"Menikahimu adalah ibadah terpanjang yang pernah aku ikrarkan. Namun, mengapa kini aku merasa sedang menyembah kehampaan di rumah yang tak lagi bertuan?"
Sepuluh tahun lamanya, Hana percaya bahwa kesetiaan adalah fondasi tunggal yang akan menjaga atap rumah tangganya tetap kokoh. Ia telah memberikan segalanya—masa mudanya, impian-impiannya, hingga seluruh napasnya hanya untuk melayani Aris, suaminya. Bagi Hana, rumah mereka adalah "Surga" kecil yang ia bangun dengan tetesan keringat dan doa-doa di setiap sujud malamnya.
Namun, perlahan "Surga" itu mulai terasa dingin. Aris, pria yang dulu selalu pulang dengan senyum hangat, kini berubah menjadi sosok asing yang membawa aroma parfum yang tak pernah Hana kenali. Tatapan matanya yang dulu penuh cinta, kini kosong dan seolah menembus tubuh Hana seakan ia adalah bayangan yang tak kasat mata.
Petaka itu dimulai saat sebuah nama dari masa lalu Aris kembali muncul. Aris tidak hanya lupa jalan pulang ke pelukan Hana, ia mulai "melupakan" sel
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: Retakan di Dinding Surga
Malam itu, rumah mewah di kawasan elit tersebut tidak lagi terasa seperti sebuah hunian. Ia lebih mirip sebuah makam besar yang megah namun dingin, menyimpan jasad dari sebuah pernikahan yang baru saja dinyatakan mati oleh kenyataan. Hana meringkuk di atas tempat tidur kamar tamu yang jarang ditempati. Aroma sprei yang bersih dan tajam karena sisa pewangi pakaian seolah menegaskan bahwa ia bukan lagi bagian dari kamar utama—ruang yang selama sepuluh tahun ini ia anggap sebagai pusat dunianya.
Di luar pintu, sayup-sayup terdengar langkah kaki Aris yang gelisah. Lantai parket yang dipoles mengilap itu mengeluarkan suara derit halus setiap kali Aris mondar-mandir. Hana memejamkan mata, namun setiap kali ia menutup mata, bayangan Citra yang memakai anting mutiara itu kembali muncul, mengejeknya dengan senyuman kemenangan.
"Na... buka pintunya, Na. Kita perlu bicara baik-baik," suara Aris terdengar parau dari balik daun pintu kayu jati yang kokoh.
Hana tidak menjawab. Ia menatap langit-langit kamar yang gelap. Ia teringat bagaimana dulu, saat mereka baru saja pindah ke rumah ini, Aris pernah menggendongnya melewati ambang pintu sambil berbisik bahwa ia adalah ratu di istana ini. Sekarang, sang ratu mengunci diri di kamar tamu, sementara sang raja sedang berusaha mengemis ampunan atas pengkhianatan yang ia lakukan dengan sadar.
"Aku tahu aku salah, Na. Tapi tolong, jangan seperti ini. Kamu membuatku merasa seperti orang asing di rumahku sendiri!" Aris mulai menaikkan nadanya, ciri khasnya saat ia mulai merasa tidak nyaman dengan posisi bersalah.
Hana bangkit dari tempat tidur. Dengan langkah pelan namun mantap, ia berjalan menuju pintu. Ia tidak membukanya, ia hanya berdiri di baliknya, membiarkan kayu tebal itu menjadi penghalang antara dua hati yang kini sudah tak lagi selaras.
"Kamu memang orang asing, Mas," jawab Hana, suaranya tenang, dingin, dan sangat datar. "Orang asing yang selama dua bulan ini tidur di sampingku sambil memikirkan wanita lain. Orang asing yang memberikan perhiasan mahal pada wanita itu sementara istrimu sendiri bahkan lupa kapan terakhir kali kamu menanyakan kabarnya. Kamu sudah menjadi orang asing sejak pertama kali kamu memutuskan untuk menyentuh wanita itu."
Keheningan menyergap lorong di luar sana. Aris terdiam. Hana bisa membayangkan Aris sedang bersandar di tembok, frustrasi karena taktik gaslighting-nya tidak lagi mempan pada Hana yang sekarang.
"Citra tidak berarti apa-apa bagiku, Na! Itu hanya... hanya pelampiasan stres pekerjaan. Dia yang mendekatiku lebih dulu. Aku khilaf," Aris mencoba pembelaan klasik yang paling basi di dunia.
Hana tertawa kecil, sebuah tawa getir yang terdengar menyakitkan. "Khilaf itu satu kali, Mas. Kalau sampai dua bulan, itu namanya rencana. Kalau sampai memberinya anting mutiara senilai puluhan juta, itu namanya investasi perasaan. Jangan hina kecerdasanku lagi dengan kata 'khilaf'."
Hana kembali ke tempat tidur, mengabaikan ketukan pintu Aris yang semakin tidak sabar. Ia meraih ponselnya, melihat foto-foto yang dikirimkan Pak Gun sekali lagi. Ia ingin rasa sakit ini tetap segar, agar ia tidak luluh oleh kata-kata manis Aris yang berbisa.
