Sepuluh tahun Aluna (20) hidup dalam "sangkar emas" milik Bramantyo (35), wali tunggal sekaligus sahabat mendiang ayahnya. Bagi Aluna, Bram adalah pelindung yang ia panggil "Daddy". Namun bagi Bram, Aluna adalah obsesi yang ia rawat hingga matang.
Saat Aluna mulai menuntut kebebasan, kasih sayang Bram berubah menjadi dominasi yang gelap. Tatapan melindunginya berganti menjadi kilat posesif yang membakar. Di antara rasa hormat dan hasrat terlarang, Aluna harus memilih: tetap menjadi putri kecil yang penurut dalam kuasa Bram, atau melarikan diri dari jerat pria yang takkan pernah melepaskannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Penyerahan sang malaikat
Dapur itu terasa seperti berada di dalam ruang hampa udara. Suara isakan Aluna yang tersengal-sengal beradu dengan desisan napas Bram yang memburu. Ujung pisau buah itu masih menekan kulit pergelangan tangan Aluna, menciptakan garis putih yang siap berubah menjadi merah jika Aluna menekannya sedikit saja.
"Jangan mendekat, Daddy! Aku bilang jangan mendekat!" teriak Aluna dengan mata yang berkilat penuh keputusasaan.
Bram berhenti tepat dua langkah di depan Aluna. Wajahnya yang biasanya tidak terbaca kini menunjukkan ketakutan yang murni—ketakutan kehilangan satu-satunya cahaya dalam hidupnya yang gelap. Ia tidak lagi peduli pada otoritasnya, tidak peduli pada anting Clara, atau pada ego besarnya.
"Aluna... turunkan pisaunya," suara Bram terdengar sangat rendah, bergetar oleh emosi yang dalam. "Kau ingin aku melepaskan gelang itu? Aku akan melepaskannya. Aku akan melakukan apa pun, asal kau tidak menyakiti dirimu sendiri."
"Kau membohongiku! Kau mencintai wanita itu!"
"TIDAK!" Bram berteriak, suaranya menggelegar memenuhi dapur. Ia maju satu langkah dengan berani, mengabaikan risiko pisau itu akan melukai Aluna. Ia meraih pergelangan tangan Aluna yang memegang pisau dengan kecepatan kilat, mencengkeramnya kuat namun penuh kehati-hatian hingga pisau itu terjatuh ke lantai marmer dengan dentingan yang nyaring.
Aluna meronta, memukul dada Bram dengan tinju kecilnya. "Lepaskan! Aku membencimu! Lepaskan aku!"
Bram tidak melepaskannya. Ia justru menarik Aluna ke dalam pelukan yang sangat erat, seolah ingin menyatukan tubuh gadis itu ke dalam tubuhnya sendiri. Ia membenamkan wajahnya di ceruk leher Aluna, menghirup aroma vanila yang selalu membuatnya gila.
"Dengarkan aku, Aluna!" desis Bram tepat di telinga Aluna. "Aku tidak pernah mencintai Clara. Aku tidak pernah mencintai wanita mana pun selain kau. Selama bertahun-tahun aku menyembunyikannya di balik kata 'Daddy', tapi aku tidak tahan lagi."
Aluna terhenti, tubuhnya masih bergetar hebat di pelukan Bram. "Apa maksudmu...?"
Bram menjauhkan wajahnya sedikit agar ia bisa menatap langsung ke dalam mata Aluna yang basah. Ibu jarinya mengusap bibir Aluna yang gemetar.
"Aku bukan mencintaimu sebagai seorang ayah yang mencintai anaknya. Aku mencintaimu sebagai seorang pria yang menginginkan wanitanya," aku Bram dengan suara serak yang penuh gairah. "Setiap kali kau memanggilku Daddy, hatiku hancur sekaligus terbakar. Aku ingin memilikimu sejak hari pertama kau menginjakkan kaki di rumah ini, tapi aku menahan diri demi melindungimu dari diriku sendiri."
Aluna terpaku, dunianya seolah berhenti berputar. Tatapan Bram saat ini bukan lagi tatapan yang melindungi, melainkan tatapan lapar yang sangat maskulin. Bram tidak menunggu jawaban. Ia menangkup wajah Aluna dan mendaratkan ciuman yang lembut di bibir gadis itu.
Awalnya, ciuman itu terasa seperti permohonan maaf. Lembut, penuh kerinduan, dan hati-hati. Namun, saat Aluna perlahan-lahan mulai membalas dan melingkarkan tangannya di leher Bram, kendali pria itu runtuh seketika. Ciuman itu berubah menjadi agresif dan menuntut.
