Yu-nian adalah putri dari seorang bangsawan di kerajaan Tangyu, suatu ketika dia terpaksa mengantikan kakaknya yang kabur untuk menikah dengan seorang menteri yang sangat berkuasa. Berbeda usia membuat Yu-nian selalu berbeda pemikiran. dengan sang menteri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shafrilla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menakutkan
"Kenapa malah ada serigala..," Yu-nian nampak syok. "Hiiii... takutttt..,"
Akhirnya mimpinya untuk kabur seketika lenyap, mimpinya langsung sirna ketika dia melihat di balik tembok itu adalah kebun untuk hewan buas mengerikan, serigala dan anjing.
"Turunlah nyonya." pinta pelayan.
"Oh dewa..., Di sana ada serigala menakutkan, di sini ada serigala yang kelaparan." ucap Yu-nian sembari berteriak sangat keras.
Pengawal pria mengusap wajahnya dengan begitu frustasi, dia diperintahkan oleh Feng Shiyan untuk menjaga istrinya. namun yang terjadi di hari pertama Dia menjaga Yu-nian, dia sudah mendapatkan kejadian seperti ini.
"Nyonya, lebih baik nyonya turun. Akan sangat berbahaya jika nyonya terjatuh dan di santap oleh serigala yang ada di sana, apa nyonya mau dilahap oleh serigala-serigala kelaparan itu?" perkataan Fu Tian itu seketika membuat Yu-nian turun dengan tergesa-gesa, dia masih mencintai kehidupannya, dia masih mencintai nyawanya yang sangat berharga.
"Urusan melarikan diri ditunda dulu aja deh, lebih baik selamat daripada menjadi santapan para serigala tonggos dan kelaparan." langkah kaki yang terburu-buru ketika turun dari tangga. Setelah itu Yu-nian langsung terduduk lemas, ia membayangkan begitu banyak serigala di balik tembok itu.
"Nyonya." Panggil pelayan yang wajahnya terlihat panik.
"Cepat Kamu ambilkan aku minum yang banyak, kalau perlu gentongnya bawa kemari juga." ucap Yu-nian yang sedikit kebingungan sekaligus frustasi.
"Nyonya, apa nyonya mau saya bantu masuk ke dalam?" tanya Fu Tian.
"Tidak perlu, Lebih baik aku duduk di sini lama-lama aja daripada aku ditolong oleh anak buah serigala berumur." jawab Yu-nian.
Fu Tian menghela nafasnya sedikit kasar, dia harus belajar bersabar karena baru pertama kali ini dia bertemu dengan seorang wanita yang sangat unik.
"Nyonya, ini minumnya." satu gelas air diberikan oleh pelayan Na er.
"Glekk.. glekk..," Dalam beberapa tegukan segelas air itu dihabiskan oleh Yu-nian. jantungnya berdebar begitu kencang, dia terus membayangkan bagaimana jika dia tadi tiba-tiba melompat. alhasil pasti tulang belulangnya tertinggal di perut para serigala dan anjing itu.
"Kenapa kamu tidak bilang kalau di bawah ada hewan buas?!" tanya Yu-nian sembari melirik pelayan wanita.
Raut wajah pelayan itu seketika berubah ketakutan. "Maaf Nyonya." jawabnya.
Kaki yang sudah gemetar, tubuh panas dingin memikirkan andaikata dia benar-benar melompat. Mungkin hari ini hanya tinggal nama yang akan tertera, papan nisan Yu-nian Mao.
"Heh..., aku masih belum mau menjadi hantu gentayangan, hidupku ini masih berharga, aku mau bertemu para pria tampan yang ada di luar sana." ucap Yu-nian yang kemudian berdiri. langkah kakinya begitu lemas, dia benar-benar tidak bisa berpikir.
Fu Tian hanya bisa menggelengkan kepala atas apa yang terjadi, dia benar-benar tidak bisa berpikir mengenai majikan wanitanya.
Di tempat lain, Dua pria sudah diikat dengan wajah yang sudah bapak belur, Ren Fen serta anak buahnya menghajar habis-habisan dua pria itu. "Aku tidak akan mengampuni siapapun yang sudah mencoba untuk menyakitiku, Apakah kamu tidak tahu di dalam kereta kuda yang aku naiki ada istriku! berani sekali kalian mencoba melukainya!!" seketika Feng Shiyan mengangkat tangannya dan menghajar dua pria itu secara membabi buta.
Beberapa pukulan dilayangkan oleh Feng Shiyan dengan semua kegilaannya, pria itu adalah pria psikopat yang tidak mempunyai belas kasihan sama sekali. "Aku akan membunuh siapapun yang berusaha untuk menggangguku, sekarang katakan Siapa yang menyuruhmu. Jika kamu tidak mau menjawabnya maka kalian akan aku siksa perlahan-lahan." salah satu tangan Feng Shiyan menadah meminta sesuatu kepada Ren Fen.
