"Baiklah, kalau kamu memang tetap ingin mempertahankan janin itu," ucap Bu Esta dengan tatapan tertuju pada perut Raline yang masih rata. Suaranya terdengar tegas dan tajam, membuat Raline menunduk takut.
"Kai akan menikahi kamu, tapi..." kalimatnya terjeda sejenak, sehingga Raline dan orang tuanya menatap wanita itu, menunggu kelanjutannya. "Setelah anak itu lahir, saya akan mengambilnya dan memberikannya pada orang lain. Kamu boleh terus melanjutkan hidupmu, dan Kai... dia akan melanjutkan studi ke Inggris tanpa harus mempertahankan pernikahannya denganmu."
*****
Cek visual karakternya di Ig @lisdaarustandy
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisdaa Rustandy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyelesaian (2)
"Kamu lihat itu, Kaisar?"
Suara Pak Umar tiba-tiba memecah keheningan. Berat dan penuh tekanan.
Kaisar tersentak.
Ia perlahan mengangkat wajahnya.
Pak Umar menatapnya lurus. Tidak ada lagi amarah yang meledak-ledak. Justru itulah yang terasa lebih menakutkan.
"Gadis yang kamu hamili itu," lanjutnya, suaranya parau, sembari menunjuk ke arah Raline.
"sedang menangis di depan kamu sekarang."
Kaisar menegang.
Namun ia tidak berani menoleh.
"Dia menanggung semuanya sendirian," tambah Pak Umar. "Menanggung malu. Menanggung dosa. Menanggung rasa takut. Dan sekarang… masa depannya sedang dibicarakan seolah dia bukan manusia yang punya hati. Dia tidak memiliki pilihan lain yang layak untuknya."
Setiap kata yang keluar terasa seperti pukulan.
Kaisar mengepalkan tangannya di atas lutut. Napasnya mulai tidak teratur.
Bu Esta menoleh sekilas ke arah putranya. Ada sesuatu dalam ekspresi Kaisar yang berbeda malam ini. Sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Pak Umar melanjutkan, suaranya kini lebih rendah.
"Saya tidak peduli soal nama baik," katanya.
"Saya tidak peduli soal omongan orang."
Ia menoleh ke arah Raline.
"Saya hanya peduli pada anak saya."
Raline semakin terisak. Tak bisa menahan tangis dalam situasi saat ini, di mana semua orang tengah membahas tentang dirinya.
"Saya sudah gagal menjaganya," lanjut Pak Umar lirih. "Sebagai ayah… saya sudah gagal. Benar-benar gagal."
Bu Dinar yang sejak tadi juga menangis tanpa suara, meraih tangan suaminya agar bisa duduk kembali. Tetapi Pak Umar belum ingin menyerah untuk memperjuangkan hak putrinya.
Masa depan putrinya sudah hancur. Dan gadis itu tidak bisa berbuat apa-apa selain menangis.
Ayah mana yang akan diam saja melihat hal tersebut?
Pak Umar tetap menatap Kaisar.
Kali ini, ia ingin bicara langsung dengannya dan mendengar jawaban pemuda itu, bukan ibunya.
"Sekarang saya tanya sama kamu."
Suasana kembali menegang.
"Apa kamu benar-benar siap menikahi anak saya?" tanyanya. "Tapi dengan ketulusan hatimu dan tidak akan mencampakkannya seperti yang ibumu katakan?"
Pertanyaan itu sederhana, namun terasa sangat berat di hati Kaisar.
Bukan karena ia tak mampu melakukan hal sesederhana itu, tapi ia tidak bisa melakukannya karena tahu itu akan menghancurkan ibunya sendiri. Wanita yang selama ini berjuang mati-matian untuk membuatnya tetap hidup dalam kenyamanan dan ketenangan sebagai single mom.
Kaisar terdiam.
Hatinya dilema. Otaknya berputar, berpikir keras untuk memberikan jawaban yang tepat tanpa membuat Pak Umar semakin murka.
Ruangan itu hening.
Tidak ada yang bicara selama Kaisar berpikir. Bahkan Bu Esta pun terdiam, dan membiarkan putranya menjawab pertanyaan tanpa harus ikut campur.
Hingga beberapa saat kemudian, Kaisar memberanikan diri menatap Pak Umar. Ia mengumpulkan keberaniannya untuk menyampaikan jawaban atas pertanyaan Pak Umar.
"Saya bisa menikahi Raline, Om," jawabnya hati-hati. "Tapi... saya hanya bisa melakukannya seperti yang Mama katakan."
Pak Umar tercengang. Bahkan Raline pun tak menyangka Kaisar benar-benar menuruti rencana ibunya. Membuatnya semakin kecewa pada pemuda itu.
Rahang Pak Umar kembali mengeras. Kedua tangannya mengepal. Rasanya ia ingin maju saja dan menghajar pemuda itu kembali saat ini juga.
Tapi Raline pernah melarangnya. Demi menjaga agar masalah ini tidak sampai ke tangan kepolisian.
