NovelToon NovelToon
Pendekar Elang Hitam

Pendekar Elang Hitam

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Balas Dendam / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: bang deni

Keluarganya di rampok oleh pemdekar Aliran hitam, ayah dan ibunya terbunuh sedangkan ia terjatuh di lembah Bangkai, Seekor Elang hitam raksasa menyelamatkan nya, di bawah asuhan Elang Hitam Dia tumbuh menjadi pendekar sakti dan menumpas kejahatan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bang deni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pusaka Haus Darah

Wira Bayu kini resmi memimpin Kadipaten Galungan dengan bijaksana, menggantikan kekejaman Singo Barong. Rakyat hidup tentram dan damai.

Di taman istana yang indah, di bawah rindangnya pohon beringin, Jaka berdiri mematung. Di hadapannya, berdiri tiga wanita yang sangat berarti dalam hidupnya. Rarasati, Ratri, dan Anggun. Ketiganya menatap Jaka dengan tatapan yang bercampur aduk antara bangga, sayang, namun juga menyimpan kesedihan. Mereka tahu, Jaka bukanlah orang yang bisa dipaku di satu tempat saja. Jiwanya adalah jiwa pengembara yang haus akan petualangan

Jaka menghela napas panjang, menatap satu per satu wajah yang dicintainya dengan penuh kasih sayang.

"Rarasati... Ratri... Anggun..." panggil Jaka pelan namun tegas. "Aku tahu, selama ini aku telah membuat kalian menunggu dan cemas. Aku juga tahu bahwa sebagai tunangan, sudah seharusnya aku memikirkan hari depan kita."

Ketiga gadis itu terdiam, mata Rarasati mulai berkaca-kaca. Ratri memainkan ujung selendangnya, sementara Anggun menundukkan wajah mencoba menyembunyikan perasaannya.

Jaka melangkah maju selangkah, suaranya semakin lembut namun penuh keyakinan.

"Namun, tolong mengertilah. Bukan aku tidak mencintai kalian, bukan pula aku takut akan tanggung jawab. Tapi... hatiku masih belum bisa tenang untuk menetap. Dunia ini masih luas, masih banyak kejahatan yang berkeliaran, masih banyak rakyat kecil yang tertindas dan membutuhkan pertolongan."

Jaka menatap mereka dalam-dalam.

"Aku masih ingin berkelana. Aku ingin menjadi pendekar yang berjalan ke mana saja keadilan dibutuhkan. Aku ingin menebar kebaikan dan menumpas kejahatan sampai ke akar-akarnya. Jika aku sekarang menikah dan menetap, rasanya ada sesuatu yang hilang dari diriku. Jiwaku akan merasa terkurung."

Suasana menjadi hening sejenak. Angin sore berhembus pelan membelai rambut mereka.

Ratri yang biasanya ceria dan banyak bicara, kini justru menjadi yang paling pertama mengangguk pelan. Ia mendekat, memegang tangan Jaka erat-erat.

"Kakang Jaka... Ratri mengerti. " Ratri tersenyum meski bibirnya gemetar. "Pergilah... Ratri akan menunggu. Selamanya pun Ratri sanggup menunggu."

Air mata Rarasati akhirnya jatuh membasahi pipi putihnya. Ia mendekat dan memeluk lengan Jaka lembut.

"Kakang... hati-hati di jalan. Jangan lupa makan, jangan lupa beristirahat. Rarasati akan selalu berdoa demi keselamatanmu di sini. Kami percaya padamu, Kakang. Kembalilah saat kau merasa sudah siap, saat kau merasa hatimu sudah ingin berhenti berkelana. Kami akan selalu ada di sini, menanti kepulanganmu."

Anggun, yang memiliki karakter tegas dan kuat, juga tak kuasa menahan haru. Ia menatap Jaka dengan mata yang berbinar.

"Jaka... sebagai seorang prajurit dan pemimpin, aku mengerti akan panggilan tugas dan cita-cita mulia. Kau ditakdirkan untuk hal-hal yang besar. Pergilah, tebalkanlah ilmu, perteballah pengalaman. Kami tidak akan menjadi beban yang menghambat langkah kakimu menuju kebaikan." Anggun tersenyum bangga. "Hanya satu janji yang kami minta."