Bram melumat bibir Aluna dengan lapar, lidahnya mengeksplorasi setiap inci mulut Aluna seolah sedang meneguk mata air di padang pasir. Aluna mengerang rendah, kakinya terasa lemas saat Bram mengangkat tubuhnya dan mendudukkannya di atas meja island dapur yang dingin.
Tangan Bram yang besar mulai bergerilya ke seluruh lekuk tubuh Aluna yang hanya terbalut gaun tidur sutra tipis. Ia meremas pinggang Aluna, naik ke arah tulang rusuk, dan memberikan kecupan-kecupan panas di sepanjang rahang dan leher Aluna.
"Kau milikku, Aluna... katakan kau milikku," bisik Bram dengan nada yang sangat dalam, mengungkapkan kerinduan yang selama ini ia pendam rapat-rapat.
"Aku milikmu," jawab Aluna pelan, suaranya bergetar bukan lagi karena takut, melainkan karena pengakuan jujur yang akhirnya keluar dari bibirnya. Segala keraguan dan kemarahan yang ia rasakan sebelumnya seolah memudar, digantikan oleh keheningan yang intens di antara mereka berdua.
Ia mengangkat tubuh Aluna dengan satu gerakan mantap, membawa gadis itu meninggalkan dapur menuju kamar utama—wilayah pribadi yang kini akan menjadi saksi bisu bersatunya dua jiwa yang selama ini terbelenggu status.
Pintu kamar tertutup dengan tendangan kaki Bram, mengunci dunia luar di balik kayu jati tebal itu. Di bawah temaram lampu tidur yang berwarna keemasan, Bram merebahkan Aluna di atas sprei sutra yang dingin. Kontras antara kulit Aluna yang putih pucat dan sprei gelap itu membuat gairah Bram semakin memuncak.
Bram menindih tubuh Aluna dengan hati-hati, membiarkan berat tubuhnya dirasakan oleh gadis itu. Ia tidak lagi terburu-buru. Dengan jari-jarinya yang gemetar, ia menelusuri garis leher Aluna, memberikan kecupan-kecupan panas di sana yang membuat Aluna mendongak dan mencengkeram bahu kokoh Bram.
"Kau yakin, Aluna? Sekali aku menyentuhmu malam ini, tidak akan ada jalan kembali," bisik Bram di depan bibir Aluna.
Aluna menatap mata elang itu, mencari keraguan, namun yang ia temukan hanyalah pemujaan yang luar biasa. "Jadikan aku milikmu, Bram... seutuhnya," jawab Aluna lirih, untuk pertama kalinya memanggil namanya tanpa embel-embel 'Daddy'.
Malam itu, di dalam kamar yang kedap suara, semua batasan moral dan status wali-anak yang selama ini mereka jaga, lebur dalam panasnya gairah.
Bram menjelajahi setiap inci kulit Aluna dengan bibir dan tangannya, memberikan tanda-tanda kepemilikan yang tak kasat mata namun permanen.
Gerakan mereka menjadi simfoni yang sinkron—antara desahan napas yang memburu, sentuhan kulit yang saling membakar, dan bisikan-bisikan pemujaan yang hanya dimengerti oleh mereka berdua.
Aluna menyerahkan segalanya; ketakutannya, keraguannya, dan kesucian yang selama ini ia jaga, kepada pria yang kini ia sadari adalah pemilik jiwanya.
Di bawah selimut tebal itu, dua raga yang selama ini terkunci dalam peran yang salah, akhirnya menemukan ritme yang sebenarnya.
Penyatuan itu terasa menyakitkan sekaligus melegakan, sebuah pengorbanan di atas altar cinta yang obsesif. Malam yang panjang itu menjadi saksi bagaimana seorang malaikat kecil menyerahkan sayapnya untuk tinggal di dalam kegelapan sang pemujanya.
Fajar mulai menyingsing saat Aluna tertidur lelap di pelukan Bram, wajahnya tampak damai dengan jejak merah samar di leher dan bahunya.
Bram menatapnya dengan tatapan pemenang. Gelang emas putih itu masih melingkar di tangan Aluna, namun kini ia tidak lagi membutuhkannya untuk mengikat gadis itu. Aluna sudah terikat oleh sesuatu yang jauh lebih kuat: ikatan batin dan fisik yang tak terhapuskan.
Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Saat Bram baru saja hendak memejamkan mata, suara langkah kaki yang sangat ia kenal terdengar dari koridor bawah, diikuti oleh suara tawa riang seorang wanita yang sangat ia hormati.
"Bram? Aluna? Kami pulanng!"
Bram tersentak. Itu suara Ibu Widya. Orang tuanya pulang lebih cepat dari jadwal.