Keesokan paginya, pukul 06.00.
Hana keluar dari kamar tamu dengan pakaian yang sudah rapi. Ia tidak lagi menyiapkan sarapan mewah. Di meja makan hanya ada roti tawar dan selai instan. Tidak ada aroma gulai, tidak ada nasi goreng kambing, tidak ada kehangatan dapur yang biasanya menjadi denyut nadi rumah itu.
Aris sudah duduk di meja makan, matanya merah dan wajahnya kuyu karena tidak tidur semalaman. Saat melihat Hana, ia segera berdiri.
"Na, sarapannya..." Aris menatap meja makan dengan kecewa.
"Mulai hari ini, silakan urus dirimu sendiri, Mas. Aku bukan lagi pelayan di rumah ini. Aku adalah istrimu, tapi karena kamu sudah tidak menganggapku ada, maka aku juga akan berhenti menjalankan peranku untukmu," ucap Hana sambil menuangkan air putih untuk dirinya sendiri.
"Kamu tidak bisa melakukan ini, Hana! Ini kewajibanmu!" Aris memukul meja.
Hana menatap Aris tanpa rasa takut. "Kewajibanku berhenti saat kamu melanggar sumpahmu di depan Tuhan sepuluh tahun lalu. Kamu ingin pelayanan? Mintalah pada Citra. Bukankah dia lebih hebat dariku dalam segala hal?"
Aris terdiam, rahangnya mengeras. Ia menyadari bahwa Hana yang sabar dan penurut telah hilang. Yang ada di depannya sekarang adalah wanita yang terluka namun memiliki harga diri yang setajam silet.
Tiba-tiba, bel rumah berbunyi. Aris mengernyitkan dahi. "Siapa sepagi ini?"
Hana berjalan menuju pintu depan tanpa mempedulikan pertanyaan Aris. Saat pintu dibuka, sosok wanita paruh baya dengan dandanan sangat elegan dan tatapan otoriter berdiri di sana. Ibunda Aris, Mama Sarah.
"Mama?" Aris terkejut, ia segera menghampiri ibunya.
Mama Sarah masuk dengan langkah yang angkuh, matanya langsung memindai kondisi ruang tamu yang sedikit berantakan karena pecahan vas bunga semalam masih ada yang tertinggal di sudut ruangan.
"Ada apa ini? Mama dengar dari asisten rumah tanggamu lewat telepon kalau kalian bertengkar hebat semalam? Hana, apa yang kamu lakukan sampai suamimu terlihat berantakan begini?" tanya Mama Sarah tanpa basa-basi, langsung menyudutkan Hana.
Hana menghela napas. Inilah babak baru yang ia takuti namun sudah ia duga. Mertuanya selalu menganggap Aris sebagai anak emas yang tak pernah salah.
"Tanyakan pada putra Mama, apa yang dia lakukan di luar sana sampai rumah tangganya hancur," jawab Hana dengan sopan namun tegas.
Mama Sarah menatap Aris. "Aris? Apa maksud istri kamu?"
Aris tampak gagap. "Hanya... hanya salah paham kecil, Ma. Hana terlalu sensitif."
"Salah paham kecil?" Hana mengeluarkan ponselnya dan meletakkannya di depan Mama Sarah. "Melihat suami sendiri bermesraan dengan wanita lain dan memberinya perhiasan mahal di saat istrimu berhemat di rumah... apakah itu salah paham kecil, Ma?"
Mama Sarah melihat foto-foto itu. Ekspresinya sedikit berubah, namun tidak ada raut kemarahan pada Aris. Ia justru mengembalikan ponsel itu pada Hana dengan wajah datar.
"Hana, laki-laki sukses seperti Aris itu wajar kalau banyak godaan di luar. Sebagai istri, kamu harusnya bisa menjaga suamimu agar tidak jenuh di rumah. Mungkin kamu terlalu membosankan? Atau mungkin kamu kurang merawat diri sehingga dia mencari kesenangan di luar?"
Kalimat itu terasa seperti tamparan yang lebih keras dari pengkhianatan Aris sendiri. Hana menatap mertuanya dengan rasa tidak percaya.
"Jadi Mama menyalahkan saya? Setelah sepuluh tahun saya mengabdi pada anak Mama, melayani setiap kebutuhannya, menjaga kehormatan rumah tangganya... Mama bilang ini salah saya karena saya membosankan?" suara Hana mulai bergetar karena emosi yang meluap.
"Dunia pernikahan itu berat, Hana. Kamu jangan egois. Pikirkan reputasi keluarga. Kalau kabar ini keluar, posisi Aris di kantor bisa terancam. Kamu mau hidup susah lagi seperti dulu saat masih di kontrakan?" Mama Sarah mulai menggunakan nada mengancam.
Hana tertawa getir. "Reputasi? Mama lebih peduli pada reputasi daripada hati menantu Mama yang hancur? Dan kamu, Mas..." Hana menoleh pada Aris yang hanya diam di belakang ibunya. "Kamu benar-benar pengecut. Kamu bersembunyi di balik punggung ibumu untuk membenarkan kesalahanmu."
