Gatotkaca dikenal sebagai ksatria otot kawat tulang besi, sang penjaga langit Pringgandani yang tak kenal ampun di medan laga. Tidak ada panah yang mampu menggores kulitnya, dan tidak ada musuh yang tak gemetar mendengar raungannya. Ia diciptakan murni untuk perang dan pengorbanan.
Namun, segala keperkasaan itu luluh lantak seketika di batas Hutan Wanamarta, saat ia menatap sepasang mata teduh milik Dewi Pregiwa.
Di tengah bayang-bayang kelam intrik Astina dan ancaman perang besar Baratayuda yang semakin memanas, cinta yang canggung namun tulus tumbuh di antara mereka. Gatotkaca sang manusia baja harus belajar merengkuh kelembutan, sementara Pregiwa harus menghadapi kenyataan pahit: pria yang mencintainya telah ditakdirkan oleh para dewa menjadi perisai hidup bagi Pandawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syakhira ahyarul husna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10
Hari keempat semenjak roda-roda raksasa kereta kencana itu berputar meninggalkan gerbang Amarta, pemandangan indah dari padang rumput hijau dan desa-desa yang makmur telah sepenuhnya tertinggal di belakang. Dunia kini berubah wujud menjadi hamparan tanah tandus yang retak-retak, diselimuti pasir kasar dan bebatuan cadas yang tajam. Iring-iringan agung itu telah memasuki wilayah perbatasan yang disebut sebagai Lorong Sungsang—sebuah celah sempit memanjang yang diapit oleh tebing-tebing batu hitam, gerbang alami sebelum mereka benar-benar menapaki ganasnya Lembah Kematian.
Matahari bersinar dengan kejamnya, memanggang daratan tanpa ampun. Udara bergetar oleh panas yang menguap dari permukaan tanah, membuat pandangan menjadi kabur layaknya fatamorgana. Seribu prajurit elit Amarta yang berjalan mengawal kereta mulai merasakan siksaan fisik yang nyata. Keringat membanjiri bagian dalam zirah mereka, langkah kaki yang tadinya tegap kini mulai diseret dengan susah payah menembus badai debu tipis. Kuda-kuda putih penarik kereta kencana mendengus kelelahan, sesekali meronta meminta waktu untuk meneguk air.
Namun, di atas langit yang tak berawan itu, ada satu sosok yang sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kelelahan. Atau lebih tepatnya, menolak untuk tunduk pada kelelahan itu.
Gatotkaca melayang di udara, membelah angin panas yang berhembus dari arah selatan.
Sudah empat hari empat malam sang Senopati Pringgandani tidak menginjakkan kakinya di atas tanah. Ia menolak turun, bahkan ketika iring-iringan itu berhenti untuk mendirikan tenda dan beristirahat di malam hari. Ia membiarkan dirinya melayang di atas perkemahan, menjadi malaikat maut bermata elang yang terus mengawasi setiap jengkal pergerakan bayangan di sekitar paviliun Dewi Pregiwa. Ia tidak makan. Ia tidak minum. Ia hanya mengandalkan aliran prana di dalam tubuh separuh raksasanya untuk terus bertahan hidup.
Bagi para prajurit Amarta, ketahanan fisik sang panglima adalah sebuah keajaiban yang mengerikan. Mereka memandang ke langit dengan rasa kagum yang bercampur ngeri, melihat siluet hitam berzirah emas itu seolah tak terpengaruh oleh panasnya matahari yang sanggup mendidihkan air, maupun dinginnya angin malam yang membekukan tulang.
Tetapi, apa yang tidak diketahui oleh seribu prajurit itu adalah sebuah rahasia kecil yang menyayat hati, sebuah rahasia yang hanya disadari oleh satu orang di dalam iring-iringan tersebut.
Di dalam kereta kencana yang terguncang hebat setiap kali rodanya melindas bebatuan, Dewi Pregiwa duduk bersandar dengan wajah yang semakin pucat. Dua orang emban yang menemaninya di dalam kabin terus-menerus mengipasi wajah sang putri dengan kipas bulu merak, sementara keringat sebesar biji jagung menetes dari pelipis mereka sendiri. Kabin kayu jati berlapis emas itu, meski mewah, berubah menjadi oven pemanggang di bawah terik matahari Lorong Sungsang.
