NovelToon NovelToon
CINTA TERLARANG : BOSS DAN KARYAWAN

CINTA TERLARANG : BOSS DAN KARYAWAN

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: MissSHalalalal

seorang gadis muda yang harus benting tulang menghidupi kedua adik kembarnya setelah kedua orang tuanya meninggal. adik perempuannya sakit-sakitan, mengharuskannya bekerja lebih keras. saat pulang bekerja tak sengaja dia tertabrak mobil, dan ternyata yang menabrak itu adalah pemilik perusahaan tempat dia bekerja. saat itu lah pria pemilik perusahaan itu jatuh hati pada gadis itu. bukan hanya karena kecantikannya, tapi juga karena sifatnya yang baik dan sangat menyayangi adik-adiknya. namun saat melihat adik laki-laki gadis itu, dia mengingat seseorang di masa lalunya. tentang ayahnya yang pernah mengaku melakukan kejahatan sebelum dia meninggal. ayah pria itulah yang menjadi penyebab kematian kedua orang tua nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4

***

Lantai VVIP itu begitu sunyi, hanya deru halus mesin pendingin ruangan dan bunyi bip teratur dari monitor jantung yang menemani Andika. Di balik jeruji ranjang besi yang dingin, Dita terbaring sangat lemah. Kulitnya hampir transparan, menampakkan urat-urat biru yang halus di pelipisnya.

Dika, remaja yang dikenal dingin dan tak tersentuh di sekolahnya, kini luruh. Punggungnya merosot di kursi kayu. Air mata yang selama ini ia kunci rapat di balik tatapan tajamnya, kini mengalir tanpa suara, membasahi pipinya yang kasar karena debu pasar.

"Dit... bangun, Dit," bisik Dika parau. Suaranya pecah. "Katanya mau liat aku tanding basket? Katanya mau nunggu kita lulus biar bisa jalan-jalan ke taman kota?"

Ia menggenggam tangan Dita yang mungil. Rasanya begitu ringan, seolah-olah nyawa adiknya itu hanya terikat pada seutas benang tipis yang bisa putus kapan saja.

Memori itu kembali datang, menghantam Dika seperti ombak besar. Malam sebelum kecelakaan maut dua tahun lalu, ayahnya, Maher, memanggil Dika ke ruang kerja.

"Dika," suara ayahnya saat itu terdengar sangat berat, seolah ia tahu ajal akan menjemput. "Ayah mungkin tidak akan selalu ada. Kamu anak laki-laki. Kamu adalah pelindung. Jaga Kak Dinda, jaga Dita. Jika Ayah tiada, kehormatan dan kebahagiaan mereka ada di pundakmu."

Dika mengepalkan tangan yang bebas. "Maafin Dika, Yah. Dika gagal. Kak Dinda harus kerja di pabrik sampai pingsan, dan Dita... Dita harus nanggung sakit sesakit ini."

Selama ini, Dika menelan semua rasa lelahnya sendiri. Ia jarang masuk kelas bukan karena malas, melainkan karena ia tidak bisa membiarkan kakaknya memikul beban keuangan sendirian. Saat teman-temannya sibuk dengan game atau nongkrong, Dika berkutat dengan bau amis pasar, memikul karung-karung berat, atau mencuci piring di kantin sekolah saat jam istirahat demi lembaran lima ribu rupiah. Semuanya ia lakukan diam-diam, agar Dinda tidak merasa gagal sebagai kakak.

Ia teringat tiga bulan lalu, saat Dita pertama kali ambruk di sekolah. Diagnosis leukemia itu menghancurkan sisa-sisa harapan mereka. Sejak saat itu, Dika menjadi bayangan bagi kembarannya. Ia yang menyalin catatan pelajaran, ia yang membujuk guru agar Dita boleh ikut ujian di rumah, dan ia yang menggendong Dita setiap kali gadis itu terlalu lemah untuk berjalan.

"Dita harus sembuh," bisik Dika dengan nada mengancam pada takdir. "Aku nggak butuh sekolah, aku nggak butuh masa depan, asal kamu sama Kak Dinda baik-baik saja."

***

Beberapa lantai di bawahnya, di ruang observasi yang jauh lebih tenang, Allandra Ryuga masih duduk dengan kaku. Matanya tak lepas dari sosok wanita yang terlelap di atas ranjang. Adinda Maheswari.

Cahaya lampu ruang perawatan yang temaram memberikan efek dramatis pada wajah Dinda. Bulu matanya yang panjang menciptakan bayangan tipis di pipinya. Alan, yang biasanya hanya melihat orang sebagai angka atau alat untuk mencapai tujuan bisnis, merasakan sesuatu yang asing di dadanya. Ada kedamaian yang aneh saat ia hanya duduk memperhatikan napas Dinda yang teratur.

Rasa ingin melindungi itu muncul begitu kuat, hingga berubah menjadi sesuatu yang lebih primitif: rasa ingin memiliki.

Bagaimana bisa wanita sekuat ini berakhir di pabrikku? batin Alan.

Tanpa sadar, tangan Alan bergerak. Ujung jarinya yang dingin menyentuh permukaan pipi Dinda yang halus namun pucat. Ia membelainya dengan sangat lembut, seolah takut kulit itu akan retak jika ditekan terlalu keras.

