Artha Jayendra adalah seorang pemuda yang kini menjadi pengangguran setelah dikhianati oleh sahabat-sahabatnya sendiri dan bahkan oleh kekasihnya. Pengkhianatan itu menghancurkan hidupnya hingga membuatnya terpuruk dalam keputusasaan. Dalam kondisi depresi, ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan melompat dari sebuah jembatan. Namun sebelum ia melompat, cahaya terang tiba-tiba muncul di langit, dan sebuah menara raksasa misterius muncul di tengah kota. Bersamaan dengan itu, sebuah sistem aneh muncul di hadapannya. Alih-alih terkejut, Artha justru melihatnya sebagai kesempatan baru. Dengan tekad yang dingin, ia bersumpah dunia telah berubah dan dia akan menjadi lebih kuat dan membalas semua penghinaan, penindasan, dan pengkhianatan yang pernah ia terima. Dari sinilah perjalanan Artha Jayendra dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yikkii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab XXX—Sang Pangeran
...BAB III: PANGERAN YANG TERKUTUK...
...----------------...
Xarxes terlahir di atas pilar-pilar peradaban yang paling megah, Kerajaan Aetheria, sebuah kedaulatan bangsa Griffin yang berkuasa di atas hamparan awan abadi. Sebagai putra mahkota, ia adalah personifikasi dari kemegahan. Bulunya berkilau keemasan layaknya fajar, dan cakar-cakarnya sekeras berlian yang mampu membelah baja. Namun, di balik kemegahan takhta tersebut, terdapat keretakan yang tidak pernah ia duga akan menghancurkan hidupnya. Xarxes tumbuh bersama saudara-saudara tirinya, para Griffin yang lahir dari selir-selir kerajaan. Meski mereka berbagi atap yang sama, kebencian tetap tumbuh subur di hati saudara-saudaranya seperti parasit yang memakan kewarasan.
Setiap hari, Xarxes harus menelan cemoohan dan tatapan penuh kebencian yang dilemparkan oleh adik-adik tirinya. Mereka memandangnya bukan sebagai calon pemimpin, melainkan sebagai penghalang ambisi. Namun, Xarxes bukanlah sosok yang mudah terpancing oleh amarah. Ia membalas setiap racun verbal dengan kesabaran yang luar biasa, memperlakukan mereka dengan kasih sayang seorang kakak yang tulus, berharap bahwa kehangatan dapat mencairkan es kebencian di hati mereka. Sayangnya, ketulusan Xarxes justru dianggap sebagai kelemahan yang memuakkan bagi mereka yang haus akan kekuasaan.
Malam itu, atmosfer Kerajaan Aetheria terasa berbeda. Awan putih yang biasanya bercahaya lembut mendadak menebal, menutupi lantai kerajaan seolah-olah alam sedang berusaha menyembunyikan sebuah dosa besar pada malam itu. Langit berubah menjadi hitam pekat, namun rembulan bersinar dengan cara yang tidak wajar, memancarkan cahaya perak yang dingin dan menyakitkan mata. Di dalam kamarnya yang megah, Xarxes terlelap dalam tidur yang sangat lelap, tidak menyadari bahwa maut sedang berdiri tepat di samping tempat peraduannya.
Adik tirinya, yang paling muda dan yang paling penuh dengan iri dengki, berdiri di kegelapan. Di tangannya terdapat sebuah perkamen kuno berisi mantra terlarang yang ia peroleh dari ceruk terdalam dunia bawah, sebuah sihir hitam yang mengharamkan keberadaan Griffin. Dengan suara berbisik yang menyerupai desis ular, ia melafalkan mantra tersebut. Energi gelap keluar dari mulutnya, merayap seperti ribuan serangga menuju tubuh Xarxes. Setelah memastikan ritual terkutuk itu selesai, sang adik menghilang ke dalam kegelapan kamarnya sendiri, meninggalkan sebuah kutukan yang akan mengubah sejarah kerajaan selamanya.
