Arumi kehilangan segalanya dalam satu malam bayinya yang baru lahir tewas dalam kecelakaan tragis, dan ibunya kini kritis di rumah sakit tanpa biaya. Namun, takdir mempermainkannya; meski bayinya tiada, ASI Arumi tetap mengalir deras—sebuah pengingat menyakitkan akan kehilangan yang ia alami
Di sisi lain, Arlan Arkananta, seorang CEO dingin yang berkuasa, menyimpan rahasia besar. Ia memiliki seorang putra bayi bernama Leon yang keberadaannya disembunyikan dari dunia dan pihak keluarga besar. Leon menolak semua susu formula dan perawat, hingga hanya aroma tubuh Arumi yang mampu menenangkannya.
Terdesak oleh biaya rumah sakit, Arumi terpaksa menandatangani kontrak "Iblis". Ia bersedia menjadi ibu susu rahasia di mansion tersembunyi milik Arlan dengan aturan ketat: Dilarang mengungkap identitas bayi, dilarang keluar tanpa izin, dan yang paling berat—dilarang memiliki keterikatan emosional.
Namun, di balik tembok mansion yang dingin, Arumi menemukan bahwa Leon bukan sekadar bayi biasa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: CUKUP SATU NAMA DI HATIMU
Pagi itu, udara di kampus Universitas Indonesia terasa menyegarkan bagi Arumi. Setelah hampir satu dekade terkubur dalam kemiskinan dan kewajiban yang menyesakkan, ia akhirnya bisa kembali menghirup aroma buku perpustakaan dan laboratorium kimia. Arlan memenuhi janjinya; ia mendaftarkan Arumi kembali ke fakultas kedokteran, mengurus seluruh kredit semester lamanya yang sempat hangus, dan memberikan Arumi kesempatan untuk mengejar mimpinya yang sempat mati.
Namun, statusnya sebagai "Istri sang mantan CEO Arkananta" tidak bisa disembunyikan begitu saja. Meski Arlan sudah mengundurkan diri, berita tentang pernikahan mereka yang sederhana namun kontroversial masih menghiasi laman portal berita bisnis dan gosip.
Arumi berjalan menyusuri koridor menuju laboratorium anatomi dengan perasaan was-was. Ia mengenakan kemeja putih sederhana dan celana bahan, berusaha tampil selazim mungkin sebagai mahasiswa. Namun, bisikan-bisikan tetap mengikutinya.
"Lihat, itu dia... wanita yang membuat Arlan Arkananta rela melepas takhtanya."
"Benarkah dia hanya ibu susu awalnya? Beruntung sekali nasibnya."
Arumi menunduk, mempercepat langkahnya. Ia tidak ingin dikenal sebagai "Istri Arlan". Di sini, ia ingin menjadi Arumi, calon dokter yang akan menyembuhkan ibunya.
Saat memasuki laboratorium, Arumi dikejutkan oleh sosok pria yang berdiri di depan meja preparat. Pria itu mengenakan jas putih dokter, sedang menjelaskan struktur jantung kepada sekelompok mahasiswa junior. Suaranya yang bariton dan tenang seketika memicu memori lama di kepala Arumi.
dr. Adrian Wirayudha.
Dia adalah asisten dosen paling brilian saat Arumi masih di tingkat satu dulu. Pria yang pernah memberikan Arumi buku teks bekas secara gratis karena tahu Arumi tidak mampu membelinya. Pria yang diam-diam Arumi kagumi sebelum kecelakaan tragis itu menghancurkan dunianya.
Adrian menoleh saat pintu terbuka. Matanya yang tajam di balik kacamata frame tipis itu melebar. "Arumi? Arumi Salsabila?"
Arumi mematung. "Dokter Adrian... Anda masih di sini?"
Adrian tersenyum lebar, senyum yang dulu selalu membuat jantung Arumi berdebar kecil. "Aku sekarang menjadi dosen tamu dan residen bedah jantung di sini. Aku mendengar kabar kau kembali, tapi aku tidak menyangka akan bertemu denganmu secepat ini."
