Seorang Raja Vampir yang kehilangan ratunya di medan perang, lalu menunggu 1000 tahun untuk menemukan reinkarnasi istrinya di dunia manusia. Namun ketika ia menemukannya kembali, sang ratu tidak lagi mengingat masa lalu mereka, sementara ancaman perang antara bangsa vampir dan manusia serigala kembali muncul.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naomihanaaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 Panggilan dalam kegelapan
Pertarungan semakin menggila.
Tanah hutan yang sebelumnya tenang kini berubah menjadi medan kehancuran yang tak lagi bisa dikenali. Pohon-pohon besar yang telah berdiri puluhan bahkan ratusan tahun tumbang satu per satu, akar-akar mereka tercabut dari tanah akibat benturan kekuatan yang terus terjadi tanpa henti. Udara dipenuhi debu yang beterbangan, bercampur dengan aroma tanah basah dan bau darah yang semakin pekat menyelimuti seluruh area.
Langit di atas pun seakan ikut merespon.
Awan gelap menggumpal, menutup cahaya bulan, membuat suasana semakin kelam.
Dan di tengah semua itu—
Edward dan Raja Serigala masih bertarung.
Tanpa jeda.
Tanpa ampun.
Setiap benturan di antara mereka menciptakan gelombang tekanan yang menyapu luas, menghantam segala sesuatu di sekitarnya. Energi yang mereka lepaskan bertabrakan di udara, menimbulkan suara ledakan yang menggema jauh ke dalam hutan.
Tidak ada makhluk biasa yang mampu bertahan di dekat mereka.
Bahkan serigala-serigala yang mengelilingi area itu pun menjaga jarak dari pusat pertarungan tersebut.
Karena mereka tahu itu bukan tempat bagi mereka.
Henry berdiri di sisi luar perisai.
Posisinya sedikit di depan, namun tetap cukup dekat untuk melindungi akses menuju gua.
Napasnya stabil teratur.
Namun matanya bergerak cepat, mengamati setiap pergerakan di medan perang ia bukan hanya bertarung ia menganalisis.
Menghitung menilai kemungkinan.
Dan semakin lama ia memperhatikan semakin jelas satu hal terbentuk di benaknya situasi ini… tidak menguntungkan bukan karena kekuatan mereka lebih lemah Namun, karena jumlah musuh tidak ada habisnya.
Serigala terus berdatangan dari berbagai arah. Dari balik pepohonan, dari semak-semak gelap, bahkan dari area yang sebelumnya tampak kosong. Seolah seluruh wilayah hutan telah dipanggil untuk berkumpul di tempat ini.
Henry menyipitkan matanya perlahan.
“Ini sudah direncanakan…” gumamnya hampir tak terdengar.
Ini bukan sekadar kebetulan Ini bukan serangan acak Ini adalah penyergapan yang telah dipersiapkan dengan matang.
Di sisi lain, enam vampir yang bertarung bersama mereka masih bertahan dengan baik.
Gerakan mereka tetap cepat, tajam, dan presisi. Setiap serangan yang mereka lepaskan selalu mengenai sasaran dengan akurat. Setiap langkah yang mereka ambil penuh perhitungan.
Namun tekanan mulai terlihat salah satu dari mereka terkena cakar di bahu yang lain nyaris kehilangan keseimbangan saat diserang dari belakang luka-luka kecil mulai muncul tidak fatal Namun, cukup untuk memperlambat.
Henry mengalihkan pandangannya ke arah Edward.
Raja itu masih berdiri tegak masih menguasai medan masih menjadi pusat dari kekacauan itu.
Namun Henry tahu bahkan seorang raja pun memiliki batas dan yang lebih berbahaya dari kekuatan musuh adalah tujuan mereka.
Henry memperhatikan dengan lebih tajam dan akhirnya ia menyadari sesuatu.
“Mereka tidak mencoba menang cepat…” bisiknya pelan.
“Mereka menahan kita…”
Tatapannya berubah tajam lebih fokus lebih serius.
“Menunggu sesuatu.”
Pemahaman itu datang seperti kilat cepat namun jelas dan itu membuat Henry tidak bisa lagi menunda ia menarik napas panjang.
Keputusan harus diambil sekarang tanpa ragu, tanpa menunggu lebih lama ia menutup matanya perlahan.
Ia membiarkan semua suara di sekitarnya memudar dari kesadarannya.
Dentuman Geraman Jeritan semua perlahan menghilang seolah ia menarik dirinya keluar dari medan perang fokusnya masuk ke dalam lebih dalam.
Kesadaran Henry mulai meluas seperti gelombang tak terlihat yang menyebar ke segala arah melampaui tubuhnya melampaui ruang menembus jarak yang sangat jauh menuju satu titik yang sangat ia kenal Istana.
Dalam kegelapan batin itu sebuah jalur terbentuk tipis namun kuat menghubungkannya dengan seseorang seseorang yang memiliki ikatan mental dengannya.
Henry berbicara dalam diam.
“Dengar aku…”
Di tempat yang sangat jauh di dalam istana Panglima perang berdiri di ruang komando sejak Edward meninggalkan istana, ia tidak pernah benar-benar tenang.
Instingnya terus mengatakan akan ada sesuatu yang terjadi Dan saat itu ia merasakannya.
