Amara rela menerima perjodohan dengan Tobias William Larsen demi cinta, berharap hatinya bisa memenangkan pria yang dingin dan sempurna itu. Ia memberi segalanya—kesetiaan, pengorbanan, bahkan seluruh rasa cintanya. Namun, semuanya hancur saat mantan Tobias muncul kembali.
Di malam ulang tahun pernikahan mereka, dunia Amara runtuh. Tobias menuntut cerai tanpa ampun, bahkan menyisakan ancaman yang menusuk hatinya. Dengan hati remuk, Amara akhirnya melepas semua harapan, memutuskan untuk pulang ke rumah keluarganya dan menjalani takdirnya sebagai pewaris keluarga Crawford.
Kini, ketika Amara dan Tobias bertemu lagi, mereka bukan lagi suami-istri. Mereka adalah dua rival, saling menatap dengan luka dan dendam yang tersimpan.
"Tuan Larsen, apakah Anda ingin saya mengingatkan sekali lagi? Kita sudah bercerai."
"Amara… ini adalah kesalahan terbesar dalam hidupku. Kumohon… kembalilah padaku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anita Banto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 8
Tobias baru saja melepaskan jabat tangan formal dengan salah satu klien besarnya ketika sebuah keributan pecah, merobek atmosfer elegan di ballroom Hilton. Insting pertamanya adalah mencari Celestine, namun sisi lengannya terasa kosong.
Pandangan Tobias menyapu kerumunan, mencari siluet pirang yang dikenalnya. Namun, pencariannya terhenti mendadak. Bukan karena ia menemukan Celestine, melainkan karena matanya menangkap sosok wanita yang seharusnya sudah menjadi sejarah dalam hidupnya—Amara.
Malam itu, Amara bukan lagi wanita membosankan yang menunggunya di rumah dengan celemek. Ia tampak luar biasa, memancarkan aura otoritas yang belum pernah Tobias lihat sebelumnya.
“Amara…” Nama itu meluncur sebagai bisikan yang tertahan di tenggorokan Tobias. Tanpa sadar, kakinya melangkah mendekat, seolah ditarik oleh magnet yang tak terlihat. Namun, langkahnya terhenti secara kasar saat seorang pria jangkung muncul di sisi Amara, melingkarkan lengannya di pinggang wanita itu dengan begitu posesif.
“Ada masalah?” Lorenzo bertanya, suaranya berat dan penuh ancaman, menatap bergantian ke arah Celestine dan Fiona yang tampak pucat.
“Sama sekali tidak,” Amara menyela dengan nada tenang yang mematikan. “Aku hanya sedang memberikan sedikit pendidikan moral untuk dua orang bodoh di depan kita.”
“Mendidik kami? Kamu menghina kakakku dengan menyebutnya mandul!” teriak Fiona, wajahnya merah padam karena malu dan marah.
Amara menoleh dengan gerakan anggun yang menghina. “Aku tidak pernah mengatakan itu, Fiona. Aku hanya menyarankan agar dia memeriksakan kesehatan reproduksinya ke rumah sakit. Jangan terlalu sensitif.”
Tepat saat kata-kata itu keluar, Amara merasakan sepasang mata sedingin es menusuk punggungnya. Ia berbalik dan mendapati Tobias berdiri di sana dengan rahang mengeras. Amara hanya menaikkan alisnya; ia tidak peduli jika pria itu merasa kejantanannya tersinggung. Baginya, Tobias hanyalah bagian dari masa lalu yang berdebu.
Sebelum konfrontasi semakin memanas, manajer acara Hilton bergegas mendekat. Namun, bukannya melerai, pria itu justru membungkuk dalam-dalam di depan Lorenzo dan Amara, mengabaikan kehadiran Tobias sepenuhnya.
“Tuan Lorenzo, sebuah kehormatan luar biasa bagi kami atas kehadiran Anda malam ini,” ucap manajer itu dengan suara bergetar penuh hormat.
Kerumunan tamu mulai berbisik. Siapa sebenarnya pria pirang di samping Amara? Mengapa otoritas Hilton memperlakukannya seperti seorang raja? Tobias mengepalkan tangannya, merasa harga dirinya baru saja diinjak-haluskan.