Pak Umar menahannya sebisa mungkin, meski hatinya benar-benar ingin menghajar Kaisar yang terlalu pengecut itu.
"Saya minta maaf, Om..." lanjut Kaisar, sebelum Pak Umar bertanya lagi. "Bukan saya tidak mampu melakukan seperti yang Om minta, tapi saya benar-benar tidak bisa."
Matanya berkaca-kaca.
Ia menggigit bibirnya kuat-kuat, menahan agar tidak menangis. Emosinya bergejolak dalam dada.
"Saya hanya punya orang tua satu-satunya, dan itu Mama," tambahnya. "Saya gak bisa menghancurkan semua harapan Mama terhadap saya, setelah kesalahan besar yang saya lakukan, Om. Jadi, jika saya harus bertanggung jawab dan menikahi Raline, maka hanya ini yang bisa saya lakukan."
"Apa kamu sadar kalau kamu itu pengecut?" tanya Pak Umar, pelan tapi menekan.
Kaisar mengangguk.
"Ya, saya sadari itu," jawabnya jujur. "Saya memang pengecut, Om. Sejak awal, saya gak pernah bilang kalo saya ini pemuda yang bertanggung jawab. Saya bahkan mengecewakan Raline di hari pertama dia minta tanggung jawab. Tapi saya lakukan itu bukan tanpa alasan... Alasan saya yang paling utama adalah... Mama."
Bu Esta spontan menatap putranya, hatinya tersentuh mendengar Kaisar tengah membela dirinya.
"Kalau kamu memang tetap ingin melakukan sesuai kemauan ibumu, pulanglah," kata Pak Umar. "Tidak akan pernah ada pernikahan antara kamu dan anakku."
"Lupakan saja tentang hal ini. Dan jangan pernah muncul lagi di hadapan kami!"
Kaisar terdiam kembali.
Dadanya naik turun. Napasnya terasa berat, seolah udara di ruangan itu tidak lagi cukup untuk ia hirup.
Tatapannya perlahan jatuh ke lantai.
Lalu…
Tanpa diduga siapa pun, Kaisar berdiri dari duduknya.
Semua mata langsung tertuju padanya. Menunggu apa yang hendak dilakukannya.
Kaisar tidak berkata-kata lagi. Ia justru melangkah mendekat ke arah Pak Umar.
Satu langkah.
Dua langkah.
Hingga akhirnya...
Brukkk!
Ia menjatuhkan dirinya berlutut di depan pria itu.
Bu Dinar tersentak. Raline terbelalak, matanya membesar karena terkejut. Bahkan Bu Esta ikut menahan napas, tidak menyangka putranya akan melakukan itu.
Kaisar menunduk dalam-dalam.
Kedua lututnya menempel di lantai. Kedua tangannya menangkup tepat di depan wajahnya.
"Om, saya tau Om keberatan dan merasa kami mempermainkan," ucapnya. "Tapi saya mohon keringanan dari Om, agar saya tetap bisa menjalankan keduanya tanpa harus melepas salah satunya."
Suaranya keluar dalam keadaan bergetar dan serak. Ia tampak rapuh.
"Saya mohon, Om..."
Kalimat itu terhenti. Bahunya mulai bergetar.
Air matanya jatuh.
"Biarkan saya menikahi Raline dan bertanggung jawab atas anak yang dia kandung, walaupun hanya sementara. Saya gak mau hidup dalam rasa bersalah selamanya, Om..."
Semua orang terdiam. Mata mereka menatap pemuda itu. Yang terlihat tulus memohon dalam keadaannya yang putus asa.
Pak Umar tidak bergerak.
Ia berdiri tegak di tempatnya, menatap pemuda yang kini berlutut di hadapannya. Wajahnya kaku. Rahangnya mengeras. Namun matanya… matanya tidak lagi sepenuhnya dipenuhi amarah seperti sebelumnya.
Ruangan itu sunyi.
Tidak ada yang berani bicara. Bahkan suara napas pun terasa begitu jelas terdengar di antara mereka.
Kaisar masih berlutut. Kepalanya tertunduk dalam-dalam. Bahunya sesekali bergetar, entah karena suara tangis yang ia tahan atau karena rasa takut yang menghimpit dadanya.
Pak Umar memandangnya lama. Sangat lama.
Di dalam hatinya, badai berkecamuk.
Ia ingin menolak. Ingin mengusir pemuda itu keluar dari rumahnya. Ingin melindungi putrinya dari kemungkinan disakiti lagi oleh orang yang sama.
Namun kata-kata Raline sebelumnya terus terngiang di kepalanya.
Bahwa Kaisar hanya memiliki satu orang tua. Bahwa pemuda itu menolak bukan karena tidak peduli… tapi karena tidak ingin menghancurkan ibunya.
Pak Umar menutup matanya sejenak.
Dadanya naik turun. Semua orang tengah menunggu jawaban darinya saat ini.
