Di mata dunia, aku adalah Nyonya Kalandra yang terhormat. Di mata suamiku, aku hanyalah penipu yang menjijikkan."
Dua tahun Isvara bertahan dalam pernikahan dingin karena sebuah Perjanjian Pra-Nikah yang membelenggunya. Andra, suaminya yang dulu memujanya, kini hanya menyisakan kebencian sedalam samudra setelah rahasia identitas Isvara terbongkar.
Andra tidak tahu, di balik aura tegas Isvara yang disegani banyak orang, jantung wanita itu sedang menghitung mundur sisa detaknya. Isvara tidak butuh dimaafkan, dia hanya ingin bertahan sampai napas terakhirnya habis tanpa ada yang perlu merasa kehilangan.
Saat Isvara akhirnya menyerah dan berhenti membujuk, mampukah Andra tetap membencinya ketika menyadari bahwa "penipuan" terakhir Isvara adalah menyembunyikan kematiannya sendiri?
"Kebencianmu adalah alasan jantungku masih berdetak, Andra. Tapi sekarang, aku sudah lelah."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Dibalik Nafas Terakhir Isvara
Suasana di dalam ruang tengah kediaman Bunda Neli yang tadinya asri dan tenang, seketika berubah menjadi medan perang yang tak kasat mata. Cahaya matahari yang menerobos masuk lewat jendela-jendela besar tak mampu menghangatkan atmosfer yang mendadak membeku. Isvara masih berdiri mematung di ambang pintu, jemarinya mencengkeram erat pinggiran Jas warna hitam hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya bergantian menatap Dewa yang berdiri di dekat sofa, lalu beralih pada Andra yang melangkah mendekat dari arah dapur dengan aura yang sangat mengintimidasi.
"Vara sayang, kamu kenapa kaget begitu? Wajahmu seperti melihat hantu," suara Bunda Neli memecah keheningan yang mencekam. Beliau melangkah mendekat, mengusap bahu Isvara dengan lembut, mencoba menyalurkan ketenangan yang ia sendiri mulai ragukan keberadaannya di ruangan itu. "Nak Andra tadi memang sudah menelepon Bunda, katanya ada pekerjaan meninjau lahan di sekitar sini dan ingin mampir sebentar untuk menyapamu jika kamu memang ada di sini. Bunda pikir kamu sudah tahu."
Isvara baru teringat. Semalam di mobil, Andra memang sempat menyebutkan soal agenda di pinggiran kota untuk meninjau proyek satelit, namun pikirannya yang kacau dan dadanya yang sesak membuat detail itu terlupakan begitu saja. Ia tidak menyangka "mampir sebentar" versi Andra adalah bentuk pengawasan yang begitu ketat dan nyata. Pria itu seolah tidak memberinya ruang sedikit pun untuk bernapas tanpa bayang-bayangnya.
Andra sudah berdiri tepat di depan Isvara sekarang. Tanpa memedulikan tatapan tajam dari Dewa yang berdiri hanya beberapa meter darinya, Andra langsung meraih tangan kanan Isvara. Begitu kulit mereka bersentuhan, Andra sedikit tersentak di balik wajah datarnya. Tangan istrinya bukan lagi sekadar dingin, tapi sedingin es dan terasa sangat rapuh, seolah-olah jika ia menggenggam sedikit lebih kuat, tangan itu akan hancur menjadi serpihan.
"Kamu pucat sekali, Sayang," ucap Andra dengan nada suara yang dibuat selembut mungkin sebuah nada yang Isvara tahu mengandung peringatan keras di dalamnya. "Bunda benar, kamu harusnya istirahat di rumah saja tadi. Jangan memaksakan diri kalau memang tidak sanggup. Ayo, duduk dulu di sampingku."
Andra menuntun Isvara menuju sofa panjang dengan gerakan yang terlihat sangat protektif di mata orang awam. Ia mendudukkan Isvara di sampingnya, tetap menggenggam tangan wanita itu dengan posesif, seolah ingin mengirimkan pesan bisu pada Dewa bahwa wanita ini adalah miliknya, di bawah otoritasnya, dan tak seorang pun boleh mengusiknya.
Bunda Neli tersenyum tipis, meski ada gurat kekhawatiran di matanya. Di mata Bunda yang tulus, Andra tampak seperti suami yang sangat mencemaskan istrinya. "Nah, Nak Dewa juga baru saja sampai sepuluh menit yang lalu. Katanya dia rindu panti dan ingin memberikan kejutan padamu, Vara. Bunda tidak tahu kalau kejutan ini malah membuatmu kaget sampai begini," jelas Bunda Neli polos.