Sebuah getaran halus menyentuh pikirannya. Sangat tipis Namun sangat jelas Ia langsung menutup matanya fokus dan dalam sekejap suara itu terdengar.
“Panglima…”
Matanya terbuka perlahan Wajahnya langsung mengeras.
“Henry…”
Ia mengenali suara itu tanpa ragu.
“Apa yang terjadi?”
Di hutan Henry tetap diam secara fisik Namun kesadarannya berbicara.
“Kami diserang.”
Di istana Panglima langsung menegang.
“Jumlah?”
“Banyak.”
“Terlalu banyak untuk sekadar patroli biasa.”
Panglima mengepalkan tangannya.
“Apa mereka…?”
Henry menjawab tanpa ragu.
“Raja Serigala.”
Suasana langsung berubah udara terasa lebih berat.
Para prajurit di sekitar panglima tidak tahu apa yang terjadi, namun mereka bisa merasakan perubahan aura yang mendadak.
“Lokasi?” tanya panglima dengan cepat.
Henry mengirimkan gambaran Hutan Gua Perisai pelindung dan pusat pertempuran Panglima langsung memahami.
“Jadi mereka benar-benar memulai…” gumamnya pelan.
Henry melanjutkan,
“Ini bukan serangan biasa.”
“Mereka menahan kami.”
Panglima menyipitkan mata.
“Menahan untuk apa?”
Beberapa detik hening.
Lalu jawaban itu datang pelan Namun tegas.
“Untuk dia.”
Panglima tidak perlu bertanya lagi Ia langsung mengerti.
Ia membuka matanya sepenuhnya aura di sekitarnya berubah lebih dingin lebih tegas lebih siap untuk perang.
“Berapa lama kau bisa bertahan?”
Di hutan Henry membuka matanya kembali melihat medan perang yang semakin kacau Edward masih bertarung.
Masih berdiri masih belum goyah.
Ia menjawab,
“Selama Yang Mulia masih berdiri…”
Ia berhenti sejenak.
“…kami tidak akan jatuh.”
Di istana Panglima mengangguk pelan.
“Itu cukup.”
Ia berbalik dengan tegas suaranya menggema ke seluruh ruangan.
“Siapkan pasukan!”
Para prajurit langsung bergerak langkah kaki terdengar cepat perintah mulai diteruskan
“Unit elit bersiap!”
“Pasukan bayangan dipanggil!”
“Semua komandan ke posisi!”
Istana yang sebelumnya tenang kini berubah menjadi pusat mobilisasi besar tidak ada yang ragu tidak ada yang menunda semua tahu ini bukan situasi biasa.
Panglima melangkah maju matanya dingin.
“Tujuan kita jelas.”
Ia berhenti sejenak.
“Lindungi Raja.”
Perintah itu bergema mengunci tekad semua yang mendengarnya dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama seluruh kekuatan vampir digerakkan
Di hutan Henry kembali sepenuhnya ke tubuhnya Napasnya sedikit lebih berat namun wajahnya tetap tenang
Ia menoleh ke arah Edward meski tanpa kata ia tahu.
Raja itu akan mengerti bantuan sedang dalam perjalanan Namun, sebelum itu mereka harus bertahan Seekor serigala besar melompat ke arah Henry dengan kecepatan tinggi taringnya terbuka lebar Namun Henry sudah siap Ia menghindar dengan satu gerakan ringan dan dalam sekejap ia membalas.
CRAAKK!
Tubuh serigala itu jatuh ke tanah tanpa suara namun yang lain langsung datang lebih banyak tanpa henti
Henry berdiri tegak matanya dingin tidak ada rasa takut tidak ada keraguan
“Datanglah…” gumamnya pelan.
Di dalam gua Arlan masih berada di sisi Alana Namun kini ia bisa merasakan perubahan yang semakin jelas kalung itu kembali bersinar lebih terang dari sebelumnya cahayanya berdenyut perlahan.
“Alana…”bisiknya pelan.
Kakek mendekat tatapannya serius.
“Dia mulai bangkit…”
Bibi menggenggam tangan Alana lebih erat wajahnya penuh kecemasan.
“Namun… ini berbeda…”
Di luar Edward dan Raja Serigala kembali bertabrakan.
BOOOOM!!
Benturan mereka kali ini lebih kuat tanah retak lebih dalam udara seperti terbelah Namun, Raja Serigala justru tertawa lebih keras lebih puas.
“Pasukanmu akan datang, bukan?”
Edward tidak menjawab Namun sikapnya cukup menjadi jawaban.
Raja Serigala tersenyum lebar.
“Bagus…”
Ia mundur beberapa langkah memberi jarak lalu ia mengangkat kepalanya tinggi dan melolong panjang suara itu menggema ke seluruh penjuru hutan dalam kuat menggetarkan.
Dan dari kejauhan jawaban datang lebih banyak lolongan lebih banyak bayangan bergerak menuju medan perang
Henry menyipitkan matanya.
“Tambahan pasukan…”
Situasi menjadi semakin buruk semakin padat semakin berbahaya Namun kali ini Henry tidak merasa khawatir.
Karena ia tahu di kejauhan pasukan mereka sedang bergerak dan saat mereka tiba pertempuran ini tidak akan lagi sekadar bertahan Namun, akan berubah menjadi perang besar yang akan menentukan masa depan semua pihak yang terlibat.