NovelToon NovelToon
Pernikahan Tak Terduga

Pernikahan Tak Terduga

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cinta setelah menikah / Pernikahan Kilat
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: RaeathaZ

Yussallia Tsaverra Callisto selalu memimpikan kehidupan pernikahan yang indah di masa depan. Yussallia masih berharap bahwa kehidupan pernikahannya bersama Rionegro akan berjalan semulus yang ia harapkan, meskipun pernikahan mereka didasari oleh sebuah kesalahan satu malam yang mereka lakukan pada di masa lalu.

Rionegro Raymond Kalendra tidak pernah menyangka bahwa menolong seorang gadis yang terjebak dalam badai hujan akan berujung pada pernikahan yang tidak pernah ia inginkan. Rionegro tahu ia tak bisa menghindar dari kewajibannya untuk menikahi Yussallia, gadis yang pernah ia bantu, meskipun mereka memiliki seorang anak bersama akibat kesalahan satu malam yang mereka buat di masa lalu.

Dan dengan segala harapan dan keraguan yang menggantung di atas pernikahan mereka, apakah Yussallia mampu mewujudkan mimpinya tentang pernikahan yang bahagia? Atau akankah pernikahan itu berakhir dengan kegagalan, seperti yang ditakuti Rionegro?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RaeathaZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 7

Sore merambat turun dengan perlahan, memberi jeda pada hari yang terasa terlalu panjang.

Rumah sakit mulai sedikit lebih tenang. Tidak sebanyak pagi, tapi cukup untuk membuat Yusallia akhirnya bisa menarik napas tanpa dikejar waktu. Ia baru saja mengantar pasien terakhirnya keluar ketika perawat asistennya mengetuk pintu lagi.

“Dok, mau istirahat sebentar? Dari tadi belum makan,” katanya pelan, ragu.

Yusallia tersenyum tipis, seolah berusaha meyakinkan dirinya sendiri. “Sebentar lagi. Aku bereskan catatan dulu.”

Perawat itu mengangguk, kemudian menutup pintu.

Yusallia bersandar ke kursinya. Melepaskan sedikit lelah di bahunya.

Ia memejamkan mata satu detik. Lalu dua detik. Pikirannya berkelana ke siang tadi. Telepon tadi… masih tertinggal jelas di kepalanya.

Cara Rionegro bicara. Tenang. Tidak menuntut. Tidak membuatnya merasa bersalah karena lupa janji.

Sikap itu… membuatnya agak terkejut. Bukan banyak lelaki yang bisa bereaksi seperti itu. Bukan banyak… yang tidak menjadikannya alasan untuk marah.

Ia membuka mata. Pandangannya jatuh pada ponsel yang tergeletak di sisi mejanya.

Nama itu terlintas lagi dalam benaknya.

Rionegro.

Satu nama yang baru ia kenal—tapi entah kenapa, terasa familiar dengan cara yang aneh.

Ia mengambil ponsel itu sebentar, sekadar mengecek layar. Tidak ada pesan baru. Tidak ada panggilan. Hanya hening.

Hening yang… entah kenapa terasa menenangkan sekaligus membuat hatinya sedikit tidak stabil.

Ia meletakkannya kembali. Dan menarik napas lebih panjang dari biasanya.

____________________________________________

Malam datang lebih cepat dari yang ia kira.

Ketika Yusallia keluar dari ruang praktiknya, koridor sudah lebih sepi. Lampu-lampu menyala lembut. Aroma antiseptik masih ada, tapi tidak sekuat tadi.

Beberapa perawat berpapasan dengannya dan memberi salam.

“Terima kasih, ya,” ucap Yusallia ramah.

Ia melangkah menuju lobby. Hujan tipis mulai turun lagi di luar. Tidak deras. Hanya rintik halus yang menempel di kaca pintu otomatis.

Yusallia berhenti satu detik.

Hujan lagi. Sama seperti malam ketika ia bertemu pria itu.

Ia menghela napas pelan. Lalu melanjutkan langkahnya menuju parkiran.

Saat membuka pintu mobil, ponselnya kembali bergetar.

Kali ini bukan panggilan. Satu pesan masuk. Dari nomor yang baru ia simpan sore tadi.

Rionegro: “Sudah selesai bekerja?”

Yusallia terdiam. Tidak ada tekanan. Tidak ada tuntutan. Hanya pertanyaan sederhana.

Ia duduk di kursi mobil, menyalakan lampu kabin, dan mengetik balasan.

Yusallia: “Baru selesai. Hari ini cukup panjang.”

Balasan datang tidak lama setelah itu.

Rionegro: “Sudah makan?”

Ia berkedip. Lalu tersenyum tipis tanpa sadar. Jangan-jangan… pria ini termasuk yang peduli dalam diam?

Yusallia mengetik.