Adrian berjalan mendekat, mengabaikan mahasiswa lainnya. "Aku turut berduka atas semua yang menimpamu, Arumi. Dan... selamat atas pernikahanmu. Aku membaca beritanya."
Ada nada getir yang halus dalam suara Adrian saat menyebut kata "pernikahan". Arumi hanya bisa tersenyum kaku. "Terima kasih, Dok. Saya hanya ingin menyelesaikan apa yang saya mulai."
"Kalau begitu, mari kita mulai," ucap Adrian, matanya menatap Arumi dengan intensitas yang tidak biasa bagi seorang dosen kepada mahasiswanya. "Aku akan membimbingmu secara pribadi agar kau bisa mengejar ketertinggalanmu selama sepuluh tahun ini."
Sore harinya, Arlan datang menjemput Arumi dengan mobil SUV hitamnya. Ia tidak lagi menggunakan sopir; ia ingin menikmati setiap detik kebersamaannya dengan Arumi setelah jam kantornya yang padat di A&A Venture.
Arlan bersandar di kap mobil, tampak sangat tampan meskipun hanya mengenakan kemeja yang lengannya digulung. Beberapa mahasiswi tampak curi-curi pandang dan mengambil foto pria yang pernah dinobatkan sebagai "Sarjana Paling Diinginkan di Asia" itu.
Namun, wajah Arlan yang tadinya tenang seketika berubah gelap saat ia melihat Arumi keluar dari gedung fakultas tidak sendirian. Arumi tampak sedang tertawa kecil—sesuatu yang jarang Arlan lihat belakangan ini—bersama seorang pria jangkung berjas putih. Pria itu bahkan sempat menyentuh bahu Arumi dengan akrab sebelum mereka berpisah.
Arlan tidak menunggu Arumi sampai ke mobil. Ia melangkah maju dengan aura yang sangat dominan, seolah sedang bersiap untuk melahap siapapun yang berani mendekati miliknya.
"Arumi," panggil Arlan. Suaranya dingin dan tajam seperti silet.
Arumi menoleh dan tersenyum. "Arlan! Kau sudah lama menunggu?"
Arlan tidak menjawab istrinya. Matanya tertuju langsung pada Adrian yang masih berdiri beberapa meter di belakang Arumi. Kedua pria itu saling bertatapan, menciptakan medan magnet yang penuh ketegangan di tengah area kampus yang ramai.
"Siapa dia?" tanya Arlan tanpa basa-basi.
"Oh, ini Dokter Adrian. Dia dosen pembimbingku. Dulu dia juga yang membantuku saat aku masih tingkat satu," jelas Arumi polos, tidak menyadari api yang mulai membakar hati suaminya.
Adrian maju selangkah, mengulurkan tangannya dengan percaya diri. "Adrian Wirayudha. Senang bertemu dengan pria yang rela melepas segalanya demi mahasiswi terbaikku."
Arlan menjabat tangan Adrian, namun cengkeramannya begitu kuat hingga buku jari Adrian memutih. "Arlan Arkananta. Aku melepas Arkananta Group bukan karena aku lemah, tapi karena aku tahu apa yang paling berharga untuk kupertahankan. Dan Arumi adalah milikku yang paling berharga."
"Tentu saja," balas Adrian dengan senyum tipis yang provokatif. "Hanya saja, dunia kedokteran sangat melelahkan, Tuan Arlan. Arumi butuh seseorang yang mengerti bahasanya di sini.
Bahasa medis, bukan bahasa saham."
Arlan menarik Arumi ke sampingnya dengan posesif. "Dia tidak butuh bahasa medis untuk berkomunikasi denganku. Dia hanya butuh aku. Ayo pulang, Arumi. Leon merindukanmu."
Sepanjang perjalanan pulang, Arlan terdiam seribu bahasa. Rahangnya mengeras, dan ia mengemudikan mobil dengan kecepatan yang sedikit di atas rata-rata. Arumi menyadari bahwa badai sedang terjadi di sampingnya.