"Gusti Putri, hamba mohon... minumlah seteguk air mawar ini," bujuk salah seorang emban dengan suara bergetar karena khawatir. Ia menyodorkan sebuah cawan perak. "Gusti Putri belum menelan makanan apa pun sejak kemarin petang. Bibir Gusti Putri sudah pecah-pecah. Jika Gusti Putri jatuh sakit sebelum tiba di Swantipura, hamba sekalian pasti akan dihukum pancung oleh Gusti Prabu Arjuna."
Pregiwa membuka matanya perlahan. Pandangannya kosong, menembus kemewahan kabin keretanya. Dengan gerakan pelan yang nyaris tak bertenaga, ia menolak cawan perak itu dengan ujung jarinya.
"Aku tidak haus, Bi," jawab Pregiwa lemah, suaranya parau karena debu dan isak tangis yang tertahan setiap malam. "Biarkan saja. Tubuh ini memang sedang dihantarkan untuk menjadi persembahan. Bukankah wajar jika seekor persembahan kehilangan selera makannya sebelum disembelih?"
Kedua emban itu saling berpandangan dengan raut wajah ketakutan, namun mereka tidak berani mendebat ucapan sang putri yang terdengar begitu putus asa.
Pregiwa menggeser tubuhnya sedikit ke arah jendela kereta. Ia menyibak tirai sutra penutup jendela itu hanya sebatas dua jari, memicingkan mata melawan silau matahari yang menyengat, dan menatap ke arah langit.
Matanya langsung menemukan siluet Gatotkaca.
Sang ksatria berada jauh di atas sana, terbang tepat di atas keretanya dengan kecepatan yang diselaraskan secara sempurna dengan laju kuda-kuda di bawah. Namun, saat Pregiwa memperhatikan posisi terbang pria itu lebih saksama, air matanya kembali merebak, memanaskan pelupuk matanya yang kering.
Posisi terbang Gatotkaca tidaklah wajar untuk sebuah pengintaian militer. Sang senopati tidak terbang terlalu tinggi untuk melihat cakrawala yang luas, tidak juga terbang di depan barisan untuk membelah jalan. Ia terbang tepat di lintasan jatuhnya sinar matahari menuju kereta kencana.
Dengan tubuh besarnya yang membentang, jubah beludru merahnya yang dikembangkan kelepak demi kelepak oleh tenaga prana, dan sayap bajanya yang direntangkan secara maksimal, Gatotkaca memosisikan dirinya sebagai sebuah payung hidup raksasa. Ia sengaja menahan seluruh sengatan matahari gurun yang paling kejam itu pada zirah punggungnya sendiri, menciptakan sebuah bayangan gelap yang jatuh tepat menutupi atap kereta kencana Pregiwa, melindunginya dari panas yang mematikan.
Ia menjadi awan pelindung bagi sang putri, terbakar sendirian di angkasa agar wanita yang dicintainya tidak merasakan teriknya dunia.
Melihat pengorbanan yang begitu sunyi dan tanpa pamrih itu, dada Pregiwa bergemuruh hebat. Tangannya meremas tirai sutra hingga kusut. Betapa kejamnya takdir. Pria yang rela terbakar matahari demi meredakan panas di atas atap keretanya ini, adalah pria yang sama yang telah ia paksa untuk bersumpah menyerahkannya kepada pria lain. Kasih sayang Gatotkaca bukanlah puisi-puisi picisan yang sering diucapkan para pangeran keraton. Kasih sayangnya adalah keringat, darah, dan besi yang meleleh di bawah terik matahari.
"Berhentilah menyiksa dirimu sendiri, Kanda..." bisik Pregiwa terisak, menyandarkan keningnya pada kusen jendela kayu kereta. Air mata yang hangat jatuh menetes membasahi bingkai jendela berukir itu. "Jika Kanda terus melakukannya... hamba tidak akan pernah sanggup melupakan Kanda. Bahkan jika hamba harus hidup seribu tahun di Swantipura, bayangan Kanda akan terus menghantui setiap hela napas hamba."