Dewa masih berdiri di tempatnya, matanya terpaku pada genggaman tangan Andra pada Isvara. Ia bisa melihat bagaimana Isvara tampak tidak nyaman, bagaimana wanita itu hanya diam pasrah dengan pandangan kosong. Dewa merasa muak melihat sandiwara kemesraan yang dipaksakan itu.
"Kejutan yang sebenarnya adalah melihat bagaimana kamu masih bisa berpura-pura menjadi suami yang peduli, Andra," sindir Dewa dengan suara rendah yang penuh kebencian. "Padahal kita semua tahu, perhatianmu itu hanya sekadar untuk menjaga aset bisnismu tetap di tempatnya."
Rahang Andra mengeras seketika. Ia menoleh ke arah Dewa dengan tatapan meremehkan yang sangat dalam. "Tuan Dewa Abraham, saya rasa Anda terlalu banyak mencampuri urusan domestik orang lain. Isvara adalah istri saya. Wajar jika saya tahu di mana dia berada, dengan siapa dia bertemu, dan bagaimana kondisinya. Itu tugas seorang suami, bukan?"
"Wajar?" Dewa tertawa sinis, langkahnya maju satu langkah, menantang gravitasi amarah di ruangan itu. "Istri Anda sedang sakit, Andra! Dia pucat, tangannya gemetar, dan Anda masih bertanya 'kenapa'? Apakah mata Anda sudah buta oleh ambisi bisnis sampai tidak bisa melihat bahwa istri Anda sedang berjuang hanya untuk sekadar berdiri tegak? Jika Anda memang menganggapnya istri, Anda tidak akan membiarkannya melakukan perjalanan jauh dalam kondisi seperti ini!"
Andra berdiri seketika, melepaskan tangan Isvara dengan sentakan pelan yang tetap terasa kasar. Ia melangkah mendekati Dewa hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa senti. Aroma ketegangan meledak di antara mereka. "Jangan bicara seolah-olah Anda paling mengenalnya, Dewa! Anda hanyalah orang masa lalu yang membuangnya sepuluh tahun lalu ke tempat ini tanpa pernah menoleh kembali! Saya yang berada di sampingnya sekarang, saya yang membayar semua tagihannya, saya yang memiliki hak penuh atas setiap hela napasnya!"
"Hak untuk menyiksanya? Hak untuk memaksanya bekerja di bawah tekanan saat jantungnya... saat tubuhnya sudah tidak kuat?" teriak Dewa, hampir saja membocorkan rahasia kesehatan Isvara yang sebenarnya. "Jika Anda benar-benar suami yang peka, Anda tidak akan membawanya ke kerumunan pesta semalam hanya untuk pamer! Anda egois, Andra! Anda hanya mencintai diri Anda sendiri!"
"Cukup!" bentak Andra. Tangannya sudah mengepal kuat, urat-urat di lehernya menonjol, dan wajahnya memerah padam. Ia sudah mengangkat tangannya, bersiap untuk menghantamkan tinjunya ke wajah Dewa yang dianggapnya terlalu lancang mengusik wilayah pribadinya.
"Berhenti! Andra! Dewa! Aku mohon cukup!" Isvara mencoba berdiri, namun kepalanya berputar hebat. Suaranya pecah, napasnya mulai terdengar kasar, pendek-pendek dan berbunyi mengi yang menyakitkan. Ia memegangi dadanya yang terasa seperti ditusuk ribuan jarum panas.
Bunda Neli yang menyadari situasi sudah di ambang batas bahaya segera berlari menengahi. Beliau berdiri tepat di tengah-tengah kedua pria yang sudah siap saling hantam itu, merentangkan tangannya sebagai pembatas.
"Astagfirullah! Nak Andra, Nak Dewa! Tolong ingat di mana kalian berada!" suara Bunda Neli meninggi, penuh otoritas seorang ibu. "Ini rumah panti, tempat anak-anak bernaung mencari kedamaian! Jangan nodai tempat ini dengan amarah dan ego kalian yang meluap-luap! Lihat anakku! Lihat Isvara!"