"Kau cemburu?" tanya Arumi lembut, mencoba mencairkan suasana.
"Cemburu? Pada seorang dosen yang terlihat seperti kurang tidur?" Arlan mendengus sinis. "Jangan konyol, Arumi."
"Tapi caramu menatapnya tadi seolah ingin membedahnya tanpa bius, Arlan."
Arlan mendadak menginjak rem dan menepikan mobil di bahu jalan yang sepi. Ia memutar tubuhnya menghadap Arumi, matanya berkilat penuh emosi yang tertahan.
"Aku tidak suka cara dia menatapmu, Arumi. Dia tidak menatapmu sebagai mahasiswa. Dia menatapmu sebagai wanita yang pernah dia cintai—atau mungkin masih dia cintai. Aku bisa melihatnya karena aku menatapmu dengan cara yang sama!"
Arumi tertegun. Ini adalah pertama kalinya Arlan mengakui perasaannya dengan begitu meledak-ledak. "Arlan, dia hanya masa lalu. Saat itu aku hanya mengaguminya dari jauh karena dia pintar. Itu saja."
"Masa lalu adalah hantu yang paling sulit diusir, Arumi," Arlan mendekatkan wajahnya, napasnya terasa hangat di kulit pipi Arumi. "Aku kehilangan segalanya untuk bisa bersamamu. Aku kehilangan statusku, ibuku, dan kerajaanku. Jika aku kehilanganmu juga karena seorang dokter yang mengerti 'bahasa medismu', aku bersumpah akan meratakan kampus itu."
Arumi tertawa kecil, rasa haru menyelimuti hatinya. Ia mengalungkan lengannya di leher Arlan. "Kau tidak akan kehilanganku. Kau sudah membeliku dengan kontrak seratus juta, ingat? Dan sekarang kau membayarnya dengan cintamu. Tidak ada dokter manapun yang bisa menandingi harga itu."
Arlan menatap bibir Arumi, amarahnya seketika mencair digantikan oleh keinginan yang mendalam. Ia mencium Arumi dengan penuh gairah, sebuah ciuman yang menandai wilayah kekuasaannya, sebuah pengingat bahwa tidak peduli siapapun yang datang dari masa lalu, Arlan adalah masa depan Arumi.
Namun, kebahagiaan itu terus terusik. Saat mereka sampai di rumah, sebuah kotak hitam tergeletak di depan pintu gerbang. Tanpa kartu pengirim, hanya sebuah pita merah darah yang mengikatnya.
Raka segera memeriksa kotak itu dengan detektor logam sebelum mengizinkan Arlan membukanya. Saat tutupnya dibuka, Arumi menjerit tertahan.
Di dalam kotak itu terdapat sebuah boneka bayi yang kepalanya sudah terpisah dari tubuhnya. Di perut boneka itu tertancap sebuah gunting bedah, dan ada selembar foto Leon yang sedang bermain di taman vila tempo hari, namun wajah Leon disilang dengan tinta merah.
Ada sebuah catatan kecil di bawahnya:
"Ibu susu yang baik tidak akan membiarkan anaknya menderita, bukan? Hitung mundur dimulai, Arumi. Apa yang diambil lewat hukum, akan direbut kembali lewat darah."
Arlan meremas catatan itu. "Elina. Dia pasti sudah keluar dari persembunyiannya."
"Atau Siska," bisik Arumi dengan tubuh gemetar. "Atau mereka bekerja sama."
Arlan segera memeluk Arumi dan Leon yang baru saja digendong oleh Bi Inah. "Mulai besok, kau tidak boleh ke kampus sendirian. Raka akan menempel padamu seperti bayangan. Dan aku... aku akan mengakhiri permainan ini sekali dan untuk selamanya."
Malam itu, di bawah kerlip lampu Jakarta yang indah, Arumi menyadari satu hal: meskipun ia sudah menjadi istri sah dan ibu biologis Leon, perang yang sesungguhnya baru saja dimulai. Musuh-musuh mereka tidak lagi menyerang lewat pengadilan, melainkan lewat kegelapan yang mengancam nyawa.