Dimas dan Sarah kini dikenal sebagai pasangan akademisi selebriti. Sarah dengan buku best seller-nya, dan Dimas sebagai profesor muda yang brilian. Namun, itu hanya kedok. Di balik layar, mereka bekerja sebagai Konsultan Khusus untuk Badan Perlindungan Cagar Budaya & Aset Negara (BPCBAN). Tugas mereka: Melacak, mengamankan, dan menyegel artefak-artefak supranatural berbahaya yang diperjualbelikan di pasar gelap Internasional (Black Market). Musuh mereka bukan lagi dukun santet, melainkan Sindikat Kolektor Internasional yang didanai oleh miliarder asing yang ingin menguasai kekuatan mistis Nusantara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NP (Naika Permata), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Epidemi Hitam di SCBD
Lokasi: Apartemen Dimas dan Sarah, Depok, Jawa Barat.
Waktu: 09.00 WIB (Tiga Hari Pasca Gunung Padang).
Hujan rintik-rintik turun membasahi kaca jendela apartemen lantai 15 itu, menambah kesan muram pada pagi Jakarta yang kelabu.
Di ruang kerja yang merangkap perpustakaan mini, Dimas duduk bersila di atas karpet. Lengan kanannya masih dibalut perban elastis. Di depannya, berserakan belasan lontar daun nipah kuno dan buku-buku tebal berbahasa Belanda tentang Demonologi (studi sistematis, teologi atau teoritis mengenai iblis) Nusantara. Mata Dimas merah; ia nyaris tidak tidur sejak kembali dari Cianjur.
Di seberang ruangan, Sarah duduk di depan deretan tiga monitor lengkung. Tangan kirinya yang dijahit terbalut sarung tangan kompresi khusus. Matanya fokus memindai baris-baris kode pada algoritma crawler yang ia ciptakan sendiri.
“Dim,” panggil Sarah memecah keheningan, suaranya tegang. “Algoritma Sentiment Analysis yang aku pasang di jaringan CCTV dan kepolisian… baru aja trigger peringatan merah.”
Dimas mendongak dari lontar usangnya. “Lokasi?”
“SCBD. Menara Nusantara, gedung perkantoran 45 lantai,” Sarah mengetik cepat, memunculkan grafik eksponensial di monitor utama. “Tingkat stres pekerja kantoran di sana memang tinggi, tapi ini nggak wajar. Dalam dua jam terakhir, ada lonjakan 400% untuk panggilan darurat dengan Keyword; ‘Histeris’, ‘Melukai Diri Sendiri’, dan ‘Kerasukan’.”
Dimas berdiri, memijat pangkal hidungnya. “Ada korban jiwa?”
Sarah menelan ludah, membuka sebuah rekaman CCTV jalan raya yang buram karena hujan.
“Tiga orang,” jawab Sarah lirih. “Manajer Keuangan, programmer, dan cleaning service. Mereka lompat dari lantai 30 secara beruntun dalam jeda 15 menit. Polisi mengira ini copycat suicide (bunuh diri tiruan) akibat depresi massal atau bangkrutnya perusahaan.”
“Polisi pakai logika manusia,” Dimas mengambil jaket parasut hitamnya dan menyematkan Keris Patrem di balik sabuk. “Itu bukan depresi. Itu prasmanan.”
Dimas menatap Sarah. “Sang Pemakan udah nemuin restoran favoritnya.”
Lokasi: Menara Nusantara, Sudirman Central Business District (SCBD), Jakarta.
Waktu: 10.30 WIB.
Jalan Jenderal Sudirman macet total. Hujan turun semakin deras, seoalah langit ikut menangisi tragedi tersebut. Suara sirine ambulans dan mobil polisi bersahut-sahutan memekakkan telinga.
Dimas dan Sarah menerobos garis polisi berwarna kuning berkat lencana khusus BPCBAN (Badan Perlindungan Cagar Budaya & Aset Negara) tingkat tinggi yang mereka bawa.
Suasana di pelataran gedung itu kacau balau. Kantong mayat berwarna kuning berjejer di dekat air mancur lobi. Ratusan karyawan kantoran dievakuasi ke luar; beberapa dari mereka menangis histeris, menjambak rambut mereka sendiri, sementara yang lain duduk dengan tatapan kosong, gemetar kedinginan.
Begitu Dimas melangkah keluar dari bawah kanopi lobi, ia memejamkan mata dan membuka Mata Batin-nya.
Dunia fisik di sekitarnya memudar menjadi monokrom, digantikan oleh pemandangan energi spiritual.
Dimas terkesiap. Ia refleks mundur selangkah, menabrak bahu Sarah.
“Kamu liat apa?” Tanya Sarah cepat, mengeluarkan tablet pemindainya.
