Steven ---seorang Gumiho yang telah tertidur selama 1000 Tahun demi untuk naik tingkat menjadi seorang dewa. Namun di hari terakhirnya, seorang manusia mengacaukan pengorbanan nya.
Setengah kekuatan yang di miliki Steven berpindah pada manusia itu. Membuat dirinya harus tertunda menjadi dewa.
Zoelva Erlangga---- gadis lemah yang selalu di bully oleh ketiga Kakak dan ibu tirinya setiap kali Ayah nya tidak ada. Namun segalanya berubah saat kekuatan asing melindungi nya dan menjadikan nya sangat kuat.
Steven yang menginginkan kekuatan nya kembali. Namun Zoe yang merasa bisa melawan ibu tiri serta ketiga Kakak tirinya dengan kekuatan itu. Justru menolak untuk mengembalikan kekuatan tersebut.
Sementara Rahasia lain telah menantinya.
Bagaimana kisahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ROGUES POINEX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Akan Melepaskan
Suasana kafe yang tenang mendadak terasa panas oleh hawa amarah yang menguar dari meja di pojok ruangan. Di saat Zoe sedang sibuk dengan urusan nya, Tina, Dika, Siska, dan Maudy justru duduk melingkar dengan wajah masam. Di temani oleh beberapa hidangan yang mereka pesan.
"Sialan! Benar-benar tidak habis pikir. Lama-lama Zoe semakin kurang ajar dan melunjak!" gerutu Dika sambil menggebrak meja pelan, urat lehernya menonjol. "Padahal dulu dia nggak lebih dari barang pajangan tak berguna. Kerjanya cuma bisa tunduk, menangis, dan gemetar setiap kali kita bentak. Sekarang? Lihat tingkahnya!"
Siska mengangguk cepat, menyilangkan tangan di dada dengan tatapan tajam. "Tuh anak memang harus dikasih pelajaran keras. Kita harus seret dia kembali ke tempat asalnya—di bawah kaki kita."
"Tapi masalahnya, gimana caranya?" potong Maudy dengan nada cemas yang tak bisa disembunyikan. Ia melirik Dika yang tampak frustrasi. "Zoe itu... dia seperti orang yang setelah hampir mati tiba-tiba punya kekuatan super. Kalian lihat sendiri, kan? Tenaganya kuat banget. Bahkan Kak Dika yang badannya lebih besar saja tidak berkutik, malah tangannya sampai terluka begitu. Dia bukan Zoe yang dulu bisa kita dorong-dorong semau kita."
Tina yang sejak tadi hanya terdiam menatap kosong ke arah mejanya, akhirnya membuka suara dengan nada rendah yang dingin. "Zoe yang sekarang... bukan Zoe yang kita kenal," ucapnya singkat namun penuh penekanan.
Siska mengerutkan kening, bingung. "Maksud Mama apa? Dia ya tetap Zoe, si anak pembawa sial itu, kan?"
"Bukan," bantah Tina tegas. Ia menatap anak-anaknya satu per satu. "Tatapan matanya berbeda. Dulu, Zoe bahkan tidak berani menatap mata kita lebih dari dua detik. Dia selalu menunduk seolah lantai lebih menarik daripada wajah kita. Tapi sekarang? Matanya seperti mata pemangsa. Lebih dari itu, dia tidak lagi bertahan—dia menyerang balik. Dia seolah sedang menyusun rencana balas dendam atas setiap luka yang pernah kita goreskan padanya."
Maudy menelan ludah, imajinasinya mulai liar. "Apa ini seperti cerita di novel-novel yang sering kubaca? Di mana karakter lemah tiba-tiba jadi kuat karena ada jiwa asing yang masuk? Transmigrasi maksudnya? Bagaimana kalau yang di dalam tubuh Zoe itu bukan Zoe asli?"
"Omong kosong! Jangan kebanyakan baca fiksi, Maudy! Mana ada hal mistis seperti itu di dunia nyata," sahut Siska sinis, meski ada sedikit keraguan di wajahnya.
"Tapi perubahan Zoe itu memang terlalu mendadak, Sis," timpal Dika sambil mengusap bekas luka di tangannya. "Apa mungkin karena dia pernah merasakan sensasi hampir mati waktu itu? Jadi dia merasa tidak punya beban lagi, menjadi kebal dan tidak takut pada apa pun?"
Tina memegangi kepalanya yang mulai berdenyut nyeri. Bayangan tatapan dingin Zoe menghantuinya. "Intinya, kalau kita tidak cepat bertindak dan hanya diam meratapi perubahan ini, Zoe bisa-bisa menyingkirkan kita satu per satu dari keluarga Erlangga. Mama tidak sudi kembali ke masa lalu. Mama tidak mau kita hidup miskin dan luntang-lantung lagi hanya karena ulah satu anak ingusan!"
