Satu malam karena pengaruh alkohol, Arkananta Mahendra merenggut segalanya dari Zevanya, seorang pelayan hotel yang tak berdaya. Arkan pergi tanpa tahu wajah wanita itu, meninggalkan Zevanya dengan janin yang tumbuh di rahimnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nia Rmdhn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ingatan yang Kembali
Sesampainya di di rumah,
Zevanya terduduk lemas di atas kasur.
Napasnya masih terengah,
jantungnya berdegup kencang.
Ia menatap plastik belanjaan yang tadi sempat berantakan di jalan.
Ingatannya melayang kembali ke malam di kamar hotel bersama pria asing.
Di antara aroma alkohol dan rintihan frustrasi pria itu,
ada satu kata yang baru saja teringat di telinga Zevanya.
"Mahendra... sialan dengan aturan Mahendra..."
Zevanya menutup mulutnya dengan tangan yang gemetar.
"Waktu itu... pria itu bukannya menyebut nama Mahendra aku baru mengingatnya?"
ucap zevanya pada kesunyian kamar.
Pikiran Zevanya mulai berputar,
"Nama itu bukan nama sembarangan,
Di kota ini, siapa yang tidak tahu keluarga Mahendra?
Pemilik gedung pencakar langit yang setiap hari aku lewati saat pulang kerja.
Apa Mahendra yang orang terkaya itu? Yang kantornya sering aku lewati?"
ucap zevanya pelan.
Zevanya segera menggelengkan kepala,
mencoba menyangkal kenyataan yang terlalu besar untuknya.
"Ah, tapi tidak mungkin. Orang sepertinya... untuk apa mabuk di hotel tempatku bekerja?"
Namun,
bayangan wajah pria yang menabraknya tadi sore kembali muncul.
Rahang yang tegas, tatapan mata yang dalam
dan aroma parfum yang sama persis seperti pria yang menidurinya.
"Pria yang menabrakku tadi punya aroma parfum seperti pria yang meniduri ku waktu itu... "
Zevanya meremas ujung bajunya.
"Jika benar pria tadi adalah yang berasal dari keluarga Mahendra,
apa pria itulah ayah dari janin ini?"
rasa tidak percaya muncul di dada zevanya.
Ia teringat berita di televisi tentang betapa berkuasanya keluarga itu.
Zevanya menatap pantulan dirinya di cermin lemari pakaiannya.
Wajahnya pucat, matanya sembab.
Ia mengusap perutnya yang masih rata,
tempat di mana benih itu mulai tumbuh.
"Apa benar bayi yang aku kandung ini anak dari keturunan Mahendra?"
gumamnya dengan suara serak.
Ia tertawa,
menertawakan kemungkinannya sendiri.
"Tidak mungkin. Itu tidak mungkin terjadi. Mereka keluarga terhormat, keluarga bangsawan bisnis.
Mana mungkin pria sehebat itu mabuk sampai meniduri pelayan hotel sepertiku,
dan aku juga tidak mungkin menandai hanya dengan aroma parfum?"
Zevanya menggelengkan kepala kuat-kuat,
mencoba mengusir bayangan wajah Arkan dari pikirannya.
"Selera mereka pasti tinggi. Wanita-wanita cantik, berpendidikan, dan kaya raya...
bukan perempuan rendahan yang hanya bisa membereskan tempat tidur orang lain.
Lagi pula ini semua juga kesalahan ku sendiri."
Rasa rendah diri zevanya muncul seketika,
dan di sisi lain,
hal itu memberinya sedikit rasa lega.
"Nama Mahendra kan ga cuma di miliki oleh keluarga kaya itu.
Mending sekarang aku berpikir bagaimana cara membesarkan bayi ini,"
ucap Zevanya pada diri sendiri.
Zevanya mulai menghitung sisa tabungannya yang tidak seberapa.
Ia sudah keluar dari hotel,
dan ia butuh pekerjaan baru yang lebih aman pekerjaan,
yang tidak buat lelah karna dia lagi hamil muda.
"Ibu akan berjuang untukmu, Nak. Biarlah ayahmu tetap menjadi rahasia malam itu.
Kita akan hidup berdua saja,
tanpa perlu berhubungan dengan siapapun yang hanya bisa menghancurkan hidup kita."
Zevanya membuka ponselnya mencari kolom lowongan kerja di bagian admin atau toko kecil yang jauh dari pusat kota.
Ia tidak tahu bahwa takdir tidak akan membiarkannya pergi begitu saja.
Jauh di gedung pencakar langit sana, Arkananta sedang menatap selembar kartu.
yang tak sengaja ia temukan di trotoar tempat dia bertabrakan tadi.
gas terus sampai mereka bersatu..💪💪💪