Yusallia: “Belum. Mau pesan makan di rumah saja.”

Jawabannya datang lagi.

Rionegro: “Baik. Istirahat yang cukup. Besok jangan memforsir diri seperti hari ini.”

Yusallia menggigit bibir bawahnya pelan.

Ada sesuatu di antara kalimat itu. Bukan romantis. Bukan pula terlalu dekat. Tapi… perhatian yang tulus.

Dan anehnya, itu membuat dadanya menghangat sedikit.

Yusallia: “Iya. Terima kasih, Rionegro.”

Ia mengirim pesannya. Menutup ponsel. Menyalakan mesin mobil.

Tapi senyumnya masih tersisa. Samar, hangat, dan tidak berlebihan. Tapi ada disana.

____________________________________________

Sementara itu, di sisi lain kota, Rionegro duduk sendirian di salah satu meja dekat jendela sebuah restoran yang baru buka—restoran yang tadi pagi Savira ajak.

Piring di depannya sudah hampir kosong.

Savira tidak ada di sana. Ia izin tidak hadir tadi sore karena ada urusan mendadak yang membuatnya tidak bisa datang untuk ikut makan malam bersamanya.

Rionegro tidak mempermasalahkan. Ia memang datang bukan karena ingin ditemani. Ia hanya ingin makan. Lalu pulang.

Ia menatap ponselnya.

Percakapannya dengan Yusallia melalui pesan tadi masih terus ia ingat.

Tidak banyak kata. Tidak ada emoj. Tidak ada kalimat yang berlebihan. Hanya percakapan sederhana. Tapi entah kenapa… itu cukup. Lebih dari cukup.

Ia menyandarkan tubuhnya pada kursi. Matanya menatap hujan tipis di luar jendela.

Nama itu melintas lagi dalam pikirannya.

Yusallia.

Perempuan yang ditemuinya tanpa rencana. Dalam hujan. Dalam situasi yang seharusnya tidak berarti apa-apa.

Tapi ternyata… cukup mengusiknya.

Ada sesuatu yang tertinggal. Meski sangat kecil. Meski tidak jelas. Meski belum dimengerti.

Rionegro menghela napas pelan. Ia tidak akan memaksakan makna apa pun. Mungkin saja semua hanya pikiran sementara. Ia tidak mencoba membaca terlalu jauh.

Tapi ia tahu satu hal—Tidak sering ia memikirkan orang baru lebih dari dua kali dalam sehari.

Dan hari ini… ia melakukannya lebih dari dua.

 

Di rumahnya malam itu. Yusallia memakan makan malamnya dengan lelah, mandi, lalu duduk di kasur dengan rambut masih setengah basah.

Ia merasa lebih tenang setelah seharian bekerja, terutama orang tua dan adik-adiknya masih belum pulang, sehingga itu cukup membuatnya tidak perlu khawatir akan kembali ribut dengan kedua orang tuanya hanya karena masalah sepele seperti tadi pagi.

Ia membuka ponselnya. Menatap satu nama di layar. Bukan untuk menghubungi. Bukan untuk mengetik sesuatu. Hanya untuk memastikan ia masih ada di sana.

Nomor itu. Nama itu.

'Rionegro' pikirnya sekilas.

Ia pun meletakkan ponselnya kembali. Kemudian, memejamkan matanya dan menyandarkan punggung di kepala ranjang.

Dan sesuatu yang samar kembali terasa. Malam itu… entah kenapa terasa hangat. Meski hari ini panjang. Meski ia lelah. Dan meski semuanya terasa padat dan terlalu penuh.

Ada sesuatu di akhir hari… yang membuatnya bisa bernapas sedikit lebih ringan. Pikiran bahwa semua berjalan baik-baik saja dan percakapan singkat dengan pria itu sudah sangat cukup untuk hari ini.

1
Reilient
ditunggu lanjutannya
Rei_983
lanjutin
Ocean Blue
lanjutin ceritanya
Rose Ocean
lanjutin ceritanya kak
Reha Hambali
lanjutin ceritanya thorr
Riha Zaria
lanjutin ceritanya thor
Reezahra
lanjutin thorr
Zariava
lanjutin thor
Reatha
lanjut thorr
Reazara
lanjutin kak
Zahira
lanjutin thor
Zahra
lanjutin kak
Ria08
lanjut kak
Reza03
lanjut thor
Riza09
lanjut
Rei_Mizuki98
lanjut thor
Rose Mizuki
lanjut💪
Rieza05
lanjut kak
Reva456: lanjut
total 1 replies
@RearthaZ
boleh kok, kak
Unparalleled: haii aku mampir nih..
btw semangat okee buat The continuation of the story nyaaa🤩
total 1 replies
sayang kamu
gw nyicil bacanya ya min bagus gw baca setiap hari 1 bab krn sibuk sendiri di realita gk bisa maraton semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!