Sebuah pisau diberikan oleh Ren Fen, pisau yang biasa digunakan oleh Feng Shiyan untuk menyiksa para musuh-musuhnya. Tak ada ampun untuk siapapun yang sudah melakukan kesalahan, dengan sangat santai dia meletakkan jas yang dia gunakan dia tidak ingin mengotori pakaiannya. Sayatan demi sayatan diberikan oleh Feng Shiyan kepada dua pria yang mencoba untuk membunuhnya. Suara teriakan dari dua pria itu begitu keras menggelegar menjadi satu ruangan.
"Jangan pernah berpikir untuk bisa hidup tenang, siapapun yang mencoba untuk menggangguku maka dia harus mati."
"Jenderal." Panggil Ren Fen.
"Ada apa, Ren Fen?"
"Tuan, beberapa barang yang kita kirim ada yang menyabotase barang itu, barang itu tidak sampai di tempatnya." jawab Ren Fen.
Pisau yang digunakan oleh Feng Shiyan untuk menyiksa 2 musuhnya diberikan oleh kepada Ren Fen. dia membuka pakaiannya dan membuangnya secara sembarangan, pakaian yang sudah terciprat noda darah dari dua pria yang dia siksa.
"Minta mereka membakar pakaianku." perintah Feng Shiyan.
"Baik, jenderal." jawab Ren Fen yang kemudian mengambilkan Erik kemeja baru.
"Apakah kita perlu memburu orang itu, Tuan?" tanya Ren Fen yang sudah tahu siapa orang yang mencoba untuk membunuh Feng Shiyan.
"Tentu saja kita siksa mereka perlahan-lahan, jangan biarkan mereka hidup dengan bahagia." jawab Feng Shiyan.
Dua pria yang disiksa itu sudah memberikan informasi mengenai orang yang menyuruh mereka, Feng Shiyan yang mendengar nama itu tentu dia begitu marah, musuh bebuyutan yang selalu menginginkan apa yang dia miliki.
"Tuan, Putri Qian man, katanya mencari jenderal." Ren Fen memberikan surat.
"Biarkan saja, Ren Fen. Aku tidak ada urusan dengan wanita itu." jawabnya.
Feng Shiyan mengenakan hanfu yang diambilkan oleh Ren Fen. Dia menyuruh Ren Fen untuk membuang surat yang di berikan oleh Putri Qian man.
"Bersihkan semua ini, buang dua pria itu ke tempat yang jauh." perintah Feng Shiyan kembali. Dia meminta beberapa anak buahnya untuk mencari tahu mengenai barang yang dia kirim ke salah satu kerajaan.
Di kediaman Jenderal, Yu-nian nampak meringkuk di dalam kamar. Dia masih membayangkan bagaimana nasibnya, bagaimana Jika dia benar-benar melompat dari tempat itu.
"Sebenarnya ini kawasan apa sih? Kenapa di balik pagar rumah besar ini ada sarang serigala? di sini serigala, di sana serigala. Memangnya kediaman ini kediaman serigala ya?" Yu-nian terus mengulang memorinya yang begitu mengerikan.
"Nyonya." Panggil salah satu pelayan yang membawakan makanan untuk Yu-nian.
Malam itu Feng Shiyan telah kembali, dia menatap kediamannya yang terlihat sepi.
"Apakah semuanya baik-baik saja, Fu?" tanya Feng Shiyan. Pria itu tidak bisa tenang, dia meyakini kalau istrinya pasti akan melakukan sesuatu.
Mendengar pertanyaan dari atasannya, hal itu membuat Fu Tian menggaruk keningnya, menjawab tidak terjadi apa-apa itu tidak mungkin, pasti nantinya atasannya itu akan tahu.
"Ada apa Fu Tian?" tanya Feng Shiyan.
"Begini jenderal." jawab Fu Tian yang bingung untuk mengatakan apa yang terjadi.
"Apakah istriku melakukan sesuatu?"
"Iya, jenderal."
"Apa yang dia lakukan kali ini?"
"E..., Nyonya.. nyonya mau kabur, jenderal." Fu Tian menjawab dengan bingung.
"Oh Sudah aku duga." jawab singkat Feng Shiyan yang membuat Fu Tian menghela nafasnya berulang kali. seperti yang diperintahkan oleh Feng Shiyan, Fu Tian harus menjaga istrinya.
"Apa yang dia lakukan?" Feng Shiyan sedikit penasaran dengan apa yang dilakukan oleh Yu-nian.
"Nyonya mau kabur lewat tembok kediaman, jenderal."
"Tembok bagian mana?"
"Bagian belakang, jenderal." jawab Fu Tian sedikit bingung.
Feng Shiyan nampak tersenyum, dia menggelengkan kepalanya, membayangkan wajah sang istri ketika melihat serigala serigala yang ada di balik tembok kediaman.
"Ya sudah kalau begitu, pantau terus apa yang dilakukan istriku. Aku tidak ingin dia lepas dariku." perintah Feng Shiyan.
"Baik, jenderal." jawab singkat Fu Tian.
**Bersambung**