Di angkasa, Gatotkaca memang tidak bisa mendengar bisikan itu, namun kepekaan batinnya seolah terhubung oleh benang merah tak kasat mata. Setiap kali Pregiwa menangis di dalam keretanya, dada Gatotkaca terasa seperti tertikam ribuan jarum beracun.
Pelat zirah di punggung Gatotkaca kini terasa sepanas bara api. Jika manusia biasa menyentuh logam zirahnya saat ini, daging mereka pasti akan melepuh seketika. Tubuh separuh raksasanya memang kebal terhadap rasa sakit yang mematikan, namun panas yang ekstrem itu tetap menguras cadangan tenaganya dengan sangat cepat. Mulutnya kering kerontang. Kepalanya mulai berdenyut nyeri. Tetapi, matanya tetap menyala merah, dipenuhi oleh tekad baja yang tak bisa dipatahkan oleh hukum alam sekalipun.
*Biarkan punggungku melepuh,* batin Gatotkaca, rahangnya terkatup rapat menahan ngilu. *Biarkan matahari ini membakar habis semua otot di tubuhku. Asalkan satu tetes saja keringatnya tidak jatuh, asalkan ia bisa bernapas dengan lega di dalam sangkar itu, aku akan menahan matahari ini hingga runtuh ke bumi.*
Begitulah mereka menghabiskan sisa siang itu. Berjalan di atas penderitaan tanpa kata, terikat oleh cinta yang harus dibayar dengan rasa sakit yang tak terperi.
Menjelang senja, saat langit mulai berubah warna menjadi jingga kemerahan yang menyerupai lautan darah, iring-iringan itu akhirnya tiba di mulut Lembah Kematian. Tempat ini dinamakan demikian karena formasi bebatuannya yang menyerupai tumpukan tengkorak raksasa, serta suhunya yang bisa membekukan air di malam hari. Di depan mereka terbentang sebuah jurang batu yang curam, dengan jalan setapak selebar dua kereta yang melingkari tebing.
Atas perintah perwira lapangan, pasukan berhenti untuk mendirikan perkemahan malam. Mereka tidak berani melintasi jalur tebing di saat matahari telah terbenam, karena risiko kereta tergelincir atau penyergapan dari balik bebatuan terlalu besar.
Tenda-tenda mulai didirikan dengan cepat. Paviliun khusus berlapis kain sutra tebal didirikan di bagian paling tengah perkemahan, dikelilingi oleh seratus prajurit bertombak panjang yang berjaga dalam formasi melingkar. Paviliun itu adalah tempat istirahat Dewi Pregiwa.
Gatotkaca akhirnya menurunkan ketinggiannya. Setelah matahari benar-benar terbenam, ia mendarat di atas sebuah pilar batu karang yang menjulang tinggi, persis di sebelah formasi tenda. Saat ujung sepatu bajanya menghantam batu karang itu, batu tersebut retak, tak mampu menahan bobot sang ksatria yang jatuh dengan lutut bergetar hebat.
Asap putih mengepul dari seluruh permukaan zirahnya yang masih menyimpan panas matahari gurun. Gatotkaca terbatuk pelan, memuntahkan sedikit cairan kental bercampur darah ke atas batu, sebuah tanda bahwa bahkan batas kekuatan Pringgandani pun memiliki titik nadirnya. Namun, ia buru-buru menyeka sudut bibirnya dengan punggung tangan, lalu kembali berdiri tegak. Ia tidak melepas helmnya. Ia hanya berdiri mematung di atas pilar batu itu, menghadap ke arah paviliun Pregiwa, mengawasi setiap pergerakan sekecil apa pun di bawah sana.
Malam bergulir dengan cepat. Angin gunung mulai menderu liar, membawa hawa beku yang menembus celah-celah zirah para prajurit. Api-api unggun dinyalakan di seluruh penjuru perkemahan, menciptakan lautan titik-titik cahaya yang terlihat rapuh di tengah kegelapan Lembah Kematian.
Di dalam paviliunnya, Pregiwa tidak bisa memejamkan mata.
