Trauma sang Letnan akan masa lalunya bersama seorang wanita untuk kesekian kalinya, membuatnya tidak ingin lagi berurusan dengan makhluk berjenis wanita.
Rasa sakit di hatinya membuatnya betah 'melajang', bahkan sampai rekan letting dan juniornya banyak yang memiliki momongan.
Namun, cara Tuhan mempertemukan manusia dengan jodohnya memang sangatlah adil. Ia sangat tidak menyukai gadis ini tapi.............
KONFLIK TINGKAT TINGGI. SKIP bagi yang tidak bisa membaca alur cerita berkonflik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Keras.
Anye mulai sakit kepala dengan banyaknya tahapan yang harus di lalui, belum lagi dirinya tidak bisa banyak menghapal beberapa hal yang di butuhkan dalam proses pengajuan nikah.
"Kenapa sulit sekali??? Kalau Abang masih mau sama Anye, cepat minta pengajuan ini di percepat, kalau tidak.. Kita putus." Ancam Anye.
"Mana bisa main putus untuk menyelesaikan masalah. Semua harus di hadapi dan diselesaikan dengan baik. Memangnya apa masalahmu sampai marah seperti ini??" Tanya Bang Rinto.
"Malas aja, Aanye nggak suka di paksa."
Bang Rinto menghela nafas panjang. Ia kemudian mengajak Anye ke dalam mess nya agar bisa beristirahat sejenak, mungkin gadisnya sudah terlalu lelah dengan banyaknya kegiatan hari ini.
"Tidurlah dulu. Kalau hari ini memang terlewat, kita lanjut pengajuan besok pagi." Kata Bang Rinto.
...
Sampai sore hari, Anye benar-benar tertidur pulas. Bang Rinto menghela nafas panjang melihat pemandangan di hadapannya.
"Ijin, Danton. Rumah dinasnya sudah selesai di cat. Arahan selanjutnya, Danton??" Laporan Prada Tegar.
"Begitu saja dulu, lagipula istri saya masih tidur. Nggak tau istri saya mau isi apa dalam rumah nanti, mau isi perabot atau hewan ternak di dalam rumah." Jawab Bang Rinto.
"Pasrah amat sih." Tegur Danki mendengar keluh kesah juniornya.
"Siap."
Prada Tegar pun pamit dari depan mess perwira.
"Ada masalah apa sampai sebegitu mumetnya." Tanya Bang Rico.
"Nggak ada, Bang."
"Yaaa.. Kalau tentang 'perempuan rewel', di mana-mana sama aja. Kinan juga begitu, nggak usah di masukan pikiran apalagi sampai ke hati." Ujar Bang Rico yang sebenarnya tadi sempat mendengar perdebatan juniornya dan Anyelir. "Sebenarnya Abang hanya mau sedikit kasih saran. Mau kamu pakai, syukur.. Nggak ya nggak apa-apa. Kalau kamu memang ada hati, ada rasa... sayang, cinta yang mulai timbul di dasar hati, sebaiknya kamu terus terang sama Anye. Jangan sampai perasaan seorang perempuan merasa di permainkan dan menyangka kamu tidak serius padahal kamu sungguh jatuh hati."
"Saya mau bilang bagaimana juga, Bang. Masa dia tidak bisa menebak dari sikap saya?" Jawab Bang Rinto.
"Tidak kau, tidak Ronald, semua sama saja. Abang kira Ronald yang paling parah, ternyata kau memang dua kali lipat sulit untuk di selamatkan."
Bang Rinto tersenyum tipis mendengarnya, 'Abangnya' yang satu ini memang selalu perhatian pada juniornya.
"Tidak sama lah, Bang. Masa Ronald yang kaku di samakan dengan saya??" Protes Bang Rinto dengan wajah tanpa dosa.
Terang saja Bang Rico langsung menepak lengan pria yang belakangan ini menjadi pusat beban pikirannya.
"Tak sadar diri kau, ya. Kau......... Aahh sudahlah, jantungan Abang bicara sama mu." Bang Rico mengibaskan tangan dan pergi meninggalkan Dantonnya.
Tak lama Bang Ronald melewati mess perwira hendak keluar dari kesatrian. Ia memberi hormat pada Danki.
"Selamat sore, Abang."
"Sore.."
"Mau kemana, Bang?" Tanya Bang Ronald.
"Cari p*r***x, mumet saya mikir Danton satu." Jawab Bang Rico.
"Siap." Bang Ronald terus menatap punggung senior hingga berlalu dan tak terlihat lagi. Setelah itu Bang Ronald menghampiri sahabatnya. "Ada apa Rin?"
"Tak tau lah, begini begitu tetap salah. Mana pengajuan nikah nggak selesai juga, Anye ngambek minta pulang, saban hari ngeluh capek, minta putus. Mau pecah pala ku." Gerutu Bang Rinto.
"Kau yang kurang sabar. Sampai kapanpun yang namanya perempuan akan selalu begitu.............."
"Masalahnya Anye pun terlalu 'kecil', kau juga tidak paham awal akar masalahnya." Kata Bang Rinto memutus ucapan sahabatnya.
"Kecil atau tidak, tergantung kamu saja. Dapat usia tua pun tidak menjamin hidupmu tidak bermasalah. Malah saya lihat kamu yang terlalu hati-hati sampai tidak sadar dengan perasaanmu sendiri. Kamu sayang tapi di pendam, cemburu tapi tidak mau mengakui.. Jatuhnya sakit sendiri, Rin. Asal kau tau ya, sebelum hal ini terjadi sama kamu, saya sudah mengalaminya lebih dulu. Hampir kehilangan Nada buat saya gila. Sekuat-kuatnya buang masa lalumu, Anye bukan mantanmu. Jangan sampai kau menyesal karena terjebak rasa sakit hatimu yang dulu." Ujar Bang Ronald memberi saran pada sahabatnya.
"Bagaimana maksud ngana??? Kalah sama Anye. Kalau saya jadi suami Anye, jelas Anye harus nurut apa kata saya. Masa saya lembek di hadapan perempuan????" Sambar Bang Rinto.
"Astagaa.. Terserah kau saja lah. Tapi.. Kalau suatu saat nanti Anye pergi darimu, jangan menyalahkanku karena tidak mengingatkanmu..!!" Setelah itu Bang Ronald pergi menjauh, tinggalah Bang Rinto sendiri berdiri sambil berkacak pinggang.
Agaknya Bang Rinto masih teguh pendirian seolah tak peduli ucapan sahabatnya.
'Jangan sampai aku terlihat lemah, nggak ada itu kalah.'
.
.
.
.
memang rumit, percayakan kisah sesuai alur yang diinginkan othornya
semangat Thor.....sukses selalu