Lorenzo hanya menyeringai tipis, lalu menoleh pada Amara. “Acaranya sudah dimulai, Sayang. Haruskah kita masuk?”
Amara mengangguk, berjalan melewati Tobias tanpa satu pun lirikan. Ia masuk ke dalam aula utama sebagai pusat perhatian, meninggalkan mantan suaminya yang membeku dalam amarah.
Dua jam kemudian, Amara sedang berjalan di tepi kolam renang yang sepi, menghirup udara malam setelah percakapan membosankan dengan Helios Edgar di dalam ballroom. Namun, ketenangannya terusik saat Fiona tiba-tiba muncul dan mencoba menyerangnya.
Dengan gerakan tangkas, Amara menghindar. Fiona yang kehilangan keseimbangan justru terjun bebas ke dalam air. BYUR!
Amara berdiri di tepi kolam, menatap Fiona yang malang dengan tatapan tanpa emosi. “Maskara dan air kolam memang bukan kombinasi yang bagus untuk wajahmu, Fiona,” sindirnya pelan.
Celestine muncul tak lama kemudian, matanya berkilat licik. Ia melihat Tobias sedang berjalan mendekat dari kejauhan. Tanpa ragu, Celestine ikut menceburkan diri ke kolam dan menjerit dramatis, “Toby, tolong aku! Amara mendorong kami!”
Tobias tiba di lokasi dengan napas memburu. Melihat dua wanita dalam hidupnya basah kuyup, ia langsung menunjuk Amara. “Ternyata kau memang tidak berubah! Minta maaf sekarang juga!”
Amara tertawa. Tawa yang dingin dan penuh penghinaan. Tanpa peringatan, ia mengayunkan kakinya, menendang Fiona dan Celestine yang baru saja hendak naik, kembali ke dalam air.
“Apa yang kau lakukan?!” gertak Tobias sambil mencengkeram pergelangan tangan Amara dengan kasar.
“Aku tidak akan meminta maaf atas sesuatu yang tidak kulakukan,” desis Amara, matanya berkilat menantang. “Mungkin aku memang gila. Itulah alasan satu-satunya kenapa aku pernah mencintaimu.”
Amara merogoh tasnya, melemparkan beberapa lembar uang ke arah mereka yang sedang menggigil. “Belilah gaun baru. Dan soal permintaan maaf—jangan pernah bermimpi.”
Amara berbalik dan melangkah pergi dengan kepala tegak. Ia tidak peduli pada teriakan kedinginan Celestine atau tatapan nanar Tobias. Di dalam mobil Lorenzo, ia mengusap pergelangan tangannya yang memar akibat genggaman Tobias. Sialan, gumamnya.
Keesokan paginya, sebuah panggilan dari Melanie membangunkan Amara dari tidur nyenyaknya.
“Mara! Lihat internet sekarang! Celestine tamat!”
Amara membuka laptopnya dan menemukan video viral yang merekam kejadian semalam. Bukan video yang menunjukkan Amara mendorong mereka, melainkan video jernih yang memperlihatkan Celestine dengan sengaja melompat sendiri ke dalam kolam hanya untuk memfitnah Amara.
Sebuah pesan masuk dari Helios Edgar: [Bagaimana dengan kejutanku? Mari kita kencan.]
Amara mendengus. Ia segera menelepon Helios. “Aku tidak butuh bantuanmu, Helios. Jangan lakukan ini lagi, dan berhenti mendekatiku.”
Ia menutup telepon dengan tegas. Baginya, permainan pria-pria ini sudah tidak menarik lagi. Tak lama kemudian, Lorenzo menelepon, mengingatkan tentang peresmian perusahaan besok.
Amara memejamkan matanya kembali, menarik napas dalam. Besok adalah hari pertamanya di Synergy. Dunia akan melihat bahwa Amara Crawford bukan lagi bayangan di balik punggung Tobias Larsen, melainkan badai yang akan menyapu siapa pun yang pernah meremehkannya.