Revania Agatha, Ibu muda berusia 32 tahun yang sudah memiliki seorang putra. Terjebak dalam dilema antara bertahan atau pergi disaat rumah tangganya tak lagi membuatnya merasa diinginkan oleh suaminya sendiri.
Nathan Alexander, pria dewasa dan mapan yang masih betah melajang dan disibukkan dengan karir yang dibangunnya. Namun tanpa di duga dirinya justru tertarik pada wanita yang sudah bersuami.
Gimana ya kisahnya, yuk ikutin ceritanya. ☺
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vennyrosmalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 13
Apartemen Luxury
Nathan pulang ke apartemen dengan pikiran yang penuh. Tanpa membuka sepatu kerjanya Nathan merebahkan tubuhnya di kasur besarnya.
"Revania." gumam Nathan.
Flashback
Saat Nathan sedang memeriksa laporan di laptopnya, muncul email yang masuk dari Daniel. Nathan langsung membuka email itu dan membaca informasi yang diberikan Daniel tentang istri dan anak Satria.
"Revania Agatha." sebut Nathan ketika membaca nama istri dari Satria.
Nathan juga melihat beberapa foto istri dan anak Satria yang dikirim Daniel. Dahinya mengkerut saat Nathan menyadari pernah bertemu dengan wanita dalam foto itu.
"I Got You, dunia begitu sempit rupanya." ucap Nathan dengan senyum smirk di wajah tampannya.
Belum Nathan membaca detail informasi istri Satria, Bram muncul memberitahukan kedatangan Satri ke perusahaannya.
Flashback off
.
.
Keesokan harinya.
Satria baru saja mematikan mesin mobilnya. Dia segera turun dan masuk ke dalam rumah.
"Vania, Resa." panggil Satria saat rumah terasa sepi.
Satria bergegas naik ke lantai 2 menuju kamarnya dengan Vania. Membuka pintu, tapi kamar itu kosong dan kasurnya pun terlihat rapi.
Satria kemudian melangkah keluar dan menuju ke kamar Resa di sebelah kamarnya. Begitu pintu terbuka, Satria melihat Vania yang sedang memakaikan seragam sekolah pada Resa.
"Ayah." teriak Resa senang dan langsung berlari ke arah Satria.
Dengan sigap Satria menggendong putranya yang sudah harum pagi ini.
"Ayah kenapa baru pulang?" tanya Resa dengan wajah cemberut.
Satria melirik ke arah Vania sebelum menjawab pertanyaan putranya.
"Maafkan Ayah ya sayang, Ayah lagi banyak sekali pekerjaan di kantor. Tapi untuk hari ini, Ayah bisa libur dan mengantar Resa pergi sekolah." jelas Satria dan berhasil membuat Resa mengembangkan senyum di wajah tampannya.
"Benar Ayah?"
Satria mengangguk dan Resa langsung bersorak karena pagi ini dirinya akan pergi sekolah di antar Ayahnya.
"Sayang, ayo benarkan dulu seragamnya." ucap Vania sambil menghampiri keduanya.
Satria menurunkan Resa dari pangkuannya dan membiarkan istrinya merapikan pakaian Resa sejenak.
Sejak dirinya datang, Satria merasa Vania seolah tidak menganggapnya ada, bahkan Vania tidak menyapa atau menyalimi tangannya seperti biasa.
Pikiran Satria berkecamuk sejak kemarin. Satria takut jika Nathan sudah menemui istrinya atau mengatakan tentang pernikahannya dengan Irene.
"Ayah, Ayah." Resa memanggil Satria yang terus saja melamun.
"Mas." Vania menepuk pelan tangan Satria dan berhasil membuat Satria tersadar dari lamunannya.
"Hah, kenapa?" tanya Satria menatap istrinya.
"Kamu yang kenapa? Pagi-pagi sudah ngelamun." ketus Vania.
Vania pikir suaminya pulang hanya membawa raganya saja. Entah fikiran Satria melayang dimana.
"Tidak, aku tidak melamun. Aku hanya lelah saja." jawab Satria beralasan.
"Kalau kamu lelah, biar Aku dan Resa pergi naik taksi saja." ucap Vania.
"Jangan, Aku masih bisa mengantar Resa sekolah. Ayo Sayang." ajak Satria dengan menggandeng tangan Resa.
Vania hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Satria. Tapi Vania cukup senang saat Satria mau meluangkan waktu untuk mengantar Resa sekolah meski mengeluh lelah.
.
.