"Apa itu?" tanya Jaka lembut.

"Janjilah, bahwa suatu hari nanti, saat waktunya telah tiba, kau akan kembali dan mempersunting kami bertiga menjadi pendamping hidupmu yang sah," ucap Anggun tegas namun penuh harap.

Jaka tersenyum lebar, rasa haru memenuhi dadanya. Ia mengangkat tangan kanannya, bersumpah di hadapan langit dan bumi.

"Aku berjanji! Atas nama ilmu yang ku miliki dan atas nama kehormatanku, Jaka Wisesa berjanji! Suatu saat nanti, ketika waktunya telah tiba, aku akan kembali. Dan saat itu, aku akan menikahi kalian bertiga, menjadikan kalian ratu-ratu di hatiku dan di hidupku. Janji ini abadi, tak akan pernah terhapus oleh waktu maupun jarak!"

Mendengar janji itu, ketiga gadis itu tersenyum bahagia. Meskipun berat berpisah, namun keyakinan dan cinta membuat mereka kuat. Mereka bertiga memeluk Jaka secara bergantian, memberikan kehangatan cinta sebagai bekal perjalanan sang pendekar.

"Pergilah, Jaka... Dunia sedang menunggu kehadiranmu," bisik Ratri.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Jaka sudah bersiap. Ia mengenakan pakaian petualangnya yang sederhana namun gagah, menyandang pedang setianya, dan membawa bekal secukupnya.

Setelah berpamitan kepada Wira Bayu, Eyang Parwati, dan ketiga Paman Wira yang sangat menyayanginya, Jaka pun melangkah pergi.

Langkah kakinya ringan namun pasti. Hutan-hutan lebat ia lewati, gunung-gunung tinggi ia daki. Jaka kembali menjadi Jaka yang dulu, sang pendekar kelana yang tak memiliki rumah tetap, karena seluruh dunia adalah rumah baginya.

Berbulan-bulan ia berjalan, menolong orang-orang yang kesusahan, menumpas perampok dan penjahat yang ia temui di jalan. Namanya semakin harum, kisah kepahlawanannya terdengar dari mulut ke mulut.

Hingga pada suatu hari, ketika ia sedang beristirahat di sebuah warung kecil di pinggir jalan, ia mendengar percakapan para pedagang yang terdengar cemas.

"Benar-benar mengerikan, Pak. Belakangan ini di Pulau Saga banyak sekali korban jiwa."

"Iya, katanya sih karena kemunculan benda pusaka sakti bernama Pedang Kilat. Siapa saja yang memegang pedang itu seolah kesurupan, menjadi sangat kejam dan membunuh tanpa belas kasihan."

"Konon katanya pedang itu memiliki semacam nafsu pembunuhan sendiri. Banyak pendekar hebat yang datang ingin memilikinya, tapi justru tewas mengenaskan atau menjadi alat pembunuh saat memgang pedang itu

Jaka yang sedang meminum air teh menghentikan gerakannya. Telinganya menangkap jelas setiap kata yang diucapkan. Pedang Kilat? batinnya. Benda pusaka yang bisa membuat pemiliknya menjadi gila dan membunuh? Itu sangat berbahaya.

Jika dibiarkan, pikir Jaka, bukan hanya Pulau Saga yang akan menderita, tapi bisa jadi wabah kekejaman itu akan menyebar ke daerah lain.

"Maaf, Paman," sapa Jaka kepada para pedagang itu. "Di mana letak Pulau Saga itu? Dan bagaimana cara menyeberang ke sana?"

"Oh, anak muda mau ke sana? Jangan-jangan mau mencari pusaka juga?" tanya salah satu pedagang waspada.

"Bukan, Paman. Aku hanya ingin melihat dan mencoba menghentikan pertumpahan darah di sana," jawab Jaka tenang.

Melihat ketulusan di mata Jaka, pedagang itu pun menjelaskan. "Pulau Saga terletak jauh di tengah lautan, anak muda. Ombaknya besar dan arusnya sangat ganas. Jarang ada kapal yang berani berlayar ke sana kecuali kapal-kapal besar yang sangat kuat. Dan saat ini, memang sedang tidak ada kapal yang berangkat."

Jaka mengangguk mengerti. Ia pun berpamitan dan segera melangkah menuju arah pantai yang ditunjukkan oleh para pedagang tadi.

