah kita bertengkar tadi pagi. Ternyata aku salah... dan aku sangat senang aku salah.]

"Pa," panggil Axelle pelan. Ia menghapus air matanya dengan kasar. "Mama bilang... mulai sekarang aku tidak perlu menjemput Lucas lagi."

Liam menatapku dengan tajam, seolah meminta konfirmasi.

"Benar," sahutku sambil menutup kotak obat. "Dan kalau Lucas atau ayahnya yang parasit itu berani menyentuh Axelle lagi, aku sendiri yang akan mencabik-cabik mereka. Mengerti, Ralph Liam Alexander?"

Liam terdiam seribu bahasa. Secara lahiriah, dia hanya berdiri kaku seperti patung. Tapi di dalam kepalanya...

[DIA SANGAT KEREN! Istriku... dia membela anakku dengan wajah galak itu? Ya Tuhan, aku ingin menciumnya sekarang juga! Bagaimana bisa dia terlihat begitu menawan saat sedang marah? Aku akan memberikan berlian paling besar untuknya besok! Tidak, malam ini juga!]

Aku hampir saja tertawa mendengar suara hatinya yang sangat fanboy itu. Aku berdiri, lalu menepuk bahu Axelle pelan.

"Mandilah, lalu turun untuk makan malam. Mama akan memasak sesuatu yang enak untukmu," ucapku.

Axelle mengangguk pelan, masih dengan wajah bingung, lalu berjalan menuju kamarnya di lantai atas. Kini, hanya tersisa aku dan Liam di ruang tamu yang luas itu.

"Kau..." Liam berdehem, mencoba mengatur suaranya agar tetap terdengar dingin. "Kau benar-benar berubah, Blair. Apa kau jatuh dari tempat tidur dan kepalamu terbentur?"

Aku melangkah mendekati Liam, berhenti tepat di depan dadanya yang bidang. Aku mendongak, menatapnya dengan senyum miring.

"Mungkin saja. Tapi bukankah kau suka Blair yang seperti ini, Tuan CEO?" godaku.

Liam membuang muka, telinganya memerah padam. "Jangan percaya diri. Aku hanya... aku hanya tidak mau ada keributan di rumahku."

[AKU SUKA! AKU SANGAT SUKA! Tolong jangan berubah lagi, Blair. Tetaplah seperti ini. Aku bersumpah akan menjadi budakmu seumur hidup jika kau terus menatapku dengan cara seperti itu...]

Aku tersenyum puas. Ternyata, menjadi istri durhaka yang bertaubat itu cukup menyenangkan, apalagi jika suaminya se-menggemaskan ini di dalam hati.

...****************...

"Visualisasi yang dihadirkan dalam bab ini hanyalah sebuah representasi kecil dari apa yang ada di pikiran Author. Aku sadar bahwa setiap pembaca memiliki standar ketampanan dan kecantikan yang berbeda-beda, jadi mohon dimaafkan jika pilihan visual ini kurang berkenan atau tidak pas di hati kalian.

Anggaplah ini sebagai bonus kecil, namun jangan biarkan ini membatasi daya imajinasi kalian. Kalian tetap bebas menghidupkan karakter-karakter ini dengan wajah siapa pun yang kalian cintai.

Bicara soal visual, menurut kalian siapa publik figur yang paling memiliki 'vibe' atau aura yang mirip dengan [Nama Tokoh]? Apakah ada aktor yang punya tatapan mata sedingin dia, atau mungkin idol yang senyumnya semanis karakter kita ini? Yuk, kasih tahu aku di bawah, aku akan baca semua saran kalian!"

...PENOKOHAN ...

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1. Charlotte Lauren Blair

2. Ralph Liam Alexander

3. Axelle Kai Alexander

4. Andreas Bradly

5. Elodie Lunara

6. Lucas Gasendrico Bradly

1
umie chaby_ba
jadi mau Lo apa heh maxim??? kudu nya si Blair Sama Liam gituan didepan mata Lo?
Ariska Kamisa: oopsss.. 🤭🤭🤭🤭
sabar kak.. maxim lagi menguji kesabaran Blair dan Liam 🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
kan ga jadi cerai iiihh... Maxim ngeselin!
Ariska Kamisa: iyah Maxim ini resek yaa 🤭🤭🤭
total 1 replies
Ariska Kamisa
ceritanya ini tentang transmigrasi gitu yaa...
semoga bisa menghibur semuanya...
umie chaby_ba
waduh... ada LG aja nih musuhnya /Shy/
umie chaby_ba
kasian banget nasib penulis 🤣🤣🤣🤣🤣
umie chaby_ba
good job Axelle👍👍👍👍👍
umie chaby_ba
Elodie pengen banget si Blair mati kayanya 🫣
umie chaby_ba
Axelle lucu nih pembela mama nya banget
umie chaby_ba
ngeselin Liam /Panic/
umie chaby_ba
sweet banget🤭🤭🤭
umie chaby_ba
bagus Blair....
umie chaby_ba
bagus Axelle 👍👍👍
mending kalian berdua pergi biar Liam nyesek/Right Bah!/
umie chaby_ba
Adeline pelakor
umie chaby_ba
dih bimbang sih Liam /Sleep/
umie chaby_ba
penulis emang seenaknya sih 🤣🤣🤣🤣🤣
Ariska Kamisa: aku dong....🤭
total 1 replies
umie chaby_ba
wow ada karakter baru nih
umie chaby_ba
sang penulis dibuat ketar-ketir 🫣
Ariska Kamisa: iyah hehehe
total 1 replies
umie chaby_ba
so sweet😍
umie chaby_ba
penulisnya kewalahan
Ariska Kamisa: terimakasih kak 🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
wwiihh keren
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!