Sampai di sekolah Resa, Satria juga ikut mengantar Resa masuk sampai ke kelas. Vania hanya mengekori keduanya dari belakang.
"Belajar yang rajin ya." ucap Satria pada Resa.
"Baik Ayah. Apa nanti Ayah juga akan menjemputku?" tanya Resa.
Satria mengelus kepala Resa dan mengangguk tanda akan menjemputnya sepulang sekolah nanti.
Begitu Resa masuk, Vania yang tadinya akan menunggu Resa di sekolah justru di ajak Satria untuk pergi sebentar.
"Nanti Resa bagaimana Mas?" Vania cemas jika jam istirahat nanti Resa akan mencarinya.
"Vania." obrolan Vania dan Satria terhenti ketika Liliana datang menyapa.
"Lili, kalian baru datang?" tanya Vania dan mengelus rambut Selly yang ada di sisi Liliana.
"Iya Vania, ini." tunjuk Vania pada Satria.
Satria segera mengulurkan tangannya pada Liliana dan disambut oleh Liliana.
"Saya suami Vania." ucap Satria memperkenalkan dirinya.
"Oh iya. Saya Liliana." jawab Liliana.
Kemudian Liliana berpamitan untuk mengantarkan putrinya masuk ke kelas. Tapi Vania menghentikan langkah Liliana.
"Lili, boleh aku titip Resa dulu nanti saat jam istirahat." pinta Vania.
"Kamu mau pergi dengan Ayahnya Resa." Vania menganggukan kepalanya.
Liliana pun setuju dan akan memberikan pengertian pada Resa nanti. Vania pun berterima kasih sebelum pergi.
.
.
Kafe Tenangan.
"Pesanlah makanan Vania." titah Satria begitu mereka duduk di satu meja yang cukup nyaman.
"Tapi tadi kita sudah sarapan, aku pesan jus saja. kamu mau apa?" tanya Vania.
"Aku kopi saja." Vania mengangguk dan memesan pada pelayan kafe.
Sambil menunggu pesanan mereka, Satria terus saja menatap ke arah Vania dan membuat sang empunya wajah salah tingkah.
"Kamu kenapa liatin aku kaya gitu Mas?" tanya Vania aneh.
Mereka suami istri tapi Vania merasa asing dengan keadaan seperti sekarang ini. Pasalnya sudah lama sekali mereka tidak pergi keluar berdua seperti ini.
"Ada yang ingin aku katakan Vania." ucap Satria dengan raut wajah serius.
Satria berencana untuk memberitahukan pernikahannya dengan Irene secara langsung pada Vania. Dia tidak mau istri pertamanya ini mendengar dari pihak lain dan semakin membuat keadaan rumit.
"Ya katakan saja Mas." tutur Vania berusaha santai. Padahal dalam hatinya, Vania merasa ada yang tidak beres dengan sikap suaminya.
Drt.drt.drt
Getar dan suara ponsel Satria menghentikan pembicaraan mereka. Satria melihat panggilan dari nama Direktur di ponselnya. Vania juga melihat panggilan itu.
"Angkat saja Mas, pasti penting." titah Vania yang tahu jika Direktur yang ada di ponsel suaminya adalah atasan Satria.
Satria beranjak dari kursi dan meminta Vania menunggu sebentar. Vania hanya mengangguk tanpa protes.
"Ini pesanannya Ka, silahkan." pelayan kafe datang dengan membawa pesanan Vania.
"Oh iya terima kasih."
Vania kemudian menyesap sedikit demi sedikit jus nya. Sambil sesekali melihat suaminya yang terlihat serius berbicara dengan atasannya.
"Dia bilang libur, tapi masih saja sibuk dengan pekerjaannya." gerutu Vania.
Jus Vania sudah habis setengah, Satria pun baru kembali ke tempat duduk mereka.
"Sudah." tanya Vania dan di angguki Satria.
"Jam berapa Resa pulang sekolah?" tanya Satria.
"Dua jam lagi Mas, kenapa?" perasaan Vania sudah tidak enak dengan suaminya.
Dan benar saja, Satria mengatakan harus pergi ke perusahaan karena ada hal mendesak yang harus ditanganinya sendiri.
Vania yang enggan mendebat hanya pasrah dan mengangguk. Dia sudah terbiasa kecewa seperti ini pada Satria. Tapi bagaimana dengan Resa yang sudah di janjikan akan dijemput oleh Satria nanti.
Lagi dan lagi Vania harus pusing sendiri memikirkan cara agar putranya tidak bersedih dengan batalnya sang Ayah menjemputnya sepulang sekolah.
......................