“Gedung ini…” bisik Dimas ngeri. “Gedung ini bernapas, Sar.”
Melalui mata batin-nya, Dimas melihat sulur-sulur asap hitam pekat—persis seperti entitas yang mereka hadapi di perut Gunung Padang—merambat keluar dari pori-pori beton gedung pencakar langit itu. Asap itu melilit para karyawan yang sedang dievakuasi, menyedot semacam kabut tipis berwarna abu-abu (energi kehidupan/aura) dari kepala mereka.
“Alatku juga gila,” Sarah menunjukkan layar tabletnya. Angka Electromagnetic Field (EMF) berfluktuasi ektrem. “Radiasi Elektromagnetik melonjak tajam, tapi cuma dilantai 40 sampai 45. Kalau ini gas beracun, pasti menyebar ke bawah. Ini terlokalisasi.”
“Makhluk itu nggak punya wujud fisik penuh di sini. Dia cuma pecahan,” analisis Dimas sambil berjalan menembus lobi yang dipenuhi tim medis. “Dia butuh Inang (Host) untuk memusatkan energinya. Seseorang yang depresinya paling dalam, yang dijadikan pemancar sinyal ke seluruh gedung.”
Seorang petugas keamanan gedung yang wajahnya pucat pasi mencegat mereka. “Maaf, Pak, Bu! Area ini ditutup! Tim SAR sedang naik ke Rooftop! Ada belasan karyawan divisi Sales mau lompat massal!”
“Kami dari BPCBAN. Kami ambil alih,” kata Sarah tegas, menunjukkan lencananya. “Lift masih nyala?”
“Dimatikan otomatis karena protokol darurat!” Jawab Satpam itu panik.
Sarah dan Dimas berpandangan.
“Lantai 45. Naik tangga darurat,” kata Sarah sambil merogoh tas taktisnya.
“Lututku langsung ngilu dengernya,” keluh Dimas.
Tangga Darurat, Lantai 20.
Mereka berlari menaiki anak tangga beton yang lembap. Tidak ada penerangan selain lampu neon merah darurat.
Semakin tinggi mereka naik, udara terasa semakin dingin dan menindas. Tekanan udara di paru-paru mereka terasa berat, seperti mendaki gunung tanpa tabung oksigen.
Namun yang paling mengerikan adalah suara-suara itu.
Tidak ada siapapun di tangga darurat selain mereka, tapi Dimas dan Sarah mulai mendengar bisikan-bisikan ganjil yang menggema memantul di dinding beton.
“… cicilan rumah nunggak…”
“…aku nggak berguna…”
“…istriku selingkuh… anakku malu…”
“…mati saja… mati lebih gampang…”
Buatkan itu bukan suara hantu klasik. Itu adalah echo (gema) dari pikiran-pikiran tergelap para karyawan yang diserap oleh Sang Pemakan, lalu dipancarkan kembali seperti siaran radio beracun.
Sarah tiba-tiba berhenti di bordes lantai 28. Ia memegang kepalanya, meringis kesakitan.
“Sar?” Dimas langsung berhenti, memegang bahu istrinya.
“Kepalaku…” napas Sarah memburu. Matanya kehilangan fokus. “Dim… naskah bukuku… penerbit bilang semuanya bohong… aku ilmuwan gagal… aku ngecewain mendiang Ayah…”
Dimas membelalakan matanya. Entitas itu mulai menyerang pikiran Sarah, memancing rasa Insecurity (ketidakamanan) terbesarnya sebagai akademisi.
“Sarah! Liat aku!” Dimas menangkup wajah Sarah dengan kedua tangannya. “ tangan Dimas mulai memancarkan pendar hangat dari tenaga dalamnya.
“Pagar sukmo, rogo slamet…” Dimas merapal mantra perlindungan dengan cepat, menyalurkan energi positif ke dahi istrinya.
Sarah tersentak, menarik napas panjang seperti orang yang baru keluar dari dalam air.
“Sial,” umpat Sarah, menyeka keringat dingin di dahinya. “Dia masuk ke kepalaku cepet banget. Halus banget. Rasanya kayak pikiran ragu dari diriku sendiri.”
“Itu senjatanya,” kata Dimas tegang. “Dia memakan keraguan, lalu memuntahkannya menjadi keputusasaan. Pakai ini.”
Dimas mengeluarkan sebuah kalung Akar Bahar Hitam yang sudah ia rajah dirumah, lalu memakaikannya ke leher Sarah. “Ini bakal nahan interfrensi telepati level rendah. Jangan dilepas.”
Sarah mengangguk, lalu mengeluarkan sebuah alat berbentuk silinder kecil dengan speaker mini (seukuran kaleng soda) dari tasnya.
“Aku juga punya penangkal,” kata Sarah. Ia menyalakan alat itu.