Saat ia kembali membuka mata, sorotnya masih keras, namun tidak lagi sepenuhnya dipenuhi amarah. Ada sesuatu yang lain di sana. Sesuatu yang lebih berat dan ebih dalam.
Ia akhirnya membuka suara.
"Apa jaminan yang akan kamu berikan…"
Suaranya rendah, dalam, dan penuh tekanan.
"...jika saya mengizinkan kamu menikahinya seperti yang kamu mau?"
Kaisar tersentak.
Ia perlahan mengangkat wajahnya.
Matanya yang basah langsung bertemu dengan mata Pak Umar.
Pertanyaan itu bukan sekadar pertanyaan. Itu adalah ujian.
Kaisar terdiam sejenak.
Lalu tanpa sadar, matanya melirik ke samping.
Ke arah Raline.
Gadis itu masih menangis. Matanya sembab. Wajahnya pucat. Namun ia tetap duduk di sana, menanggung semua beban yang bahkan bukan sepenuhnya ia ciptakan sendiri.
Tatapan mereka bertemu lagi.
Ada rasa bersalah yang begitu besar dalam mata Kaisar.
Ia kembali menatap Pak Umar.
"Saya berjanji akan menjaganya, Om," ucapnya, suaranya serak namun jelas. "Saya akan memberikan perhatian dan kasih sayang saya buat dia selama dia menjadi istri saya. Saya janji."
Pak Umar tidak langsung menjawab. Tatapannya tetap tajam.
"Apa kamu bisa berjanji," lanjutnya, suaranya kini sedikit lebih berat, "...bahwa kamu atau ibumu tidak akan menyakitinya?"
Kaisar menelan ludah.
Pertanyaan itu terasa menekan dadanya. Ia perlahan menoleh ke arah ibunya.
Bu Esta menatap putranya.
Untuk pertama kalinya malam itu, tidak ada penolakan dalam matanya. Tidak ada kemarahan ataupun keegoisan. Yang ada hanya seorang ibu… yang melihat anaknya sedang berjuang memikul konsekuensi dari kesalahannya.
Perlahan Bu Esta mengangguk. Satu anggukan kecil, namun cukup menjadi jawaban. Cukup untuk memberi Kaisar keberanian.
Kaisar kembali menatap Pak Umar.
"Saya janji, Om," jawabnya lebih mantap. "Saya akan berusaha sebaik mungkin menjalankan kewajiban saya sebagai suaminya."
"Hmm…"
Suara napas berat keluar dari dada Pak Umar.
Ia menatap Raline lurus.
Putrinya yang menangis sambil menunduk itu membuat hatinya pilu.
"Baiklah. Kalau kamu serius dengan semua ini, bicara langsung padanya," ucap Pak Umar. "Biarkan dia yang memutuskan untuk menerima atau menolak permintaanmu."
"Saya tidak mau memutuskan sesuatu yang tidak dia inginkan. Soal ini, dia yang lebih berhak memutuskannya."
Kaisar langsung menatap Raline.
Tanpa membuang waktunya, ia segera menghampiri Raline lalu bersimpuh di hadapannya.
Raline terbelalak melihat Kaisar kini ada di hadapannya. Kaisar meraih kedua tangan Raline yang terasa dingin dan gemetar, lalu menggenggamnya dengan erat. Ia mendongak, menatap mata sembab gadis itu dengan tatapan memohon yang begitu hancur.
"Dengan kesungguhan dan niat baik kami, gue harap lo mau terima lamaran gue, Lin. Gue tau ini jahat buat lo, tapi tolong kasih gue kesempatan. Setidaknya gue bisa bertanggung jawab untuk anak itu," ucap Kaisar. Suaranya pecah, tercekat di tenggorokan.
Raline menatapnya lama. Air mata Kaisar semakin deras mengalir, membasahi pipi pemuda itu hingga jatuh ke punggung tangan Raline. Di sana, Raline bisa melihat keseriusan yang nyata di wajah Kaisar, meski di sudut hatinya ia tahu Kaisar juga sedang terjepit di antara kewajiban sebagai calon ayah dan pengabdiannya pada sang ibu.
"Gue kecewa sama lo, Kai..." ucap Raline lirih. Suaranya nyaris hilang ditelan isak tangis. "Kita sama-sama hancur, tapi gue yang lebih hancur. Gue gak tau apa rencana lo sebenarnya, tapi gue anggap itu niat baik."
Raline menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya di tengah tatapan tajam Pak Umar dan sorot mata Bu Esta yang sulit diartikan.
"Gue gak punya pilihan apapun sekarang. Kalo emang lo serius mau nikahi gue, gue terima. Tapi dengan syarat..."
Kaisar tersentak kecil, namun genggamannya tidak lepas. Ada sebersit harapan di matanya.
"Apa itu, Lin? Gue bakal turutin apapun syaratnya," tanya Kaisar dengan nada mendesak, seolah nyawanya bergantung pada jawaban gadis di depannya.
bacanya Brebes mili
bagus ini cerita😍
next ya