"Hana, jaga bicaramu!" bentak Aris, merasa harga dirinya jatuh di depan ibunya.
"Aku sudah cukup menjaga bicara selama sepuluh tahun, Mas. Sekarang, aku tidak akan diam lagi," Hana berjalan menuju kamar tamu, mengambil tasnya yang sudah ia siapkan. "Aku pergi. Aku butuh waktu untuk berpikir."
"Mau ke mana kamu? Jangan macam-macam, Hana! Kalau kamu keluar dari pintu ini, jangan harap bisa kembali lagi!" ancam Mama Sarah.
Hana berhenti tepat di ambang pintu depan. Ia menoleh ke belakang, menatap Aris dan ibunya yang berdiri di ruang tamu mewah itu. Ruangan yang dulu ia sebut surga, kini tak lebih dari sebuah panggung sandiwara yang menjijikkan.
"Aku tidak ingin kembali ke tempat yang tidak lagi menghargaiku sebagai manusia, Ma. Simpan saja 'surga' ini untuk anak emas Mama. Aku lebih baik hidup di kontrakan sempit tapi memiliki harga diri, daripada tinggal di istana ini tapi menjadi mayat hidup."
Hana melangkah keluar, menutup pintu dengan suara yang sangat pelan. Tidak ada bantingan pintu, karena ia ingin pergi dengan martabat yang utuh.
Di luar, udara pagi terasa segar menyentuh wajahnya. Hana berjalan menuju jalan raya, ia tidak membawa mobil karena mobil itu adalah pemberian Aris. Ia memilih untuk naik taksi online. Di dalam mobil, ia mengirim pesan singkat pada Maya: "Aku sudah keluar dari rumah. Aku butuh tempat tinggal sementara."
Air mata Hana akhirnya jatuh saat taksi itu mulai menjauh dari kompleks perumahan. Ia melihat rumahnya dari kaca belakang, semakin lama semakin kecil hingga hilang di balik pepohonan.
Dua jam kemudian, Hana sampai di sebuah apartemen kecil milik Maya yang sedang tidak disewakan. Tempat itu sederhana, jauh dari kemewahan rumah Aris, namun terasa sangat tenang.
Maya menyambutnya dengan pelukan hangat. "Kamu sudah melakukan hal yang benar, Hana. Jangan biarkan mereka menginjakmu."
"Aku takut, May. Bagaimana kalau Aris benar-benar memutuskan hubungan denganku? Aku tidak punya pekerjaan, aku tidak punya apa-apa," bisik Hana di bahu sahabatnya.
Maya melepaskan pelukannya, menatap mata Hana dengan serius. "Kamu punya bakat, Hana. Kamu adalah penulis yang hebat. Ingat blog-blog yang dulu sering kamu tulis sebelum Aris melarangmu karena dia bilang itu buang-buang waktu? Kamu punya suara, kamu punya cerita. Gunakan rasa sakit ini menjadi kekuatanmu."
Hana terdiam. Ia teringat kembali kegemarannya menulis cerita fiksi yang ia kubur dalam-dalam demi menjadi istri yang "fokus melayani suami". Ia melihat laptop lamanya yang ia bawa di dalam tas.
"Mungkin kamu benar, May," ujar Hana pelan. Ia membuka laptopnya. Jarinya mulai menari di atas keyboard.
Ia tidak menulis surat cerai. Ia tidak menulis keluh kesah di media sosial. Ia mulai menulis sebuah cerita. Sebuah cerita tentang seorang wanita yang membangun surga untuk orang lain, hanya untuk dibakar oleh orang yang ia cintai. Ia memberinya judul: Surga yang Tak Dirindukan yang Terlupakan.
Setiap kata yang ia ketik terasa seperti mengeluarkan racun dari dalam hatinya. Ia menulis hingga ribuan kata, mencurahkan setiap rasa sakit, setiap pengkhianatan, dan setiap harapan yang pupus. Ia tidak lagi peduli pada Aris, ia tidak lagi peduli pada mertuanya. Ia hanya peduli pada kata-kata yang sedang ia susun.
Pukul 19.30, waktu yang biasanya ia gunakan untuk menunggu Aris pulang,
"Jika hidupku adalah sebuah novel, maka ini adalah awal dari pembalasanku yang paling manis," batin Hana.
Malam itu, di apartemen kecil yang sunyi, Hana tidak lagi merasa sendirian. Ia ditemani oleh ribuan kata yang siap menjadi saksi bisu perjuangannya. Sementara di rumah besarnya, Aris duduk terpekur di meja makan yang dingin, mulai menyadari bahwa tanpa Hana, surga yang ia banggakan itu hanyalah sebuah bangunan kosong yang tak memiliki jiwa.
Retakan di dinding surga itu kini sudah menjadi lubang yang menganga lebar. Dan Hana, ia tidak lagi berniat untuk menambalnya. Ia sudah siap untuk membangun dunianya sendiri, kata demi kata, bab demi bab.