Mendengar kata 'miskin', Dika langsung bereaksi keras. "Mama pikir aku mau hidup melarat lagi? Ya nggak maulah! Aku lebih baik mati daripada harus kehilangan fasilitas keluarga ini."
"Sama! Aku tidak mau kehilangan status sosialku!" sahut Siska dan Maudy bersamaan, wajah mereka memucat membayangkan kenyamanan mereka dirampas.
Tina memajukan tubuhnya ke tengah meja, suaranya nyaris berbisik namun penuh racun. "Kalau begitu, kita harus pikirkan cara paling licin untuk menyingkirkan Zoe. Kita harus buat dia menghilang atau hancur sekalian, sebelum dia yang benar-benar menyingkirkan kita dari sini."
Keempatnya saling pandang, berbagi kilatan rencana jahat yang mulai tersusun di kepala masing-masing, sementara di luar sana, badai seolah siap menerjang kediaman Erlangga.
•
•
"A--apa-apaan ini?" Zoe tersentak, jemarinya mencengkeram tablet di tangan nya. Matanya membelalak tak percaya menatap layar yang menampilkan CV yang baru saja ia buka.
Wajah pria itu—sosok angkuh yang ia temui semalam dan sukses membuat tekanan darahnya naik—kini terpampang nyata sebagai pelamar kerja. Zoe segera mendongakkan kepala, menyapu pandangan ke arah halaman mansion keluarga Erlangga yang membentang luas, di mana barisan pria berbadan tegap sudah bersiap untuk uji ketangkasan.
Di sana, di tengah terik matahari, langkah Zoe seolah terkunci saat netranya bertabrakan dengan sepasang mata perak yang berkilat tajam. Sosok pria itu berdiri dengan dagu terangkat tinggi, menyunggingkan senyum miring yang provokatif, seolah sedang berbisik tanpa suara,'Kita bertemu lagi, Nona Pencuri.'.
Milo mendadak mengerang rendah. Aura dominan yang terpancar dari pria itu membuat Milo menciut dan segera menyembunyikan moncongnya di balik kaki Zoe. "Dia kembali, Nona..." gumam Milo dengan insting hewannya yang waspada.
Zoe memijit pelipisnya yang mendadak berdenyut nyeri, mencoba menata detak jantungnya yang berantakan. "Kalian..." Zoe menggantung kalimatnya, memejamkan mata sejenak untuk mengusir rasa frustrasi yang meluap.
Setelah mengembuskan napas kasar, Zoe kembali memasang wajah dingin dan berwibawa. "Ini adalah divisi keamanan. Aku tidak butuh otot kosong, aku ingin melihat ketangkasan dan seberapa lama kalian bisa bertahan hidup di bawah tekanan."
"Kita akan mengadakan duel. Satu kelompok akan dibagi menjadi lima tim. Tim yang mampu menumbangkan lawan hingga tak tersisa, dialah yang akan memakai seragam keamanan Erlangga," tegas Zoe, suaranya menggema di seluruh halaman.
Matanya kembali melirik Steven yang masih betah melempar senyum penuh rahasia, lalu beralih ke sampingnya—ke arah Papow, siluman kucing yang selalu setia mengekor di belakang tuannya bak bayangan.
Zoe kembali memejamkan mata, merutuki nasibnya, dalam hati ia menggerutu kesal, "Sial, mereka benar-benar tidak akan melepaskanku."
Proses pengundian nomor pun dimulai. Takdir nampaknya sedang ingin bercanda hari ini. Steven dan Papow justru terpilih untuk saling berhadapan dalam satu arena. Papow tampak menelan ludah dengan susah payah saat menyadari siapa lawannya. Ia melirik Steven, dan seketika nyalinya menciut melihat tatapan tajam tuannya yang seolah memberikan peringatan mutlak: Awas kau jika berani melawanku dengan sungguh-sungguh.
Zoe duduk di kursi kebesarannya, menyilangkan kaki dengan anggun meski hatinya bergejolak. Ia menatap lurus ke arena, bersiap menjadi hakim bagi mereka yang pantas menetap dan mereka yang harus segera angkat kaki dari wilayah Erlangga. Duel maut itu pun dimulai.
•
•
•
BERSAMBUNG
tapi semoga stev adalah jodoh Zoe dan nanti anak" mereka mewarisi kekuatan orang tuanya, pasti seru tuh...ayo Thor tambah semangat, buat ceritanya tambah menarik dan seru 💪💪💪💪😘😘😘😘