Dinda sedikit terusik. Bibirnya bergumam tanpa suara, kepalanya sedikit miring mencari posisi nyaman, namun ia tetap terhanyut dalam pengaruh obat penenang.

Alan terpaku. Wajahnya perlahan condong ke depan. Aroma tubuh Dinda—campuran antara sabun murah, bau mesin pabrik, namun tetap terasa manis—menyerbu indra penciumannya. Dorongan itu begitu kuat. Alan ingin mengecap bibir yang selama ini terlihat begitu tegar di hadapannya. Jarak di antara mereka kini hanya tersisa beberapa sentimeter.

BRAKK!

Pintu ruang observasi terbuka lebar tanpa ketukan. Alan tersentak, segera menarik tubuhnya kembali dengan posisi tegak, mencoba mengembalikan wajah dingin dan berwibawanya dalam sekejap.

"Tuan Allandra! Maafkan saya, ini darurat!"

Leo, asisten pribadinya, masuk dengan napas tersengal-segal. Wajahnya tampak pucat, memegang sebuah map hitam yang sangat rahasia.

"Leo! Apa kamu lupa caranya mengetuk pintu?" bentak Alan, suaranya rendah namun penuh ancaman. Jantungnya masih berdegup kencang karena hampir tertangkap basah melakukan hal yang tak pantas.

"Maaf, Tuan. Tapi informasi ini... ini tentang Maheswara Group. Saya harus menyampaikannya sekarang," Leo tidak mempedulikan amarah bosnya.

Alan berdiri, berjalan menjauh dari ranjang Dinda agar suara mereka tidak membangunkannya. "Katakan."

Leo membuka map itu dengan tangan sedikit gemetar. "Pihak asing yang mengakuisisi perusahaan orang tua Adinda... sebenarnya hanyalah perusahaan cangkang, Tuan. Pemilik aslinya adalah Paman Anda sendiri, Richard Ryuga."

Tubuh Alan membeku. "Paman Richard?"

"Benar, Tuan. Saat itu Anda masih mengurus proyek di London, dan Ayah Anda sedang sakit keras. Sepertinya Paman Richard sengaja merekayasa hutang bank Maheswara Group agar perusahaan itu kolaps. Dia jugalah yang diduga berada di balik penutupan kasus kecelakaan tragis dua tahun lalu," jelas Leo dengan suara berbisik.

Alan mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Richard Ryuga adalah sosok yang licik, namun ia tak menyangka pamannya sekejam itu.

"Sekarang Paman Richard ada di luar negeri, Tuan. Dia sedang berada di Swiss untuk pengobatan jantungnya. Dari laporan intelijen yang saya dapat, dia beranggapan bahwa seluruh keluarga Mahendra—Maher, istrinya, dan ketiga anaknya—sudah tewas dalam kecelakaan itu. Dia tidak tahu bahwa ketiga anak mereka selamat."

Alan menoleh ke arah Dinda yang masih tertidur. Kenyataan ini menghantamnya seperti godam besar.

"Jadi... selama ini mereka hidup menderita karena perbuatan keluarga saya sendiri?" gumam Alan. Suaranya terdengar kosong.

"Tuan, jika Paman Richard tahu mereka masih hidup, terutama Adinda yang merupakan pewaris sah, dia pasti akan mencoba menghilangkan jejak. Posisi Anda juga akan sulit di hadapan dewan komisaris jika ini terbongkar," Leo memperingatkan.

Alan terdiam cukup lama. Tatapannya kini berubah. Jika tadi ada rasa ingin memiliki, kini rasa itu bercampur dengan rasa bersalah yang luar biasa. Namun, di balik itu semua, muncul tekad yang lebih gelap.

"Jangan beritahu siapapun tentang keberadaan mereka. Hapus semua data Adinda Maheswari dari sistem kepegawaian pabrik. Ubah identitasnya di rumah sakit ini sebagai tamu pribadi saya," perintah Alan dengan nada dingin yang mematikan.

"Maksud Anda, Tuan?"

"Saya akan menyimpan mereka di tempat yang tidak bisa dijangkau oleh Richard. Dan jika saatnya tiba..." Alan menggantung kalimatnya, matanya menatap tajam ke arah pintu, membayangkan pamannya. "Saya sendiri yang akan membuat Paman Richard membayar semua ini."

Tiba-tiba, dari arah ranjang, terdengar suara erangan kecil. Dinda mulai membuka matanya. Alan segera memberi isyarat agar Leo pergi.

Dinda mengerjap, melihat langit-langit putih rumah sakit sebelum matanya bertemu dengan mata tajam Alan.

"Tuan Alan? Berapa lama saya tertidur?" tanya Dinda dengan suara serak. "Dita... saya harus ke tempat Dita."

Alan mendekat, kali ini tanpa sentuhan fisik, namun tatapannya jauh lebih intens dari sebelumnya. "Dita aman. Dika bersamanya. Tapi ada hal lain yang perlu kita bicarakan, Dinda."

Dinda mengernyitkan dahi, merasakan aura yang berbeda dari pria di hadapannya. "Tentang apa, Tuan?"

"Tentang masa depan kalian. Mulai hari ini, kalian tidak akan kembali ke kontrakan itu lagi," ujar Alan mutlak.

***

bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!