Terdengar suara dengungan statis yang konstan.
“Ini Infrasound Disruptor (penganggu infrasonik),” jelas Sarah. “Aku modifikasi dari frekuensi gamelan Gunung Padang yang kita rekam kemarin. Kalau makhluk itu pakai frekuensi gelombang otak Delta untuk mensugesti orang-orang… alat ini bakal ngacak sinyalnya dalam radius 10 meter.”
Dimas tersenyum bangga. Sains dan Klenik, selalu menjadi kombinasi andalan mereka.
“Oke, Dynamic Duo,” Dimas menghunus kerisnya. “Ayo kita ruqyah gedung elit ini.”
Lantai 45 - Akses Menuju Rooftop.
Pintu besi menuju atap terkunci dari luar.
Melalui kaca kecil di pintu itu, Sarah bisa melihat kondisi di luar. Hujan badai mengguyur atap gedung. Sekitar 10 karyawan kantoran (pria dan wanita) berdiri berjejer di pinggir dinding pembatas beton, menatap kosong ke arah jurang aspal sejauh 150 meter di bawah mereka.
Di tengah-tengah atap, duduk bersila seorang pria berkemeja putih yang sudah basah kuyup. Dia adalah Manajer HRD.
Aura hitam pekat tidak hanya merembes dari gedung, tapi kini berpusat pada pria itu. Asap hitam masuk ke hidung dan mulutnya setiap kali ia menarik napas, lalu keluar lagi menyebar ke arah para karyawan di pinggir atap. Dia adalah Sang Inang.
“Kita nggak bisa buka pintunya secara paksa,” lapor Sarah. “Kalau ada suara keras, mereka semua bakal kaget dan refleks lompat. Kita harus memutus sinyal si inang dulu.”
Dimas melihat struktur dinding.
“Sar, Infrasound Disruptor-mu bisa menembus beton?”
“Bisa, tapi butuh amplifier. Getarannya butuh media rambat,” jawab Sarah.
Dimas menunjuk ke arah kotak pipa panel hydrant (pemadam api) berwarna merah yang tertanam di dinding dekat pintu. Pipa besi itu terhubung langsung ke instalasi air yang mengalir ke seluruh gedung, termasuk ke bawah lantai atap.
“Tempel alatmu ke pipa besi itu,” perintah Dimas. “Besi berongga dan air adalah konduktor suara terbaik. Kita jadikan seluruh kerangka gedung ini sebagai speaker raksasa untuk frekuensi penangkalmu.”
Sarah memahami logika cerdas suaminya. Ia membuka kotak Hydrant, menempelkan Infrasound Disruptor ke pipa utama dengan lakban taktis, lalu memutar volume ke tingkat maksimal.”
NGGIIIIIIIIINNNNNGGG……..
Frekuensi statis yang sangat tinggi (di ambang batas pendengaran manusia) mengalir merambat ke seluruh struktur baja gedung Menara Nusantara.
Dampaknya instan.
Di luar atap, ke sepuluh karyawan yang tadinya berdiri seperti zombie di pinggir jurang tiba-tiba tersentak. Mata hitam mereka memudar kembali normal. Mereka melihat ke bawah, menyadari di mana mereka berdiri, lalu menjerit panik dan mundur dari pinggiran atap, jatuh terduduk di genangan air hujan.
Sinyal bunuh diri terputus.
Namun, sang Manajer HRD (Sang Inang) tidak bereaksi normal.
Pria itu perlahan berdiri. Asap hitam di sekitarnya mengamuk. Pria itu menoleh ke arah pintu besi tempat Dimas dan Sarah bersembunyi.
Wajah pria itu berubah mengerikan. Pembuluh darah di wajahnya menghitam. Matanya sepenuhnya kelam.
“KALIAAAN LAGIII…” suara berlapis entitas Lemuria itu menggema menembus hujan, memecahkan kaca jendela di sekitar lantai 45.
BRAKK!
Sang Inang menendang pintu besi darurat itu hingga engselnya jebol, melempar pintu seberat 50 kilogram itu ke arah Dimas dan Sarah.
Dimas menarik Sarah mundur menghindari pintu terbang tersebut.
“Pelurumu nggak mempan lawan asap,” kata Dimas sambil memasang kuda-kuda tempur di lorong sempit. “Tapi sekarang dia pakai tubuh fisik. Lumpuhkan kakinya!”
Sarah mencabut pistolnya dan membidik.
Pertarungan jarak dekat di lantai 45 baru saja di mulai. Sang Pemakan kini memiliki wujud manusia, menjadikannya seratus kali lebih berbahaya dan… lebih sulit untuk dilumpuhkan tanpa harus membunuh pria tak bersalah yang dirasukinya.