Beberapa hari kemudian, Jaka tiba di tepi pantai yang sangat luas. Air laut berwarna biru gelap, ombak bergulung menghantam karang dengan suara gemuruh yang menggelegar. Di kejauhan, terlihat gumpalan awan hitam yang menandakan lokasi Pulau Saga yang terkenal ganas.

Jaka berdiri di tebing tinggi mengamati keadaan. Benar saja, pantai itu sepi. Tidak terlihat satu pun kapal atau perahu yang layak berlayar. Arus laut memang tampak sangat ganas, berbahaya bagi orang biasa.

Jaka tersenyum tipis, lalu mendongak ke langit yang mulai sore.

Ia meletakkan kedua tangannya di depan mulut, lalu bersiul panjang dengan nada yang sangat tinggi dan khas.

Fiuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu!

ini adalah siulan yang baru ia pelajari dari bunyi yang di hasilkan Pedang elang Hitam

Siulan bernada tinggi itu menggema di sekitar pesisir

Tidak lama kemudian, dari arah ufuk barat, tampak sebuah titik hitam yang semakin lama semakin besar dan mendekat dengan kecepatan luar biasa. Sayapnya lebar dan kuat, matanya tajam menyala. Itu adalah Elang Hitam, sahabat setia Jaka yang selalu siap sedia dipanggil kapan saja.

Hwakk!

Hwakk!

Elang Hitam itu mendarat dengan gagah di samping Jaka, kepakan sayapnya menerbangkan debu pasir pantai. Burung raksasa itu menggosokkan paruhnya ke bahu Jaka penuh kasih sayang, seolah merindukan sahabatnya

" Kakak Elang. Apa kabar?" sapa Jaka sambil membelai bulu-bulu hitam legam burung itu. "Kau terlihat makin kuat dan gagah. Maaf sudah lama tidak mengajakmu terbang."

Elang Hitam memekik  pelan seolah mengerti.

"Hari ini kita punya pekerjaan berat, kawan. Kita harus menyeberangi lautan luas menuju Pulau Saga. Kau sanggup?" tanya Jaka.

Hwak!

Elang itu menganggukkan kepalanya tegas, seolah berkata 'Tentu saja!'.

Jaka pun tersenyum. Ia lalu memanjat dan duduk tegak di atas punggung lebar dan kokoh sang Elang Hitam.

"Ayo kita berangkat Kakak Elang!" teriak Jaka setelah stabil duduknya

HWAKKK!

Dengan satu kepakan sayap yang sangat kuat, Elang Hitam melesat terbang ke angkasa. Makin lama makin tinggi, meninggalkan daratan jauh di bawah mereka.

Angin berdesir keras membelah wajah Jaka. Dari ketinggian ini, pemandangan laut luas terlihat sangat megah dan menakjubkan. Ombak yang terlihat ganas dari bawah, kini tampak hanya seperti guratan-guratan putih kecil saja.

Jaka duduk dengan tenang dan gagah di punggung burungnya. Ia memejamkan mata sejenak, merasakan kebebasan yang sesungguhnya. Janji pada ketiga tunangannya tersimpan rapi di hati,

Elang Hitam terus memecah angin, membawa Jaka terbang melintasi samudra yang luas menuju Pulau Saga

1
Night Watcher
rara jadi niken..
Blue Angel: salah ketik kak
total 1 replies
Night Watcher
berkali2 salah nama. srenggi jd lingga
Aman Wijaya
gaaas pooolll Thor lanjut terus
Blue Angel
salah up nanti di revisi
pendekar angin barat
lah kok lompat pertarungan nya mana? kok aneh seh Thor tau tau sdh di galungan
Dania
semangat tor
Lili Aksara
Wah, kok nggak ada yang heran sama elang itu ya, entah terkesima apa gimana gitu. Lanjutkan, unik ini novelnya, soalnya tokohnya dilatih sama burung elang.
pendekar angin barat
nah gitu donk .nhrs kejam ma penjahat..
Bagaskara Manjer Kawuryan
berasa baca kitab perndekar rajawali sakti 😁
Blue Angel: hampir mirip kak
total 1 replies
erick
hanya kena racun sdh keok... memalukan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!