Fajar menyingsing, namun bagi Xarxes, itu adalah awal dari malam yang abadi. Saat ia membuka mata, ia merasakan sensasi dingin yang tidak biasa di sekujur tubuhnya. Ketika ia mencoba bangkit, pemandangan mengerikan tersaji di depan matanya. Seluruh bulu keemasannya yang megah telah rontok, menumpuk di atas kasur seperti sampah yang tidak berharga. Cakar-cakarnya yang kuat telah tanggal, menyisakan jemari yang rapuh dan berdarah. Xarxes gemetar hebat, ia telah kehilangan identitasnya sebagai bangsa Griffin. Rasa takut yang melumpuhkan menjalar ke seluruh sarafnya, namun ia mencoba tetap tenang dan mencari penjelasan atas fenomena mustahil ini.
Keadaan berubah menjadi bencana ketika seorang pelayan kerajaan masuk untuk mengantarkan sarapan pagi. Melihat sosok di atas tempat tidur yang kini menyerupai monster tanpa bulu yang menjijikkan, pelayan itu menjerit histeris. Teriakannya membelah kesunyian istana, memicu kegaduhan yang sampai ke telinga sang Raja. Sang ayah, penguasa tertinggi Aetheria, masuk ke dalam kamar dengan langkah yang menggetarkan lantai. Namun, alih-alih memberikan perlindungan atau empati, mata sang Raja justru menyala karena amarah dan rasa malu yang mendalam.
Bagi bangsa Griffin, kehilangan bulu dan cakar adalah simbol kutukan dan aib terbesar yang tidak termaafkan. Sang Raja menganggap keadaan Xarxes sebagai penghinaan terhadap garis keturunan suci mereka. Tanpa penyelidikan lebih lanjut, sang Raja memerintahkan prajurit untuk menyeret Xarxes yang tidak berdaya. Dengan kasar, tubuhnya ditarik menuju ujung cakrawala, di mana awan berakhir dan jurang maut bermula. Dengan satu dorongan penuh kebencian, sang ayah membuang putra mahkotanya sendiri ke dunia bawah yang gelap dan asing.
Xarxes jatuh dari ketinggian ribuan kaki. Tubuhnya menghantam dahan-dahan pohon dan bebatuan tajam sebelum akhirnya mendarat di tanah yang keras. Secara ajaib, ia tidak mati, namun kondisinya sangat mengenaskan. Tulang-tulangnya patah, dan darah mengalir deras dari pori-pori kulitnya yang tidak lagi terlindungi. Dalam kondisi sekarat, di tengah rasa sakit yang tidak terbayangkan itu, Xarxes berdesis. Suaranya rendah namun mengandung kekuatan dendam yang murni. Ia mengucapkan sumpah terkutuk terhadap keluarganya, mengulanginya berkali-kali hingga suaranya serak dan jiwanya hampir padam, sebelum akhirnya ia kehilangan kesadarannya.
Waktu seolah berhenti bagi Xarxes yang tergeletak di antara kematian dan kehidupan. Namun, ketika ia akhirnya tersentak bangun, ia tidak menemukan kegelapan. Ia justru disambut oleh sepasang mata yang penuh dengan ketenangan namun seperti menyimpan otoritas yang tak terbatas. Seorang manusia muda berdiri di hadapannya, memberikan senyuman hangat yang anehnya terasa sangat tulus di tengah penderitaan Xarxes.
“Kau sudah bangun ya...” ucap pemuda itu dengan nada datar namun mendalam. “Pasti kebangunanmu ini hanya untuk melampiaskan dendam, bukan?”
Xarxes mencoba memfokuskan penglihatannya. Di sisi kanan dan kiri pemuda itu, berdiri dua sosok yang sangat tidak biasa: seorang panglima dari bangsa Orc yang bertubuh kekar dan sesosok Skeleton misterius yang mengenakan mahkota di atas tengkoraknya. Mereka memandang Xarxes bukan dengan rasa jijik, melainkan dengan pengakuan atas penderitaan yang sama. Di saat itulah Xarxes menyadari bahwa ia tidak lagi sendirian. Di bawah naungan sang manusia muda tersebut, Xarxes akan bangkit bukan lagi sebagai putra mahkota yang jatuh, melainkan sebagai bayangan pembalasan yang akan meruntuhkan kerajaan awan yang telah mengkhianatinya.