Napas Andra memburu, matanya memerah penuh amarah menatap Dewa. Sementara Dewa tidak mundur setitik pun, wajahnya menantang, siap menerima pukulan apa pun asalkan ia bisa meneriakkan kebenaran pada Andra. Namun, saat mendengar teriakan Bunda Neli, keduanya menoleh ke arah Isvara.
Isvara sudah terduduk kembali di sofa, wajahnya kian memutih menyerupai kain kafan. Keringat dingin bercucuran di pelipisnya. Ia tidak lagi mampu bersuara, hanya tangannya yang terus meremas dada kirinya dengan kuat. Bunda Neli tahu, jika keributan ini berlanjut satu menit saja, jantung Isvara akan menyerah di lantai ini.
"Vara," Panggil Bunda Neli dengan nada yang kali ini sangat serius dan tak terbantahkan.
Isvara hanya mampu melihat ke arah Bunda Neli dengan tatapan sayu. Melalui matanya, ia seolah berkata bahwa ia baik-baik saja, padahal ulu hatinya terasa seperti dihantam palu godam. Ia tidak ingin memperlihatkan kelemahannya, ia tidak ingin Dewa apalagi Andra tahu bahwa jantungnya sedang berada di titik nadir.
Bunda Neli, yang sangat tahu bahwa Isvara sedang mati-matian menyembunyikan rasa sakitnya agar tidak menjadi tontonan kedua pria itu, segera mengambil tindakan. Ia memandang Andra dan Dewa dengan tegas.
"Nak Andra, Bunda mohon jangan seperti ini. Dewa, kamu juga!" suara Bunda Neli meninggi, menengahi ketegangan. Beliau beralih menatap Isvara dengan tatapan penuh perlindungan. "Dan Isvara, tolong bawa suamimu ke atas dan bicara baik-baik. Kalian pasti butuh istirahat. Bunda harap setelah ini nantinya suasana menjadi kondusif!"
Andra melirik Isvara yang tampak hanya diam membisu. Rasa bersalah yang samar mulai muncul di balik kabut amarahnya, meski egonya tetap berusaha menolak. Ia mendengus kasar ke arah Dewa, sebuah tatapan yang menjanjikan perhitungan di lain waktu, lalu kembali ke sisi Isvara. Tanpa banyak bicara, ia merangkul pinggang Isvara dengan kuat, memaksa tubuh wanita itu bersandar sepenuhnya pada tubuhnya yang tegap.
"Isvara," bisik Andra di telinga Isvara, nadanya masih mengandung sisa ketegangan yang kental.
Isvara hanya bisa pasrah. Ia tidak punya kekuatan lagi untuk membantah atau bahkan sekadar bicara. Ia membiarkan Andra mengulurkan tangannya untuk membimbingnya. Dengan langkah yang dipaksakan agar tidak terlihat goyah, Isvara meninggalkan ruang tamu bersama Andra. Dalam pikirannya, kamar yang selama ini ia anggap sebagai satu-satunya tempat persembunyian yang aman, kini harus tercemar oleh kehadiran suaminya yang penuh amarah.
Sementara itu, di bawah, Bunda Neli menahan Dewa yang ingin mengejar mereka. Tangan Bunda mencengkeram lengan Dewa dengan sangat kuat, menghentikan langkah pria itu di dekat tangga.
"Nak Dewa, tolong. Jangan sekarang. Kamu hanya akan menimbulkan masalah jika kamu terus memicu keributan dengan suaminya," bisik Bunda Neli dengan nada yang sangat tajam dan serius. "Biarkan Isvara menenangkan suaminya dulu. Bunda ingin bicara denganmu secara pribadi. Ada hal-hal yang tidak kamu ketahui tentang apa yang sebenarnya Isvara alami selama ini."
Dewa hanya bisa terpaku menatap punggung Isvara yang perlahan menghilang di balik pintu kamar di lantai atas, dipandu oleh pria yang sangat ia benci. Suara pintu yang tertutup rapat dari atas sana terdengar seperti dentuman lonceng kematian di telinga Dewa. Di dalam kamar itu, keheningan yang jauh lebih mencekam pun dimulai antara sepasang suami istri yang saling asing tersebut.
Isvara menyandarkan tubuhnya di balik pintu yang baru saja tertutup, mencoba menghirup udara sebanyak mungkin secara sembunyi-sembunyi, sementara Andra berdiri tepat di hadapannya dengan tatapan yang menuntut penjelasan.
Crazy up nya ditunggu thor, pengennya isvara bisa balik keadaan