Meski ia telah dibalut dengan tiga lapis selimut tebal berbahan bulu domba, rasa dingin tetap menusuk tulang. Namun bukan dinginnya udara yang mencegahnya tidur, melainkan bayangan Gatotkaca yang terbatuk darah sesaat setelah mendarat tadi sore. Dari celah jendela keretanya, Pregiwa sempat melihat momen kelemahan raksasa itu. Momen yang menghancurkan hatinya hingga tak bersisa.
Pregiwa membuang selimutnya. Ia bangkit berdiri, mengabaikan emban-embannya yang sudah terlelap kelelahan di sudut tenda. Ia mengenakan selendang tebal yang menutupi kepala dan separuh wajahnya, menyembunyikan mahkota kecilnya. Dengan langkah tanpa suara, sang putri menyibak pintu tenda dan melangkah keluar ke udara malam yang membeku.
Para prajurit penjaga yang berdiri dalam formasi lingkaran seketika menundukkan tombak mereka dan menunduk hormat melihat sang putri keluar.
"Gusti Putri," sapa komandan jaga dengan cemas. "Udara malam ini sangat mematikan. Apakah Gusti Putri membutuhkan sesuatu agar hamba bisa mengambilkannya ke dalam tenda?"
"Aku... aku hanya ingin mencari udara," jawab Pregiwa berbohong, suaranya bergetar menahan dingin. Ia mendongakkan kepalanya, menatap ke arah pilar batu karang yang menjulang di dekatnya. Di atas sana, disinari oleh cahaya bulan separuh, Gatotkaca berdiri mematung layaknya dewa kematian yang sedang mengheningkan cipta.
"Panggilkan Senopati Gatotkaca turun ke mari," titah Pregiwa kepada komandan jaga, dengan nada kebangsawanan yang tak bisa dibantah. "Ada sesuatu yang harus kusampaikan kepadanya mengenai penjagaan malam ini."
Komandan itu mengangguk patuh, namun sebelum ia sempat meneriakkan perintah, sebuah bayangan hitam telah melesat turun dari atas pilar batu.
*BUM.* Gatotkaca mendarat tanpa cela tepat di luar batas lingkaran prajurit, hanya beberapa langkah dari tempat Pregiwa berdiri. Udara di sekitarnya masih memancarkan hawa panas yang samar-samar. Ia tidak menunggu dipanggil. Pendengarannya yang tajam telah menangkap suara langkah kaki Pregiwa sejak wanita itu masih berada di dalam tenda.
Sang senopati langsung menjatuhkan dirinya, berlutut dengan satu kaki, dan menundukkan kepalanya dalam-dalam di atas tanah berdebu.
"Hamba memenuhi panggilan Gusti Putri," suara berat Gatotkaca memecah deru angin malam.
Pregiwa memberi isyarat dengan tangannya agar para prajurit jaga mundur sepuluh langkah ke belakang, memberikan mereka sedikit ruang privasi meski masih di bawah pengawasan. Para prajurit patuh, membentuk radius yang lebih lebar, meninggalkan sang putri dan sang panglima di dalam lingkaran cahaya api unggun terdekat.
Kini, mereka hanya berdua. Berdiri berhadapan di atas tanah tandus Lembah Kematian.
Pregiwa melangkah maju. Ia bisa melihat leher Gatotkaca yang tidak tertutup zirah tampak memerah, terbakar hebat oleh matahari gurun yang sengaja ia tahan siang tadi demi melindungi keretanya. Mata sang putri kembali berkaca-kaca melihat bukti penyiksaan diri tersebut.
"Berdirilah, Kanda," bisik Pregiwa dengan suara yang sangat pelan, memastikan para prajurit tidak mendengar panggilan intim tersebut.
Gatotkaca menggeleng kaku. "Hamba adalah pengawal Gusti Putri. Tempat hamba adalah di bawah kaki Gusti Putri. Apakah ada yang bisa hamba lakukan untuk kenyamanan istirahat malam Gusti Putri?" balas Gatotkaca dengan formalitas yang begitu dingin, begitu berjarak, seolah ia sedang membangun tembok baja berlapis-lapis di antara mereka berdua.
Jawaban itu menyayat hati Pregiwa. Gatotkaca menolak untuk melihatnya sebagai wanita yang mencintainya. Pria itu memaksa dirinya sendiri untuk hanya melihat Pregiwa sebagai "tugas" dan "Gusti Putri", karena itu adalah satu-satunya cara agar pria itu tidak menjadi gila.
"Mengapa Kanda melakukan ini?" tanya Pregiwa, air mata akhirnya menetes dari sudut matanya, jatuh membasahi cadar selendangnya. "Mengapa Kanda menyiksa diri Kanda sendiri di atas sana? Mengapa Kanda tidak beristirahat? Kanda bisa tewas jika Kanda terus menolak turun dari langit dan menahan matahari sendirian!"
Tubuh raksasa Gatotkaca menegang. Tangannya yang menumpu di atas tanah mengepal kuat hingga buku-buku jarinya menembus debu. Ia tetap menundukkan kepalanya, tidak berani mengangkat wajahnya barang satu inci pun.
"Hamba telah bersumpah di hadapan Ayahanda Gusti Putri," jawab Gatotkaca dengan suara yang bergetar tertahan, berjuang mati-matian menyembunyikan emosinya. "Hamba adalah perisai. Sebuah perisai tidak membutuhkan istirahat. Sebuah perisai tidak merasakan panas. Sebuah perisai diciptakan hanya untuk hancur, agar orang yang bernaung di baliknya tetap utuh. Jika punggung hamba harus meleleh untuk memastikan setetes saja keringat Gusti Putri tidak jatuh... maka biarlah hamba meleleh di atas langit itu."
Pregiwa jatuh terduduk, berlutut tepat di hadapan pria raksasa itu. Ia tidak memedulikan kain sutranya yang kotor oleh debu Lembah Kematian. Ia tidak memedulikan tatapan kaget para prajurit dari kejauhan.
Dengan tangan yang gemetar hebat, Pregiwa mengulurkan tangannya, menyentuh pelat dada emas Gatotkaca yang masih terasa hangat.
"Kanda bukan perisai bagiku," isak Pregiwa, suaranya pecah, hancur oleh beban rindu dan duka yang tak tertahankan. Ia menyandarkan keningnya di atas tangannya sendiri yang berada di dada Gatotkaca. "Kanda adalah pria yang kucintai. Pria yang memegang hatiku. Jangan siksa aku seperti ini, Kanda... Melihatmu menghancurkan dirimu sendiri demi mengantarkanku kepada kematian batinku... itu jauh lebih menyakitkan daripada terpotong seribu pedang Astina."
Di bawah langit malam yang pekat itu, mendengar pengakuan cinta yang diucapkan secara langsung, bercampur dengan isak tangis keputusasaan, dinding pertahanan terakhir Gatotkaca akhirnya meledak.
Ia perlahan mengangkat wajahnya, menarik visor helmnya ke atas. Mata elangnya yang memerah kini dipenuhi oleh genangan air mata. Gatotkaca mengangkat tangannya yang besar dan kasar, ragu-ragu di udara sesaat, sebelum akhirnya memberanikan diri menyentuh sisi wajah Pregiwa yang tertutup selendang. Sentuhan itu begitu lembut, begitu memuja, seolah ia sedang menyentuh pecahan dewa-dewi yang jatuh dari surga.
"Tuan Putriku... separuh jiwaku..." bisik Gatotkaca dengan suara yang hancur, air matanya menetes membasahi tanah berdebu. "Lalu apa yang harus kulakukan? Jika aku membawamu lari, aku akan menodai kehormatanmu dan menghancurkan negeriku. Jika aku membiarkanmu kepanasan di dalam kereta itu, hatiku yang akan hancur lebur. Aku tidak memiliki pilihan lain... selain mencintaimu dalam penderitaan yang diam ini, dan memastikan kau tetap menjadi ratu yang bersinar, meski itu membakar diriku sendiri hingga menjadi abu."
Malam itu, di tepi Lembah Kematian, angin terus melolong liar. Namun bagi kedua anak manusia yang saling menyentuh di atas debu keputusasaan itu, dunia telah berhenti. Mereka berbagi tangis dalam keheningan yang paling memilukan, meratapi cinta yang tumbuh di tempat yang salah, di waktu yang salah, di atas papan catur para dewa yang haus akan pengorbanan berdarah.